- Perokok pasif punya peluang sekitar 20 persen lebih tinggi untuk memiliki BMI 25 kg/m2 atau lebih.
- Di UK Biobank, perokok pasif berat punya BMI 1,55 kg/m2 lebih tinggi daripada yang tidak terpapar.
- Pada pemantauan lebih dari sepuluh tahun, kenaikan berat terjadi pada 13,6 persen perokok pasif berbanding 9,2 persen.
- Sekitar 33,5 persen hubungan paparan asap dengan kejadian kardiovaskular dapat dijelaskan oleh perbedaan BMI.
Daftar Isi
Orang yang merokok kerap bertubuh lebih ringan daripada yang tidak merokok, dan banyak penelitian lama mencatat pola itu. Namun di rumah, kantor, dan ruang tertutup lain, ada kelompok yang menghirup asap yang sama tanpa pernah menyalakan rokok. Pada mereka, arah timbangan justru berbalik: tubuhnya cenderung lebih berlemak, bukan lebih ramping.
Temuan itu dilaporkan Jiaqi Hong dan rekan dari Fakultas Kedokteran Universitas Zhejiang di Hangzhou, Tiongkok, dalam makalah berjudul Passive smoking, obesity, and major adverse cardiovascular events: a multi-cohort study yang terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Mereka memakai data tiga kohort nasional dari Korea Selatan (KNHANES), Amerika Serikat (NHANES), dan Inggris (UK Biobank), dengan 321.903 orang dewasa yang tidak pernah merokok.
Paparan asap orang lain bukan hal langka di kelompok ini. Lebih dari tiga dari lima peserta tidak pernah merokok, dan kira-kira satu dari empat di antara mereka mengaku terpapar asap rokok orang lain. Angkanya 22,0 persen di survei Amerika, 24,5 persen di survei Korea, dan 20,0 persen di UK Biobank. Yang terpapar cenderung lebih muda, lebih sering laki-laki, berpendidikan dan berpendapatan lebih rendah.
Nafsu Makan yang Tidak Ikut Ditekan
Para penulis sendiri mengakui, sekilas temuan ini tampak bertentangan dengan banyak penelitian yang mencatat bobot lebih rendah pada perokok aktif. Teka-teki itu mereka urai di bagian diskusi. Bobot perokok aktif yang lebih rendah selama ini dikaitkan, setidaknya sebagian, dengan nikotin yang menekan nafsu makan dan mengurangi asupan energi. Persoalannya, ciri itu tidak teramati pada perokok pasif dalam studi ini.
Perokok pasif justru tercatat punya asupan energi makanan yang lebih tinggi saat awal penelitian, dibanding mereka yang tidak terpapar. Dari temuan asupan energi itu, menurut Hong dan rekan, paparan yang tidak disengaja tampaknya tidak membawa efek penekan nafsu makan seperti pada perokok aktif, dan mungkin bekerja lewat jalur yang berbeda. Di bagian hasil, mereka juga mencatat kelompok ini lebih aktif secara fisik.
Para penulis menunjuk dua petunjuk lain yang sejalan. Penelitian terdahulu pada bayi dan remaja berulang kali menemukan hubungan positif antara paparan asap rokok orang lain dan berat badan lebih tinggi, pada kelompok usia yang bobotnya sulit dijelaskan lewat penekanan nafsu makan. Bukti lain menunjukkan perubahan bakteri usus terkait rokok berhubungan dengan lemak tubuh yang bertambah, bukan berkurang.
Yang membuatnya rumit, kedua mekanisme bisa berjalan bersamaan. Menurut para penulis, pada perokok aktif, proses yang mendorong kenaikan berat mungkin berjalan berdampingan dengan efek penekan nafsu makan, atau tertutup olehnya. Hal ini, kata mereka, menunjukkan rumitnya hubungan antara paparan asap rokok dan berat badan.
Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti
Lemak yang Menumpuk di Perut dan Pinggang
Bukti pertamanya datang dari ukuran tubuh. Setelah hasil ketiga survei digabung, perokok pasif punya peluang sekitar 20 persen lebih tinggi untuk memiliki indeks massa tubuh (BMI) 25 kg/m2 atau lebih, dengan rasio odds 1,20. Di UK Biobank rasio odds-nya 1,41 dan di survei Amerika 1,17. Di survei Korea angkanya 1,04 dan tidak mencapai batas kemaknaan statistik.
