- Di 40 negara, biaya langsung perawatan gigi kelompok penghasilan terendah rata-rata sekitar 50 persen lebih besar daripada kelompok tertinggi.
- Total biaya merawat gigi berlubang usia 12 sampai 65 tahun di Indonesia mencapai 42,0 miliar dolar AS.
- Di Brasil, biaya per orang kelompok tertinggi 11.130 dolar AS, sedangkan kelompok terendah 22.633 dolar AS.
- Dari 40 negara yang dikaji, hanya separuh yang memiliki pajak minuman manis tingkat nasional.
Daftar Isi
- Dari Enam Negara pada 2024 ke Empat Puluh Negara
- Peta Biaya Versi 2026, dari Slovenia sampai Tiongkok
- Temuan Verma: Biaya Kelompok Termiskin Sekitar 50 Persen Lebih Tinggi
- Indonesia dalam Model Enam Negara dan Empat Puluh Negara
- Dua Skenario Pencegahan dan Angka Hummel 2019
- Survei Gigi Terakhir 1997 dan Batas Model
- Langkah Sesudah Deklarasi Bangkok 2024
Pada November 2024, negara-negara anggota WHO mengesahkan Deklarasi Bangkok yang berjudul No Health Without Oral Health, atau tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mulut. Deklarasi itu mengangkat penyakit mulut ke dalam agenda jaminan kesehatan semesta dan penyakit tidak menular, sekaligus meminta sistem layanan yang bertumpu pada pencegahan. Di saat yang sama, karies yang tidak dirawat tercatat sebagai kondisi kesehatan paling lazim di dunia, diderita sekitar 2,5 miliar orang.
Bukti ekonomi yang kokoh dan bisa dibandingkan antarnegara, untuk memandu kebijakan dan anggaran, justru masih terbatas. Celah itulah yang dicoba diisi oleh Neeladri Verma dari Economist Impact, Hong Kong, dan rekan, yang melibatkan peneliti dari Economist Impact di London dan São Paulo, University of Birmingham, Columbia University, serta King’s College London. Laporan mereka berjudul Socioeconomic inequalities and the economic burden of dental caries: a longitudinal simulation analysis across forty countries dan terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Tim Verma membangun model simulasi kohort untuk memperkirakan biaya langsung merawat gigi berlubang sejak usia 12 sampai 65 tahun di 40 negara, dari Afrika, Asia, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Amerika Utara. Penduduk tiap negara dibagi ke dalam lima kelompok penghasilan yang sama besar, masing-masing 20 persen. Karena data biaya layanan publik langka, tarif perawatan swasta di tiap negara dipakai sebagai patokan.
Dari Enam Negara pada 2024 ke Empat Puluh Negara
Model ini punya pendahulu. Pada 2024, sebuah tim internasional yang terdiri atas dokter gigi, pakar kebijakan, dan ekonom kesehatan menyusun kerangka awal untuk enam negara, yakni Brasil, Prancis, Jerman, Indonesia, Italia, dan Inggris. Hasilnya terbit di BMC Public Health tahun itu dengan Gerard Dunleavy sebagai penulis pertama dan Verma di antara rekan penulisnya. Kerangka tersebut kemudian diperluas ke seluruh 40 negara dalam prakarsa riset Health Inclusivity Index.
Satu asumsi diubah dari model 2024. Dulu, 30 persen orang di kelompok termiskin kedua dan 60 persen di kelompok termiskin dianggap tidak mendapat gigi pengganti setelah giginya dicabut. Dalam analisis 2026, angka itu diubah menjadi nol persen, sehingga setiap kelompok penghasilan dimodelkan menerima standar perawatan dasar, termasuk penggantian gigi. Menurut tim, cara ini menghasilkan perkiraan biaya yang lebih setara antarkelompok.
Peta Biaya Versi 2026, dari Slovenia sampai Tiongkok
Hasil pertama model Verma memperlihatkan rentang yang sangat lebar. Total biaya langsung merawat gigi berlubang sejak usia 12 sampai 65 tahun berkisar dari 317,8 juta dolar AS di Slovenia hingga 182,6 miliar dolar AS di Tiongkok. Para penulis menyebut perbedaan itu terutama ditentukan oleh jumlah penduduk, karena Tiongkok memiliki kohort nasional terbesar dan Slovenia yang terkecil di antara negara yang dikaji.
Menurut Tabel 2 laporan itu, biaya tingkat populasi India mencapai 170,2 miliar dolar AS dan Amerika Serikat 168,8 miliar dolar AS. Indonesia berada di angka 42,0 miliar dolar AS, sedangkan Brasil 37,2 miliar dolar AS dan Meksiko 35,2 miliar dolar AS. Bila dihitung per orang, perkiraan tertinggi ada di Swiss, yaitu 55.932 dolar AS, sedangkan perkiraan terendah ada di Yordania.
