Kesehatan Jiwa Ayah Baru di Hainan: Letih Dianggap Normal

A A

Ayah Asia berkaus putih mencium kening bayi yang digendongnya di dekat jendela terang [Foto: Foden Nguyen/Pexels]

  • Bahkan mereka yang mengaku kadang cemas atau mudah marah menilai peluang depresi praktis nol, lalu menyalahkan watak atau urusan kecil sehari-hari.
  • Di Hainan, banyak ayah merasa laki-laki harus kuat dan khawatir dianggap rapuh atau tidak jantan bila mengaku butuh pertolongan.
  • Menurut para penulis, tekanan finansial bukan hanya memengaruhi perasaan, tetapi juga langsung membatasi kemauan mencari bantuan profesional.
  • Mereka lebih menginginkan panduan praktis, seperti cara menenangkan bayi, memahami perilaku anak, dan menjaga hubungan suami-istri, ketimbang psikoterapi konvensional.
Daftar Isi
  1. Hambidge 2021 hingga Mancinelli 2025: ayah di luar lingkar layanan
  2. Hainan, Oktober 2025: letih yang disebut normal
  3. Seidler 2016 dan ayah Hainan: memilih menahan sendiri
  4. Setahun pertama: tidur, kerja, dan uang
  5. Addis dan Mahalik 2003: bayang norma lelaki
  6. Lima hambatan versi Qiu dan Wang
  7. Catatan pada naskah Qiu dan rekan

Selama bertahun-tahun, riset dan layanan kesehatan jiwa di sekitar kelahiran bayi berpusat pada ibu dan anaknya. Di China pun begitu, perhatian publik dan klinis lebih banyak tertuju kepada ibu, sehingga kebutuhan jiwa ayah baru terabaikan secara sistematis. Ketika ayah makin terlibat mengasuh, persoalan yang dulu tak terlihat itu mulai dibicarakan sebagai urusan kesehatan masyarakat.

Pergeseran itulah yang menjadi pijakan Lei Qiu, Ying Wang, Yingqi Li, Shiye Deng, Jie Liu, Qionggui Zhou, dan Meihong Wang dalam Psychological health experiences and help-seeking barriers: a qualitative study of Chinese new fathers within 12 months postpartum, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Enam penulis pertama bernaung di School of Public Health, Hainan Medical University, sedangkan Meihong Wang di The First Affiliated Hospital of Hainan Medical University, Haikou. Mereka mendengarkan 29 ayah di Provinsi Hainan yang bayinya belum genap setahun.

Hambidge 2021 hingga Mancinelli 2025: ayah di luar lingkar layanan

Rantai riset yang dirujuk naskah sudah lama memberi tanda. Sebuah meta-analisis lintas negara mencatat depresi menimpa sekitar 9,6 persen ayah yang sedang menanti kelahiran dan 8,5 persen ayah setelah bayi lahir, dengan gejala yang kadang bertahan lebih dari setahun. Studi lain yang dikutip naskah menyebut hingga 18 persen ayah mengalami distres psikologis setelah anaknya lahir.

Namun, angka tidak otomatis membawa ayah ke ruang konsultasi. Scoping review terbaru oleh Mancinelli dan Filippi pada 2025, menurut naskah, mencatat bahwa pencarian bantuan oleh ayah lama terabaikan karena riset dan layanan tetap berpusat pada ibu dan bayi. Hambatannya berlapis, dari norma peran maskulin, kebutuhan ayah yang tidak digubris, sampai tiadanya layanan kesehatan yang merangkul ayah.

Studi kualitatif internasional Copland dan Hunter, juga terbit 2025, merangkum tiga hal: ayah bukan pusat layanan, masa perinatal punya ciri sendiri, dan ayah butuh dukungan yang disesuaikan. Sebelumnya, Hambidge dan rekan pada 2021 menemukan sebagian ayah tidak menyadari bahwa murung atau mudah marah bisa menandai depresi atau kecemasan pascamelahirkan, bahkan ada yang menganggapnya gangguan yang hanya menimpa perempuan.

