- Skor total warga Taiwan selatan rata-rata 37,1, sedangkan warga Taiwan tengah 35,3.
- Sebanyak 18,8 persen warga selatan tidak pernah mendaftar berobat secara online, dibanding 10,5 persen di tengah.
- Warga selatan lebih banyak menyandang dua penyakit kronis atau lebih, yaitu 20,0 persen dibanding 10,4 persen.
- Peserta yang tidak rutin ke dokter punya rasio odds 4,5 untuk tergolong berliterasi rendah.
Daftar Isi
- Pertanyaan tentang Pilihan Pengobatan Selalu Tertinggal di Dasar Daftar
- Warga Selatan Menjawab dengan Skor Lebih Tinggi daripada Warga Tengah
- Di Selatan, Skor yang Lebih Tinggi Datang Bersama Penyakit Ganda dan Pendaftaran Online yang Lebih Jarang
- Satu Ciri Bertahan Setelah Faktor Lain Ditimbang, yaitu Jarang Pergi ke Dokter
- Kuesioner Itu Diisi Orang yang Datang Sendiri ke Acara Kesehatan
Satu pertanyaan di lembar kuesioner itu mendapat nilai paling rendah, baik di Taiwan tengah maupun selatan. Bunyinya sederhana: seberapa mudah Anda menilai kelebihan dan kekurangan berbagai pilihan pengobatan? Warga mengisinya sendiri di acara promosi kesehatan komunitas, dengan empat pilihan jawaban dari sangat sulit sampai sangat mudah. Di Taiwan tengah, rata-ratanya hanya 2,6 dari skala 4.
Pertanyaan itu satu dari dua belas yang dipakai untuk mengukur literasi kesehatan, yakni kemampuan mencari, memahami, menilai, dan memakai informasi kesehatan untuk mengambil keputusan. Sebanyak 365 orang dewasa ikut serta antara 25 September 2024 dan 27 Mei 2025, terdiri atas 208 warga Taiwan tengah dan 157 warga Taiwan selatan. Usia rata-rata mereka 57,6 tahun.
Penelitian itu ditulis Yen-Ju Chen dan rekan dari Research Assistant Center, Tainan Municipal Hospital, rumah sakit yang dikelola Show Chwan Medical Care Corporation. Judulnya Health literacy and digital health service use among community residents in Taiwan: implications from a pilot assessment using the HLS-SF12. Laporannya terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Survei ini bagian dari upaya Show Chwan Healthcare System memperbaiki kesehatan penduduk, bersama China Youth Corps dan relawan setempat.
Pertanyaan tentang Pilihan Pengobatan Selalu Tertinggal di Dasar Daftar
Pertanyaan dengan rata-rata di bawah 3,0 ditandai peneliti sebagai area yang lebih lemah. Di antaranya menilai pilihan pengobatan, menentukan vaksinasi yang mungkin diperlukan, mencari informasi cara mengatasi masalah kesehatan jiwa seperti stres atau depresi, dan memutuskan cara melindungi diri dari penyakit berdasarkan saran keluarga dan teman. Menurut peneliti, area inilah yang perlu disasar lewat intervensi.
Untuk vaksinasi, rata-rata warga Taiwan tengah 2,7 dan warga selatan 3,0. Untuk informasi kesehatan jiwa, 2,8 berbanding 3,0. Untuk saran keluarga dan teman, 2,9 berbanding 3,1. Pada ketiga pertanyaan itu, perbedaan dua wilayah bermakna secara statistik.
Pertanyaan yang paling mudah dijawab menyangkut memanggil ambulans dan menilai perilaku sehari-hari. Memanggil ambulans dalam keadaan darurat mendapat rata-rata 3,3 di tengah dan 3,4 di selatan. Angka yang sama muncul untuk menilai perilaku sehari-hari, seperti makan, minum, dan berolahraga, yang memengaruhi kesehatan. Memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan, dari pemeriksaan payudara sampai cek tekanan darah, mendapat 3,1 dan 3,2.
