Malaqbiq Mandar, Gelar Mulia yang Tak Bisa Dibeli dengan Harta

A A

Iring-iringan perahu layar sandeq khas Mandar berlayar putih di perairan Majene, Sulawesi Barat [Foto: Lfvalle1/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Menurut para penulis, nilai ini lahir dari perpaduan agama dan budaya.
  • Seseorang tidak dianggap to malaqbiq bila sifat dan perbuatannya melanggar norma agama dan masyarakat, meski ia kaya atau berdarah bangsawan.
  • Pemimpin semacam itu harus amanah, jujur, cerdas, dan terbuka.
  • Sebagian orang Mandar, menurut para penulis, telah melupakan kearifan lokalnya dan lebih memilih gaya hidup populer.
Daftar Isi
  1. Sebelum pemekaran: nama dan bahasa Mandar
  2. Juni hingga September 2019: tiga corak Islam
  3. Malam 27 Ramadan: jemaah dan mursyid
  4. Kini: siapa yang disebut to malaqbiq
  5. Era disrupsi: bekal untuk milenial
  6. 2022: catatan pada naskah

Pada 12 Juni 2019, Hasyim diwawancarai di Majene. Ia bercerita tentang orang Mandar yang masih belajar mengaji dengan cara lama. Mereka mendatangi guru yang dianggap layak mengajar, meski tempatnya jauh. Tujuannya bukan hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga memperoleh berkah dari sang guru.

Catatan wawancara itu menjadi bagian dari artikel Erwin Hafid, Baso Pallawagau, dan Ummi Farhah, Malaqbiq: Indeginious Living Tradition in Mandar Ethnic West Sulawesi-Indonesia Toward Disruption Era. Artikel itu terbit di Jurnal Adabiyah volume 22 nomor 2, tahun 2022. Dua penulis pertama berasal dari UIN Alauddin Makassar, penulis ketiga dari International Islamic University, Malaysia.

Pokok temuannya satu kata, yaitu malaqbiq. Dalam bahasa Mandar, kata itu dibaca mala’bi’ dan dipakai untuk menyebut kemuliaan, kesejahteraan, serta segala sifat baik yang menjadi norma masyarakat. Menurut para penulis, nilai ini lahir dari perpaduan agama dan budaya. Isinya sikap menghargai dan saling menghormati.

Para penulis menempatkan agama, terutama Islam, sebagai acuan utama hidup orang Mandar. Dari kelahiran sampai kematian, tulis mereka, ada tradisi dan ritual yang dihiasi ajaran Islam. Unsur Islam masuk ke upacara adat dan budaya. Karena itu, menurut naskah, orang Mandar tidak dapat dipisahkan dari agamanya.

Sebelum pemekaran: nama dan bahasa Mandar

Mandar adalah salah satu suku di Provinsi Sulawesi Barat. Sebelum pemekaran, suku ini masuk wilayah Sulawesi Selatan bersama Bugis, Makassar, dan Toraja. Menurut naskah, meski kini berada di provinsi sendiri, orang Mandar secara sejarah dan budaya masih terikat dengan ketiga suku itu.

Asal nama Mandar dicatat dalam beberapa versi. Ada yang menurunkannya dari sipamandar, artinya saling menguatkan. Ada yang menyebutnya berarti sungai, merujuk Sungai Mandar yang bermuara di pusat bekas Kerajaan Balanipa. Versi lain menariknya dari bahasa Arab dan memaknainya sebagai tempat berpenduduk sedikit.

Dua tokoh juga disebut punya tafsir sendiri. Menurut Saiful Sinrang, Mandar berarti cahaya. Menurut Darwis Hamzah, kata itu berasal dari mandaq, yang berarti kuat. Bahasanya digolongkan ke rumpun Melayu Polinesia dan masih mudah ditemukan di Polewali, Mamasa, Majene, Mamuju, dan Mamuju Utara.