Verma dan rekan sendiri meminta angka-angka mutlak itu dibaca sebagai gambaran orde besaran, bukan anggaran yang bisa dibandingkan langsung antarnegara, karena harga dan tarif tiap negara berbeda. Sembilan dari sepuluh perkiraan biaya per orang tertinggi berada di negara berpenghasilan tinggi, sejalan dengan harga satuan yang lebih mahal. Honduras menjadi pengecualian karena beban gigi berlubang awalnya sangat tinggi.
Beban awal itu diukur dengan DMFT, yaitu jumlah gigi yang berlubang, hilang, atau ditambal. Dalam data tim Verma, nilai DMFT awal membentang dari 0,4 di Kenya sampai 3,7 di Honduras. Menurut para penulis, keragaman itu menunjukkan pentingnya menyesuaikan strategi pencegahan dan perawatan dengan keadaan setempat, termasuk ketersediaan sumber daya dan profil risiko penduduknya.
Temuan Verma: Biaya Kelompok Termiskin Sekitar 50 Persen Lebih Tinggi
Pokok perhatian laporan ini bukan peringkat negara, melainkan jarak antara kelompok kaya dan miskin di dalam satu negara. Di sini temuannya seragam. Orang-orang di kelompok penghasilan terendah secara statistik menanggung biaya per orang yang lebih tinggi daripada kelompok tertinggi, dan rata-rata biaya langsung perawatan gigi mereka sekitar 50 persen lebih besar. Menurut tim, selisih ini terutama didorong oleh prevalensi awal yang lebih tinggi dan perkembangan penyakit yang lebih cepat.
Selisih itu tetap muncul walaupun model sudah memperhitungkan bahwa kelompok termiskin lebih mungkin hanya mendapat pencabutan dan gigi pengganti yang lebih murah dan kurang ideal. Sebaliknya, kelompok terkaya dianggap lebih mungkin mendapat implan setelah giginya dicabut.
Tabel 3 laporan Verma memperlihatkan wujud jarak itu. Di Brasil, biaya per orang kelompok tertinggi 11.130 dolar AS, sedangkan kelompok terendah 22.633 dolar AS. Di Afrika Selatan angkanya 13.203 berbanding 25.302 dolar AS, dan di Rusia 17.038 berbanding 33.562 dolar AS. Swiss mencatat 37.301 dolar AS untuk kelompok terkaya dan 66.377 dolar AS untuk kelompok termiskin.
Dalam pembahasan, Verma dan rekan merangkum temuan itu dalam satu kalimat. “Analisis kami mengungkap bahwa orang-orang di kelompok penghasilan terendah menghadapi biaya perawatan sekitar 50 persen lebih tinggi daripada rekan mereka yang lebih kaya, sebuah ketimpangan yang didorong oleh terbatasnya akses ke perawatan pencegahan, tingkat karies awal yang lebih tinggi, dan perkembangan kerusakan gigi yang lebih cepat,” tulis mereka (terjemahan dari bahasa Inggris).
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Indonesia dalam Model Enam Negara dan Empat Puluh Negara
Indonesia termasuk satu dari enam negara pada model 2024 dan kembali muncul dalam perluasan 2026. Menurut Tabel 3, biaya langsung per orang antara usia 12 dan 65 tahun untuk kelompok penghasilan tertinggi di Indonesia 12.108 dolar AS. Kelompok tertinggi kedua mencatat 13.319 dolar AS, kelompok tengah 10.722 dolar AS, kelompok terendah kedua 10.624 dolar AS, dan kelompok terendah 12.498 dolar AS.
Di negara Asia lain, tabel yang sama juga mencatat biaya kelompok termiskin di atas kelompok terkaya. Thailand memperlihatkan 9.427 dolar AS untuk kelompok tertinggi dan 12.465 dolar AS untuk kelompok terendah, sementara Viet Nam 6.209 berbanding 8.527 dolar AS. Di Filipina angkanya 19.858 berbanding 21.806 dolar AS. Tiongkok mencatat 10.288 berbanding 15.301 dolar AS, dan India 7.430 berbanding 10.814 dolar AS.
Dua Skenario Pencegahan dan Angka Hummel 2019
Bagian berikutnya menjawab pertanyaan berapa yang bisa dihemat lewat pencegahan. Pada skenario A, tim menurunkan laju perkembangan gigi berlubang sebesar 30 persen di semua kelompok penghasilan. Angka itu disebut hati-hati, karena sebagian besar gigi berlubang bisa dicegah lewat fluoridasi air dan garam, pengurangan gula, serta menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta berfluorida dan pemberian varnish fluorida.
