- Negara yang mencatat lebih banyak kematian pertempuran pada suatu tahun cenderung mencatat lebih banyak kasus campak pada tahun yang sama.
- Jalur terkuat dalam temuan ini tidak melewati medan tempur, melainkan melewati pembangunan sosial ekonomi.
- Anehnya, pengungsian nyaris tidak berhubungan langsung dengan jumlah kasus campak setelah pembangunan diperhitungkan.
- Pada jumlah kasus total, sekitar 72,9 persen hubungan dengan konflik berjalan secara langsung.
Daftar Isi
- Cara perang ikut menaikkan hitungan campak
- Mengapa kematian tahun lalu lebih banyak berbicara
- Pembangunan yang runtuh menjadi jalur utama
- Bagaimana pengungsian bekerja lewat jalan memutar
- Membedakan lonjakan kasus dari laju penularan
- Di mana penjelasan ini berhenti
- Hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca
Perang biasanya dihitung dari korban yang jatuh selama pertempuran berlangsung, lalu dianggap selesai ketika senjata diam. Anehnya, jejak perang pada campak justru lebih jelas terbaca dari kematian tahun sebelumnya ketimbang dari pertempuran yang sedang berjalan. Pola itu muncul ketika dua peneliti menjajarkan catatan perang, pengungsian, pembangunan, dan kasus campak dari 193 negara, hampir semua negara di dunia, selama lebih dari dua dasawarsa.
Kedua peneliti itu adalah Tyler Y. Headley dan Yesim Tozan, yang menulis Association of armed conflict and global measles cases: A structural equation modeling analysis of 193 countries from 2000 to 2023 di jurnal PLOS Medicine volume 23 nomor 6 tahun 2026. Headley bernaung di Department of War Studies, King’s College London, sedangkan Tozan di Department of Global and Environmental Health, School of Global Public Health, New York University.
Cara perang ikut menaikkan hitungan campak
Mereka mengukur perang dengan satu penanda yang keras, yaitu jumlah kematian terkait pertempuran di sebuah negara dalam setahun. Penanda itu mencakup perang antara negara dan kelompok bersenjata, bentrokan antarkelompok bersenjata, serta kekerasan sepihak terhadap warga. Di seberangnya diletakkan jumlah kasus campak yang dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia, ditambah laju kasus per sejuta penduduk, penyakit yang menurut naskah sangat menular dan masih banyak memakan korban di tempat yang cakupan vaksinasinya belum lengkap.
Hasil pertamanya tegas meski kecil. Negara yang mencatat lebih banyak kematian pertempuran pada suatu tahun cenderung mencatat lebih banyak kasus campak pada tahun yang sama. Hubungan itu tetap terlihat setelah para penulis memperhitungkan besarnya pengungsian dan tingkat pembangunan negara tersebut, sehingga tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh kemiskinan atau perpindahan penduduk saja. Penulis menyebut hubungan langsung ini kecil, tetapi nyata.
Besarannya diterjemahkan penulis ke angka yang lebih mudah dibayangkan. Kenaikan konflik dalam satuan baku yang mereka pakai berpasangan dengan kira-kira 2.500 kasus campak tambahan per tahun untuk setiap sekitar 3.700 kematian pertempuran. Sebagai pembanding, rata-rata kasus campak global pada periode itu sekitar 2.250 per negara per tahun, sehingga penulis menyebut tambahan tersebut substansial dibanding beban tahunan yang biasa ditanggung sebuah negara.
Persoalannya, hubungan itu tidak sama dengan sebab. Headley dan Tozan berulang kali menyebut temuan mereka sebagai asosiasi, bukan bukti bahwa perang menyebabkan campak. Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan apakah keduanya berjalan beriringan, melainkan lewat jalur mana keduanya bertemu, dan jalur mana yang paling banyak mengangkut beban penyakit dari medan perang sampai ke catatan kasus di fasilitas kesehatan.
Mengapa kematian tahun lalu lebih banyak berbicara
Kejanggalan di pembuka artikel ini berasal dari satu langkah sederhana, yaitu memasukkan kematian pertempuran tahun sebelumnya ke dalam hitungan. Begitu angka tahun lalu ikut dihitung, hubungan kematian tahun berjalan dengan kasus campak menyusut dari 0,17 menjadi 0,05 dan tidak lagi bermakna secara statistik. Sebaliknya, kematian tahun lalu tetap berpasangan dengan kasus campak pada angka 0,14.
Penulis membaca pola ini sebagai tanda bahwa gangguan terhadap sistem kesehatan dan cakupan vaksinasi berjalan lambat, tidak langsung terasa pada tahun pertempuran. Kekerasan juga cenderung menetap, sebab kematian pertempuran tahun lalu berkaitan sangat erat dengan kematian tahun ini, dengan koefisien 0,90. Dengan kata lain, negara yang sedang berperang umumnya masih berperang pada tahun berikutnya, dan akibatnya ikut menumpuk.