Baca juga Warga Asia Selatan di Hong Kong Nyaris Tak Punya Dokter Langganan
Warga Selatan Menjawab dengan Skor Lebih Tinggi daripada Warga Tengah
Perbandingan dua wilayah memberi hasil yang tegas. Skor total warga Taiwan selatan rata-rata 37,1, sedangkan warga Taiwan tengah 35,3, dan selisih ini bermakna secara statistik. Pada lima pertanyaan, yaitu soal pilihan pengobatan, vaksinasi, kesehatan jiwa, saran keluarga dan teman, serta ikut klub olahraga, warga selatan mencatat nilai lebih tinggi secara bermakna.
Bila dikonversi ke indeks baku berskala 0 sampai 50, rata-rata warga tengah berada di 32,4, tingkat yang tergolong bermasalah. Warga selatan berada di 34,9, tingkat cukup. Peneliti menegaskan indeks itu hanya untuk gambaran dan perbandingan. Angka itu tidak dipakai untuk menggolongkan literasi tiap orang. Peneliti punya dugaan tentang asal selisih itu. Skor yang lebih tinggi di selatan mungkin mencerminkan dampak program promosi kesehatan berbasis komunitas yang belakangan dijalankan otoritas kesehatan setempat dan organisasi nonpemerintah. Mereka menuliskannya sebagai kemungkinan, bukan kepastian.
Wajah peserta di dua wilayah pun berbeda. Laki-laki mencapai 37,5 persen peserta selatan, sedangkan di tengah hanya 13,4 persen. Sepeda motor menjadi kendaraan sehari-hari 85,8 persen peserta selatan dan 67,8 persen peserta tengah. Hampir separuh peserta lulus perguruan tinggi atau lebih, dan sebagian besar tak pernah meninggalkan tempat kelahirannya.
Di Selatan, Skor yang Lebih Tinggi Datang Bersama Penyakit Ganda dan Pendaftaran Online yang Lebih Jarang
Di titik ini ceritanya berbelok. Warga selatan yang skornya lebih tinggi justru lebih banyak menyandang dua penyakit kronis atau lebih, yaitu 20,0 persen dari 150 orang, dibanding 10,4 persen dari 201 orang di tengah. Darah tinggi adalah penyakit kronis yang paling sering dilaporkan, dicatat 28,7 persen peserta selatan dan 19,9 persen peserta tengah.
Layanan digital pun lebih jarang disentuh. Sebanyak 18,8 persen warga selatan tidak pernah mendaftar berobat secara online, dibanding 10,5 persen di tengah. Yang jarang memakainya 18,8 persen di selatan dan 15,0 persen di tengah. Yang sering memakainya 36,4 persen di selatan dan 49,0 persen di tengah. Perbedaan pola pemakaian ini bermakna secara statistik.
“Meski tingkat literasi kesehatannya lebih tinggi, warga komunitas di selatan melaporkan prevalensi multimorbiditas yang lebih tinggi dan keterlibatan yang lebih rendah dengan layanan kesehatan digital,” tulis Chen dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Menurut mereka, pola itu menunjukkan hubungan yang rumit antara literasi kesehatan, beban penyakit kronis, dan pemakaian layanan kesehatan digital.
Mereka juga menulis bahwa faktor struktural, konteks setempat, dan sistem kesehatan mungkin lebih berpengaruh daripada kemampuan perorangan. Pemakaian layanan digital yang relatif rendah, terutama pada warga lanjut usia dan warga selatan, menurut mereka menegaskan bahwa literasi kesehatan digital kian menjadi prioritas kesehatan masyarakat.
Situs resmi fasilitas kesehatan tetap dinilai berguna oleh kebanyakan peserta. Informasinya dianggap cukup membantu oleh 63,7 persen peserta tengah dan 51,0 persen peserta selatan, serta sangat lengkap oleh 22,1 dan 25,8 persen. Lebih dari 80 persen peserta menilai mutu layanan kesehatan di daerahnya sebanding dengan rata-rata nasional.
