Air Bersih dan KKN Kebencanaan di Kota Padang

A A

Ilustrasi warga mengangkut jeriken kuning berisi air dengan gerobak di depan rumah bertembok bata di jalan tanah. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Mahasiswa itu berdiri di depan pintu rumah warga Kota Padang dengan daftar pertanyaan yang jarang diajukan kepada orang yang sedang tidak tertimpa apa-apa: bagaimana keadaan ekonomi keluarga ini, bencana apa yang pernah menimpanya, dan apa yang paling mendesak dibutuhkan sekarang. Jawaban dicatat rumah demi rumah, lalu dibawa kembali ke posko. Dari enam belas lokasi, satu persoalan naik ke urutan teratas, dan itu bukan guncangan tanah.

Persoalannya air. Kota Padang mengalami kekeringan musiman yang membuat ketersediaan air di rumah tangga menyusut, dan keadaan itu diperberat oleh infrastruktur yang belum merata serta data kebencanaan yang sulit diakses. Dua hal terakhir membuat perencanaan dan penanganan kehilangan pijakan. Yang pertama membuat warga harus mengambil air dari sumber yang jauh dari rumah.

Laporan kegiatan itu ditulis Daimon Syukri dari Departemen Teknologi Hasil Pertanian, Susiana dari Departemen Ilmu Ekonomi, dan Jonrinaldi dari Departemen Teknik Industri Universitas Andalas — ketiganya juga bertugas di Unit Pelaksana Teknis Pembelajaran di Luar Kampus — dengan judul Strengthening Community Disaster Resilience Through the Integration of KKN Kebencanaan and PKM-MNM in Padang City. Tulisan itu terbit di Andalasian International Journal of Social and Entrepreneurial Development Volume 6 Nomor 1 tahun 2026.

Programnya tidak dimulai dari tangki air, melainkan dari sebuah pos. Sebelum satu kegiatan pun berjalan, tim mendirikan posko yang berfungsi sebagai pusat koordinasi, komunikasi, dan pengelolaan program. Di sanalah pihak universitas, dosen pembimbing lapangan, aparat pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat bertemu. Posko itu tidak hanya berfungsi sebagai pusat operasi, tetapi juga sebagai ruang bersama yang menurut penulisnya memperkuat sinergi kelembagaan dalam penanganan bencana. Koordinasi awal itu, tulis para penulisnya, diperlukan agar program benar-benar cocok dengan kebutuhan dan keadaan setempat.

Daftar Isi
  1. Musim Kering yang Datang ke Kota dan Menghabiskan Air di Rumah Warga
  2. Wawancara dari Rumah ke Rumah dan Data yang Selama Ini Tidak Ada
  3. Tangki Sudah Terpasang, dan Pertanyaan yang Ditinggalkan di Belakangnya

Musim Kering yang Datang ke Kota dan Menghabiskan Air di Rumah Warga

Ilustrasi permukaan tanah kering yang merekah membentuk celah-celah pada musim kemarau.
Ilustrasi permukaan tanah kering yang merekah membentuk celah-celah pada musim kemarau. [Foto: Pexels]

Indonesia termasuk negara paling rawan bencana karena letak geografis dan iklim tropisnya, yang membuatnya terpapar banjir, longsor, gempa, dan kekeringan sekaligus. Yang paling sering datang justru bencana hidrometeorologis: kekeringan dan cuaca ekstrem. Kekeringan jarang terasa sebagai keadaan darurat karena ia tidak merobohkan apa pun. Ia bekerja pelan, dan yang pertama terasa adalah air di rumah.

Baca juga Separuh Museum Indonesia Belum Menilai Koleksinya

Di kota, dampaknya berlipat karena permintaan air tinggi. Akses air bersih yang terbatas mengganggu kegiatan sehari-hari, menurunkan standar sanitasi, dan menaikkan risiko kesehatan — rangkaian yang dikutip laporan ini dari kajian Chefany dan rekan-rekannya pada 2024 tentang krisis air. Air bersih, tulis mereka merujuk kajian yang sama, adalah unsur pokok yang menopang kehidupan makhluk hidup. Ditambah tingkat kesiapsiagaan yang rendah, dampak sebuah bencana menjadi lebih besar daripada seharusnya.

