- Semuanya berasal dari komunitas pesisir, sehingga prevalensi di sana mencapai 5,9 persen.
- Empat dari delapan peserta yang positif HIV, atau separuhnya, juga positif antibodi sifilis.
- Tekanan darah tinggi ini lebih terkait usia daripada tempat tinggal.
- Di pesisir angkanya 37,0 persen, sedangkan di pedalaman hanya 6,6 persen.
Daftar Isi
Skrining sederhana di dua komunitas Madagaskar menemukan banyak penyakit tersembunyi. Dari 256 warga dewasa yang datang, 3,1 persen positif HIV dan 11,3 persen membawa antibodi sifilis. Hampir tiga dari sepuluh peserta juga punya tekanan darah setara hipertensi.
Temuan itu ditulis Petra Macounová, Klára Jarešová, Hana Tomášková, Markéta Svobodníková, dan Rastislav Maďar dalam Community-based health screening in Madagascar reveals a potential underestimation of non-communicable and infectious disease burden: a cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Kelimanya bernaung di Department of Epidemiology and Public Health, Faculty of Medicine, University of Ostrava, Republik Ceko.
Hasil itu penting karena data semacam ini jarang tersedia. Menurut naskah, bukti tentang HIV, hepatitis, dan sifilis di Madagaskar kebanyakan datang dari rumah sakit, donor darah, atau ibu hamil. Data dari warga biasa di komunitas pinggiran nyaris kosong.
Warga di sana juga jarang memeriksakan diri sebelum gejala berat muncul. Lebih dari 60 persen penduduk Madagaskar tinggal di pedesaan terpencil, dan fasilitas kesehatan terdekat sering berjarak lima kilometer atau lebih. Hanya 36,1 persen penduduk yang mendapat listrik.
Dua Komunitas Pinggiran
Skrining digelar pada Juni dan Juli 2023 di dua lokasi. Satu komunitas pedalaman berada di dekat kota Antsirabe, satu lagi komunitas pesisir di dekat Toamasina. Keduanya dilayani fasilitas layanan kesehatan primer setempat yang sekaligus menjadi tempat pemeriksaan.
Pesertanya 256 orang dewasa, 121 dari pedalaman dan 135 dari pesisir. Usia rata-rata 45,2 tahun, dan peserta pesisir lebih muda, 41,5 tahun berbanding 49,3 tahun di pedalaman. Perempuan mendominasi dengan porsi 77 persen, sedangkan laki-laki hanya 59 orang.
Semua peserta menuntaskan paket pemeriksaan yang sama, dari tes cepat HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan sifilis sampai tekanan darah, gula darah puasa, dan kolesterol total. Naskah menyebut skrining itu menemukan banyak kondisi kesehatan yang sebelumnya tidak dikenali.
HIV Hanya di Pesisir
Delapan peserta positif HIV, atau 3,1 persen. Semuanya berasal dari komunitas pesisir, sehingga prevalensi di sana mencapai 5,9 persen. Di pedalaman, tidak satu pun dari 121 peserta yang hasil tesnya positif.
Angka itu jauh di atas estimasi nasional. Model Bank Dunia memperkirakan prevalensi HIV Madagaskar 0,4 persen pada 2022. Studi tes berbasis komunitas lain di Madagaskar utara mencatat 2,94 persen, dan para penulis melihat kedua hasil itu saling menguatkan.
Namun, para penulis tidak menyebut angka nasional itu keliru. Menurut mereka, prevalensi HIV bisa sangat berbeda antarkomunitas, dan kantong berprevalensi tinggi mungkin luput dari data surveilans nasional yang tersedia sekarang.
Naskah juga mengutip estimasi WHO bahwa hanya sebagian kecil orang dengan HIV di Madagaskar yang tahu dirinya terinfeksi dan mendapat terapi antiretroviral. Karena itu, para penulis meminta surveilans HIV berbasis komunitas diperluas ke berbagai wilayah negeri itu.
Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen
Sifilis Paling Sering
Sifilis adalah infeksi yang paling banyak ditemukan. Sebanyak 29 peserta, atau 11,3 persen, membawa antibodi sifilis. Dari jumlah itu, 22 orang tinggal di pesisir, sehingga prevalensinya 16,3 persen di pesisir dan 5,8 persen di pedalaman.
Angka ini lebih tinggi daripada studi sebelumnya di Madagaskar. Naskah menyebut 5,6 persen pada populasi umum, 3,0 persen pada ibu hamil, dan sekitar 1,2 persen pada donor darah sukarela di Antananarivo. Para penulis mengingatkan bahwa studi-studi itu berbeda waktu, wilayah, dan cara merekrut peserta.
Ada pula tumpang tindih dengan HIV. Empat dari delapan peserta yang positif HIV, atau separuhnya, juga positif antibodi sifilis. Para penulis mengaitkannya dengan jalur penularan seksual yang sama, meski jumlahnya terlalu kecil untuk diuji secara statistik.
Hepatitis B dan C
Antibodi hepatitis C ditemukan pada enam peserta, seluruhnya dari pesisir. Prevalensinya 2,3 persen secara keseluruhan dan 4,4 persen di komunitas pesisir, di atas estimasi berbasis populasi sekitar 1,2 persen yang dikutip naskah.
Para penulis tidak membaca angka itu sebagai kenaikan dari waktu ke waktu. Bersama studi percontohan di Ambanja yang mencatat 2,8 persen, temuan ini menunjukkan hepatitis C hadir di wilayah Madagaskar yang berjauhan dan data terbarunya mendesak diperlukan.
