- Kebanyakan partisipan memandang penuaan sebagai proses alami yang tak bisa dibalik, mirip pergantian musim.
- Ancaman terbesar adalah penyakit kronis dan kemungkinan disabilitas.
- Mayoritas partisipan menempuh adaptasi proaktif, sedangkan sebagian kecil menempuh apa yang disebut akomodasi berbasis penerimaan, yaitu menerima penuaan tanpa langkah khusus.
- Sembilan dari 15 partisipan berpendidikan diploma ke atas, dan para penulis menduga profil ini ikut memudahkan strategi proaktif yang mereka temukan.
Daftar Isi
Persepsi penuaan kurang lebih sama dengan cara seseorang membaca tubuhnya sendiri ketika bercermin dan mendapati uban, kulit kendur, atau napas yang lebih cepat habis. Lima belas perempuan paruh baya di Changsha, Tiongkok, membaca tanda itu dengan jernih. Banyak di antara mereka justru berhenti di tahap tahu, belum sampai berbuat.
Temuan itu ditulis Yujie Lei, Kangning Li, Hongxia Zhuo, Zuxia Li, Wenjie Li, Nengfeng Chen, dan Huiwu Han dalam Perception and coping with aging among middle-aged women: a qualitative study, yang terbit di BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit tahun 2026. Para penulis bernaung di Xiangya Hospital dan Xiangya School of Nursing, Central South University, serta Tongji Medical College, Huazhong University of Science and Technology.
Para perempuan itu berusia 46 sampai 57 tahun dan diwawancarai di Changsha, Provinsi Hunan, pada April sampai Juni 2025. Naskah memakai batas paruh baya 45 sampai 59 tahun. Pada usia itu, menurut para penulis, perempuan di Tiongkok mendekati pensiun wajib, yang jatuh pada usia 50 bagi pekerja perempuan dan 55 bagi kader atau profesional.
Aging perception: cara membaca tubuh sendiri
Maksudnya, persepsi penuaan bukan soal umur di kartu identitas, melainkan apa yang dirasakan orang tentang tubuh, pikiran, dan perannya. Para penulis merangkum temuan mereka dalam kerangka yang mereka sebut 1H4W, yakni satu pertanyaan bagaimana aku menua dan empat pertanyaan lanjutan tentang dampak, sebab, tindakan, serta hambatan.
Tanda paling cepat terlihat adalah penampilan. Sebagian besar partisipan menyebut kulit yang kurang kenyal, wajah kusam kekuningan, keriput bertambah, uban, dan gusi yang turun. Sebagian menyebut perubahan itu makin nyata setelah usia 45, meski mereka cenderung menganggapnya bagian wajar dari tahap hidup ini.
Fungsi tubuh ikut menurun, mulai dari stamina, energi, kualitas tidur, penglihatan dekat, sampai laju metabolisme. Seorang partisipan yang dicatat sebagai N1 menggambarkannya dengan perumpamaan sederhana. “Sebelum lima puluh, rasanya aku sanggup memikul seekor sapi; setelah lima puluh, tenaganya sudah tidak ada lagi,” katanya dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris.
Sebagian partisipan juga mengalami gejala perimenopause, yaitu masa peralihan menjelang haid berhenti, seperti nyeri sendi, rasa panas mendadak, keringat malam, dan berat badan naik. Di sisi pikiran, ada yang merasa ingatannya menurun, lebih lambat mencerna informasi, dan enggan mempelajari hal baru.
Perubahan peran juga terasa. Di tempat kerja, sebagian merasa kalah bersaing dengan rekan yang lebih muda dan meragukan kemampuannya sendiri. Dalam pergaulan, banyak partisipan mengaku tidak lagi tertarik memperluas lingkar pertemanan dan memilih mencurahkan tenaga untuk urusan pribadi, sehingga jejaring sosial mereka menyempit.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Dual impact: ancaman dan pertumbuhan sekaligus
Dual impact berarti dampak ganda, yakni penuaan membawa ancaman dan pertumbuhan pada saat yang sama. Bedanya begini, partisipan tidak hanya takut, tetapi juga merasa lebih matang. Para penulis menyebut kedua keadaan itu hidup berdampingan, berbeda dari literatur terdahulu yang menggambarkan satu arah perubahan psikologis saja.