Bencana yang datangnya lambat memang lebih sulit dipedulikan. Laporan ini menyebut kesadaran dan kesiapsiagaan warga terhadap ancaman berjalan pelan seperti kekeringan tergolong rendah, dan di situlah keterlibatan warga menjadi penting. Pengurangan risiko bencana, mengutip kajian Kinanti pada 2023, berkaitan erat dengan seberapa jauh masyarakat dilibatkan dan diberdayakan, bukan sekadar diberi tahu.

Tanggapan Universitas Andalas berbentuk kegiatan lapangan. KKN Kebencanaan digabungkan dengan PKM-MNM Batch II dan diarahkan pada tanggap darurat. Mahasiswa bekerja langsung bersama warga: mengenali masalah, memetakan daerah rawan, menilai kondisi lingkungan, dan menentukan kebutuhan prioritas. Pendekatannya partisipatif, sebuah pilihan yang dalam kepustakaan pengurangan risiko bencana dikaitkan dengan keterlibatan lokal, tanggung jawab bersama, dan keberlanjutan hasil.

Tahapannya empat dan saling menyambung: persiapan, identifikasi masalah, pelaksanaan, lalu evaluasi. Yang terakhir bukan formalitas penutup. Hasil tiap kegiatan dianalisis untuk menyusun rekomendasi tindakan berikutnya dan menjadi bahan pengambilan keputusan berbasis bukti bagi pemerintah setempat. Tanpa tahap itu, kegiatan pengabdian berhenti sebagai kunjungan.

Wawancara dari Rumah ke Rumah dan Data yang Selama Ini Tidak Ada

Bagian paling tidak terlihat dari program ini justru pendataan. Mahasiswa mewawancarai warga secara langsung untuk mengumpulkan keterangan rinci tentang kondisi sosial ekonomi, dampak bencana yang pernah dialami, dan kebutuhan mendesak tiap rumah tangga. Data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan sekaligus, digabung dengan pengamatan lapangan. Hasilnya bukan bantuan yang bisa dipegang, melainkan daftar.

Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok

Daftar semacam itu yang selama ini kosong. Laporan ini menyebut akses ke data kebencanaan yang andal masih terbatas di Kota Padang, dan keterbatasan itulah yang menurunkan efektivitas perencanaan maupun respons. Tanpa data, bantuan berpeluang datang ke tempat yang salah atau pada waktu yang salah. Dengan data, sasarannya bisa dipersempit.

Ada efek sampingan yang ikut dicatat. Karena pendataan dikerjakan bersama warga, bukan atas warga, kesadaran tentang pentingnya informasi yang akurat dalam penanganan bencana ikut naik. Orang yang pernah ditanya cenderung mengerti untuk apa ia ditanya. Temuan itu sejalan dengan kajian Kusyairi dan Addiarto pada 2022 yang dirujuk laporan ini soal peran pengetahuan lokal dalam mengenali risiko. Pemetaan berjalan bersamaan. Mahasiswa menandai wilayah rawan, menilai kondisi lingkungan di sekitarnya, dan menyusun urutan kebutuhan yang paling mendesak. Peta itu yang kemudian menentukan di titik mana tangki dipasang, bukan sebaliknya. Enam belas lokasi itu tersebar di Kota Padang dan dikerjakan dalam satu periode kegiatan yang sama. Urutan kerjanya terdengar biasa, tetapi urutan itulah yang membedakan pemberian bantuan dari penanganan masalah.

Hasil yang paling kelihatan datang belakangan. Tangki penampung air bersih dipasang di permukiman terpilih untuk menahan dampak kelangkaan air pada musim kemarau. Pemasangannya dikerjakan bersama warga, dan letaknya dipilih agar benar-benar terjangkau untuk pemakaian sehari-hari. Ketergantungan pada sumber air yang jauh berkurang, kebersihan dan sanitasi rumah tangga membaik. Penyediaan air bersih semacam ini, menurut laporan tersebut, memang diakui sebagai komponen penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana.

Cara memasangnya ikut menentukan. Keterlibatan langsung warga, tulis Daimon Syukri bersama Susiana dan Jonrinaldi, tidak hanya memudahkan pekerjaan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki atas fasilitas yang dipasang. Rasa memiliki itu yang belakangan mereka sebut sebagai tanda positif ketika menimbang apakah program ini akan bertahan.

