Petani Semarang Bersih Diri Lebih Jarang Keluhkan Iritasi Kulit

A A

Ilustrasi petani menyemprot kebun kubis di dataran tinggi Pangalengan, Jawa Barat [Foto: Doyanmoto/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Keluhan dermatitis kontak iritan dilaporkan 179 dari 427 petani di tiga desa Kabupaten Semarang, atau 41,9 persen.
  • Keluhan dilaporkan 47,1 persen petani laki-laki, sedangkan pada petani perempuan hanya 28,6 persen.
  • Petani dengan kebiasaan kebersihan diri buruk lebih sering mengeluh, 48,1 persen dibanding 36,1 persen.
  • Pada petani yang memakai tiga jenis pestisida atau lebih, keluhan dilaporkan 46,8 persen, dibanding 34,1 persen pada yang memakai kurang dari tiga jenis.
Daftar Isi
  1. Dermatitis Kontak Iritan, Kulit yang Rusak oleh Sentuhan
  2. Keluhan DKI, Gejala yang Dilaporkan Petani Sendiri
  3. Jenis Kelamin, Soal Siapa yang Memegang Alat Semprot
  4. Kebersihan Diri, Cuci Tangan dan Mandi Sesudah Menyemprot
  5. Jumlah Jenis Pestisida, Berapa Produk yang Dipakai
  6. Desain Potong Lintang, Potret pada Satu Waktu

Di tiga desa penghasil sayur dan bunga di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, keluhan dermatitis kontak iritan dilaporkan oleh 179 dari 427 petani, atau 41,9 persen. Penyakit kulit ini, menurut para penelitinya, umum dijumpai pada pekerja yang menangani bahan kimia.

Temuan itu datang dari Maria Goretti Catur Yuantari dan Haikal dari Departemen Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, bersama Dewi Susanna dari Departemen Studi Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Laporan mereka berjudul Factors Affecting Irritant Contact Dermatitis Among Horticulture Farmers in Semarang District, Indonesia dan terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional volume 21 nomor 1 tahun 2026.

Yang mereka cari adalah faktor yang berhubungan dengan keluhan itu. Hasilnya, empat hal bertahan sampai analisis terakhir, yaitu jenis kelamin, kebiasaan kebersihan diri, tingkat pendidikan, dan jumlah jenis pestisida yang dipakai.

Dermatitis Kontak Iritan, Kulit yang Rusak oleh Sentuhan

Maksud istilah itu dijabarkan para penulis di bagian pendahuluan. Dermatitis kontak iritan adalah kerusakan langsung pada keratinosit yang lalu mengaktifkan sistem kekebalan bawaan dan akhirnya merusak jaringan kulit. Gejalanya beragam, dari kemerahan ringan sampai lesi akut yang berat. Penyakit ini, tulis mereka, umum dijumpai pada pekerja yang menangani bahan kimia. Bertani termasuk pekerjaan berisiko tinggi karena petani sering bersentuhan langsung dengan pestisida, pupuk, dan bahan kimia lain. Keluhan ini juga bisa menurunkan kinerja dan mutu hidup pekerja yang terkena.

Paper itu juga mencatat bahwa beberapa studi lokal menemukan 30 sampai 50 persen petani hortikultura di Indonesia menderita dermatitis karena penanganan pestisida yang tidak aman dan kebersihan yang buruk. Pada 2020, Kementerian Pertanian mencatat lebih dari 5.000 merek pestisida, sementara Jawa Tengah, wilayah pertanian terbesar, punya hampir satu juta hektare lahan pertanian.

Keluhan DKI, Gejala yang Dilaporkan Petani Sendiri

Keluhan kulit di tiap kelompok petaniPerempuan (119 petani): Persen petani dengan keluhan DKI +28,6%; Laki-laki (308 petani): Persen petani dengan keluhan DKI +47,1%; Kebersihan diri baik (219 petani): Persen petani dengan keluhan DKI +36,1%; Kebersihan diri buruk (208 petani): Persen petani dengan keluhan DKI +48,1%; Kurang dari 3 jenis pestisida (164 petani): Persen petani dengan keluhan DKI +34,1%; 3 jenis pestisida atau lebih (263 petani): Persen petani dengan keluhan DKI +46,8%.Keluhan kulit di tiap kelompok petaniPersentase petani yang melaporkan keluhan dermatitis kontakiritan (DKI) di tiap kelompok, Tabel 215%30%45%60%0Perempuan (119 petani)28,6%Laki-laki (308 petani)47,1%Kebersihan diri baik (219 petani)36,1%Kebersihan diri buruk (208 petani)48,1%Kurang dari 3 jenis pestisida (164 petani)34,1%3 jenis pestisida atau lebih (263 petani)46,8%427 petani hortikultura di tiga desa Kabupaten Semarang,Oktober-Desember 2024
Sumber: Maria Goretti Catur Yuantari, Haikal, dan Dewi Susanna, Factors Affecting Irritant Contact Dermatitis Among Horticulture Farmers in Semarang District, Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang diukur penelitian ini adalah keluhan, dikumpulkan lewat wawancara dengan daftar periksa gejala yang diisi berdasarkan laporan petani sendiri. Variabel itu disebut keluhan dermatitis kontak iritan, disingkat keluhan DKI.

