Ponsel Pintar Menemani Daya Pikir Lansia, Asal Tidak Jelang Tidur

A A

Ilustrasi laki-laki lanjut usia duduk di bangku taman kota sambil menatap ponsel [Foto: Yiming Tang/Pexels]

  • Skor pengguna lebih tinggi 0,57 poin daripada bukan pengguna.
  • Selisih 0,57 poin setara dengan beda daya pikir dua orang yang usianya terpaut kira-kira 8,4 tahun dalam kelompok ini.
  • Pada pemakaian lebih dari satu jam, selisih itu tinggal 0,37 poin.
  • Pada 945 orang yang memainkannya sepuluh menit atau lebih, selisihnya tinggal 0,10 poin.
  • Peserta hanya diperiksa pada satu waktu, sehingga urutan sebab dan akibat tidak bisa ditetapkan.
Daftar Isi
  1. Selisih 0,57 poin
  2. Dua kelompok berbeda
  3. Makin lama, makin tipis
  4. Sepuluh menit jelang tidur
  5. Kelompok yang menonjol
  6. Dugaan para penulis
  7. Batas yang diakui
  8. Catatan pada naskah

Pengguna ponsel pintar paruh baya dan lansia mencatat skor pikir lebih tinggi. Temuan itu datang dari 10.846 warga Tiongkok berusia 45 tahun ke atas. Namun, keunggulan itu menipis ketika ponsel dipakai makin lama, dan nyaris habis pada mereka yang memainkannya sepuluh menit atau lebih menjelang tidur.

Penelitian itu ditulis Dongrui Li, Cheng Jin, Yinshun Peng, Xiao Chen, Yilun Huang, Shuohua Chen, Xiang Gao, Yuntao Wu, dan Yaqi Li. Judulnya Smartphone use and cognitive performance in middle-aged and older adults: a cross-sectional study in China. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Enam dari sembilan penulis bernaung di Fudan University, Shanghai. Cheng Jin berasal dari The Second Affiliated Hospital of Harbin Medical University di Harbin. Shuohua Chen dan Yuntao Wu bekerja di Kailuan General Hospital, Tangshan.

Latar penelitian ini sederhana. Naskah mencatat ponsel pintar menjadi perangkat pilihan 99,9 persen warganet Tiongkok. Sampai Desember 2023, porsi warganet berusia 50 tahun ke atas di negeri itu mencapai 32,5 persen.

Usia juga membawa persoalan lain. Naskah menyebut menua kerap disertai kemunduran daya pikir, yang menurunkan mutu hidup dan bisa berkembang menjadi demensia. Karena itu, para penulis ingin tahu apa kaitan ponsel pintar dengan daya pikir kelompok usia ini.

Selisih 0,57 poin

Para peserta berasal dari Kailuan study, pemantauan kesehatan warga yang berjalan sejak 2006. Daya pikir mereka diukur dengan tes berskala 30 poin pada 2016 sampai 2018. Makin tinggi skornya, makin baik daya pikirnya.

Dari 10.846 peserta, 5.088 orang memakai ponsel pintar. Itu 46,9 persen, atau hampir separuh. Sisanya, 5.758 orang, menjawab tidak ketika ditanya apakah mereka memakai ponsel pintar.

Skor pengguna lebih tinggi 0,57 poin daripada bukan pengguna. Angka itu sudah memperhitungkan usia, pendidikan, pendapatan, dan sejumlah faktor lain. Sebelum hipertensi dan diabetes ikut diperhitungkan, selisihnya 0,75 poin.

Setengah poin terdengar kecil. Para penulis memberi ukuran pembandingnya. Selisih 0,57 poin setara dengan beda daya pikir dua orang yang usianya terpaut kira-kira 8,4 tahun dalam kelompok ini.

Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia

Dua kelompok berbeda

Pengguna dan bukan pengguna tidak berangkat dari titik yang sama. Rata-rata usia pengguna 55,4 tahun, sedangkan bukan pengguna 59,7 tahun. Pengguna juga lebih berpendidikan: 28,9 persen tamat sekolah menengah atas atau lebih, berbanding 14,8 persen.

