- Dari 20 peserta yang jatuh sekali, 12 orang atau 60,0 persen menyebut bahaya lingkungan di luar diri.
- Tiga belas orang, atau separuh peserta, mengalami patah tulang, sementara hanya lima orang yang lolos tanpa cedera.
- Para penulis melihat risiko di kedua ujung.
- Seluruh peserta berasal dari satu wilayah, sehingga temuannya belum tentu berlaku di tempat lain, dan cerita yang mengandalkan ingatan bisa terpengaruh bias ingatan.
Daftar Isi
- Kulit semangka, lantai yang baru dipel, dan batu kecil di jalan yang menjungkalkan sebuah kursi roda
- Ketika sebabnya ternyata ada di dalam tubuh sendiri, dari pusing saat bangun tidur sampai rasa takut yang mengunci langkah
- Detik-detik di lantai, ketika sebagian berusaha bangun sendiri dan sebagian lain terbaring sampai seseorang pulang
- Setelah bangun, ada yang terus berjalan seperti biasa dan ada yang memilih nyaris tidak bergerak sama sekali
- Beberapa hal di dalam naskah yang tidak saling cocok dan bisa diperiksa sendiri oleh pembaca
Jalan menuju pasar itu tampak biasa sampai kakinya menginjak sesuatu. “Hari itu, dalam perjalanan ke pasar, ada sepotong besar kulit semangka. Siapa yang makan semangka di musim dingin? Tapi kulit itu ada di sana, aku menginjaknya dan terpeleset,” kata seorang perempuan berusia 74 tahun dari desa, yang dicatat para peneliti sebagai partisipan P11. Kalimatnya aslinya tercatat dalam bahasa Inggris. Pertanyaan yang ia ajukan sendiri tidak pernah terjawab.
Cerita itu tercatat dalam artikel “How did I fall?” A narrative analysis of fall experiences among older adults in China karya Guangning Chen, Jiaqi Zhang, Jingwen Chang, Hongqing An, Qianqian Gao, Qi Jing, Runguo Gao, dan Weiqin Cai. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 789, tahun 2026.
Para penulisnya bernaung di Shandong Second Medical University di Weifang, Provinsi Shandong. Mereka mendengarkan 26 orang berusia 65 tahun ke atas di Liaocheng, Shandong, yang pernah jatuh dalam setahun terakhir, sepanjang Maret hingga Agustus 2024. Separuh tinggal di kota, separuh di desa, dan 21 di antaranya perempuan.
Pertanyaan yang mereka bawa sama dengan judul naskahnya. Bagaimana aku bisa jatuh? Jawabannya ternyata tidak seragam. “Pengalaman jatuh para partisipan bersifat pribadi dan rumit,” tulis para penulis dalam abstrak berbahasa Inggris. Dari cerita-cerita itu mereka menyusun empat tema, yaitu penjelasan tentang sebab jatuh, reaksi sesaat sesudahnya, akibatnya, dan perubahan perilaku yang datang belakangan.
Taruhannya tidak kecil. Naskah mengutip data kematian nasional yang menyebut jatuh sebagai penyebab utama kematian akibat kecelakaan pada orang berusia 60 tahun ke atas di China. Angka kematian terstandarnya naik dari 8,960 per 100.000 penduduk pada 2013 menjadi 10,438 per 100.000 pada 2020, dan biaya medis langsungnya melampaui 5 miliar yuan setiap tahun.
Kulit semangka, lantai yang baru dipel, dan batu kecil di jalan yang menjungkalkan sebuah kursi roda
Sebagian besar cerita dimulai dari tanah yang dipijak. Para peserta menyebut rintangan di jalan, permukaan licin, jalan tidak rata, dan cahaya yang terlalu redup untuk melihat kondisi jalan. Bahaya yang sama juga ada di dalam rumah, dari perabot yang menghalangi, genangan air di kamar mandi, sampai lantai yang licin setelah dipel.
“Aku sedang mengepel lantai di rumah, lantainya licin, lalu aku terpeleset dan jatuh,” kata seorang perempuan desa berusia 77 tahun, P22-2, dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris. Seorang pengguna kursi roda bercerita rodanya tersangkut batu di jalan saat ia keluar. Kursi itu terguling, dan ia ikut jatuh bersamanya.
Ada pula yang jatuh karena meraih sesuatu. Seorang perempuan kota berusia 65 tahun, P2, naik ke tepi ranjang untuk mengambil barang di tempat tinggi dan kehilangan keseimbangan. Perempuan lain berusia 72 tahun, P1-3, memakai bangku. “Bangku itu dan aku sama-sama jatuh,” katanya.