Data diambil pada Oktober sampai Desember 2024, musim utama penyemprotan pestisida. Petaninya berasal dari Desa Coblong dan Talun di Kecamatan Bandungan serta Desa Bumen di Kecamatan Sumowono. Bandungan dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura utama Kabupaten Semarang, terutama sayur bernilai tinggi dan bunga hias yang menuntut pemakaian pestisida intensif, sedangkan di Sumowono pola tanamnya sedikit berbeda dan intensitas pemakaian pestisidanya agak lebih rendah.

Catatan desa ketiga lokasi itu memuat 440 petani, dan 427 di antaranya memenuhi syarat, yaitu tinggal di sana minimal lima tahun, ikut mencampur, memuat, atau menyemprot pestisida, serta bersedia ikut dan memberi keterangan yang akurat.

Usia mereka 20 sampai 85 tahun, dengan rata-rata 50,21 tahun. Lebih dari separuh, tepatnya 247 orang atau 55,4 persen, berpendidikan sekolah dasar, dan hanya empat orang yang menempuh pendidikan tinggi. Median pengalaman bertani mereka 30 tahun, dan median jam kerja harian delapan jam. Para ketua kelompok tani setempat ikut membantu proses pemilihan agar seluruh petani di tiga desa itu tercakup.

Baca juga Petani Padi Roi-Et Paham Ergonomi, Nyaris Semua Tetap Nyeri Otot

Jenis Kelamin, Soal Siapa yang Memegang Alat Semprot

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan sudah tampak sejak analisis awal. Dari 308 petani laki-laki, 145 orang atau 47,1 persen melaporkan keluhan DKI. Dari 119 petani perempuan, hanya 34 orang atau 28,6 persen.

Dalam analisis akhir, rasio odds yang disesuaikan untuk jenis kelamin adalah 0,491. Maksudnya, menurut para penulis, responden perempuan punya peluang lebih rendah melaporkan keluhan DKI dibanding responden laki-laki, karena angkanya di bawah satu. Para penulis mengaitkan perbedaan ini dengan pembagian kerja. Mereka mencatat laki-laki lebih sering terlibat mencampur dan menyemprot pestisida, dua tugas dengan paparan kulit paling tinggi. Studi terdahulu yang mereka rujuk menunjukkan pekerja laki-laki mengalami paparan kulit langsung yang lebih intens dan lebih jarang patuh memakai alat pelindung dibanding perempuan.

“Hubungan antara jenis kelamin dan risiko DKI yang teramati dalam penelitian ini kemungkinan mencerminkan perbedaan tingkat paparan, bukan perbedaan kerentanan biologis,” tulis Yuantari, Haikal, dan Susanna dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id dari naskah berbahasa Inggris.

Kebersihan Diri, Cuci Tangan dan Mandi Sesudah Menyemprot

Petani yang kebiasaan kebersihan dirinya buruk lebih sering mengeluh. Sebanyak 100 dari 208 orang atau 48,1 persen melaporkan keluhan DKI, sementara pada kelompok yang kebiasaannya baik angkanya 79 dari 219 orang atau 36,1 persen. Dalam analisis akhir, rasio odds yang disesuaikan untuk kebiasaan kebersihan diri adalah 1,674. Artinya, menurut paper, responden dengan kebersihan buruk punya peluang lebih tinggi melaporkan keluhan DKI.

Penjelasan para penulis sederhana. Petani yang tidak mencuci tangan atau mandi sesudah menyemprot menyimpan sisa pestisida di kulitnya lebih lama. Keadaan itu, tulis mereka, meningkatkan risiko iritasi dan kerusakan lapisan pelindung kulit.

“Memahami dan menjalankan langkah kebersihan yang sederhana, realistis, dan bisa diterapkan dalam pekerjaan pertanian punya dampak pencegahan yang penting,” tulis mereka, juga dalam terjemahan Cekricek.id.

Baca juga Bibit Ginseng Jawa Ditanam di Salimpek, Pestisida Tetap Dipakai

Jumlah Jenis Pestisida, Berapa Produk yang Dipakai

Jenis pestisida di sini dihitung dari banyaknya produk pestisida berbeda yang dipakai seorang petani, lalu dibagi dua, kurang dari tiga jenis atau tiga jenis lebih. Median jumlah jenis pestisida yang dipakai responden adalah tiga.