Naskah Qiu dan rekan juga mencatat mengapa persoalan ini tidak berhenti pada ayah. Kecemasan dan depresi ayah dikaitkan dengan masalah emosi dan perilaku anak, sementara kurangnya dukungan ayah menaikkan risiko depresi pascamelahirkan pada ibu serta komplikasi kebidanan. Karena itu, para penulis menilai kesehatan jiwa ayah baru penting bagi kestabilan keluarga dan kesehatan ibu serta bayi, bukan hanya bagi ayah sendiri.

Ayah baru juga bisa tertekanAyah baru juga bisa tertekanAyah baru juga bisa tertekanAngka riset terdahulu yang dirujuk naskah, lalu pola dari Hainan9,6%Depresi ayahsaat menantikelahiran8,5%Depresi ayahsetelah bayi lahir18%Distres ayahhingga, usaikelahiran29Ayah di Hainandiwawancarai2025Jalan risetnyaGejala dianggap wajarDiatasi sendiriJarang cari bantuanTiga angka pertama dari riset lain yang dikutip di pendahuluan naskah.
Sumber: Lei Qiu, Ying Wang, Yingqi Li, Shiye Deng, Jie Liu, Qionggui Zhou, dan Meihong Wang, Psychological health experiences and help-seeking barriers: a qualitative study of Chinese new fathers within 12 months postpartum, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hainan, Oktober 2025: letih yang disebut normal

Di Hainan, sebagian besar ayah menggambarkan keadaan jiwanya setahun setelah kelahiran sebagai normal, atau paling jauh sesekali mudah marah. Hampir tak seorang pun pernah mencari bantuan profesional. Para ayah berusia 25 sampai 36 tahun itu diwawancarai sepanjang Oktober 2025 ketika mengantar bayi imunisasi atau periksa kesehatan di dua rumah sakit, dan sebagian besar berpendidikan diploma atau sarjana.

Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P28 mengaku merasa agak kesal ketika bayinya menangis tengah malam dan sulit ditenangkan. Suasana hatinya membaik seiring anak tumbuh dan kebutuhannya makin mudah dipahami, dan ia menilai peluangnya sendiri terkena kecemasan atau depresi hanya 3 dari 10. P22 mengakui tidurnya terganggu, tetapi menyebut dampaknya sangat kecil dan bisa diatasi, lalu memberi dirinya skor nol.

Peran baru juga menuntut penyesuaian. Seorang pegawai negeri, P27, merasa waktunya jelas tidak sebebas dulu, karena sepulang kerja ia harus menidurkan bayi sambil memperhatikan perasaan istrinya, dan tidurnya buruk lebih karena merawat pasangan ketimbang tuntutan bayi. P12, seorang wiraswasta yang sempat mengasuh bayi seorang diri, mengenang masa ketika bayinya berusia dua bulan terus menangis dan tak bisa ditenangkan.

Para penulis membaca pola ini dengan hati-hati. “Temuan kami karenanya menunjukkan bahwa distres psikologis ayah bisa saja ada tetapi mudah dianggap wajar selama masa peralihan menjadi ayah,” tulis Qiu dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu mereka sandingkan dengan riset lintas negara yang dirujuk naskah, termasuk Leiferman dan rekan pada 2021, bahwa distres laki-laki kerap tampil sebagai amarah, menarik diri, atau lelah berkepanjangan.

Seidler 2016 dan ayah Hainan: memilih menahan sendiri

Banyak ayah di Hainan tidak tahu bahwa ayah pun bisa mengalami gangguan jiwa di masa perinatal. Sejumlah partisipan mengaku tidak pernah mendengar bahwa ayah juga bisa depresi, hanya bahwa ibu bisa mengalami depresi pascamelahirkan. Bahkan mereka yang mengaku kadang cemas atau mudah marah menilai peluang depresi praktis nol, lalu menyalahkan watak atau urusan kecil sehari-hari.

Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P1 menyatakan, “Saya tidak pernah mendengar ayah mengalami masalah psikologis semacam ini; yang saya tahu hanya ibu.” Kutipan itu dimuat naskah dalam bahasa Inggris. Pola ini, menurut para penulis, sejalan dengan riset Seidler dan rekan pada 2016 bahwa laki-laki umumnya lebih jarang dibanding perempuan dalam mengenali distres emosional sebagai masalah kesehatan jiwa atau mencari bantuan psikologis.

Tanpa merasa perlu bantuan profesional, para ayah mengandalkan cara sendiri. Mereka enggan bercerita kepada teman atau rekan kerja karena takut menyebarkan energi negatif atau merepotkan orang lain, dan P3 jarang membicarakan kekhawatirannya dengan istri agar tidak menambah beban pikirannya. Sebagian berjalan kaki, berolahraga, menonton video pendek, atau bermain gim setelah bayi tidur pada malam hari.

Keluarga kadang ikut menangkap tanda. Sebagian istri berkata suaminya tampak tidak seperti biasanya belakangan ini, lalu mendorongnya beristirahat atau berolahraga, sementara orang tua atau mertua turun tangan membantu mengasuh bayi. Namun, para penulis mencatat bantuan itu sebagian besar bersifat praktis dan jarang sekali menyentuh pembicaraan tentang kesehatan jiwa sang ayah.

Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh

Setahun pertama: tidur, kerja, dan uang

Sumber tekanan yang disebut para ayah sangat jasmani. P4 bangun pukul dua atau tiga dini hari untuk memberi susu dan mengganti popok, lalu sering terjaga sampai subuh dengan badan terasa seperti remuk. P16 menggambarkan tidur buruk berbulan-bulan yang membuatnya pusing dan sulit berkonsentrasi seharian, serta khawatir kelelahan itu mengganggu kesehatan dan pekerjaannya.

Beban ganda kerja dan rumah menambah tekanan. P8 bekerja siang hari lalu membantu istri mengurus bayi di malam hari, dan merasa sangat bersalah ketika lembur membuatnya tak bisa pulang. P15 ingin menjadi ayah yang sempurna, tetapi beban kerja dan target membuatnya jarang punya waktu bersama keluarga. Para penulis melihat ketegangan itu sebagai tarik-menarik antara mencari nafkah dan mengasuh.

Uang menjadi lapisan berikutnya. Sebagian ayah menyebut tekanan bagi kebanyakan laki-laki terutama datang dari soal uang, dan P6 menambahkan keluarganya tidak berada serta punya kewajiban kepada kerabat. P25 melihat teman sebayanya menunda atau menghindari punya anak karena biaya rumah, mobil, atau pernikahan. Menurut para penulis, tekanan finansial bukan hanya memengaruhi perasaan, tetapi juga langsung membatasi kemauan mencari bantuan profesional.

Temuan ini, tulis para penulis, sejalan dengan bukti bahwa peralihan menjadi ayah sering berarti menyeimbangkan peran penyedia nafkah dan pengasuh, yang bisa membuat ayah merasa terbebani dan terlupakan. Naskah juga menautkannya dengan sejumlah studi yang dirujuknya, termasuk dari Thailand dan Ethiopia, yang mencatat kesulitan finansial dan tekanan sosial ekonomi berhubungan dengan depresi dan kecemasan ayah.

Addis dan Mahalik 2003: bayang norma lelaki

Rantai riset tentang maskulinitas memberi konteks yang lebih tua. Naskah merujuk Addis dan Mahalik pada 2003 untuk menunjukkan bahwa norma maskulin tradisional bisa memperberat distres sekaligus mengurangi kemauan mencari bantuan. Di Hainan, banyak ayah merasa laki-laki harus kuat dan khawatir dianggap rapuh atau tidak jantan bila mengaku butuh pertolongan.

Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P11 menyamakan mencari bantuan dengan terkena pilek: “Kalau masih bisa ditahan, kamu tidak ke dokter; hanya ketika tidak tahan lagi baru kamu berobat.” Kalimat itu tercatat dalam naskah berbahasa Inggris. Artinya, dukungan profesional baru dipertimbangkan ketika distres sudah tak tertanggungkan, dan kebiasaan menahan diri inilah yang menurut para penulis didorong oleh harapan maskulin.