Perempuan desa berusia 77 tahun, P19, jatuh karena sebuah pintu. Pintu yang baru dipasang itu besar dan berat, ia menariknya ke belakang, dan pegangannya lepas. Seorang perempuan kota berusia 76 tahun, P7-1, sedang mengayuh sepeda tanpa tahu rantainya sudah lepas. Sepeda itu miring, dan ia terjungkal.
Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh
Ketika sebabnya ternyata ada di dalam tubuh sendiri, dari pusing saat bangun tidur sampai rasa takut yang mengunci langkah
Cerita lain tidak punya kulit semangka untuk disalahkan. “Tiba-tiba aku kehilangan kesadaran dan roboh,” kata seorang perempuan kota berusia 75 tahun, P5-1. Ia menjalani banyak pemeriksaan di rumah sakit, tetapi sebabnya tidak ditemukan. Sampai sekarang ia masih kadang pingsan tanpa alasan yang jelas.
Seorang perempuan berusia 77 tahun, P6, baru turun dari ranjang ketika kepalanya terasa ringan. Ia jatuh ke arah tirai sebelum kakinya menyentuh lantai. “Makin tua, ini makin sering terjadi,” katanya. Seorang perempuan desa berusia 78 tahun, P9, sudah bertahun-tahun menahan sakit lutut, sampai suatu hari rasa sakit memuncak dan kakinya lemas.
Lalu ada rasa takut itu sendiri. Seorang perempuan kota berusia 68 tahun, P4, tidak berani bergerak karena takut jatuh, padahal lantainya tidak tinggi dan tidak rata. “Aku jatuh begitu mulai melangkah,” katanya. Takutnya datang lebih dulu. Jatuhnya menyusul.
Dari sini muncul pola yang paling tegas dalam naskah. Dari 20 peserta yang jatuh sekali, 12 orang atau 60,0 persen menyebut bahaya lingkungan di luar diri. Dari enam peserta yang jatuh dua kali atau lebih, empat orang atau 66,7 persen menyebut masalah kesehatan sendiri, seperti pusing berulang atau penglihatan kabur akibat degenerasi makula.
Sebagian peserta melihat keduanya saling bertaut. Seorang lelaki kota berusia 82 tahun, P8, menyebut dirinya punya tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan atrofi otak. Di rumah, sebuah kursi ada tepat di samping kakinya. Ia melihat kursi itu, tetapi kakinya tidak bisa menghindar. “Aku bisa menghindarinya kalau kesehatanku lebih baik,” katanya. Para penulis mencatat bahwa peserta seperti dia menganggap jatuh tidak terelakkan bila bahaya lingkungan dan kondisi tubuh datang bersamaan, tetapi bisa dihindari bila hanya salah satunya yang ada.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Detik-detik di lantai, ketika sebagian berusaha bangun sendiri dan sebagian lain terbaring sampai seseorang pulang
Apa yang terjadi sesudah tubuh menyentuh lantai ternyata juga berbeda-beda. P2 kaget sejenak, lalu refleks menopang badan dengan tangan kanannya. Ia bergeser menyamping, pelan-pelan mendorong tubuhnya ke dinding, dan baru memanggil pasangannya setelah posisinya stabil. P6 memilih diam. “Aku langsung minta tolong dan menunggu seseorang datang sambil berbaring tak bergerak di lantai,” katanya. Para penulis menggolongkan reaksi ini sebagai rasa takut yang mendorong orang meminta bantuan setelah sadar tidak bisa bangun sendiri.
Kelompok ketiga tidak sempat memilih. “Sampai putriku pulang dan membawaku ke rumah sakit, aku pingsan dan terbaring di lantai,” kata P5, perempuan kota berusia 75 tahun. Menurut naskah, bahaya bagi lansia yang pingsan setelah jatuh sering lebih tinggi, karena terbaring lama bisa memicu hipotermia, luka tekan, atau gangguan organ.
Karena itu para penulis menyarankan edukasi tentang cara meminta tolong dengan benar lewat penyuluhan kesehatan dan panduan perawatan keluarga. Untuk lansia yang tinggal sendiri atau berisiko tinggi, mereka menyarankan sistem deteksi jatuh dan alarm otomatis, serta pelatihan pengasuh agar bisa mengenali orang yang tidak sadarkan diri.