Yang membuatnya rumit, jejak tahun lalu itu tidak muncul di semua ukuran. Pada laju campak per sejuta penduduk, pengaruh kematian tahun lalu hanya 0,04 dan tidak bermakna setelah pengungsian diperhitungkan. Artinya, konflik yang sudah lewat lebih terlihat pada jumlah kasus yang dilaporkan daripada pada laju penularan di tengah penduduk secara keseluruhan. Perbedaan dua ukuran ini akan muncul lagi, dan justru di sanalah cara kerjanya terbaca.
Penulis juga mencoba menarik jejak itu lebih jauh ke belakang. Dalam analisis tambahan, mereka melihat semacam ekor yang memuncak pada tahun ketiga dan mengaitkannya dengan kesenjangan kekebalan, yaitu kumpulan anak yang belum terlindungi dan terus bertambah sampai cukup besar untuk memicu wabah. Namun, koefisien untuk tahun ketiga itu sendiri tidak bermakna secara statistik, sehingga ekor tersebut lebih tepat dibaca sebagai petunjuk ketimbang temuan.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Pembangunan yang runtuh menjadi jalur utama
Jalur terkuat dalam temuan ini tidak melewati medan tempur, melainkan melewati pembangunan sosial ekonomi. Penulis merangkum pembangunan dari tiga penanda sekaligus, yakni pendapatan per kapita, harapan hidup, dan rata-rata lama sekolah. Ketiganya menyatu kuat, dengan pendapatan per kapita paling menentukan, disusul harapan hidup dan lama sekolah. Rata-rata pendapatan per kapita di seluruh data adalah 13.130 dolar AS, harapan hidup 70 tahun, dan lama sekolah 8,3 tahun.
Negara yang lebih maju dalam ukuran gabungan itu cenderung mencatat campak lebih sedikit. Setiap kenaikan satu satuan baku pembangunan berpasangan dengan penurunan 0,32 sampai 0,34 satuan baku kasus campak, dan 0,34 sampai 0,36 pada laju per sejuta penduduk. Angka ini lebih besar daripada hubungan langsung konflik dengan campak di model mana pun, sehingga pembangunan menjadi poros yang menentukan arah seluruh rantai.
Di titik inilah perang masuk lewat pintu belakang. Kematian pertempuran berpasangan dengan pembangunan yang sedikit lebih rendah, sedangkan pengungsian berpasangan dengan penurunan pembangunan yang dua kali lebih besar. Pembangunan yang turun lalu berpasangan dengan campak yang naik, sehingga beban penyakit ikut terangkut di sepanjang rantai itu. Penulis menilai sistem kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang lebih kuat bersama-sama mengurangi kerentanan penduduk terhadap penyakit menular.
Dari rantai itulah Headley dan Tozan menarik kesimpulan kebijakan yang paling tegas di naskah mereka. “Mengurangi wabah campak di wilayah yang dilanda konflik membutuhkan lebih dari sekadar gerakan vaksinasi darurat: ia juga membutuhkan perlindungan terhadap sistem kesehatan dan ekonomi yang menopang kesehatan penduduk dalam jangka panjang,” tulis keduanya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Bagaimana pengungsian bekerja lewat jalan memutar
Konflik berkaitan erat dengan pengungsian. Setiap kenaikan satu satuan baku kematian pertempuran berpasangan dengan kenaikan 0,37 satuan baku porsi penduduk yang terusir dari tempatnya, dan kematian tahun lalu pun masih berpasangan dengan pengungsian pada angka 0,28. Pengungsi di sini mengikuti definisi Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi, yakni pengungsi lintas negara, pencari suaka, dan pengungsi di dalam negeri.
Anehnya, pengungsian nyaris tidak berhubungan langsung dengan jumlah kasus campak setelah pembangunan diperhitungkan. Pengaruhnya bekerja lewat jalan memutar, yaitu menurunkan pembangunan, lalu pembangunan yang turun itulah yang berpasangan dengan campak. Menurut penulis, inilah jalur utama yang menghubungkan pengungsian dengan beban campak pada ukuran jumlah kasus. Pengungsian, dengan demikian, lebih mirip pengantar daripada pemicu langsung.
Gambarnya berbeda pada laju per sejuta penduduk. Di sana pengungsian tetap punya hubungan langsung yang kecil namun konsisten, sebesar 0,06 di dua model. Penulis menduga hal ini mencerminkan terkumpulnya orang yang belum kebal di tempat yang pelayanannya minim. Dugaan itu sejalan dengan studi lapangan terdahulu yang mereka kutip, yang mencatat pengungsian massal memusatkan orang rentan, mengganggu layanan, dan memudahkan penularan campak.