Ancaman terbesar adalah penyakit kronis dan kemungkinan disabilitas. Partisipan menyebut darah tinggi, diabetes, Alzheimer, Parkinson, dan kanker payudara. Yang lebih mereka takutkan bukan sakitnya semata, melainkan hilangnya kemampuan mengurus diri sendiri sehingga harus bergantung pada perawatan orang lain.
Kekhawatiran itu sering berangkat dari pengalaman keluarga. Seorang partisipan bercerita ibunya mengidap Parkinson dan kini membutuhkan pengasuh. Kecemasan lain menyangkut citra diri, misalnya bercermin lalu merasa benar-benar tua, meski mereka tahu penuaan adalah proses alami. Sebagian partisipan mengaku sulit menerima perubahan itu, terutama ketika rambut mulai memutih.
Ancaman ketiga adalah beban keluarga dan uang. Partisipan khawatir biaya berobat dan perawatan mereka kelak menyeret keluarga. Seorang partisipan dari desa, yang dicatat sebagai N2, cemas tidak sanggup lagi membantu anak lelakinya membeli rumah setelah pensiun, dan menyebut hadiah untuk upacara di kampung sangat mahal.
Di sisi lain, sebagian besar partisipan melaporkan kedamaian batin yang bertambah. Mereka lebih menerima diri, tidak lagi menuntut banyak dari diri sendiri dan orang lain, serta merasa emosinya lebih stabil. Hanya sebagian kecil yang justru merasa lebih mudah marah, yang mereka kaitkan dengan gejolak hormon atau tekanan kerja.
Attribution: siapa yang disalahkan atas uban
Attribution atau atribusi adalah cara orang menjelaskan sebab sesuatu terjadi pada dirinya. Dalam studi ini, para perempuan membagi sebab penuaan menjadi dua jenis. Ada yang tidak bisa dikendalikan, seperti proses alami dan keturunan, dan ada yang bisa dikendalikan, seperti gaya hidup, pola pikir, tekanan peran, dan keyakinan agama.
Kebanyakan partisipan memandang penuaan sebagai proses alami yang tak bisa dibalik, mirip pergantian musim. Seorang partisipan yang dicatat sebagai N7 menyamakan manusia dengan tanaman yang mengalami masa tanam, tumbuh, panen, lalu berulang. Ada pula yang menyebut rambut tipis atau uban sebagai urusan keturunan.
Gaya hidup dianggap faktor yang bisa dikendalikan. Partisipan percaya olahraga teratur, makan seimbang, dan istirahat cukup memperlambat penuaan, sedangkan kebiasaan buruk mempercepatnya. Pola pikir juga dinilai penting, dan seorang partisipan bercerita ia merasa menua jauh lebih cepat ketika pernah mengalami depresi.
Tekanan peran sosial disebut sebagai pemercepat dari luar, mulai dari tuntutan kerja berlebih, karier yang mandek, pekerjaan remeh yang menguras tenaga, sampai beban mengasuh keluarga. Sebagian kecil partisipan menyebut keyakinan agama, seperti Buddhisme, membantu mereka lebih tenang, dan salah satunya merasa tidurnya membaik setelah mempelajarinya.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Coping: dua jalan menghadapi usia
Coping berarti cara orang menanggapi tekanan, dalam hal ini tekanan karena menua. Para penulis menemukan dua lintasan. Mayoritas partisipan menempuh adaptasi proaktif, sedangkan sebagian kecil menempuh apa yang disebut akomodasi berbasis penerimaan, yaitu menerima penuaan tanpa langkah khusus.
Adaptasi proaktif tampak dalam banyak bentuk. Ada yang mempelajari psikologi positif untuk mengatur emosi, ada yang berkumpul dan mendaki bersama teman, dan ada yang rajin membaca berita serta teori baru agar tidak tertinggal. Perubahan paling umum adalah mengatur makan, berolahraga, dan menata jam tidur.