Pada petani yang memakai kurang dari tiga jenis, keluhan DKI dilaporkan 56 dari 164 orang, atau 34,1 persen. Pada yang memakai tiga jenis atau lebih, angkanya 123 dari 263 orang, atau 46,8 persen. Rasio odds yang disesuaikan untuk faktor ini 0,646. Para penulis menyebutnya hubungan protektif, yaitu responden yang memakai kurang dari tiga jenis punya peluang keluhan DKI lebih rendah.

Empat faktor bertahan di model akhirDosis pestisida 1,686; Kebiasaan kebersihan diri 1,674; Tingkat pendidikan 1,566; Kebiasaan merokok 1,322; Arah penyemprotan 1,319; Lama paparan 0,980; Jenis pestisida 0,646; Jenis kelamin 0,491.Empat faktor bertahan di model akhirRasio odds yang disesuaikan (AOR) dari regresi logistikmultivariat, Tabel 30,00,51,01,52,0Dosis pestisida1,686Kebiasaan kebersihan diri1,674Tingkat pendidikan1,566Kebiasaan merokok1,322Arah penyemprotan1,319Lama paparan0,980Jenis pestisida0,646Jenis kelamin0,491Jingga: empat faktor yang disebut penulis bertahan di model akhir. Dibawah 1 berarti peluang keluhan lebih rendah
Sumber: Maria Goretti Catur Yuantari, Haikal, dan Dewi Susanna, Factors Affecting Irritant Contact Dermatitis Among Horticulture Farmers in Semarang District, Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis mengaitkannya dengan efek campuran. Efek iritan yang menumpuk mungkin lebih kuat bila paparan melibatkan campuran bahan kimia. Karena itu, menurut mereka, pembatasan jumlah campuran pestisida dan pengaturan rotasi bahan kimia perlu dipertimbangkan dalam strategi kesehatan kerja.

Tingkat pendidikan juga bertahan dalam model akhir, dengan rasio odds yang disesuaikan 1,566. Untuk faktor ini para penulis meminta kehati-hatian. Studi terdahulu, tulis mereka, mencatat bahwa persepsi dan kesadaran akan gejala berperan penting dalam pelaporan dermatitis, sehingga temuan soal pendidikan harus ditafsirkan dengan cermat.

Ada pula faktor yang hilang di tengah jalan. Kebiasaan merokok sempat berhubungan dengan keluhan, dengan 48,7 persen perokok mengeluh dibanding 36,0 persen bukan perokok, tetapi tidak bermakna lagi di model akhir. Dosis pestisida, lama paparan, dan arah penyemprotan juga tidak bertahan. Pemakaian alat pelindung diri tidak menunjukkan hubungan bermakna sejak analisis awal. Keluhan dilaporkan 40,1 persen petani yang pemakaiannya dinilai buruk dan 43,3 persen petani yang pemakaiannya dinilai baik. Umur, pengalaman bertani, pengetahuan, dan frekuensi menyemprot juga tidak berhubungan bermakna.

Baca juga Beban Tersembunyi Infeksi Jamur Kulit pada 285 Pasien India

Desain Potong Lintang, Potret pada Satu Waktu

Desain potong lintang dalam paper ini berarti data dikumpulkan dalam satu periode, Oktober sampai Desember 2024. Para penulis menyebut desain ini membatasi kemampuan menarik simpulan sebab-akibat. Mereka menyarankan studi kohort dan metode kualitatif untuk memahami persepsi risiko dan kebiasaan melaporkan gejala. Menurut paper, model akhir menjelaskan sebagian sederhana dari variasi keluhan, dengan nilai Nagelkerke R kuadrat 0,106, dan ketepatan klasifikasinya 64,87 persen. Kekuatan penelitian ini, menurut penulisnya, terletak pada analisis multivariat yang memilah faktor-faktor yang berdiri sendiri.

Dalam simpulannya, para penulis menulis bahwa perbedaan peran kerja, kebiasaan kebersihan, dan pola pemakaian pestisida memengaruhi keluhan DKI pada petani. Pencegahan, menurut mereka, tidak cukup dengan menyiapkan alat pelindung atau menurunkan dosis. Perlu edukasi kebersihan, pengaturan beban kerja berdasarkan peran, dan pengendalian kombinasi pestisida. Komunikasi risiko dan strategi pencegahan, tulis mereka, juga perlu memperhitungkan perbedaan peran kerja dan latar pendidikan petani agar praktik pertanian yang aman lebih mudah diterapkan.

Bagikan

Baca Juga

Separuh Remaja Hong Kong Tak Sarapan Tiap Hari, Sayur Pun Kurang
Kurang Tidur dan Hobi Baru, Dua Sisi Ponsel Anak Desa Bangladesh
Korban Gigitan di Kapilvastu Kebanyakan Telat Mulai Vaksin Rabies
Paham Darah Tinggi Saja Tak Cukup bagi Pedagang Perempuan Ghana
Harapan Hidup Lebih Mendorong Ekonomi Provinsi daripada Sekolah
Cukai Minuman Manis Ditunda Lagi, Ekonom UGM Soroti Lobi Industri