Naskah juga mencatat posisi perempuan Mandar. Mereka tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi ikut mencari nafkah. Prinsip hidupnya disebut sibaliparri, artinya saling membantu. Bila suami menangkap ikan, tugasnya dianggap selesai begitu tiba di darat. Istri yang menentukan ikan itu dijual, dimakan, atau dikeringkan.

Ada pula istilah sirondo-rondoi, artinya suami dan istri bekerja sama membangun keluarga. Istilah siamamasei dan sianuang pa’mai berarti saling mengasihi dalam suka dan duka. Ketiganya dicatat sebagai ungkapan yang hidup di wilayah Mandar. Para penulis tidak merinci seberapa luas ungkapan itu dipakai sekarang.

Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili

Juni hingga September 2019: tiga corak Islam

Menurut naskah, pemahaman orang Mandar tentang Islam beragam. Para penulis membaginya ke dalam tiga corak, yaitu Islam magis, Islam syariat atau akhlak, dan Islam tasawuf atau tarekat. Ketiganya tampak dalam kegiatan sosial sehari-hari yang menjadikan Islam bagian dari hidup dan keyakinan mereka.

Corak syariat dianut sebagian besar orang Mandar. Mereka menjalankan ibadah seperti yang diterima dari ulama atau tokoh agama. Dalam pernikahan, membangun rumah, dan upacara lain, kitab Barzanji tentang riwayat Nabi Muhammad dibacakan. Menurut catatan wawancara Hasyim, mereka tidak menganggap Barzanji pengganti Al-Qur’an.

Barzanji, jelas naskah, lebih dekat ke karya sastra ketimbang karya sejarah karena menekankan keindahan bahasa. Ada versi prosa dan versi puisi, keduanya berkisah tentang kehidupan Nabi, terutama kelahirannya. Orang Mandar membacanya sebagai kisah teladan yang bisa dicontoh dalam hidup.

Pada 13 Agustus 2019, Mas’ud diwawancarai di Majene tentang tarekat. Menurut catatannya, dua aliran besar masuk ke wilayah Mandar. Qadiriyah diperkenalkan KH. Muhammad Saleh lalu diteruskan murid dan keturunannya. Naqsyabandiyah diperkenalkan Syekh Abd. Rahman Qadir. Pengikut kedua aliran itu berbeda.

Pada 10 September 2019, giliran Baharuddin yang diwawancarai di Majene. Catatan wawancaranya menjadi rujukan tentang praktik gaib di Mandar. Naskah menyebut sebagian orang Mandar mengakui Islam sebagai agama, tetapi juga membuat benda-benda sebagai jimat penyelamat. Sebagian kecil masih mempraktikkan ilmu gaib dengan mantra tertentu.

Istilahnya disebut satu per satu. Doti adalah mantra yang dikirim untuk mencelakai orang, sedangkan sihir lebih sering disebut naparuai. Ka’bal berarti kekebalan. Soke adalah benda yang ditanam di tanah, dan orang yang menginjaknya bisa pincang atau lumpuh. Menurut naskah, pandangan magis ini tidak membuat mereka meninggalkan ibadah.

Islam orang Mandar dalam angka naskahIslam orang Mandar dalam angka naskahIslam orang Mandar dalam angka naskahSuku Mandar, Sulawesi Barat3corak pahammagis, syariat,tasawuf/tarekat2tarekat besarQadiriyah danNaqsyabandiyah3masjidQadiriyah27 Ramadan4sikap malaqbiqamanah, jujur,cerdas, terbukaJalan risetnyaWawancara 3 tokohTelaah pustakaNilai malaqbiqTiga masjid itu: Gunung Salabose, Pambusuang, dan Makassar.
Sumber: Erwin Hafid, Baso Pallawagau, Ummi Farhah, Malaqbiq: Indeginious Living Tradition in Mandar Ethnic West Sulawesi-Indonesia Toward Disruption Era, Jurnal Adabiyah, 22(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Malam 27 Ramadan: jemaah dan mursyid

Jemaah Qadiriyah punya pertemuan tahunan. Setiap malam 27 Ramadan, jemaah datang untuk menjalankan ritual atau ibadah tertentu. Menurut narasumber, ada tiga tempat pada malam itu, yaitu masjid di Gunung Salabose, masjid di Pambusuang, dan masjid di Makassar.