Hepatitis B menunjukkan pola lain. Tujuh peserta positif antigen permukaan hepatitis B, atau 2,7 persen, dengan dua di pedalaman dan lima di pesisir. Beda antarkomunitas ini tidak bermakna secara statistik.
Angka hepatitis B itu justru lebih rendah dari studi sebelumnya, yang mencatat 6,9 persen dalam studi multisitus dan 3,8 persen pada donor darah pertama kali di Antananarivo. Para penulis menolak membacanya sebagai penurunan, melainkan tanda keragaman antarwilayah.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Tekanan dan Gula Darah
Beban penyakit tidak menular juga besar. Sebanyak 72 peserta, atau 28,1 persen, memiliki tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, sejalan dengan studi lain di Madagaskar yang mencatat sekitar 26 sampai 30 persen.
Tekanan darah tinggi ini lebih terkait usia daripada tempat tinggal. Pada peserta berusia 45 tahun ke bawah, porsinya 9,52 persen, sedangkan pada yang lebih tua 46,15 persen. Di pedalaman dan pesisir, angkanya hampir sama, 28,10 dan 28,15 persen.
Gula darah puasa memberi hasil paling mencolok. Sebanyak 59,0 persen peserta punya kadar 5,6 mmol/L atau lebih, dan 15,6 persen mencapai 7 mmol/L atau lebih, level yang sepadan dengan hiperglikemia setingkat diabetes.
Naskah membandingkannya dengan estimasi diabetes Madagaskar sebesar 3,9 persen dari International Diabetes Federation dan 6,5 persen dari studi di Ambanja. Para penulis menegaskan hasil mereka bukan angka prevalensi diabetes, karena gula darah hanya diukur sekali.
Kolesterol dan Pinggang
Kolesterol total di atas normal ditemukan pada 22,7 persen peserta. Di pesisir angkanya 37,0 persen, sedangkan di pedalaman hanya 6,6 persen. Inilah satu-satunya ukuran kardiometabolik yang tetap berbeda antarkomunitas setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan.
Setelah penyesuaian itu, peluang warga pesisir memiliki kolesterol tinggi 7,21 kali lipat dibanding warga pedalaman. Rata-rata kolesterolnya sendiri dekat dengan estimasi WHO untuk Madagaskar, yakni 3,96 mmol/L pada pria dan 4,36 mmol/L pada perempuan.
Ukuran tubuh menunjukkan dua sisi. Sebanyak 13,3 persen peserta kurus, 50,0 persen normal, 28,9 persen kelebihan berat badan, dan 7,8 persen obesitas, tanpa beda antarkomunitas. Lebih dari separuh peserta, 54,7 persen, punya rasio pinggang-pinggul di atas ambang WHO.
Lingkar pinggang berlebih jauh lebih sering pada perempuan, 38,07 persen, dibanding 8,47 persen pada pria. Para penulis membacanya sebagai beban lemak perut yang cukup tinggi, terutama pada peserta perempuan.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Batas Temuan
Temuan ini punya keterbatasan yang diakui terbuka. Target 280 peserta tidak tercapai, peserta datang sukarela sehingga bias seleksi tidak bisa disingkirkan, dan 77 persen di antaranya perempuan. Hasilnya tidak mewakili Madagaskar secara nasional.
Tes cepat yang positif tidak dikonfirmasi dengan uji laboratorium, dan tekanan darah serta gula darah hanya diukur sekali. Tim juga tidak bisa melacak diagnosis akhir peserta yang diserahkan ke tenaga kesehatan setempat.
Beda pedalaman dan pesisir pun belum terjelaskan. Tidak ada data pekerjaan, migrasi, pola makan, sosial ekonomi, atau perilaku seksual. Para penulis menyebut kota pelabuhan dan mobilitas penduduk sebagai dugaan untuk HIV, lalu segera memberi rem pada dugaan itu.
“Temuan kami sejalan dengan hipotesis ini, tetapi tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti hubungan sebab-akibat,” tulis Petra Macounová, peneliti Department of Epidemiology and Public Health, University of Ostrava, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Semua beda geografis itu mereka sebut sebagai pembangkit hipotesis.
Catatan pada Naskah
Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Angka prevalensi HIV 2,94 persen yang dipakai untuk menghitung besar sampel dirujuk ke nomor 17, yakni studi tentang skrining hipertensi. Di pendahuluan dan pembahasan, angka yang sama dirujuk ke nomor 7, studi HIV di Madagaskar utara.
Bagian hasil menyebut 72 orang didiagnosis kemungkinan hipertensi, padahal bagian metode menegaskan tekanan darah tinggi saat skrining bukan diagnosis klinis. Batas 5,6 mmol/L juga dipakai ganda, sebagai batas atas kelompok normal sekaligus batas bawah kelompok berikutnya.
Pendahuluan dan bagian etika masih memuat tulisan [blinded for review], sementara bagian deklarasi menyebut komite etik Fakultas Kedokteran University of Ostrava. Judul tabel 3 pun memakai istilah civilization diseases, berbeda dengan tabel 2 yang menyebut noncommunicable diseases.
Skrining satu kali di dua komunitas ini tidak bisa memetakan Madagaskar. Namun, ia menunjukkan bahwa HIV, sifilis, gula darah tinggi, dan kolesterol bisa menumpuk di tempat yang tak terbaca angka nasional.