Hasil skenario A menunjukkan penghematan biaya per orang terbesar terjadi pada kelompok penghasilan terendah, di semua negara yang dikaji. Skenario B disusun dengan pendekatan yang oleh tim disebut levelling-up, yakni pencegahan dan perawatan yang besarnya sebanding dengan kebutuhan tiap kelompok. Laju yang dipakai adalah kenaikan DMFT 0,07 per tahun, berdasarkan perkiraan dalam tinjauan sistematis Hummel dan rekan tahun 2019.
Laju 0,07 itu semula milik kelompok penghasilan tertinggi, lalu diterapkan ke semua kelompok. Dengan cara itu, penghematan biaya per orang mencapai 43.106 dolar AS di Swiss. Verma dan rekan menegaskan skenario B adalah ilustrasi dan batas atas penghematan, bukan ramalan, untuk menunjukkan besarnya keuntungan bila kelompok kurang beruntung mencapai laju gigi berlubang seperti kelompok yang terlayani lebih baik.
Daya cegah tiap cara dirangkum tim dalam Tabel 1 dari riset terdahulu. Mengutip Horst dan rekan pada 2018, fluoridasi air dapat mencegah 35 persen lesi karies pada gigi susu dan 26 persen pada gigi permanen. Pasta gigi berfluorida mencegah 20 sampai 30 persen lesi karies, dan yang berkonsentrasi tertinggi, 2.400 sampai 2.800 ppm, mencegah 37 persen.
Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen
Survei Gigi Terakhir 1997 dan Batas Model
Cara-cara murah dan ampuh itu, menurut Verma dan rekan, belum dijalankan merata, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Dari 40 negara yang dikaji, hanya separuh yang memiliki pajak minuman manis tingkat nasional. Kurang dari 7 persen penduduk dunia menikmati pasokan air berfluorida, padahal deklarasi WHO meminta sistem kesehatan yang lebih menitikberatkan pencegahan.
Hambatan lain adalah data. Survei nasional kesehatan mulut terakhir Honduras berasal dari 1997 dan Vietnam dari 1999. Nilai DMFT awal dalam model diambil dari survei nasional yang terbentang lebih dari dua dekade, dari 1997 sampai 2021. Para penulis mengingatkan bahwa DMFT umumnya turun di negara berpenghasilan tinggi, sementara di negara berpenghasilan menengah dan rendah cenderung mandek atau naik.
Tim Verma mengakui sejumlah keterbatasan lain. Data karies menurut kelompok sosial ekonomi tidak tersedia untuk semua negara sehingga perlu ekstrapolasi, laju perkembangan karies tahunan per kelompok penghasilan kurang terdokumentasi, dan biaya sektor swasta diambil dari sumber daring serta masukan pakar. Peluang perubahan kondisi gigi pun diambil dari satu kohort di Selandia Baru, yang mungkin membatasi penerapannya di negara lain.
Karena itu, para penulis menyarankan hasilnya dibaca terutama sebagai jarak biaya antarkelompok di dalam tiap negara, yang secara konsisten merugikan kelompok berpenghasilan rendah di berbagai sistem kesehatan. Studi ini didukung hibah dari Haleon, dan para penulis menyatakan tidak memiliki konflik kepentingan.
Baca juga Lansia Ghana yang Terjerat Biaya Berobat Lebih Kerap Kurang Makan
Langkah Sesudah Deklarasi Bangkok 2024
Dalam simpulannya, Verma dan rekan menulis bahwa pencegahan dini yang terarah, seperti menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta berfluorida, fluoridasi air, edukasi kesehatan mulut, dan program sekolah, dapat menekan biaya dan beban penyakit. “Kelompok berpenghasilan rendah mengalami beban kesehatan dan ekonomi yang lebih besar akibat karies gigi,” tulis mereka dalam ringkasan laporan (terjemahan).
Tim juga mengusulkan kerja sama lintas sektor, sehingga setiap pertemuan di layanan kesehatan, sekolah, dan masyarakat ikut mencegah penyakit mulut. Kompetensi dasar kesehatan mulut diusulkan masuk kurikulum semua tenaga kesehatan. Mereka pun mendorong satu set data minimal kesehatan mulut yang disepakati bersama untuk survei penduduk, serta memasukkan perawatan gigi ke dalam jaminan kesehatan semesta.
Dari model enam negara pada 2024, kerangka ini kini menjangkau 40 negara. Verma dan rekan menyebut celah data yang mereka temui menegaskan perlunya pengumpulan data jangka panjang yang dipilah per kelompok, untuk mempertajam model beban ekonomi dan memperkuat kegunaannya bagi kebijakan.