Bagi penganut tarekat, guru adalah bagian terpenting. Mursyid atau khalifah dianggap sumber segala kebutuhan dan pemberi jalan keluar. Murid meminta didoakan untuk banyak urusan, dari menyekolahkan anak supaya pintar sampai memohon keturunan. Para penulis menyebut hubungan ini sebagai sistem patron dan klien.

Dalam sistem itu, ucapan guru menjadi kebenaran yang tidak dibantah murid. Naskah mengutip sebuah ungkapan yang diyakini penganut tarekat: siapa yang tidak punya syekh, setanlah gurunya. Belajar Islam tanpa bimbingan guru, bagi mereka, menjadi hal yang tidak masuk akal.

Selain ragam paham agama, tradisi Mandar menyimpan kalindaqdaq, puisi tradisional berisi kata-kata bijak. Menurut naskah, inilah karya sastra lama Mandar yang paling banyak dipakai untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran pada masa lalu. Satu versi asal katanya menyebut kalindaqdaq berarti isi dada, sebab isi hati digali lalu diungkapkan.

Versi lain menurunkannya dari bahasa Arab. Ada yang mengaitkannya dengan qaldan, memintal, karena menyusun kalindaqdaq butuh ketekunan seperti memintal benang. Ada pula yang menariknya dari qillidun, gudang, atau qaladah, kalung perhiasan perempuan. Semua makna itu, tulis para penulis, menunjukkan kedalaman nasihat dalam puisi ini.

Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya

Kini: siapa yang disebut to malaqbiq

Malaqbiq punya tiga lapis makna. Secara pribadi, kata itu berarti mulia, terhormat, unggul, dan sifat lain yang menunjukkan kebaikan. Secara komunal, artinya hidup sejahtera dengan kebutuhan dasar terpenuhi. Dalam perspektif Islam, masyarakat malaqbiq disamakan dengan baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur, negeri indah dan sejahtera di bawah ampunan Tuhan.

Gelar itu tidak bisa diklaim. “Di suku Mandar, gelar Malaqbiq tidak diperoleh dari pengakuan diri sendiri bahwa ia orang terpuji, melainkan merupakan hadiah dan penghargaan dari masyarakat atas capaian dan kualitasnya,” tulis Erwin Hafid, peneliti UIN Alauddin Makassar, bersama dua rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Harta dan jabatan tidak menentukan. Seseorang tidak dianggap to malaqbiq bila sifat dan perbuatannya melanggar norma agama dan masyarakat, meski ia kaya atau berdarah bangsawan. Gelar itu juga tidak diwariskan dari orang tua. Ukurannya satu, yaitu kata sejalan dengan perbuatan, dalam ungkapan Mandar situru kedzo anna pau-paunna.

Karena itu, menurut naskah, orang Mandar butuh pemimpin yang malaqbiq. Pemimpin semacam itu harus amanah, jujur, cerdas, dan terbuka. Para penulis mengaitkan keempat sikap itu dengan kepemimpinan Nabi Muhammad. Siapa pun yang memilikinya, bukan hanya pemimpin, dapat disebut to malaqbiq.

