Korban Gigitan Ular di Barat Laut Iran Umumnya ke RS dalam Sejam

A A

Lanskap perbukitan, ladang, dan hutan di kawasan Arasbaran, Provinsi Azerbaijan Timur, Iran [Foto: Abdossamad Talebpour/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Dari 362 korban gigitan ular yang jam gigitannya tercatat, 62,4 persen masuk rumah sakit dalam satu jam pertama.
  • Laki-laki mendominasi korban dengan 413 kasus atau 77,5 persen, dan 76,9 persen gigitan terjadi di desa.
  • Khoda-Afarin tertinggi dengan 25,3 kasus per 100.000 penduduk per tahun, jauh di atas rata-rata provinsi sekitar 4,3.
  • Antibisa diberikan pada 82,6 persen kasus, dan dari 533 pasien hanya satu yang meninggal.
Daftar Isi
  1. Utara Paling Rawan
  2. Pria Usia Kerja
  3. Kaki dan Tangan
  4. Juni dan Sore Hari
  5. Cepat ke Rumah Sakit
  6. Antibisa dan Perawatan
  7. Satu Kematian
  8. Yang Belum Tercatat

Waktu tengah antara gigitan ular dan masuk rumah sakit di Provinsi Azerbaijan Timur, barat laut Iran, hanya 0,75 jam. Dari 362 korban yang jam gigitannya tercatat, 62,4 persen sudah masuk rumah sakit dalam satu jam pertama, tetapi antibisa untuk korban yang digigit di desa datang relatif lebih lambat.

Data itu menyangkut 533 kasus gigitan ular di provinsi tersebut selama 2021 sampai 2023, yang diambil dari basis data regional Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran. Dari 25 rumah sakit dan pusat kesehatan yang ditunjuk menangani gigitan ular, 23 melaporkan kasus.

Soroush Haghighat dan lima rekannya dari Tabriz University of Medical Sciences menuliskannya dalam Epidemiology of snakebite envenomation in Northwest Iran: insights from East Azerbaijan Province, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sepengetahuan para penulis, ini upaya pertama menggambarkan epidemiologi gigitan ular di provinsi itu secara utuh.

Utara Paling Rawan

Kabupaten paling utara paling rawanKhoda-Afarin 25,3; Kaleybar 23,0; Jolfa 22,0; Hurand 21,9; Rata-rata provinsi 4,3; Bonab 0,2; Sarab 0,2; Heris 0,0.Kabupaten paling utara paling rawanRata-rata kejadian gigitan ular per tahun per 100.000penduduk, Azerbaijan Timur, 2021-20230102030Khoda-Afarin25,3Kaleybar23,0Jolfa22,0Hurand21,9Rata-rata provinsi4,3Bonab0,2Sarab0,2Heris0,0Empat kabupaten tertinggi dan tiga terendah
Sumber: Soroush Haghighat dan rekan, Epidemiology of snakebite envenomation in Northwest Iran: insights from East Azerbaijan Province, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rata-rata kejadian tahunan di provinsi ini sekitar 4,3 kasus per 100.000 penduduk. Angkanya 4,26 pada 2021, naik menjadi 4,7 pada 2022, lalu turun ke 3,8 pada 2023. Rumah Sakit Sina di Tabriz, pusat rujukan provinsi, menerima 32,1 persen pasien.

Di tingkat kabupaten, jaraknya lebar. Khoda-Afarin tertinggi dengan 25,3 kasus per 100.000 penduduk per tahun, disusul Kaleybar 23,0, Jolfa 22,0, dan Hurand 21,9. Di ujung bawah, Heris mencatat 0,0, sedangkan Bonab dan Sarab masing-masing hanya 0,2.

Kabupaten dengan angka tertinggi mengumpul di bagian paling utara provinsi, dan Khoda-Afarin serta Jolfa berbatasan dengan Republik Azerbaijan, Nakhchivan, dan Armenia. Para penulis menduga wilayah ini rawan karena berada di daerah aliran Sungai Aras dan pegunungan Qaradagh yang berhutan lebat, berbatu, dan beriklim relatif hangat.

