- Dukungan keluarga pada 2011 berkaitan dengan kepuasan hidup yang lebih tinggi pada 2013.
- Rasa tegang, murung, dan sulit tidur dua tahun kemudian tidak ikut berkurang pada remaja yang merasa didukung keluarganya.
- Lebih dari separuh, tepatnya 56,9 persen atau 1.020 orang, adalah perempuan.
- Jalur lewat keyakinan diri itu terbukti menuju kepuasan hidup, tetapi tidak menuju tekanan batin.
- Tidak satu pun jalur dalam temuan ini berbeda antara remaja laki-laki dan remaja perempuan.
Daftar Isi
- Remaja yang merasa dihargai di rumah lebih puas pada hidupnya dua tahun kemudian
- Rasa tegang, murung, dan sulit tidur ternyata tidak ikut mereda bersama dukungan itu
- Keyakinan bahwa diri sanggup menjadi jembatan menuju rasa puas, bukan penawar tekanan
- Anak laki-laki dan perempuan menempuh jalur yang sama, dan bantuan uang saja dinilai belum cukup
- Data dari 2011 dan 2013, batas yang diakui penulis, dan hal kecil yang bisa diperiksa pembaca
Tahun 2011, hampir 1.800 remaja dari keluarga miskin di Taiwan menghadapi sederet pernyataan. Salah satunya kira-kira berbunyi: saat kecewa, saya selalu bisa mencari penghiburan pada keluarga. Mereka tinggal memilih, setuju atau tidak. Dua tahun kemudian pertanyaan lain datang kepada orang yang sama. Seberapa tegang, seberapa murung, seberapa sulit tidur sepekan terakhir? Jawaban pertama ternyata tidak meramalkan jawaban kedua.
Kejutan itu dicatat Ching-Wen Chang, Ling Lin, dan Ji-Kang Chen dalam artikel The mediating role of self-efficacy in the association between family support and mental health among Taiwanese adolescents and youths in low-income families: a half-longitudinal mediation model, yang dimuat BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026. Chang adalah associate professor di Graduate Institute of Social Work, National Taiwan Normal University. Lin asisten peneliti dan Chen profesor di Department of Social Work, The Chinese University of Hong Kong.
Yang mereka temukan terbelah dua. Dukungan keluarga pada 2011 berkaitan dengan kepuasan hidup yang lebih tinggi pada 2013. Itu sisi terang kesehatan jiwa. Sisi gelapnya tidak bergerak. Rasa tegang, murung, dan sulit tidur dua tahun kemudian tidak ikut berkurang pada remaja yang merasa didukung keluarganya.
Remaja yang merasa dihargai di rumah lebih puas pada hidupnya dua tahun kemudian
Mundur dulu ke orang-orangnya. Mereka 1.792 remaja berusia 13 tahun ke atas, tersebar di 23 county dan kota di Taiwan, semuanya dari keluarga yang dibantu Taiwan Fund for Children and Families. Lebih dari separuh, tepatnya 56,9 persen atau 1.020 orang, adalah perempuan. Pada 2011, sebanyak 1.643 orang atau 91,7 persen masih berstatus pelajar. Dua tahun kemudian tinggal 1.414 orang, sedangkan 378 lainnya sudah bekerja atau tinggal di rumah.
Dukungan keluarga diukur dari empat pernyataan yang sederhana. Selain soal penghiburan saat kecewa, remaja ditanya apakah mereka bisa mengandalkan keluarga ketika butuh bantuan atau nasihat. Ditanya pula apakah anggota keluarga saling berunding sebelum mengambil keputusan. Yang terakhir paling pendek: apakah saya merasa dihargai oleh keluarga saya.
Kepuasan hidup ditakar dengan cara serupa, lewat lima pernyataan. Dua di antaranya dikutip dalam naskah: hidup saya dalam banyak hal mendekati yang saya idamkan, dan keadaan hidup saya sangat baik. Rerata skornya 20,09 pada 2011 dan 19,11 pada 2013. Skor dukungan keluarga hampir tidak bergeser, dari 11,88 ke 11,98.