Siapa yang disebut to malaqbiqSiapa yang disebut to malaqbiqSiapa yang disebut to malaqbiqNilai malaqbiq dalam tradisi MandarTidak menentukanMenentukanMengaku sendiriDiberi wargaAsal gelarHarta, jabatanSifat, capaianYang dihitungDarah bangsawanKata sejalan lakuGaris keturunanUngkapan Mandar untuk kata yang sejalan dengan perbuatan: siturukedzo anna pau-paunna.
Sumber: Erwin Hafid, Baso Pallawagau, Ummi Farhah, Malaqbiq: Indeginious Living Tradition in Mandar Ethnic West Sulawesi-Indonesia Toward Disruption Era, Jurnal Adabiyah, 22(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Sifat itu dicari penulis dalam bait kalindaqdaq. Satu bait berbunyi Indi tia tommuane, bannang pute sarana, melo dicingga, melo dilango-lango. Terjemahannya kira-kira begini: inilah lelaki, benang putih yang siap dibasahi, menghadapi warna apa pun. Menurut naskah, bait itu berarti orang Mandar rela berbuat apa saja selama membawa kebaikan.

Para penulis membaca benang putih sebagai lambang kemurnian. Orang Mandar, tulis mereka, terbuka dan diterima semua golongan karena tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan strata sosial. Sesuatu yang murni dan bersih juga dianggap memancarkan keindahan. Bait ini dipakai untuk menjelaskan watak orang Mandar dari sisi agama.

Bait kedua menyangkut siriq, harga diri. Bunyinya Muaq polei polena, annaq iqda mala iqda, dotai lao nyawa, darzi nalao siriq. Artinya, bila saatnya tiba dan memang tak terelakkan, lebih baik mati daripada kehilangan siriq. Naskah menyebut orang Mandar juga memandang pelanggaran aturan adat sebagai siriq.

Harga diri yang dimaksud adalah harga diri seorang to malaqbiq. Ia dihormati karena memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Sebaliknya, korupsi, manipulasi, dan merampas hak orang lain disebut sebagai tindakan yang menghapus harga diri itu. Norma semacam ini, menurut naskah, tertulis dalam lontara panttodioloang dan juga hidup sebagai kesepakatan tak tertulis.

Persaudaraan juga dicatat erat. Orang Mandar menganggap sesama Mandar sebagai keluarga, baik yang menetap di Mandar maupun di perantauan, meski berbeda afiliasi politik dan organisasi. Para penulis menyarankan ilmuwan dan pengusaha Mandar di luar daerah dilibatkan membangun kampung halamannya lewat jaringan yang luas.

Baca juga Prabu Siliwangi di Hulu Citarum, Tapa yang Dibaca sebagai Islam

Era disrupsi: bekal untuk milenial

Bagian berikutnya melompat ke masa kini. Disrupsi didefinisikan sebagai perubahan mendasar yang digerakkan evolusi teknologi, terutama digitalisasi informasi. Istilah itu dirujuk ke Rheinald Kasali. Menurut naskah, generasi milenial kini banyak bergantung pada media sosial dan menghabiskan waktu di depan ponsel dan laptop.

Dampak positifnya diakui, yaitu kemudahan memenuhi kebutuhan hidup lewat media sosial. Dampak negatifnya dicatat lebih panjang: disorientasi sosial, serba praktis, hedonisme, mengabaikan sesama, dan tidak peduli masa depan. Di sinilah, menurut para penulis, kearifan lokal perlu disebarkan kepada milenial.

Malaqbiq dinilai mengajarkan penghormatan pada manusia sebagai makhluk mulia, tanpa diskriminasi strata politik, sosial, dan budaya. Para penulis menyebut, bila prinsip ini dianut milenial, persoalan hak asasi manusia bisa berkurang. Mereka mencontohkan pengusiran warga Rohingya di Myanmar dan perang di Timur Tengah sebagai akibat kurangnya penghormatan pada kemanusiaan.

Prinsip malaqbiq juga disebut mengajarkan optimisme dan orientasi masa depan, termasuk kehidupan sesudah mati. Bait ketiga berbunyi Passambayamoo dzai, pallima wattumo, iyamo tuu pewongan di ahera. Artinya, salatlah lima waktu karena itulah penuntun di akhirat. Menurut naskah, orientasi akhirat bisa mencegah milenial berbuat hal yang merugikan diri dan orang lain.