Penduduknya juga lebih bergantung pada pertanian, penggembalaan ternak, dan kegiatan luar ruang musiman. Menurut penulis, hal itu berpotensi membuat manusia lebih sering bertemu ular.

Lokasi gigitan tersebar dari 259 sampai 2.376 meter di atas permukaan laut, dengan rata-rata 1.268,3 meter. Meski rentangnya lebar, model statistik para penulis tidak menemukan ketinggian sebagai peramal kejadian yang bermakna.

Angka 4,3 itu lebih tinggi daripada catatan lama, sebab studi Dehghani dan rekan untuk Maret 2009 sampai Maret 2010 mencatat 1,3 kasus per 100.000 penduduk di provinsi ini. Penulis menyebut kemungkinan kenaikan nyata, identifikasi kasus yang membaik, atau keduanya.

Pria Usia Kerja

Korban didominasi laki-laki, yakni 413 kasus atau 77,5 persen. Usia korban berkisar dari kurang dari satu tahun sampai 86 tahun, dengan rata-rata 39,4 tahun dan nilai tengah 39 tahun. Sebanyak 60,0 persen korban berusia 25 sampai 54 tahun.

Kelompok usia 35 sampai 44 tahun paling banyak, 22,4 persen. Di belakangnya kelompok 45 sampai 54 tahun dengan 19,9 persen, lalu kelompok 25 sampai 34 tahun dengan 17,6 persen.

Polanya bergeser bila dipilah menurut jenis kelamin. Pada pria, kelompok terbanyak tetap 35 sampai 44 tahun dengan 23,9 persen, sedangkan pada perempuan justru 45 sampai 54 tahun dengan 27,6 persen. Perempuan juga lebih banyak dari perkiraan pada kelompok 0 sampai 14 tahun, tetapi lebih sedikit pada kelompok 15 sampai 24 tahun.

Sebagian besar gigitan terjadi di desa. Dari 424 kasus yang lokasinya tercatat, 326 atau 76,9 persen terjadi di daerah perdesaan, dan sisanya 98 kasus di kota.

Dari 309 korban yang pendidikannya tercatat, lulusan sekolah menengah pertama paling banyak, 89 orang atau 28,8 persen. Lulusan sekolah menengah atas menyusul dengan 24,3 persen, lalu lulusan sekolah dasar dengan 22,3 persen.

Baca juga Korban Tenggelam di Ghana Umumnya Lelaki dan Tak Bisa Berenang

Kaki dan Tangan

Kaki paling sering menjadi sasaran. Gigitan di tungkai bawah tercatat pada 286 kasus atau 53,7 persen, sedangkan di tungkai atas 237 kasus atau 44,5 persen. Kepala dan badan hanya terkena pada 10 kasus.

Pada pria, 47,7 persen gigitan mengenai tungkai atas, sedangkan pada perempuan hanya 33,3 persen. Sebaliknya, 63,3 persen gigitan pada perempuan mengenai tungkai bawah. Korban yang digigit di tungkai atas juga secara bermakna lebih tua daripada korban yang digigit di tungkai bawah.

Penulis menduga gigitan di tungkai atas terjadi saat kerja tangan, sedangkan gigitan di kaki saat berjalan di luar ruang. Temuan ini, menurut mereka, mendukung pemakaian sarung tangan dan sepatu bot serta pelatihan cara aman menangani bahan dalam kerja pertanian.

Juni dan Sore Hari

Juni adalah bulan paling rawan dengan 26,8 persen kasus, disusul Juli 20,6 persen dan Agustus 19,7 persen. Dari Desember sampai Februari, tidak ada kejadian yang tercatat. Menurut musim, musim panas menyumbang 56,1 persen kasus, musim semi 38,3 persen, dan musim gugur 5,4 persen.