Dompet mereka pun berbeda. Sebanyak 58,8 persen pengguna berasal dari rumah tangga berpendapatan di atas 1.000 yuan per bulan. Pada bukan pengguna, angkanya 44,9 persen, sedangkan sisanya hidup dengan pendapatan rumah tangga 1.000 yuan atau kurang.

Bukan pengguna lebih banyak yang sudah pensiun, 45,8 persen berbanding 19,5 persen. Mereka juga lebih sering mengidap penyakit. Hipertensi tercatat pada 62,3 persen bukan pengguna dan 52,5 persen pengguna.

Jarak paling lebar ada pada diabetes. Penyakit itu tercatat pada 41,7 persen bukan pengguna, tetapi hanya 24,4 persen pengguna. Sebaliknya, pengguna lebih banyak yang pernah merokok, 37,7 persen berbanding 21,8 persen, dan yang pernah minum alkohol, 33,7 persen berbanding 26,1 persen.

Ada satu ciri yang sama pada kedua kelompok. Sebagian besar pesertanya laki-laki, yakni 87,1 persen pengguna dan 83,6 persen bukan pengguna. Perempuan hanya 658 orang di antara pengguna dan 942 orang di antara bukan pengguna.

Dua kelompok yang berbeda sejak awalPengguna ponsel pintar lebih muda, lebih berpendidikan, dan lebih jarang mengidap hipertensi atau diabetes.Dua kelompok yang berbeda sejak awalProfil 10.846 peserta Kailuan study berusia 45 tahun ke atasPenggunaBukan pengguna5.0885.758Jumlah orang55,4 tahun59,7 tahunRata-rata usia28,9%14,8%SMA ke atas19,5%45,8%Sudah pensiun52,5%62,3%Hipertensi24,4%41,7%DiabetesPeserta diperiksa pada 2016 sampai 2018.
Sumber: Dongrui Li, Cheng Jin, Yinshun Peng, Xiao Chen, Yilun Huang, Shuohua Chen, Xiang Gao, Yuntao Wu, dan Yaqi Li, Smartphone use and cognitive performance in middle-aged and older adults: a cross-sectional study in China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Makin lama, makin tipis

Pengguna lalu ditanya berapa lama mereka memakai ponsel dalam sehari. Jawaban terbanyak adalah kurang dari setengah jam, dari 2.599 orang. Sebanyak 969 orang memakainya setengah sampai satu jam, dan 1.355 orang lebih dari satu jam.

Kelompok yang paling singkat memakai ponsel justru paling unggul. Skor mereka 0,73 poin di atas bukan pengguna. Pada pemakaian setengah sampai satu jam, selisihnya turun menjadi 0,47 poin, masih di atas bukan pengguna tetapi jauh lebih tipis.

Pada pemakaian lebih dari satu jam, selisih itu tinggal 0,37 poin. Ketiga kelompok tetap berada di atas bukan pengguna. Hanya saja, arahnya jelas menurun seiring lamanya pemakaian.

Kelompok terakhir itu sebenarnya gabungan. Peserta yang memakai ponsel dua sampai tiga jam atau lebih dari tiga jam sehari terlalu sedikit. Para penulis menyatukan mereka dengan kelompok satu sampai dua jam, sehingga naskah tidak bisa bercerita tentang pemakai yang paling berat.

