Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur

A A

Ilustrasi dua tangan menggulir layar ponsel menyala di atas ranjang dalam gelap [Foto: Pexels]

  • Pengguna intensif punya peluang sulit tidur lebih tinggi, dengan rasio odds yang disesuaikan 1,28.
  • Setelah disesuaikan, hubungan kontak daring intensif dengan kelebihan berat badan melemah dan tidak lagi bermakna.
  • Pada 2021/22 ada 1.655 remaja atau 37,1 persen yang sulit tidur, naik dari 30,4 persen.
  • Remaja perempuan punya peluang sulit tidur lebih tinggi daripada laki-laki, dengan rasio odds yang disesuaikan 1,56.
Daftar Isi
  1. Kontak Daring Intensif, alias Mengobrol Hampir Seharian
  2. Sulit Tidur, yakni Susah Terlelap Lebih dari Sekali Sepekan
  3. Peluang Sulit Tidur Pengguna Intensif Lebih Tinggi
  4. Kelebihan Berat Badan, Diukur dengan Kurva Tumbuh WHO
  5. Kemakmuran Keluarga dan Kelebihan Berat Badan
  6. Batas Penelitian dan Saran Para Penulis

Hampir sepanjang waktu sepanjang hari. Itulah jawaban yang dipilih sebagian remaja Swedia ketika ditanya seberapa sering mereka berkontak daring dengan teman atau orang lain. Para peneliti menelusuri kebiasaan itu pada ribuan remaja. Yang mereka temukan, remaja dengan kebiasaan itu punya peluang sulit tidur lebih tinggi, tetapi tidak berhubungan dengan kelebihan berat badan.

Bahannya adalah survei Health Behaviour in School-aged Children (HBSC), yakni survei perilaku kesehatan anak usia sekolah yang diadakan empat tahun sekali bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dua putaran dipakai, 2017/18 dan 2021/22, dengan total 8.861 siswa kelas 5, 7, dan 9, kira-kira berusia 11, 13, dan 15 tahun.

Penelitian itu ditulis Mohammad A Alhazmi dan rekan dari School of Public Health and Community Medicine, Sahlgrenska Academy, University of Gothenburg, Swedia. Alhazmi juga berafiliasi dengan Umm Al-Qura University di Makkah, Arab Saudi. Judulnya Intensive online contact, sleep difficulties, and overweight among Swedish adolescents: findings from the 2017/18 and 2021/22 HBSC surveys, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Kontak Daring Intensif, alias Mengobrol Hampir Seharian

Istilah ini punya ukuran yang jelas. Siswa ditanya seberapa sering mereka berkontak daring dengan empat kelompok, yakni sahabat atau teman, teman dari lingkar pertemanan lain, teman yang dikenal lewat internet, dan orang selain teman seperti orang tua, saudara, teman sekelas, atau guru. Jawabannya berjenjang enam, dari “tidak tahu atau tidak berlaku” sampai “hampir sepanjang waktu sepanjang hari”. Siswa yang memilih jawaban terakhir untuk salah satu kelompok saja sudah digolongkan pengguna intensif. Sisanya disebut pengguna non-intensif.

Maksudnya, ini bukan ukuran lama menatap layar. Para penulis sengaja membedakan kontak daring dari waktu layar secara umum. Kontak daring adalah interaksi sosial dengan teman sebaya lewat perangkat, bentuk penggunaan media yang lebih interaktif dibanding konsumsi media yang pasif.

Kontak intensif turun, sulit tidur naikKontak daring intensif: 2017/18 41,9%, 2021/22 35,3%; Sulit tidur: 2017/18 30,4%, 2021/22 37,1%; Kelebihan berat badan: 2017/18 19,7%, 2021/22 20,0%.Kontak intensif turun, sulit tidur naikPersentase remaja kelas 5, 7, dan 9 di Swedia per tahunsurvei (Tabel 1)2017/182021/220%10%20%30%40%50%41,9%35,3%Kontak daringintensif30,4%37,1%Sulit tidur19,7%20,0%Kelebihan beratbadanBasis: 8.062 (kontak daring), 8.556 (tidur), 6.651 (berat badan)
Sumber: Mohammad A Alhazmi dan rekan, Intensive online contact, sleep difficulties, and overweight among Swedish adolescents: findings from the 2017/18 and 2021/22 HBSC surveys, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada 2017/18, ada 1.655 remaja atau 41,9 persen yang tergolong pengguna intensif, lebih dari empat dari setiap sepuluh siswa. Pada 2021/22 jumlahnya 1.450 remaja atau 35,3 persen, kira-kira satu dari tiga. Para penulis menegaskan bahwa perbedaan ini hanya gambaran deskriptif dan tidak diuji secara statistik.

