- Hanya 47,5 persen dari 400 perempuan di dua fasilitas kesehatan Delta Tengah Mesir yang makannya cukup beragam.
- Perempuan yang tidak hamil dan tidak menyusui paling sedikit yang makannya cukup beragam: 48,8 persen di kota dan 38,0 persen di desa.
- Biji-bijian dan umbi putih dimakan 98,3 persen perempuan pada hari sebelum wawancara.
- Pendidikan rendah, tidak bekerja, dan sulit mendapat pangan karena harga tinggi berkaitan dengan peluang lebih tinggi makan kurang beragam.
Daftar Isi
Yasmin Abd-Elkader Elwan mengumpulkan jawaban atas satu pertanyaan: apa saja yang dimakan kemarin, mulai dari makanan pertama di pagi hari. Jawaban itu datang dari 400 perempuan berusia 15 sampai 49 tahun di dua fasilitas kesehatan di Delta Tengah, Mesir. Dari tumpukan catatan itu, Elwan dan rekan-rekannya menemukan bahwa lebih dari separuh perempuan tersebut makan dengan ragam yang kurang.
Elwan menulis laporannya bersama Nadira Mansour Hassan, Mira Maged Abu-Elenin, dan Eman Ali Younis, semuanya dari Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Tanta. Hassan tercantum sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi. Laporan berjudul Dietary diversity among reproductive aged women attending urban and rural healthcare facilities, Middle Delta, Egypt itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Hassan dan timnya bekerja di distrik El Mahalla El-Kubra, distrik terbesar di Kegubernuran Gharbia. Sebanyak 213 perempuan berasal dari pusat kesehatan komprehensif di Kota El Mahalla El-Kubra, sedangkan 187 lainnya dari unit layanan kesehatan primer di Desa Kafer Higazy. Pengumpulan data berlangsung dari Januari 2024 sampai Juni 2025, dengan memilih setiap perempuan keempat yang memenuhi syarat.
Sepuluh Kelompok Pangan dalam Catatan Elwan
Cara Elwan dan rekan menilai piring para perempuan itu terbilang sederhana. Setiap makanan yang disebut dipilah ke dalam sepuluh kelompok: biji-bijian dan umbi putih, polong-polongan, kacang dan biji, susu dan olahannya, daging dan ikan, telur, sayuran hijau tua, buah dan sayur kaya vitamin A, sayuran lain, serta buah lain. Perempuan yang menyentuh lima kelompok atau lebih dalam 24 jam dianggap makannya cukup beragam.
Daftar itu disesuaikan dengan makanan yang umum di Mesir, berdasarkan pola makan nasional dan konsultasi pakar. Mukhiya dimasukkan ke kelompok sayuran hijau tua bersama bayam, selada hijau tua, kubis, dan selada air. Kelompok daging dan ikan mencakup jeroan, luncheon, sosis, daging sapi, kambing, bebek, merpati, kelinci, ayam, ikan asin, sampai udang dan kepiting.
Hasil hitungan Elwan memperlihatkan mutu makan yang menurut tim umumnya rendah. Hanya 47,5 persen dari 400 perempuan itu yang makannya cukup beragam, sementara 52,5 persen sisanya tidak mencapai lima kelompok pangan. Perbedaan juga tampak antara dua tempat: 52,1 persen perempuan di pusat kesehatan kota makan cukup beragam, berbanding 42,2 persen di unit kesehatan desa.
Ibu Menyusui di Kota, Perempuan Tak Hamil di Desa
Elwan dan rekan lalu memilah para perempuan itu menurut tahap reproduksi: tidak hamil dan tidak menyusui, sedang hamil, atau sedang menyusui. Di pusat kesehatan kota, ibu menyusui mencatat angka tertinggi, 60,9 persen makan cukup beragam. Di unit kesehatan desa, angka ibu menyusui hanya 47,1 persen, dan selisih kota dan desa pada kelompok ini bermakna secara statistik.
