Hidrogen Hijau Indonesia Butuh Sistem Perawatan Elektroliser Baru

A A

Peserta diskusi kelompok terarah membahas sistem pemeliharaan elektroliser hidrogen hijau. [Foto: Kemdiktisaintek]

  • Sistem pemeliharaan berbasis kondisi untuk elektroliser memasuki tahap pra-studi kelayakan
  • Pemetaan mencakup kebijakan, tantangan operasional, kebutuhan pemeliharaan, dan ketersediaan data
  • Perguruan tinggi ditempatkan sebagai penghubung kebutuhan industri dan kolaborasi lintas negara

Cekricek.id — Hidrogen hijau di Indonesia tidak cukup dikejar dari sisi teknologi hulu; alat elektrolisernya perlu sistem perawatan tersendiri.

Arah itu ditegaskan dalam keterangan tertulis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Rabu (30/09/2026), seusai diskusi kelompok terarah bertajuk Electrolyzer Condition Based Maintenance System for Green Hydrogen Plants in Indonesia di Bandung, Selasa (29/09/2026).

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyebut pengembangan teknologi hidrogen perlu menjangkau proses scale-up, implementasi, dan teknologi pendukung di sisi hilir. Salah satunya sistem pemeliharaan berbasis kondisi pada elektroliser, yang kini memasuki tahap pra-studi kelayakan.

“Kami sangat mendukung yang akan dilakukan hari ini untuk mendukung terbentuknya pre-FS khususnya eCBMS dengan aplikasi nanti di Indonesia,” ujarnya.

Lima Hal yang Dipetakan Ekosistem Riset

Diskusi mempertemukan Kemdiktisaintek, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PT PLN, Institut Teknologi Bandung, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta mitra dari Jepang dan sektor industri.

Yang dipetakan bersama mencakup kebutuhan kebijakan, tantangan operasional, kebutuhan pemeliharaan, ketersediaan data, dan kondisi penerapan sistem tersebut di Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari studi kelayakan implementasi eCBMS pada pabrik hidrogen hijau.

Dari sisi kemitraan internasional, Fauzan menyebut Indonesia dan Jepang memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Kerja sama dengan mitra Jepang, termasuk NEDO, diarahkan pada penguatan kapasitas riset dan pengembangan teknologi hidrogen serta penyimpanan energi.

Perguruan tinggi ditempatkan sebagai penghubung antara kebutuhan industri, pengembangan teknologi, dan kolaborasi lintas negara. Pendekatan Hub and Spoke serta skema kemitraan riset internasional dipakai agar hasil riset lebih banyak terpakai.

Pola hilirisasi serupa sudah berjalan di kampus lain, misalnya ketika proses hidrotermal ITS memisahkan bitumen aspal Buton di atas 95 persen dan bersiap menuju pabrik modular.

Di bidang energi, karya kampus juga menyasar efisiensi kendaraan, seperti dua mobil hemat energi Tim Nogogeni ITS.

Penekanan pada riset sebagai penggerak ekonomi itu sejalan dengan pernyataan pemerintah bahwa inovasi yang akan memimpin pertumbuhan.

Bagikan

Baca Juga

Pola Arus Selat Sunda Bisa Jadi Peta Pencarian Korban Kapal
Api Biru Papandayan Kian Sering Muncul Seiring Suhu Fumarol Naik
Monetisasi Konten Anak Punya Tiga Pola, Temuan Riset UGM
Kurikulum Adaptif UGM Buka Jalur Second Major dan Fast Track
Virus Tumbuhan Ditularkan Serangga, Panen Bisa Anjlok 80 Persen
Talenta AI Indonesia Dituntut Mampu Mengevaluasi Keluaran Mesin