Baca juga Makin Lama Menonton Video Pendek, Anak Thailand Makin Sulit Fokus

Sulit Tidur, yakni Susah Terlelap Lebih dari Sekali Sepekan

Sulit tidur di sini juga punya batas yang tegas. Pertanyaannya satu: dalam enam bulan terakhir, seberapa sering kamu sulit tertidur? Siswa yang menjawab hampir setiap hari atau lebih dari sekali seminggu dihitung mengalami sulit tidur. Para penulis mengakui satu pertanyaan tersebut tidak mencakup seluruh aspek kualitas tidur.

Angkanya naik di antara dua putaran survei. Pada 2017/18, ada 1.245 remaja atau 30,4 persen yang sulit tidur, hampir satu dari tiga. Pada 2021/22 jumlahnya 1.655 remaja atau 37,1 persen, lebih dari satu dari tiga. Putaran kedua itu berlangsung selama atau sesudah pandemi COVID-19. Karena itu tahun survei dimasukkan sebagai faktor penyesuai dalam analisis, dan para penulis meminta perbedaan antarputaran ditafsirkan dengan hati-hati.

Peluang Sulit Tidur Pengguna Intensif Lebih Tinggi

Untuk menimbang hubungan kebiasaan daring dengan tidur, para peneliti memakai model regresi logistik yang menghasilkan rasio odds kasar dan rasio odds yang disesuaikan, masing-masing dengan rentang kepercayaan 95 persen.

Hasilnya, pengguna intensif punya peluang sulit tidur lebih tinggi dibanding pengguna non-intensif, baik dalam perhitungan kasar maupun setelah disesuaikan. Setelah disesuaikan dengan tahun survei, jenis kelamin, kelas, tingkat kemakmuran keluarga, dan konsumsi makanan tak sehat, rasio odds-nya 1,28. Namun penelitian ini hanya menemukan hubungan. Rancangan potong lintangnya, menurut para penulis sendiri, tidak memungkinkan kesimpulan bahwa kontak daring menyebabkan sulit tidur.

Kelompok lain juga menonjol. Remaja perempuan punya peluang sulit tidur lebih tinggi daripada laki-laki, dengan rasio odds yang disesuaikan 1,56. Putaran 2021/22 mencatat 1,27 dibanding 2017/18, dan remaja dengan konsumsi permen dan minuman ringan tinggi mencatat 1,30 dibanding yang rendah.

Kelas justru bergerak terbalik. Siswa kelas 7 punya rasio odds yang disesuaikan 0,82 dan siswa kelas 9 sebesar 0,86, keduanya lebih rendah dibanding siswa kelas 5. Tingkat kemakmuran keluarga tidak berhubungan bermakna dengan sulit tidur setelah penyesuaian.

Peluang sulit tidur menurut kelompokPerempuan 1,56; Makanan tak sehat tinggi 1,30; Pengguna intensif 1,28; Survei 2021/22 1,27; Kelas 9 0,86; Kelas 7 0,82.Peluang sulit tidur menurut kelompokRasio odds yang disesuaikan untuk sulit tidur; kelompokrujukan bernilai 1,00 (Tabel 2)0,00,51,01,52,0Perempuan1,56Makanan tak sehat tinggi1,30Pengguna intensif1,28Survei 2021/221,27Kelas 90,86Kelas 70,82Rujukan: laki-laki, konsumsi rendah, non-intensif, 2017/18, kelas 5
Sumber: Mohammad A Alhazmi dan rekan, Intensive online contact, sleep difficulties, and overweight among Swedish adolescents: findings from the 2017/18 and 2021/22 HBSC surveys, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

Kelebihan Berat Badan, Diukur dengan Kurva Tumbuh WHO

Kelebihan berat badan tidak diukur dengan patokan orang dewasa. Peneliti memakai rujukan pertumbuhan WHO 2007 untuk usia 5 sampai 19 tahun, yang memperhitungkan umur dan jenis kelamin, dari tinggi dan berat yang dilaporkan siswa sendiri. Kegemukan dan obesitas digabung menjadi satu kelompok kelebihan berat badan.

Hasilnya relatif tetap. Pada 2017/18 ada 676 remaja atau 19,7 persen yang kelebihan berat badan, dan pada 2021/22 ada 645 remaja atau 20,0 persen. Sekitar delapan dari sepuluh remaja di kedua putaran tergolong berat normal.

Dalam perhitungan kasar, pengguna intensif justru punya peluang kelebihan berat badan lebih rendah, dengan rasio odds 0,86. Setelah disesuaikan dengan tahun survei, jenis kelamin, kelas, kemakmuran keluarga, konsumsi makanan tak sehat, dan aktivitas fisik berat, hubungan itu melemah dan tidak lagi bermakna.