Pendidikan juga disinggung. Menurut para penulis, pengetahuan generasi muda soal hitungan dan informasi kini bisa melampaui pendidiknya karena digitalisasi. Fungsi sekolah bergeser ke pengajaran etika, budaya, karakter, dan empati sosial yang tidak ditemukan pada mesin. Karena itu, pendidikan formal yang diisi kearifan lokal dianggap penting.

Mengutip buku Disruption, para penulis menutup bagian ini dengan pesan agar setiap orang tahu posisinya dan ke mana ia menuju. Milenial, tulis mereka, perlu memahami kapasitas dan kemampuannya sendiri. Mereka juga perlu tetap berpijak pada realitas sosial di sekitarnya agar tidak mudah terombang-ambing perubahan.

Kesimpulan naskah memuat kekhawatiran. Sebagian orang Mandar, menurut para penulis, telah melupakan kearifan lokalnya dan lebih memilih gaya hidup populer. Mereka juga menyinggung industri dan pengelolaan tambang yang disebut sangat melimpah di Sulawesi Barat.

“Saya khawatir orang Mandar akan menjadi ‘tamu’ di daerahnya sendiri, ketika kemajuan dan pembangunan berlangsung pesat,” tulis naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu. Jalan keluar yang ditawarkan adalah merenungkan kembali nilai-nilai warisan para pendahulu. Tujuannya agar orang Mandar tidak menjadi orang asing di tanahnya sendiri.

2022: catatan pada naskah

Temuan ini punya batas yang jelas. Wawancara hanya dilakukan terhadap tiga tokoh masyarakat, dan catatan kaki menunjukkan ketiganya diwawancarai di Majene. Kaitan malaqbiq dengan persoalan dunia, dari Rohingya sampai perang Timur Tengah, disampaikan sebagai argumen para penulis, bukan hasil pengukuran. Naskah juga tidak menunjukkan seberapa banyak milenial Mandar yang masih memegang nilai itu.

Beberapa hal di naskah bisa diperiksa pembaca. Judulnya menulis Indeginious, bukan indigenous, dan salah satu kata kuncinya berbunyi Relious Magic. Di kata kunci berbahasa Indonesia, disruption diterjemahkan menjadi kekacauan. Nama Rheinald Kasali di badan naskah juga berbeda ejaan dengan Rhenald Kasali di catatan kaki dan daftar pustaka.

Naskah menyebut kata Mandar punya tiga makna, tetapi yang diuraikan sesudahnya lebih dari tiga. Ejaan istilah keluarga juga berganti, dari sirindo-rondo ke sirondo-rondoi dan dari siamasei ke siamamasei. Abstrak menyebut wawancara dan studi pustaka, sedangkan bagian metode menambahkan observasi dan analisis dokumen.

Kesimpulan yang ditulis tiga orang juga berpindah dari kami ke saya dalam dua paragraf berurutan. Dua rujukan tentang disrupsi dan malaqbiq berasal dari blog, bukan jurnal atau buku. Satu rujukan skripsi mencantumkan hari dan jam akses di dalam judulnya.

Riset itu dikerjakan pada 2019 dengan dukungan Pusat Penelitian UIN Alauddin Makassar. Hasilnya terbit di Jurnal Adabiyah pada 2022. Sampai titik itu, malaqbiq tercatat sebagai gelar yang diberikan masyarakat, bukan diminta.

Bagikan

Baca Juga

Hari Tua Sering Dipikirkan Warga Oosterpark, Jarang Disiapkan
Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih
Promo Takeaway Memikat Keluarga Inggris Berpenghasilan Rendah
Motor ATV Gurun di Emirat Paling Berbahaya Justru di Jalan Aspal
Keluarga Yi Hidup dengan HIV: Klan Menopang, Diam Ada Harganya
Suku Ngalum Ok dan Gereja Katolik Sama Melarang Kawin Sedarah