Agar kelebihan lemak tidak hanya ditakar lewat BMI, peneliti juga mengukur komposisi tubuh dengan pemindai sinar-X DXA dan alat ukur hambatan listrik tubuh (BIA). Rasio odds gabungan untuk persentase lemak tubuh tinggi adalah 1,27. Batasnya 35 persen untuk perempuan dan 25 persen untuk laki-laki. Pola ini bertahan, baik usia peserta dihitung per kelompok maupun sebagai angka berkelanjutan.
Pola yang sama muncul pada lemak di bagian tengah tubuh. Rasio odds gabungan untuk lingkar pinggang besar adalah 1,22, untuk rasio pinggang terhadap tinggi badan 1,26, untuk persentase lemak android 1,33, dan untuk rasio lemak android-ginoid 1,30. Dalam tabel paper, semua ukuran ini masuk kelompok sebaran lemak sentral. Rasio pinggang terhadap pinggul, yang hanya diukur di UK Biobank, mencatat 1,32.
Mengapa lemak di bagian tengah penting, para penulis menjelaskannya di bagian diskusi. Penumpukan lemak sentral merupakan penanda yang lebih kuat untuk resistensi insulin dan risiko kardiovaskular dibandingkan ukuran tubuh secara keseluruhan. Karena itu, menurut mereka, temuan ini punya arti klinis.
Makin Pekat Paparan, Makin Tinggi Angka BMI
Menurut para penulis, hubungan itu terlihat konsisten di berbagai tempat paparan. Di UK Biobank, perokok pasif yang terpapar di rumah punya BMI 1,34 kg/m2 lebih tinggi daripada yang tidak terpapar, sedangkan yang terpapar di luar rumah 0,95 kg/m2 lebih tinggi. Hasil gabungan untuk paparan di lokasi mana pun mencatat selisih 0,66 kg/m2.
Paparan di UK Biobank juga dikelompokkan menurut lamanya, ringan atau berat. Di kohort itu, perokok pasif ringan punya BMI 0,59 kg/m2 lebih tinggi daripada yang tidak terpapar, sedangkan perokok pasif berat 1,55 kg/m2 lebih tinggi. Selisih bertambah seiring lamanya paparan, dan uji tren menunjukkan pola itu bermakna secara statistik.
Survei Amerika menyediakan pengukur yang tidak bergantung pada ingatan peserta, yaitu kadar kotinin dalam serum darah. Dibanding kelompok kotinin rendah (60 persen terbawah), kelompok kotinin sedang punya BMI 0,76 kg/m2 lebih tinggi dan kelompok kotinin tinggi (20 persen teratas) 1,05 kg/m2 lebih tinggi. Pola bertingkat yang sama terlihat pada lingkar pinggang. Kecocokan antara pengakuan peserta dan kadar kotinin itu, menurut para penulis, menguatkan validitas studi dan mendukung adanya hubungan dosis-respons. Mereka menyebut temuan ini mengisyaratkan bahwa tambahan paparan yang kecil sekalipun mungkin punya akibat metabolik yang dapat diukur.
Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Timbangan yang Terus Bergeser Selama Bertahun-tahun
Ukuran sesaat belum menunjukkan apa yang terjadi selanjutnya, sehingga peneliti memeriksa 39.101 peserta UK Biobank yang ditimbang lebih dari sekali. Kenaikan berat dianggap bermakna secara klinis bila BMI naik lebih dari setengah simpangan baku BMI awal, yakni 2,16 kg/m2. Dengan rata-rata masa pemantauan 7,91 tahun, tercatat 3.060 kasus kenaikan seperti itu.
Di setiap rentang pemantauan, kenaikan berat lebih sering dialami perokok pasif. Pada peserta yang dipantau kurang dari lima tahun, kenaikan terjadi pada 6,5 persen perokok pasif dan 4,3 persen peserta yang tidak terpapar. Pada yang dipantau lebih dari sepuluh tahun, angkanya 13,6 persen berbanding 9,2 persen.
Setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, asupan energi, aktivitas fisik, kebiasaan minum alkohol, etnis, dan pusat pemeriksaan, peluangnya tetap lebih tinggi. Rasio odds terkoreksi adalah 1,46 untuk pemantauan kurang dari lima tahun, 1,30 untuk lima sampai sepuluh tahun, dan 1,46 untuk sepuluh tahun atau lebih. Dengan kata lain, peluangnya 30 sampai 46 persen lebih tinggi.
Sepertiga Kaitan dengan Jantung dan Stroke Dijelaskan BMI
Rantai berikutnya menghubungkan lemak tubuh dengan jantung. Di UK Biobank, perokok pasif punya risiko kejadian kardiovaskular berat 17 persen lebih tinggi, dengan rasio hazard 1,17. Kejadian itu mencakup infark atau serangan jantung, gagal jantung, dan stroke, yang dilacak lewat catatan layanan kesehatan nasional Inggris. Pemantauan dimulai sejak pemeriksaan awal peserta pada 2006 sampai 2010 dan berlangsung hingga 2021.
Ketika BMI ikut diperhitungkan, rasio hazard itu turun menjadi 1,11, atau risiko 11 persen lebih tinggi. Analisis mediasi memperkirakan 33,5 persen hubungan antara paparan asap rokok orang lain dan kejadian kardiovaskular itu dapat dijelaskan oleh perbedaan BMI. Pola serupa terlihat ketika serangan jantung, gagal jantung, dan stroke diperiksa satu per satu.
Menurut para penulis, jalur lewat berat badan ini melengkapi jalur yang sudah dikenal, seperti peradangan sistemik dan gangguan fungsi lapisan dalam pembuluh darah. Analisis mereka menempatkan “kelebihan lemak tubuh sebagai jalur yang berarti, meski hanya sebagian, yang menghubungkan paparan asap rokok orang lain dengan penyakit kardiovaskular,” tulis Hong dan rekan, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
Studi ini punya batas yang diakui penulisnya. Paparan asap terutama dilaporkan sendiri, sehingga bisa terjadi salah golong, meski kecocokan dengan kadar kotinin meredam kekhawatiran itu. Faktor gaya hidup atau lingkungan lain yang tak terukur juga tidak dapat sepenuhnya disingkirkan. Analisis kenaikan berat hanya memakai sebagian peserta UK Biobank yang diukur berulang, dan analisis mediasi bersandar pada asumsi yang tidak bisa dibuktikan penuh dengan data pengamatan. UK Biobank juga jauh lebih besar dan satu-satunya kohort dengan pengukuran berulang serta pemantauan kardiovaskular, sehingga angka gabungan dan jangka panjang sangat ditentukan olehnya.
Jalur biologis di balik bobot berlebih pada perokok pasif juga belum terpetakan. Para penulis menyebut perlunya penelitian lanjutan yang memadukan data asupan makanan, penanda metabolik, dan profil bakteri usus. Mereka juga mencatat paparan asap orang lain lebih banyak menimpa kelompok sosial-ekonomi lemah, yang sudah menanggung beban obesitas dan penyakit jantung lebih berat.
Dari sana mereka mengusulkan kebijakan bebas asap rokok yang menyeluruh di tempat kerja, ruang publik, dan lingkungan hunian. “Temuan-temuan ini menyoroti paparan asap rokok orang lain sebagai penyumbang lingkungan bagi obesitas dan penyakit kronis terkait, yang tidak dikehendaki tetapi dapat diubah,” tulis mereka dalam simpulan.
Dalam simpulan itu pula mereka menyatakan bahwa di antara orang dewasa yang tidak pernah merokok, paparan asap rokok orang lain berhubungan dengan lemak tubuh yang lebih tinggi, kenaikan berat badan yang berkelanjutan, dan risiko kardiovaskular yang meningkat. Karena itu, perlindungan dari asap rokok orang lain menurut mereka perlu masuk ke strategi pencegahan obesitas dan pengurangan risiko kardiovaskular di tingkat populasi.