Para penulis menduga ukuran mereka menangkap bentuk penggunaan layar yang berbeda dari perilaku pasif seperti menonton televisi atau duduk lama sambil mengudap. Sulit tidur juga sempat dimasukkan ke dalam model kelebihan berat badan. Hasilnya tidak berubah, sehingga variabel itu tidak dicantumkan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk keterlibatan digital yang berbeda, terutama penggunaan yang interaktif secara sosial, bisa berkaitan secara berbeda dengan luaran kesehatan alih-alih memberi efek yang seragam,” tulis Alhazmi dan rekan dalam simpulan, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id.

Kemakmuran Keluarga dan Kelebihan Berat Badan

Dalam model kelebihan berat badan, faktor yang menonjol adalah kemakmuran keluarga, diukur dengan enam pertanyaan, mulai dari kepemilikan mobil dan kamar sendiri sampai berapa kali keluarga berlibur ke luar Swedia.

Dibanding remaja dari keluarga berkemakmuran rendah, remaja dari keluarga menengah punya rasio odds kelebihan berat badan yang disesuaikan 0,64, dan dari keluarga tinggi 0,47. Remaja perempuan juga lebih jarang kelebihan berat badan daripada laki-laki, dengan rasio odds kasar 0,60.

Konsumsi makanan tak sehat dan aktivitas fisik berat tidak berhubungan bermakna dengan kelebihan berat badan. Secara deskriptif, dari survei ke survei, remaja dengan konsumsi permen dan minuman ringan tinggi naik dari 53,4 persen menjadi sekitar 63 persen, sementara yang berolahraga berat empat kali sepekan atau lebih bergeser dari 36,1 menjadi 39,3 persen.

Ada satu pemeriksaan tambahan. Peneliti memisahkan remaja berat normal dari yang kelebihan berat badan, lalu menghitung ulang hubungan kontak daring dengan sulit tidur. Rasio odds yang disesuaikan pada kelompok berat normal 1,27 dan pada kelompok kelebihan berat badan 1,34. Kontak daring intensif berhubungan dengan sulit tidur pada kedua kelompok dengan perkiraan yang serupa, yang menurut para penulis menunjukkan status berat badan tidak mengubah hubungan itu.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Batas Penelitian dan Saran Para Penulis

Para penulis menegaskan rancangan potong lintang penelitian ini tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Mereka juga mencatat kekuatannya, yaitu data berskala besar dari sampel siswa kelas 5, 7, dan 9 yang mewakili Swedia secara nasional, dengan instrumen HBSC yang tervalidasi.

Para penulis menyebut keterbatasan lain. Semua data berasal dari laporan siswa sendiri, termasuk tinggi dan berat, sehingga bisa terkena bias ingatan dan pelaporan. Tidur hanya diukur dengan satu pertanyaan, dan ukuran kontak daring tidak membedakan waktu, isi, maupun tujuan penggunaan. Mereka juga mengakui beberapa variabel dipecah menjadi dua kelompok demi kemudahan analisis, sehingga sebagian informasi bisa hilang. Permen dan minuman ringan pun digabung menjadi satu ukuran, padahal pola konsumsinya bisa berbeda.

Dari temuan itu, para penulis menarik saran yang dipisahkan menurut masalahnya. Untuk tidur, perhatian diarahkan pada waktu dan rutinitas menjelang tidur, misalnya batas waktu digital, mematikan notifikasi, dan mengurangi layar terang pada malam hari. Untuk kelebihan berat badan, strateginya lebih tepat diarahkan pada lingkungan makanan dan kebiasaan makan saat memakai layar, bukan membatasi komunikasi sosial itu sendiri. Penelitian lanjutan diminta memakai rancangan jangka panjang dan membedakan penggunaan layar yang pasif dari yang interaktif.

Dalam abstraknya, para penulis juga mengingatkan bahwa penelitian terdahulu mengaitkan sulit tidur dengan kelebihan berat badan. Karena itu, temuan ini membuka kemungkinan dampak jangka panjang yang tidak dapat dinilai lewat analisis potong lintang.

Bagikan

Baca Juga

Lemak Tubuh Karyawan Yogyakarta Turun, Berat Badan Nyaris Tetap
Korban Gigitan Ular di Barat Laut Iran Umumnya ke RS dalam Sejam
Asap Rokok Orang Lain Terkait Gemuk, Sakit Jantung, dan Stroke
Vaksin Flu Gratis, Hanya 29,7 Persen Lansia India yang Menerima
Biaya Gigi Berlubang Warga Termiskin Lebih Mahal di 40 Negara
Suhu Lebih Kuat Terkait Alergi Anak di Chongqing daripada Polusi