Data vaksinasi memperkuat jalur itu. Cakupan vaksinasi rata-rata dari sepuluh jenis vaksin berkaitan dengan campak yang lebih rendah, sementara pengungsian dan kematian pertempuran sama-sama berpasangan dengan cakupan yang lebih rendah. “Penduduk yang mengungsi harus dimasukkan secara sistematis ke dalam program imunisasi rutin, sebab tersisihnya mereka menciptakan kantong-kantong kerentanan yang dapat memicu wabah,” tulis penulis.
Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Membedakan lonjakan kasus dari laju penularan
Ketika seluruh jalur dipecah, dua ukuran campak ternyata menceritakan hal yang berbeda. Pada jumlah kasus total, sekitar 72,9 persen hubungan dengan konflik berjalan secara langsung. Pada laju per sejuta penduduk, sebaliknya, 73,9 persen hubungan itu berjalan lewat jalur tidak langsung, terutama kemerosotan pembangunan sebesar 31,3 persen dan rangkaian pengungsian yang menurunkan pembangunan sebesar 23,5 persen.
Penulis menyimpulkan bahwa kondisi struktural paling erat berkaitan dengan laju penularan yang bertahan lama, sedangkan konflik aktif lebih erat berkaitan dengan lonjakan jumlah kasus. Karena itu, dua respons yang berbeda sama-sama dibutuhkan. Lonjakan membutuhkan tanggapan cepat, sementara laju yang menetap membutuhkan fondasi kesehatan dan pendidikan yang terus terjaga, bahkan setelah pertempuran mereda.
Temuan ini sejalan dengan sedikit bukti yang dikutip penulis. Di Wilayah Afrika WHO, peluang munculnya difteri 41 persen lebih tinggi di negara yang dilanda konflik. Di Yaman, kegubernuran yang mengalami serangan udara berat mencatat insiden kolera 106 persen lebih tinggi. Sekitar 85 persen studi juga melaporkan turunnya cakupan vaksinasi di wilayah konflik, sedangkan sebuah tinjauan pada 2024 belum menemukan satu pun studi yang mengukur kaitan konflik dengan campak.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Di mana penjelasan ini berhenti
Batas pertama datang dari datanya sendiri. Semua angka adalah rata-rata nasional tahunan, sehingga titik panas pertempuran di tingkat lokal bisa tenggelam dalam angka negara. Kematian pertempuran dan kasus campak juga mungkin kurang tercatat, terutama di wilayah yang paling parah, sehingga penulis menilai temuan mereka lebih tepat dibaca sebagai batas bawah dari beban kesehatan yang sebenarnya.
Batas kedua adalah faktor yang tidak terukur. Model mereka tidak memperhitungkan akses bantuan kemanusiaan, ketidakstabilan politik sebelum perang pecah, atau kampanye vaksinasi yang berubah dari tahun ke tahun. Hubungan timbal balik pun mungkin terjadi, sebab wabah besar bisa memperparah ketidakstabilan, meski model yang menguji arah balik itu menunjukkan kecocokan yang buruk. Penulis menyarankan riset lanjutan memakai data tingkat daerah yang lebih rapat.
Hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca
Beberapa bagian naskah bisa dicek sendiri oleh pembaca yang teliti. Konversi 2.500 kasus untuk setiap 3.700 kematian tampaknya memakai simpangan baku data mentah di tabel deskriptif, yakni 3.735 kematian dan 12.484 kasus. Padahal, koefisiennya dihitung pada angka kematian dan kasus yang lebih dulu diubah ke skala logaritma sebelum dibakukan. Hitungan kasar itu tetap berguna, tetapi sebaiknya dibaca sebagai perkiraan kasar.
Hubungan kematian tahun lalu dengan pembangunan disebut bertahan, padahal nilai p-nya 0,072 dan tidak bermakna pada ambang yang dipakai di bagian lain. Teks hasil regresi menyebut model yang memprediksi laju campak, sementara tabel yang dirujuk memprediksi jumlah kasus. Daftar vaksin juga menulis dosis lahir hepatitis B dengan kode HEPB-3, yang lazimnya menandai dosis ketiga. Afiliasi Tozan pun bertanda angka 24, padahal hanya dua afiliasi yang tercantum.
Kejanggalan di pembuka artikel ini akhirnya punya jawaban dari naskah Headley dan Tozan. Kematian tahun lalu lebih banyak berbicara karena gangguan terhadap layanan kesehatan dan vaksinasi berjalan lambat, dan karena perang lebih banyak bekerja lewat pengungsian dan pembangunan yang merosot. Jejak itu terbaca pada jumlah kasus campak, meski belum pada laju penularannya, yang lebih banyak ditentukan oleh seberapa kokoh pembangunan sebuah negara bertahan.