Dalam sehari, rentang pukul 12.00 sampai 18.00 paling berbahaya. Sebanyak 135 dari 362 gigitan yang jamnya tercatat, atau 37,3 persen, terjadi pada jam-jam itu, sedangkan rentang 00.00 sampai 06.00 hanya 11,6 persen.

Sebaran per jam pun tidak rata. Jumlah kasus mulai naik sekitar pukul 08.00, memuncak pada pukul 16.00, dan tetap tinggi sampai pukul 19.00. Ada pula lonjakan pada tengah malam yang lalu menurun menjelang pagi.

Baca juga Saat Panas Terik, Petani Lebih Sering Tidur Siang tapi Singkat

Cepat ke Rumah Sakit

Tiba cepat, antibisa menyusul< 1 jam: Tiba di rumah sakit (n=362) 62,4%, Mendapat antibisa (n=323) 39,0%; 1-2 jam: Tiba di rumah sakit (n=362) 22,7%, Mendapat antibisa (n=323) 34,1%; 2-3 jam: Tiba di rumah sakit (n=362) 6,9%, Mendapat antibisa (n=323) 14,9%; > 3 jam: Tiba di rumah sakit (n=362) 8,0%, Mendapat antibisa (n=323) 12,1%.Tiba cepat, antibisa menyusulPersentase pasien menurut selang waktu sejak digigit ular,Azerbaijan Timur, 2021-2023Tiba di rumah sakit (n=362)Mendapat antibisa (n=323)0%20%40%60%62,4%39,0%< 1 jam22,7%34,1%1-2 jam6,9%14,9%2-3 jam8,0%12,1%> 3 jamHanya pasien yang jam gigitannya tercatat
Sumber: Soroush Haghighat dan rekan, Epidemiology of snakebite envenomation in Northwest Iran: insights from East Azerbaijan Province, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari 362 korban yang jam gigitannya tercatat, 62,4 persen masuk rumah sakit dalam satu jam pertama dan 22,7 persen dalam satu sampai dua jam. Hanya 6,9 persen tiba dalam dua sampai tiga jam, dan 8,0 persen lewat tiga jam. Selang waktu itu tidak berbeda bermakna menurut pendidikan, juga antara kota dan desa.

Serum antibisa diberikan kepada 440 pasien, dan 323 di antaranya punya catatan jam gigitan. Sebanyak 39,0 persen menerima antibisa dalam satu jam, 34,1 persen dalam satu sampai dua jam, 14,9 persen dalam dua sampai tiga jam, dan 12,1 persen lewat tiga jam. Waktu tengahnya 1,17 jam.

Berbeda dengan waktu masuk rumah sakit, selang waktu dari gigitan sampai antibisa relatif lebih panjang untuk gigitan di desa, dan bedanya bermakna secara statistik. Penulis menduga penyebabnya ketersediaan antibisa yang terbatas atau pengobatan yang lebih lambat dimulai.

“Akses cepat ke layanan kesehatan tampaknya menjadi kekuatan relatif dibandingkan pengalaman regional sebelumnya dan sejumlah laporan internasional, tetapi keterlambatan di desa masih terjadi,” tulis Haghighat dan rekan dalam simpulan mereka, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id.

Antibisa dan Perawatan

Antibisa adalah penanganan paling umum, diberikan pada 82,6 persen kasus. Menurut penulis, sisanya yang 17,4 persen hampir pasti gigitan kering.

Penanganan lain tercatat lebih jarang. Luka dibersihkan pada 60,0 persen kasus dan dibalut pada 34,7 persen, sedangkan antibiotik diberikan pada 23,5 persen. Antihistamin tercatat pada 22,1 persen, kortikosteroid 15,6 persen, dan vaksin tetanus 14,6 persen.

Ada 366 pasien yang dirawat inap, dengan 24,9 persen dirawat kurang dari enam jam, 13,1 persen enam sampai 24 jam, dan 62,0 persen lebih dari 24 jam. Kasus dari kota cenderung dirawat lebih lama, dan penulis menyebut penyebabnya masih perlu diteliti.