Namun, sikap para ayah tidak seragam. Sebagian menegaskan bahwa mencari bantuan psikologis bukan tanda lemah dan pilihan tiap orang harus dihormati, sambil mengakui bahwa teman sebaya mereka nyaris tak pernah membicarakan kesehatan jiwa. Para penulis membaca kontradiksi ini sebagai peran ganda maskulinitas tradisional, yang menekan ungkapan emosi tetapi perlahan memberi ruang bagi penghargaan terhadap kesejahteraan jiwa.

Lima hambatan dan arah layananLima hambatan dan arah layananLima hambatan dan arah layananTemuan wawancara 29 ayah dan saran penulisHambatanArah layananInfo untuk ibuEdukasi ayahPengetahuanTak tahu ke manaPetunjuk jelasJalur layananKerja dan asuhDaring, luar jamWaktuRibuan yuanTerjangkauBiayaTakut maluRahasia tegasPrivasiArah layanan diambil dari kesimpulan dan implikasi naskah.
Sumber: Lei Qiu, Ying Wang, Yingqi Li, Shiye Deng, Jie Liu, Qionggui Zhou, dan Meihong Wang, Psychological health experiences and help-seeking barriers: a qualitative study of Chinese new fathers within 12 months postpartum, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lima hambatan versi Qiu dan Wang

Kebanyakan ayah mengaku mau berkonsultasi bila distresnya berat, tetapi naskah menemukan lima hambatan yang menghalangi. Yang pertama pengetahuan, sebab informasi kesehatan jiwa di masa perinatal biasanya ditujukan kepada ibu. Yang kedua jalur layanan, karena P2 tidak tahu di mana di Hainan orang bisa menemui spesialis kesehatan jiwa atau lembaga mana yang profesional.

Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P26 menyatakan kesulitan itu dengan lugas: “Saya tidak bisa melangkah pertama karena tidak menemukan saluran yang tepat.” Kutipan itu aslinya berbahasa Inggris. Bahkan P8, yang bekerja di bidang teknologi informasi dan merasa mencari saluran itu mudah di era internet, mengaku sulit menilai keahlian dan reputasi penyedia layanan.

Hambatan ketiga adalah waktu. P14 hanya mau menggeser jadwal konsultasi bila bertabrakan dengan waktu mengasuh, dan P20 menegaskan layanan psikologis tidak boleh seperti rumah sakit yang mengharuskan antre pagi, periksa siang, lalu menunggu hasil esok hari. Sebagian ayah menambahkan bahwa jam kerja yang tetap dan rutinitas menidurkan anak membuat mereka nyaris tak punya waktu utuh untuk konseling.

Biaya menjadi hambatan keempat. Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P20 menyamakan konseling dengan menyewa pengacara: “Orang biasa tidak sanggup membayarnya… begitu masuk sudah ribuan yuan. Saya lebih baik menahannya dan membelanjakan uang itu untuk makan dan minum anak saya.” Kutipan itu tercatat dalam naskah berbahasa Inggris, dan sebagian ayah lain menyoroti tiadanya pertanggungan asuransi atau penggantian biaya.

Hambatan kelima menyangkut privasi. P10 menekankan psikolog wajib menjaga kerahasiaan karena laki-laki banyak bergaul di luar dan tidak ingin orang tahu mereka menemui terapis, sedangkan P21 menganggap datang ke rumah sakit untuk urusan kesehatan jiwa sama dengan kehilangan muka. P20 menambahkan bahwa banyak orang masih mengaitkan konsultasi psikologis dengan sakit jiwa.

Dari lima lapis itu, para penulis menarik kesimpulan yang lebih luas. “Secara bersama-sama, temuan ini menunjukkan bahwa hambatan bagi ayah untuk mencari bantuan tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga informasional, kelembagaan, dan struktural,” tulis Qiu dan rekan dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka menautkannya dengan tinjauan Schöch dan rekan pada 2024 tentang belum adanya alat skrining tervalidasi dan jalur skrining rutin bagi ayah.