Di sinilah titik baliknya. Setelah kepuasan hidup pada 2011 ikut diperhitungkan, dukungan keluarga tahun itu tetap berkaitan dengan kepuasan hidup pada 2013. Besarnya 0,10 dan bermakna secara statistik. Angkanya kecil. Namun ia bertahan melewati jeda dua tahun, pada kelompok yang menurut para penulis paling rentan terganggu jiwanya.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Para penulis membaca hasil itu dari kebiasaan masyarakatnya. Di Taiwan, tulis mereka, keluarga dan keselarasan antarorang sangat dijunjung. Dukungan dari rumah memberi remaja dukungan emosional, bimbingan, dan rasa terhubung. Rasa menjadi bagian dari keluarga itu, menurut mereka, bisa menguat lalu menaikkan kepuasan hidup.
Rasa tegang, murung, dan sulit tidur ternyata tidak ikut mereda bersama dukungan itu
Tekanan batin diukur dari lima perasaan selama sepekan terakhir: tegang, murung, mudah kesal, merasa lebih rendah daripada orang lain, dan sulit tidur. Rerata skornya 10,00 pada 2011 dan 9,80 pada 2013. Sekilas, dukungan keluarga memang berjalan seiring dengan tekanan yang lebih ringan. Korelasinya dengan tekanan batin dua tahun kemudian minus 0,15.
Lalu kaitan itu luruh. Begitu tekanan batin pada 2011 dimasukkan ke dalam hitungan, angkanya tinggal minus 0,02 dan tidak lagi bermakna. Remaja yang tertekan pada 2011 cenderung tetap tertekan pada 2013, apa pun jawaban mereka tentang keluarga. Kestabilan tekanan batin selama dua tahun itu tercatat 0,48.
Penjelasan pertama para penulis adalah tumpukan beban. Remaja dari keluarga berpenghasilan rendah menghadapi kesulitan uang, tekanan pelajaran, dan konflik di rumah sekaligus. Lama-lama semuanya menumpuk atau makin rumit. “Karena itu, bahkan ketika remaja merasakan dukungan keluarga yang tinggi, dukungan tersebut mungkin tidak cukup untuk mengimbangi dampak buruk paparan stres yang menumpuk terhadap kesehatan jiwa,” tulis Chang, Lin, dan Chen, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Penjelasan kedua lebih getir. Dukungan keluarga di Taiwan, menurut naskah itu, terjalin dengan harapan balas budi dan tanggung jawab atas kesejahteraan keluarga. Remaja yang didukung bisa sekaligus merasa makin wajib memenuhi harapan. Para penulis menyebut tingginya nilai yang diletakkan pada “keluar dari kemiskinan lewat pendidikan”. Dukungan, dengan begitu, bisa datang bersama beban.
Keyakinan bahwa diri sanggup menjadi jembatan menuju rasa puas, bukan penawar tekanan
Ada satu mata rantai lagi yang diperiksa, yaitu keyakinan seseorang bahwa ia mampu mengatasi tantangan, menyelesaikan tugas, dan berhasil. Naskah itu menyebutnya self-efficacy. Contoh pernyataannya: saya selalu bisa memecahkan masalah sulit kalau berusaha cukup keras. Keluarga, tulis para penulis, bisa menumbuhkannya lewat teladan, dorongan, dan penghiburan.
Rantai itu tersambung, tetapi hanya ke satu arah. Dukungan keluarga pada 2011 berkaitan dengan keyakinan diri pada 2013, sebesar 0,09. Keyakinan diri pada 2011 berkaitan dengan kepuasan hidup pada 2013, sebesar 0,07. Digabung, pengaruh tidak langsungnya 0,014, dengan rentang kepercayaan 0,004 sampai 0,032. Kecil, tetapi nyata.
Ke arah tekanan batin, rantainya putus. Keyakinan diri pada 2011 hanya berkaitan minus 0,03 dengan tekanan batin dua tahun kemudian, dan itu tidak bermakna. Pengaruh tidak langsungnya minus 0,003, dengan rentang yang melintasi nol. Jalur lewat keyakinan diri itu terbukti menuju kepuasan hidup, tetapi tidak menuju tekanan batin. Hasil ini, kata para penulis, berbeda dari temuan pada remaja umum.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Mengapa keyakinan diri tidak menolong? Para penulis menduga sumber tekanannya ada di tempat lain. Dalam masyarakat yang menjunjung keselarasan dan kewajiban antaranggota keluarga, tekanan batin lebih lekat pada kesulitan hubungan dan urusan rumah daripada pada tercapainya tujuan pribadi. Yakin pada diri sendiri tidak banyak berguna melawan hubungan keluarga yang tegang.