Pedoman Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran mewajibkan pasien yang menerima antibisa atas indikasi klinis dirawat dan dipantau minimal 24 jam. Padahal dari 440 penerima antibisa, hanya 366 yang dirawat inap. Menurut penulis, data ini membuka dua kemungkinan: sebagian pasien mungkin mendapat antibisa tanpa perlu karena gigitan kering, atau sebagian dipulangkan sebelum masa pantau selesai.

Baca juga Pelancong yang Pernah Divaksin Rabies Justru Lambat Berobat

Satu Kematian

Dari 533 pasien, 532 sembuh dan satu meninggal, sehingga angka kematian kasusnya 0,2 persen. Korban itu perempuan berusia 67 tahun dengan riwayat darah tinggi dan diabetes, yang digigit di tungkai bawah kiri di daerah perdesaan sekitar pukul 10.00 pada musim panas 2021.

Di rumah sakit setempat, ia hanya menerima dua vial antibisa sebelum dirujuk. Ia tiba di pusat penanganan keracunan Sina di Tabriz pukul 17.00, menerima enam vial di unit gawat darurat, lalu dirawat di bangsal keracunan dan mendapat 12 vial tambahan. Meski dirawat intensif, ia mengalami gagal banyak organ dan meninggal pukul 22.50.

Menurut pedoman Iran, gigitan ringan butuh 3 sampai 5 vial, sedang 6 sampai 10 vial, dan berat 11 sampai 20 vial. Dua vial awal itu, kata penulis, di bawah dosis anjuran. Mereka juga menyebut penyakit penyerta dapat sangat memengaruhi hasil pengobatan, bahkan ketika antibisa tersedia.

Yang Belum Tercatat

Studi ini punya batas yang diakui penulisnya. Kasus ringan, termasuk gigitan kering yang tidak pernah dibawa ke layanan kesehatan, mungkin tidak tercatat, dan identifikasi jenis ular juga terbatas sehingga kesimpulan per jenis ular sulit ditarik.

Data pekerjaan korban, hasil laboratorium, gejala, komplikasi, dan jumlah pasti antibisa tidak tersedia. Sebagian catatan pendidikan, lokasi gigitan, dan jam gigitan pun kosong.

Penulis menyarankan pencegahan dipusatkan di kabupaten utara, menjelang dan selama musim panas, dengan pesan untuk pria usia kerja dan perempuan paruh baya yang bekerja di desa. Mereka juga menganjurkan alas kaki pelindung, sarung tangan, dan senter kepala untuk kerja dini hari atau malam.

Cadangan antibisa dan tenaga terlatih di fasilitas pinggiran kabupaten berinsiden tinggi, kata mereka, perlu diperkuat agar keterlambatan di desa menyempit. Penulis juga meminta surveilans gigitan ular rutin dalam sistem kesehatan nasional, dan menyoroti belum adanya pusat surveilans dan pencegahan keracunan bisa yang khusus di Iran.

Dalam simpulannya, para penulis menyebut gigitan ular di Azerbaijan Timur tetap menjadi bahaya kesehatan kerja dan perdesaan yang serius, dengan risiko yang terpusat pada wilayah dan musim tertentu.

Bagikan

Baca Juga

Vaksin Flu Gratis, Hanya 29,7 Persen Lansia India yang Menerima
Biaya Gigi Berlubang Warga Termiskin Lebih Mahal di 40 Negara
Suhu Lebih Kuat Terkait Alergi Anak di Chongqing daripada Polusi
Petani Semarang Bersih Diri Lebih Jarang Keluhkan Iritasi Kulit
Separuh Remaja Hong Kong Tak Sarapan Tiap Hari, Sayur Pun Kurang
Kurang Tidur dan Hobi Baru, Dua Sisi Ponsel Anak Desa Bangladesh