- Di Putrajaya, minimarket justru lebih mendukung makan sehat daripada toko kelontong.
- Median skor pendorong makan sehat bahkan 0,0 di semua jenis tempat makan, dari restoran sampai lapak hawker.
- Kelima belas gerai itu terdiri atas tiga supermarket, tujuh toko kelontong, dan lima restoran.
- Yang paling penting bagi Noor adalah kedua gugus itu tidak terpisah.
Daftar Isi
Nur Farhana Mohammed Noor bersama Siti Aisah Mokhtar dan Zarirah Adzni Mokhtar mengumpulkan data dari setiap toko pangan dan tempat makan yang beroperasi di Putrajaya pada Juni dan Juli 2024. Mereka ingin tahu seberapa mudah warga ibu kota administratif Malaysia itu menemukan makanan sehat di sekitar tempat tinggal dan tempat kerjanya. Jawaban yang mereka temukan ternyata tidak sesederhana ada atau tidak adanya gerai sehat.
Hasil kerja itu ditulis Nur Farhana Mohammed Noor, Siti Aisah Mokhtar, Zarirah Adzni Mokhtar, Halimatus Sakdiah Minhat, dan Siti Anom Ahmad dengan judul Spatial distribution of healthy food options: an evaluation of the food environment in Putrajaya di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Noor, kedua Mokhtar, dan Minhat bernaung di Faculty of Medicine and Health Science, Universiti Putra Malaysia, sedangkan Ahmad berasal dari Faculty of Engineering di kampus yang sama.
Noor Membuka Peta Kota
Noor dan rekan-rekannya berangkat dari satu angka yang mengganjal. Menurut National Health and Morbidity Survey 2023 yang mereka kutip, 52,9 persen orang dewasa Malaysia tergolong kelebihan berat badan atau obesitas, dan Putrajaya termasuk yang tertinggi dengan lebih dari 61,3 persen orang dewasanya terdampak. Padahal, tulis Noor, literasi kesehatan warga kota itu relatif tinggi dan lingkungan binaannya mendukung aktivitas fisik.
Putrajaya, menurut naskah Noor, adalah kota terencana yang berdiri pada 1995 dengan konsep kota taman. Luasnya sekitar 4.900 hektare dan penduduknya sekitar 119.200 jiwa, sebagian besar pegawai pemerintah. Siti Aisah Mokhtar, penulis korespondensi naskah ini, bersama timnya mencatat bahwa belum pernah ada penilaian menyeluruh atas lingkungan pangan kota itu dengan instrumen audit yang tervalidasi.
Noor dan tim akhirnya menilai 80 toko pangan, terdiri atas empat supermarket, 36 toko kelontong, 30 minimarket, dan 10 pasar segar yang mencakup pasar basah, tukang daging, dan penjual sayur. Zarirah Adzni Mokhtar dan rekan-rekannya juga menilai 665 tempat makan, yaitu 404 restoran jam biasa, 13 restoran 24 jam, 74 kedai kopi, 27 toko roti, 110 lapak hawker, dan 37 gerai cepat saji.
Noor Menyusuri Rak Toko
Di rak toko, Noor menemukan sejumlah barang yang tergolong lebih sehat cukup mudah dijumpai. Roti gandum utuh ada di 80,5 persen toko, soda diet atau jus 100 persen di 79,3 persen, dan susu rendah lemak di 77,9 persen. Sereal rendah gula dan sosis rendah lemak, catat Noor, masing-masing tersedia di 71,4 persen toko.
Sayur dan buah justru lebih jarang. Noor mencatat sayur hanya tersedia di 50,7 persen toko dan buah di 41,6 persen, dengan sawi, tomat, dan kubis sebagai sayur paling umum serta jeruk dan pisang sebagai buah yang paling sering ada. Daging tanpa lemak lebih langka lagi, hanya 5,2 persen, sementara keripik panggang cuma 2,6 persen.
Siti Aisah Mokhtar dan Noor mencatat seluruh supermarket menjual susu rendah lemak, jus, sosis rendah lemak, roti gandum utuh, dan sereal rendah gula. Namun di supermarket dan pasar segar yang menjual potongan daging rendah lemak, produk itu umumnya dijual tanpa label gizi yang menyertainya.
Dalam skor keseluruhan, supermarket yang dinilai Noor paling unggul dengan median 27,0, terutama karena skor ketersediaannya mencapai 20,0. Minimarket menyusul dengan median 15,0, toko kelontong 14,5, dan pasar segar paling rendah dengan 12,0. Skor harga yang memihak pilihan sehat, catat Noor, rendah di semua jenis toko, berkisar 2,0 sampai 3,5.