Naskah itu juga mencatat sisi lain dukungan orang tua. Dalam budaya Taiwan, dukungan keluarga sering berbentuk dorongan mengejar tujuan, dengan orang tua yang kerap terlalu jauh terlibat dalam keputusan anak. Niatnya baik. Akibatnya, tulis mereka, kemandirian remaja bisa terkikis dan keyakinan diri yang stabil lebih sulit tumbuh.
Anak laki-laki dan perempuan menempuh jalur yang sama, dan bantuan uang saja dinilai belum cukup
Sebelum menghitung, para penulis menduga anak perempuan dan laki-laki akan berbeda. Anak perempuan disebut lebih peka pada tekanan hubungan, anak laki-laki lebih menekankan kecakapan. Dugaan itu gugur. Tidak satu pun jalur dalam temuan ini berbeda antara remaja laki-laki dan remaja perempuan. Dukungan keluarga dan keyakinan diri bekerja serupa pada keduanya.
Mereka sendiri menahan pembaca agar tidak melompat terlalu jauh dari hasil itu. “Meski demikian, tidak adanya perbedaan yang bermakna secara statistik tidak serta-merta berarti pendekatan intervensi harus sama untuk anak laki-laki dan perempuan,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat tersebut tidak diikuti rincian tentang bagaimana pendekatannya perlu dibedakan.
Dari sini para penulis bergerak ke saran. Bantuan materi, tulis mereka, menjawab kebutuhan bertahan hidup dan meringankan stres karena uang. Tetapi bagi remaja keluarga berpenghasilan rendah di Taiwan, kebijakan perlu pula memuat strategi psikososial. Mereka mengusulkan psikoedukasi keluarga dan program komunikasi orang tua dengan remaja, ditempelkan pada program bantuan keuangan yang sudah berjalan.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Remajanya sendiri juga disasar. Layanan pemuda di komunitas, menurut naskah itu, bisa membekali mereka dengan kecakapan menghadapi harapan keluarga, menyampaikan kebutuhan batin, dan mencari dukungan yang tepat. Sekolah diusulkan memberi intervensi singkat yang membantu remaja mengenali kekuatan diri dan menetapkan tujuan yang bisa dicapai.
Data dari 2011 dan 2013, batas yang diakui penulis, dan hal kecil yang bisa diperiksa pembaca
Batas penelitian ini diakui terang. Hanya dua kali pengukuran yang tersedia, sehingga para penulis meminta studi dengan tiga gelombang atau lebih. Jeda dua tahun mereka sebut panjang, sementara tekanan batin ditanyakan untuk sepekan terakhir saja. Semua jawaban berasal dari laporan remaja sendiri. Pernyataan soal dukungan keluarga pun diambil dari alat ukur kekompakan keluarga yang lebih luas, bukan alat baku.
Usia data juga perlu dicatat. Jawaban dikumpulkan pada 2011 dan 2013, sedangkan naskahnya terbit 2026. Para penulis berpendapat hasilnya tetap berlaku karena penekanan budaya pada nilai keluarga nyaris tidak berubah. Itu sebuah argumen, bukan pengukuran baru. Mereka juga menyebut hasil ini belum tentu berlaku bagi remaja miskin di negara Barat.
Ada pula beberapa hal kecil dalam naskah. Catatan kaki tabel korelasi menandai dua bintang sebagai p di bawah 0,001, tetapi uraiannya melaporkan angka yang sama sebagai p di bawah 0,01. Kaitan yang tidak bermakna ditulis p di atas 0,01 tanpa nilai persisnya. Judul menyebut remaja dan pemuda, namun batas atas usia 1.792 peserta itu tidak dicantumkan.
Jadi pernyataan tentang penghiburan dari keluarga itu tetap berarti, hanya bukan untuk hal yang barangkali diharapkan. Remaja yang menyetujuinya pada 2011 lebih puas pada hidupnya dua tahun kemudian. Pertanyaan tentang tegang, murung, dan sulit tidur dijawab seakan oleh urusan lain. Dua lembar jawaban itu, dari orang yang sama, bercerita sendiri-sendiri.