Makin lama memakai ponsel, makin tipis selisihnyaSehari kurang dari 0,5 jam: Selisih skor +0,73; Sehari 0,5-1 jam: Selisih skor +0,47; Sehari lebih dari 1 jam: Selisih skor +0,37; Sebelum tidur 0 menit: Selisih skor +0,71; Sebelum tidur kurang dari 10 menit: Selisih skor +0,32; Sebelum tidur 10 menit atau lebih: Selisih skor +0,10.Makin lama memakai ponsel, makin tipisselisihnyaSelisih skor tes 30 poin dari bukan pengguna ponsel0,20,40,60,80Sehari kurang dari 0,5 jam0,73Sehari 0,5-1 jam0,47Sehari lebih dari 1 jam0,37Sebelum tidur 0 menit0,71Sebelum tidur kurang dari 10 menit0,32Sebelum tidur 10 menit atau lebih0,10Angka sesudah memperhitungkan usia, pendidikan, pendapatan, danfaktor lain. Selisih 0,10 tidak bermakna.
Sumber: Dongrui Li, Cheng Jin, Yinshun Peng, Xiao Chen, Yilun Huang, Shuohua Chen, Xiang Gao, Yuntao Wu, dan Yaqi Li, Smartphone use and cognitive performance in middle-aged and older adults: a cross-sectional study in China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sepuluh menit jelang tidur

Pertanyaan ketiga lebih spesifik, yakni berapa lama peserta memainkan ponsel sebelum tidur. Sebanyak 3.125 pengguna menjawab nol menit. Skor mereka 0,71 poin di atas bukan pengguna, hampir sama dengan kelompok pemakai harian paling singkat.

Begitu ponsel ikut ke tempat tidur, angkanya turun tajam. Pada 862 orang yang memainkannya kurang dari sepuluh menit, selisihnya 0,32 poin. Itu belum separuh dari keunggulan kelompok nol menit.

Pada 945 orang yang memainkannya sepuluh menit atau lebih, selisihnya tinggal 0,10 poin. Angka sekecil itu tidak lagi bermakna secara statistik. Naskah menyebut daya pikir kelompok ini setara dengan bukan pengguna.

Dua kebiasaan itu juga dihitung bersamaan. Hasilnya searah dengan dua hitungan sebelumnya. Makin panjang gabungan waktu pemakaian harian dan pemakaian jelang tidur, makin rendah skor daya pikirnya.

Dugaan pertama tentu kurang tidur. Naskah mengutip laporan bahwa kurang tidur akibat ponsel dapat mengganggu perhatian, kemampuan belajar, dan pengambilan keputusan. Namun, pola itu bertahan setelah lama tidur peserta diperhitungkan, sehingga para penulis menduga ada faktor lain yang terlibat.

Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah

Kelompok yang menonjol

Kaitan ponsel pintar dengan daya pikir tidak sama kuat di semua kelompok. Kaitannya lebih menonjol pada peserta berusia 60 tahun ke atas, perempuan, dan mereka yang berpendapatan lebih rendah. Hal serupa terlihat pada pengidap diabetes, penyakit yang justru lebih banyak dijumpai pada bukan pengguna.

Peserta yang tidak pernah merokok dan tidak pernah minum alkohol juga menunjukkan kaitan yang lebih kuat. Sebaliknya, status pernikahan, tingkat pendidikan, aktivitas fisik, indeks massa tubuh, dan hipertensi tidak mengubah kekuatan kaitan itu.

Para penulis menandai satu pola di sini. Perempuan, orang yang lebih tua, dan pengidap diabetes mereka sebut sebagai kelompok yang lebih rentan mengalami kemunduran daya pikir. Pada kelompok itulah kaitannya tampak paling menonjol.

Hasil utama juga diuji dengan cara lain. Sekitar 42,8 persen peserta meraih skor tertinggi, sehingga tes itu mungkin kurang peka membedakan mereka. Para penulis lalu menghitung ulang dengan ukuran gangguan kognitif ringan, dan pengguna ponsel pintar tetap lebih jarang mengalaminya.

Dugaan para penulis

Mengapa ponsel pintar berjalan seiring dengan skor yang lebih baik, naskah belum bisa memastikan. Satu penjelasan yang diajukan adalah keterlibatan di media sosial. Sejumlah penelitian lain, tulis mereka, mengaitkan pemakaian media sosial dengan fungsi ingatan.