Baca juga Ponsel Pintar Menemani Daya Pikir Lansia, Asal Tidak Jelang Tidur
Satu Ciri Bertahan Setelah Faktor Lain Ditimbang, yaitu Jarang Pergi ke Dokter
Peneliti lalu menandai peserta dengan skor total di bawah rata-rata sampel sebagai kelompok berliterasi kesehatan rendah. Enam ciri diuji, mulai dari usia 65 tahun ke atas, laki-laki, pendidikan paling tinggi SMA, tidak punya penyakit kronis, pengobatan tidak teratur, sampai menilai informasi di situs resmi kurang memadai.
Hanya satu yang bertahan. Peserta yang tidak rutin ke dokter, yang dalam tabel tercatat sebagai pengobatan tidak teratur, punya rasio odds 4,5 untuk tergolong berliterasi rendah setelah faktor lain diperhitungkan. Rentang kepercayaannya lebar, dari 1,2 sampai 16,1. Rutin di sini berarti ke dokter minimal dua kali setahun.
Peneliti menegaskan temuan ini tidak menyiratkan sebab-akibat. Menurut mereka, hubungan itu menunjukkan orang dengan literasi kesehatan lebih rendah mungkin lebih jarang menjalani perawatan pencegahan atau kontrol lanjutan secara rutin. Ciri lain tidak bermakna setelah disesuaikan, dengan rasio odds 2,3 untuk informasi situs yang kurang, 2,0 untuk pendidikan, 1,3 untuk usia, dan 1,1 untuk laki-laki.
“Temuan kami menunjukkan bahwa interaksi yang terbatas dengan layanan kesehatan dapat mengurangi kesempatan bertukar informasi kesehatan dan terlibat dalam pencegahan, terutama di kalangan lansia,” tulis Chen dan rekan. Temuan itu muncul di sistem kesehatan dengan jaminan yang hampir menyeluruh. Menurut mereka, hal itu menegaskan literasi kesehatan tradisional tetap relevan.
Baca juga Remaja Miskin Taiwan Lebih Puas Berkat Keluarga, Tetap Tertekan
Kuesioner Itu Diisi Orang yang Datang Sendiri ke Acara Kesehatan
Kuesioner 12 pertanyaan itu dinilai andal dan sahih untuk penelitian kesehatan berbasis komunitas, serta layak dipakai dalam survei penduduk berskala besar. Namun peneliti mencatat batas temuannya. Peserta direkrut lewat acara promosi kesehatan sukarela, sehingga mungkin terlalu banyak mewakili orang yang lebih sadar kesehatan atau lebih sehat daripada penduduk umum.
Warga desa dan mereka yang sulit menjangkau kegiatan promosi kesehatan mungkin kurang terwakili. Pemakaian layanan digital pun hanya diukur dengan sedikit penanda, terutama pendaftaran berobat online, sehingga belum mencerminkan seluruh keterampilan digital di bidang kesehatan. Karena data diambil sekali saja, studi ini tidak bisa menarik kesimpulan sebab-akibat. Rentang kepercayaan yang lebar pada sebagian perkiraan juga membuat hasilnya perlu dibaca dengan hati-hati, tulis para peneliti. Mereka mengusulkan penelitian jangka panjang dan studi intervensi yang menjangkau warga desa dan kelompok yang kurang terlayani.
Dari sisi kesehatan masyarakat, mereka menyarankan program literasi kesehatan berbasis komunitas yang disesuaikan dengan tiap wilayah dan memasukkan strategi inklusi digital, misalnya lokakarya edukasi kesehatan dan konsultasi berbantuan chatbot. Menurut mereka, memasukkan literasi kesehatan ke program nasional seperti Health Taiwan Enhancement Plan 2025–2029 yang diluncurkan pemerintah Taiwan dapat memperkuat kapasitas kesehatan masyarakat dan membantu mengurangi kesenjangan kesehatan.
Di lembar kuesioner yang sama, pertanyaan tentang menimbang pilihan pengobatan tetap berada di dasar daftar. Di Taiwan tengah, 2,6. Di selatan, 2,9.