Temuan tentang minimarket membuat hasil kerja Noor dan Halimatus Sakdiah Minhat berbeda dari riset terdahulu yang mereka kutip. Di Putrajaya, minimarket justru lebih mendukung makan sehat daripada toko kelontong. Menurut Minhat dan rekan-rekannya, jaringan minimarket di Malaysia berkembang cepat dan mulai menyediakan salad siap santap, camilan lebih sehat, buah potong, dan sebagian makanan beku.
Toko kelontong, tulis Noor, umumnya kecil, dikelola keluarga, dan berada di permukiman. Biaya memasok, menyimpan, dan mengawetkan bahan segar membatasi kemampuan mereka menyediakan pilihan sehat, sehingga mereka lebih banyak menjual makanan olahan dan kemasan yang tahan lama. Padahal, menurut data yang dikutip Noor, toko kecil semacam ini menguasai 56 persen penjualan pangan.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Noor Membaca Daftar Menu
Di tempat makan, gambaran yang ditemukan Noor lebih suram. Sebanyak 87,3 persen tempat makan memang menyajikan minimal satu menu utama sehat, seperti nasi, ikan, unggas, telur, kacang-kacangan, tahu, atau tempe. Namun hanya 25,4 persen yang menyediakan salad, 22,3 persen menyajikan sayur yang tidak digoreng, dan 4,5 persen menawarkan buah.
Pilihan lain nyaris absen dari daftar menu yang diperiksa Noor dan Zarirah Adzni Mokhtar. Roti gandum utuh hanya ada di 1,4 persen tempat makan, keripik panggang 1,1 persen, dan susu rendah lemak 0,5 persen. Median skor pendorong makan sehat bahkan 0,0 di semua jenis tempat makan, dari restoran sampai lapak hawker.
Yang menarik, restoran 24 jam, yang kebanyakan berupa restoran mamak, mencatat median skor tertinggi, yaitu 5,0. Noor dan Siti Aisah Mokhtar menjelaskan restoran jenis ini punya ragam menu lebih luas, termasuk sayur tidak digoreng, buah, jus buah 100 persen, dan susu. Restoran jam biasa dan kedai kopi bermedian 3,0, gerai cepat saji 2,0, lapak hawker 1,0, dan toko roti 0,0.
Toko roti menjadi titik terendah dalam catatan Noor. Tak satu pun dari 27 toko roti menawarkan roti gandum utuh, pastri gurih berisi unggas, ikan, daging, atau sayur, kue rendah gula atau rendah lemak, maupun olahan buah tanpa gula tambahan. Karena itu, tulis Noor, seluruh toko roti mendapat skor nol untuk ketersediaan pilihan sehat.
Gerai cepat saji ternyata tidak banyak di Putrajaya, dan Noor memakai istilah obesogenik untuk lingkungan yang dipenuhi makanan padat energi dan bergula yang mudah dijangkau. “Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pangan obesogenik setempat tidak terutama berpusat pada makanan cepat saji,” tulis Noor dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, kebiasaan makan sehari-hari di tempat makan lokal yang sering dikunjungi mungkin berperan lebih besar.
Kondisi ini, menurut Noor, menyempitkan ruang gerak warga yang ingin makan sehat saat bersantap di luar rumah. “Karena itu, bahkan orang yang termotivasi pun bisa kesulitan makan sehat, yang menyoroti pengaruh faktor struktural dalam lingkungan pangan terhadap perilaku makan,” tulis Noor dan rekan-rekannya. Konsumen, tambah mereka, terpaksa sangat bergantung pada kendali diri dan pengetahuan pribadi.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Minhat dan Ahmad Membaca Presint
Dengan ambang 45 persen dari skor maksimum, Halimatus Sakdiah Minhat, Siti Anom Ahmad, dan Noor hanya menggolongkan 15 gerai, atau 2,01 persen, sebagai lingkungan pangan sehat. Kelima belas gerai itu terdiri atas tiga supermarket, tujuh toko kelontong, dan lima restoran. Tidak ada minimarket, pasar segar, kedai kopi, lapak hawker, atau toko roti di dalamnya.