Ibu hamil justru nyaris sama di kedua tempat, 53,3 persen di kota dan 53,1 persen di desa. Menurut Hassan dan rekan, hanya sekitar separuh ibu hamil yang makannya cukup beragam walaupun mereka datang ke fasilitas kesehatan. Tim menduga hal itu bisa mencerminkan celah mutu atau frekuensi konseling gizi saat pemeriksaan kehamilan, pantangan makanan, dan keterbatasan ekonomi.
Angka terendah dalam catatan Elwan ada pada perempuan yang tidak hamil dan tidak menyusui. Di kota angkanya 48,8 persen, di desa 38,0 persen. Bila kedua tempat digabung, 43,5 persen perempuan kelompok ini makan cukup beragam, lebih rendah daripada ibu hamil yang 53,2 persen dan ibu menyusui yang 54,7 persen.
Hassan dan rekan memberi perhatian khusus pada kelompok terakhir ini. “Temuan ini menegaskan kerentanan perempuan yang tidak hamil dan tidak menyusui, kelompok yang lebih jarang disentuh penelitian gizi, dan menyoroti pentingnya memperluas intervensi melampaui masa kehamilan dan menyusui,” tulis mereka di bagian pembahasan, yang di sini diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Baca juga Salah Paham Gizi Ibu Hamil: Protein Saja Tak Cukup
Biji-bijian di Semua Piring, Daging Lebih Sering di Kota
Dari sepuluh kelompok itu, Elwan mencatat satu kelompok yang hampir tak pernah absen. Biji-bijian dan umbi putih, seperti roti, nasi, pasta, kentang, dan talas, dimakan 98,3 persen perempuan pada hari sebelum wawancara, yakni 97,2 persen di kota dan 99,5 persen di desa. Susu dan olahannya berada di urutan berikutnya dengan 67,8 persen.
Perbedaan kota dan desa muncul pada kelompok lain, dan Hassan dan rekan mengujinya secara statistik. Perempuan kota lebih sering makan daging dan ikan, 47,4 persen berbanding 36,4 persen, juga buah lain, 40,0 persen berbanding 25,7 persen. Buah dan sayur kaya vitamin A dimakan 15,5 persen perempuan kota dan hanya 8,6 persen perempuan desa.
Kacang dan biji dimakan 10,8 persen perempuan kota dan hanya 2,1 persen perempuan desa. Sebaliknya, perempuan desa lebih sering makan dua kelompok lain. Elwan mencatat 57,8 persen perempuan desa makan polong-polongan dibanding 46,9 persen di kota, dan 43,8 persen makan telur dibanding 31,5 persen di kota.
Kuesioner frekuensi makan, yang menurut tim Hassan hanya dipakai untuk menggambarkan kebiasaan, memberi lapisan lain. Biji-bijian dimakan sekali sehari atau lebih oleh 87,8 persen perempuan di pusat kesehatan kota dan 96,3 persen di unit desa. Minuman manis, dari jus buah bergula sampai teh atau kopi bergula, diminum setiap hari oleh 60,1 persen perempuan kota dan 63,1 persen perempuan desa.
Susu dan buah lebih jarang hadir setiap hari di desa. Elwan mencatat 51,2 persen perempuan kota minum susu atau makan olahannya sekali sehari atau lebih, berbanding 36,9 persen di desa, sedangkan buah dimakan setiap hari oleh 57,3 persen perempuan kota dan 41,2 persen perempuan desa. Sebanyak 31,0 persen perempuan desa mengaku tidak pernah makan kacang dan biji.