Baca juga Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin

Kegiatan ketiga berbentuk penyuluhan. Warga diajak berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang bencana yang pernah mereka lalui, dan materinya dijaga tetap praktis: penghematan air, langkah tanggap awal, dan tindakan mitigasi sederhana yang bisa dikerjakan di tingkat rumah tangga. Cara belajar seperti ini dinilai efektif menaikkan pemahaman dan kesiapan warga menghadapi situasi darurat. Pendidikan berbasis komunitas, mengutip kajian Burhan dan Sulkiah pada 2026 yang dirujuk laporan ini, terbukti menaikkan kesiapsiagaan sekaligus menurunkan risiko bencana.

Tangki Sudah Terpasang, dan Pertanyaan yang Ditinggalkan di Belakangnya

Di bagian akhir, laporan ini berhenti memuji dirinya sendiri. Keberlanjutan, tulis para penulisnya, tetap menjadi pertimbangan utama: infrastruktur air bersih dan sistem data memang memberi manfaat langsung, tetapi efektivitas jangka panjangnya bergantung pada perawatan, pemantauan, dan keterlibatan warga yang berkelanjutan. Kesediaan warga ikut merawat disebut sebagai indikator positif, sementara dukungan pemerintah daerah dan lembaga terkait disebut masih diperlukan.

Ada batas lain yang perlu dibaca dari cara program ini dinilai. Efektivitas tiap kegiatan diukur dari tanggapan warga dan hasil yang teramati di lapangan, bukan dari indikator yang dibandingkan sebelum dan sesudah kegiatan. Karena itu kalimat “kesadaran warga meningkat” dalam laporan ini adalah penilaian lapangan, bukan angka yang bisa diperiksa ulang.

Skalanya juga perlu diletakkan pada tempatnya. Enam belas titik di satu kota bukan gambaran Sumatera Barat, apalagi Indonesia, dan tangki penampung tidak menyelesaikan persoalan air baku sebuah kota. Yang ditunjukkan program ini lebih sempit dan lebih jujur: perguruan tinggi bisa mengisi ruang kosong antara warga yang kehabisan air dan pemerintah yang kekurangan data. Kesimpulan penulisnya sendiri berhenti di sana, menyebut tiga persoalan yang disasar — kelangkaan air, minimnya data, dan rendahnya kesadaran warga — serta menguatnya kerja sama antara kampus, pemerintah, dan masyarakat. Kegiatan ini berjalan dengan dukungan LPPM Universitas Andalas melalui skema PKM-MNM Batch II khusus tanggap darurat bencana, bernomor hibah 65/UN16.19/PM.03.03/PKM-MNM/2025. Posko yang didirikan di awal juga menyisakan sesuatu yang tidak berbentuk barang, yaitu hubungan kerja antara kampus, aparat, dan tokoh masyarakat yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.

Tangki-tangki itu tetap berdiri sesudah kegiatan berakhir, terisi atau tidak, bergantung pada siapa yang mengingatnya. Daftar nama, kondisi rumah tangga, dan kebutuhan mendesak yang dikumpulkan dari pintu ke pintu kini ada dan bisa dibuka. Musim kering berikutnya di kota itu tidak perlu menunggu diumumkan untuk datang.

Bagikan

Baca Juga

Seorang dokter melakukan pemeriksaan ultrasonografi Doppler pada pasien, dengan citra aliran darah berwarna tampil di layar besar
Enam Puluh Derajat, 17.900 Hertz, dan 50 Desibel di Meja Fantom
Hamparan tanaman kedelai hijau membentang sampai kaki langit di sisi sebuah jalan tanah
Sinar UV-C 45 Menit dan 3,33 Persen Kalus Kedelai yang Bertahan
Hamparan tanaman cabai merah dengan seorang petani bertopi berjalan di antara bedengan
Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun
Gedung rektorat Universitas Andalas berdinding beton dengan tiang bendera Merah Putih, dikelilingi rimbun pepohonan.
Mahasiswa Malaysia yang Belajar Sejarah di Padang
Penelusuran sumber air di Kampung Nij bersama warga
Tim ITS Temukan Air Keruh di Enam Kampung Momi Waren
Sumur bertutup beton dengan jeriken kuning tergantung di atasnya
Tim UNAIR Petakan Akses Air Bersih Kampung Transmigrasi Manokwari