Di peta yang disusun Noor, gerai pangan menggerombol di utara, yakni di Presint 1, 2, 9, 11, 14, 15, dan 16, lalu menyebar lebih jarang di selatan, di Presint 3, 4, 6, 17, dan 18. Menurut Minhat dan rekan-rekannya, sebagian besar gerai berada di pusat perbelanjaan dan zona komersial, sebagian lagi di kawasan perkantoran dan permukiman.
Peta kepadatan yang dianalisis Minhat dan Ahmad menunjukkan gugus gerai sehat paling padat di antara Presint 1 dan 15, di Presint 3, serta di antara Presint 5 dan 6. Sebaliknya, gugus gerai tidak sehat terkumpul di Presint 1 dan 16, di Presint 2, 3, 9, dan 11, serta di antara Presint 14 dan 15.
Yang paling penting bagi Noor adalah kedua gugus itu tidak terpisah. Gugus sehat dan tidak sehat berada di lingkungan yang sama atau bersebelahan, dan di dalamnya gerai tidak sehat lebih luas sebarannya serta lebih dominan. Noor menyebut kondisi ini mirip rawa pangan, istilah untuk lingkungan yang didominasi makanan padat energi dan miskin gizi dibanding pilihan yang lebih sehat.
Dalam abstrak naskah yang berbahasa Inggris, Noor dan rekan-rekannya merangkum temuan itu dalam satu frasa. Peta Putrajaya, tulis mereka, menunjukkan bahwa “akses pada makanan yang lebih sehat tertanam di dalam lingkungan obesogenik yang lebih luas.” Menurut Noor, manfaat gerai sehat bisa tergerus oleh dominasi gerai tidak sehat di sekitarnya.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Siti Aisah Mokhtar Menimbang Batas
Siti Aisah Mokhtar dan rekan-rekannya mengakui temuan ini punya batas. Warga Putrajaya tidak hanya berbelanja dan makan di dekat rumah, sementara pasar tani dan pasar malam tidak ikut dinilai. Alat ukur yang dipakai Mokhtar juga tidak menghitung porsi, kalori, gula, maupun garam, dan penilaian hanya memotret satu periode waktu.
Keberatan lain datang dari alat ukurnya sendiri. Menurut Mokhtar, alat itu disusun berdasarkan pola makan Barat, sehingga makanan pokok, hidangan campur, dan cara memasak khas Malaysia kurang terwakili. Barang seperti saus salad rendah lemak, sosis rendah lemak, makan malam beku, dan keripik panggang, tulis Mokhtar, memang tidak lazim di lanskap pangan setempat sehingga jarang dijual.
Dari temuan itu, Mokhtar dan Noor mengusulkan beberapa langkah. Menu tradisional bisa diolah ulang dengan lebih banyak sayur dan buah serta cara memasak yang lebih sehat, toko roti bisa menyediakan pilihan gandum utuh, dan sertifikasi Kafetaria Sihat dari Kementerian Kesehatan Malaysia bisa diperluas. Mereka juga menyebut insentif bagi gerai sehat, pajak untuk makanan kurang bergizi, dan potongan harga 20 persen untuk pilihan sehat.
Noor Meninggalkan Beberapa Selip
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa ketidakcocokan dalam naskah Noor. Abstrak menyebut hanya 6,5 persen toko yang menawarkan daging tanpa lemak, sedangkan bagian hasil mencatat angka 5,2 persen untuk daging tanpa lemak dan 6,5 persen untuk kue panggang rendah lemak. Abstrak juga menempatkan gugus gerai sehat di Presint 1, 14, 15, dan 16, berbeda dari lokasi yang dirinci di bagian hasil.
Selip lain ada di bagian administrasi naskah. Kolom pendanaan tertulis tidak berlaku, padahal ucapan terima kasih menyebut dukungan finansial Universiti Putra Malaysia dan daftar kontribusi mencatat Siti Aisah Mokhtar serta Zarirah Adzni Mokhtar mengupayakan pendanaan. Di bagian pembahasan, Noor juga menyebut pasar segar mendapat skor rendah pada instrumen untuk tempat makan, padahal pasar dinilai dengan instrumen untuk toko.
Noor memulai pekerjaannya dari kota yang warganya berliterasi kesehatan tinggi tetapi lebih dari 61,3 persen orang dewasanya kelebihan berat badan. Peta yang ia susun bersama Mokhtar, Minhat, dan Ahmad tidak menjawab penyebab angka itu. Peta tersebut memperlihatkan bahwa 15 gerai sehat di Putrajaya berdiri di tengah gerai lain yang jauh lebih banyak.