Hassan dan rekan menulis bahwa “konsumsi serealia yang tinggi disertai asupan pangan hewani yang rendah dapat mengganggu ketersediaan hayati zat besi dan seng” (terjemahan). Dalam pembahasan, mereka juga menyebut bahwa perbedaan kota dan desa ini kemungkinan mencerminkan ketimpangan ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, akses pasar, dan pengetahuan gizi.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Sekolah, Pekerjaan, dan Harga di Pasar
Elwan, yang juga menganalisis data, kemudian melihat siapa saja yang paling sering makan kurang beragam. Di antara perempuan berpendidikan universitas, 60,2 persen makan cukup beragam. Pada perempuan yang buta huruf, hanya bisa membaca dan menulis, atau berpendidikan dasar, angkanya 24,0 persen.
Pekerjaan juga berjalan seiring dengan ragam makanan. Elwan mencatat pegawai pemerintah paling tinggi, 64,3 persen makan cukup beragam, disusul pegawai swasta dengan 53,6 persen. Ibu rumah tangga berada di angka 41,4 persen dan pekerja kasar di 33,3 persen, sementara usia tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Keadaan pasar juga tampak beriringan dengan isi piring. Menurut tabel Hassan dan rekan, 56,5 persen perempuan yang menyebut bahan pangan tersedia dan mudah didapat makan cukup beragam. Pada perempuan yang merasa sulit mendapat pangan karena harga tinggi, angkanya hanya 35,3 persen.
Elwan lalu menguji faktor-faktor itu bersamaan dalam satu model. Empat faktor tetap berkaitan dengan peluang lebih tinggi untuk makan kurang beragam, yaitu tidak hamil dan tidak menyusui dibanding perempuan hamil atau menyusui, dengan rasio odds terkoreksi 2,370, pendidikan rendah 2,212, sulit mendapat pangan karena harga tinggi 1,698, dan tidak bekerja 1,636. Tinggal di desa dan pendapatan yang tidak cukup tidak bermakna dalam model ini.
Bagi perempuan desa, soal harga muncul sebagai keluhan langsung. “Dalam penelitian ini, perempuan desa menyebut harga pangan dan akses sebagai hambatan,” tulis Hassan dan rekan (terjemahan). Kalimat itu mereka tulis setelah menyinggung penelitian Uwase dan rekan di Rwanda, yang menemukan ibu hamil di desa justru lebih beragam makannya, kemungkinan berkat kebun di rumah.
Baca juga Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan
Batas Catatan Sehari dan Saran Tim Tanta
Hassan dan rekan menyebut sendiri batas penelitiannya. Desain potong lintang membuat hubungan sebab-akibat tidak bisa ditetapkan, dan satu kali ingatan makan 24 jam mungkin tidak mencerminkan kebiasaan makan sehari-hari. Kuesioner frekuensi tidak mengukur besar porsi, sementara indeks massa tubuh, aktivitas fisik, dan status kesehatan tidak diukur.
Tim Hassan juga mencatat bahwa variasi musim selama masa pengumpulan data yang panjang tidak dikendalikan dalam analisis. Perempuan yang berpuasa sehari sebelum wawancara, sebagian besar karena alasan agama, dikeluarkan dari sampel, dan hal itu diakui dapat menimbulkan bias seleksi. Sampelnya pun menggambarkan perempuan yang datang ke fasilitas kesehatan, bukan seluruh perempuan di distrik itu.
Dari temuan tersebut, Hassan dan rekan mengajukan sejumlah saran. Mereka mengusulkan penjangkauan gizi di desa dan klinik gizi yang berpusat pada perempuan, produksi lokal pangan padat gizi, program menurut tahap reproduksi termasuk edukasi kesehatan bagi perempuan yang tidak hamil dan tidak menyusui, konseling gizi sebelum dan sesudah melahirkan, serta kebijakan untuk memperbaiki lapangan kerja, pendapatan, dan akses pasar.
Kesimpulan laporan itu merangkum temuannya dalam satu kalimat. “Lebih dari separuh perempuan usia subur makannya kurang beragam, dengan perempuan yang tidak hamil dan tidak menyusui serta penduduk desa paling terdampak,” tulis tim Tanta (terjemahan).