Naskah juga merujuk penelitian tentang WeChat di Tiongkok. Pemakaian aplikasi itu dilaporkan berkaitan dengan fungsi eksekutif, ingatan episodik, dan daya pikir secara umum. Temuan baru ini, menurut para penulis, sejalan dengan laporan tersebut.

Ada pula penjelasan untuk sisi sebaliknya. Pemakaian ponsel yang berat bisa berarti sering mengerjakan beberapa media sekaligus. Kebiasaan itu, menurut penelitian yang dirujuk naskah, berkaitan dengan berkurangnya kepadatan materi abu-abu di korteks singulat anterior, bagian otak yang penting untuk pengaturan pikiran dan emosi.

Dari situ para penulis menarik satu saran. Pemakaian harian yang sedang dan pemakaian yang dibatasi sebelum tidur, tulis mereka, bisa jadi lebih baik untuk menjaga daya pikir kelompok usia ini. Mereka berharap temuan ini kelak menjadi bahan panduan pemakaian ponsel pintar bagi penduduk yang menua.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Batas yang diakui

Naskah ini terbuka soal kelemahannya. Semua data pemakaian ponsel berasal dari kuesioner, yang bergantung pada ingatan peserta. Lama pemakaian harian dan jelang tidur bisa saja salah dilaporkan, sehingga seseorang masuk ke kelompok yang keliru.

Karena itu para penulis menahan diri. “Tren menurun pada skor MMSE yang berkaitan dengan lamanya pemakaian ponsel pintar dalam penelitian kami harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis Dongrui Li dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. MMSE adalah nama tes daya pikir yang mereka pakai.

Kuesioner itu juga tidak mencatat apa yang dilakukan peserta dengan ponselnya. Media sosial, berkirim pesan, dan membaca bisa membawa pengaruh yang berbeda. Naskah meminta penelitian berikutnya memakai catatan waktu layar yang objektif.

Kelemahan kedua lebih mendasar. Peserta hanya diperiksa pada satu waktu, sehingga urutan sebab dan akibat tidak bisa ditetapkan. Para penulis mengakui arahnya bisa terbalik: orang yang daya pikirnya lebih baik mungkin lebih cenderung memakai ponsel pintar.

Peserta yang dianalisis juga lebih sehat dan lebih mapan daripada mereka yang dikeluarkan dari hitungan. Akibatnya, hasil ini belum tentu berlaku bagi penduduk pada umumnya. Perbedaan besar antara pengguna dan bukan pengguna pun membuka peluang adanya faktor lain yang tidak terukur.

Catatan pada naskah

Ada tiga hal yang bisa diperiksa pembaca di naskah ini. Pertama, kalimat hasil hitungan gabungan tertulis bahwa kaitan positif itu “was longer existed” pada pemakai harian yang biasa memainkan ponsel jelang tidur. Konteksnya menunjukkan maksudnya tidak ada lagi, dan angkanya hanya dimuat di tabel lampiran.

Kedua, pendahuluan menyebut porsi warganet berusia 50 tahun ke atas naik dari 30,8 persen menjadi 32,5 persen. Naskah hanya menyebut batas akhirnya, Desember 2023, dan tidak menyebut kapan angka awal itu dicatat. Ketiga, data pemakaian ponsel dikumpulkan pada 2016 sampai 2018, sedangkan artikelnya terbit pada 2026.

Yang tersisa adalah gambaran dua arah dari hampir sebelas ribu orang. Ponsel pintar berjalan seiring dengan daya pikir yang lebih baik, tetapi keunggulan itu surut ketika layar dibawa sampai ke tempat tidur.

Bagikan

Baca Juga

Nafkah Keluarga Pesisir Bangladesh Rapuh, Berat Anak Ikut Kurang
Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Pensiunan Sarawak Hidup Lebih Baik bila Masih Merasa Berdaya
Berhenti Naik Angkutan Umum, Langkah dan Ingatan Lansia Surut
Biaya Artritis Reumatoid Naik Mengikuti Parahnya Sakit dan Usia
Anak Muda Muna Membawa Nyanyian Kantola ke Layar Ponsel