Ketika ditanya layanan seperti apa yang mereka mau, para ayah terbelah. Sebagian memilih tatap muka karena merasa lebih aman bila tahu siapa lawan bicaranya, sementara yang lain memilih konsultasi daring karena lebih praktis dan anonim. Mereka lebih menginginkan panduan praktis, seperti cara menenangkan bayi, memahami perilaku anak, dan menjaga hubungan suami-istri, ketimbang psikoterapi konvensional.

Sebagian ayah juga menyarankan layanan yang proaktif menjangkau mereka, termasuk kelompok dukungan dan konselor khusus ayah. Para penulis menilai saran itu menunjukkan model rujukan pasif mungkin tidak cukup untuk merangkul ayah, dan menautkannya dengan tinjauan Fisher dan rekan pada 2022 bahwa intervensi khusus ayah serta yang disampaikan secara digital bisa diterima dan bermanfaat bagi laki-laki di masa perinatal.

Rekomendasi naskah kemudian mengarah ke layanan perinatal rutin, yakni edukasi dini, petunjuk jalur yang jelas, pemeriksaan singkat, dan layanan fleksibel seperti daring atau di luar jam kerja. “Dibingkai seperti ini, mencari bantuan adalah bagian dari menjadi ayah yang cakap,” tulis para penulis dalam abstrak berbahasa Inggris, sebuah pembingkaian yang mereka harapkan bisa mengurangi stigma dan mendekatkan ayah baru pada layanan.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Catatan pada naskah Qiu dan rekan

Para penulis mengakui temuan ini tidak dimaksudkan berlaku bagi semua ayah atau semua tempat, sebab penelitiannya kualitatif, dilakukan di satu provinsi di China, dan bertumpu pada pengalaman yang dilaporkan sendiri. Mereka juga mencatat ayah dengan distres lebih berat atau yang enggan membicarakan kesehatan jiwa mungkin kurang terwakili dalam kelompok yang mereka wawancarai.

Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Judul, abstrak, dan pembahasan menyebut para partisipan sebagai ayah baru atau ayah untuk pertama kali, tetapi syarat kepesertaan hanya menyebut ayah biologis dari bayi berusia di bawah 12 bulan, tanpa syarat anak pertama. Pendahuluan juga menulis sebagian studi melaporkan angka setinggi 25–7 persen, rentang yang tampak salah ketik.

Nomor persetujuan etik yang dicantumkan, HYLL-2022-210, memuat angka 2022, padahal wawancara berlangsung Oktober 2025, dan nama komitenya ditulis sedikit berbeda di dua bagian naskah. Naskah juga menyebut usia partisipan 25 sampai 36 tahun, sementara tabelnya mencatat enam ayah berusia di atas 35 tahun, yang berarti keenamnya tepat berusia 36 tahun.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Dalam rantai riset yang dimulai dari angka prevalensi dan tinjauan pustaka di berbagai negara, penelitian Qiu dan rekan menambahkan satu mata rantai dari Hainan. Ia tidak mengukur berapa ayah yang depresi, melainkan memperlihatkan bagaimana letih, kesal, dan cemas dijalani sebagai hal biasa sebelum sempat disebut masalah. Bagi ayah-ayah itu, jarak menuju bantuan terbentang dari tak tahu, tak sempat, tak mampu, sampai takut dilihat orang.

Bagikan

Baca Juga

Malaqbiq Mandar, Gelar Mulia yang Tak Bisa Dibeli dengan Harta
Hari Tua Sering Dipikirkan Warga Oosterpark, Jarang Disiapkan
Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih
Promo Takeaway Memikat Keluarga Inggris Berpenghasilan Rendah
Warga Ceko Memilih Makanan dari Rasa dan Harga, Bukan Lingkungan
Mahkamah Agung Israel Minta Ketua Partai Arab Mundur dari Pemilu