Setelah bangun, ada yang terus berjalan seperti biasa dan ada yang memilih nyaris tidak bergerak sama sekali
Tidak semua jatuh meninggalkan bekas. “Aku tidak merasa sakit waktu bangun, seolah-olah aku tidak pernah jatuh,” kata P1, perempuan kota berusia 72 tahun. Namun, tabel peserta menunjukkan gambaran lain. Tiga belas orang, atau separuh peserta, mengalami patah tulang, sementara hanya lima orang yang lolos tanpa cedera.
Bagi sebagian, luka tubuh menyeret luka lain. Seorang lelaki kota berusia 80 tahun, P23, kini harus memakai tongkat dan menyebut rasa sakitnya sebagai pengingat. “Hidup hanya akan makin buruk karena aku sudah sangat tua,” katanya. P19, yang jatuh karena pintu berat itu, menyalahkan dirinya sendiri karena selalu takut kehilangan barang.
Momen paling gelap datang dari P6. “Sudah tepat lima bulan. Aku masih tidak bisa berdiri dan perlu dibantu makan dan mandi. Apa bedanya ini dengan jadi sayuran? Aku tidak mau bicara atau bertemu siapa pun,” katanya. Jauh di dalam hati, ia merasa kemungkinan besar tidak akan pernah berdiri lagi.
Perilaku sesudahnya terbelah tiga. P1 tetap berjalan dengan cara yang sama karena merasa tubuhnya baik-baik saja. Seorang perempuan kota berusia 67 tahun, P25, kini hanya memakai sepatu pas bersol lunak, minum susu setiap hari, menghindari lubang, berjalan pelan, serta membatasi garam dan minyak. Seorang perempuan desa berusia 77 tahun, P22, memilih jalan ketiga. Ia berhenti keluar rumah, menghabiskan hari di dalam, dan sesekali ke balkon untuk berjemur. Bila tetangga memanggilnya turun, ia membawa bangku kecil, melangkah beberapa kali, lalu duduk karena takut jatuh lagi.
Para penulis melihat risiko di kedua ujung. Bertahan pada kebiasaan lama bisa mengabaikan bahaya jatuh ulang, sedangkan membatasi diri berlebihan bisa membuat otot mengecil dan keseimbangan memburuk. Lingkaran itu mereka gambarkan dengan ungkapan makin takut jatuh, makin mungkin jatuh.
“Alih-alih mempertahankan keadaan tanpa berpikir atau memaksakan pembatasan perilaku yang tidak perlu, penting untuk membantu orang lanjut usia membangun pola pikir ’pencegahan rasional’ yang memungkinkan mereka menghindari bahaya yang nyata sambil meningkatkan kemampuan menghadapinya melalui latihan aktivitas yang ilmiah,” tulis Guangning Chen, Weiqin Cai, dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Menurut mereka, ragam perilaku ini menegaskan perlunya pendidikan kesehatan yang terarah.
Temuan ini punya batas yang diakui para penulis sendiri. Seluruh peserta berasal dari satu wilayah, sehingga temuannya belum tentu berlaku di tempat lain, dan cerita yang mengandalkan ingatan bisa terpengaruh bias ingatan. Mereka menyarankan riset lanjutan yang mengikuti peserta dalam jangka panjang.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Beberapa hal di dalam naskah yang tidak saling cocok dan bisa diperiksa sendiri oleh pembaca
Pembaca yang teliti akan menemukan kata ganti yang tidak cocok dengan label kutipan. Narasi menyebut pengguna kursi roda yang terguling sebagai lelaki, tetapi kutipannya diberi label P3, perempuan kota berusia 72 tahun. Pengendara sepeda yang rantainya lepas juga disebut lelaki, sedangkan kutipannya berlabel P7-1, perempuan.
Pembulatan persentase di tabel peserta juga tidak konsisten. Lima peserta berusia 65 sampai 70 tahun ditulis 19,3 persen, padahal lima peserta lelaki ditulis 19,2 persen. Tiga peserta yang memar ditulis 11,6 persen, sementara tiga peserta berusia 81 tahun ke atas ditulis 11,5 persen. Penomoran rujukan juga bergeser. Bagian metode menyebut metode analisis tematik Braun dan Clarke sebagai rujukan nomor 33, tetapi nomor 33 di daftar pustaka adalah tulisan Friedsam dan Martin tahun 1963. Braun dan Clarke baru tercantum pada nomor 34.
Kulit semangka itu tetap tergeletak di jalan menuju pasar, di halaman awal naskah. Tidak ada keterangan siapa yang membuangnya atau kapan. Yang tercatat hanya satu langkah, satu pertanyaan tentang musim dingin, dan seorang perempuan berusia 74 tahun yang terpeleset.