Seorang partisipan bercerita ia kini mengurangi gula dan minyak, dan berat badannya turun dari lebih dari 70 kilogram menjadi sekitar 60 kilogram. Selain itu, sebagian partisipan menjalani cek kesehatan rutin dan terapi pengobatan tradisional Tiongkok, seperti pijat, moksibusi, bekam, dan akupunktur. Terapi tradisional itulah yang paling disukai dan dianggap paling manjur.
Akomodasi berbasis penerimaan, menurut para penulis, bukan sekadar pasrah. Ia muncul dalam dua bentuk. Bentuk pertama dijalani partisipan yang memandang penuaan sebagai proses alami dan merasa belum menunjukkan tanda menua, sehingga tidak mengambil langkah apa pun. Seorang partisipan yang dicatat sebagai N7 mengaku membiarkan penuaan berjalan apa adanya dan tidak akan berbuat sesuatu khusus karena usia.
Bentuk kedua lebih menarik. Partisipan dalam kelompok ini mengakui tanda penuaan dan melihat manfaat bertindak, tetapi belum mencari tahu caranya dan merasa tidak punya waktu. Hasilnya adalah penundaan, sebuah pola yang kemudian menjadi pusat pembahasan para penulis. Seorang partisipan yang dicatat sebagai N4 mengaku ingin memperlambat penuaan, tetapi tidak tahu persis caranya dan terlalu sibuk untuk memulai.
Awareness-action gap: tahu tetapi belum berbuat
Awareness-action gap adalah jarak antara sadar dan bertindak. Contoh sehari-harinya ada di naskah, yakni partisipan yang merasa dirinya menua tetapi tidak tahu harus berbuat apa, atau yang mengaku hanya memegang potongan informasi yang tercecer. Mereka terjebak dalam keadaan yang disebut para penulis tahu tetapi tidak melakukan.
Pembaca mungkin tergoda menyebut mereka malas atau tak peduli. Para penulis menolak bacaan itu. “Ini mencerminkan kesenjangan antara kesadaran dan tindakan, bukan penolakan terhadap kesehatan,” tulis Lei, Han, dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Bahkan perempuan yang yakin dan bersikap positif tetap diam ketika tidak punya pengetahuan yang bisa langsung dijalankan.
Maksudnya, yang kurang bukan pengetahuan tentang apa, melainkan pengetahuan tentang bagaimana. Para penulis menyebut partisipan umumnya punya pengetahuan deklaratif, seperti tahu bahwa olahraga penting, tetapi kekurangan pengetahuan prosedural, yaitu langkah konkret untuk menjalankannya. Karena itu, mereka menyarankan edukasi kesehatan mengutamakan latihan keterampilan, bukan sekadar pemberian informasi.
Hambatan lain adalah waktu dan uang. Seorang partisipan, yang dicatat sebagai N12, berkata ingin mengambil langkah memperlambat penuaan bila mampu, tetapi merasa perawatan tertentu sangat mahal. Namun, para penulis mencatat bahwa bagi partisipan yang keuangannya relatif stabil pun, kekurangan waktu tetap menjadi hambatan yang lebih umum.
Hambatan berikutnya lebih halus dan disebut para penulis sebagai jaring pengaman layanan kesehatan. Karena dokter di Tiongkok mudah dijangkau, sebagian perempuan mungkin kurang memperhatikan pencegahan. Seorang partisipan yang pernah tinggal di luar negeri membandingkan orang di sana lebih sadar kesehatan justru karena berobat tidak semudah di Tiongkok.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Transferability: seberapa jauh temuan bisa dibawa
Transferability berarti sejauh mana temuan sebuah studi bisa dialihkan ke kelompok lain. Para penulis mengakui batasnya. Semua partisipan berasal dari satu kota, sebagian besar tinggal di wilayah kota, dan proporsi yang berpendidikan tinggi atau bekerja di bidang kesehatan relatif besar, sehingga temuan ini belum tentu berlaku bagi perempuan di desa.
Sembilan dari 15 partisipan berpendidikan diploma ke atas, dan para penulis menduga profil ini ikut memudahkan strategi proaktif yang mereka temukan. Perempuan berpendidikan di bawah SMP kurang terwakili. Selain itu, lima belas wawancara tidak cukup untuk memilah subkelompok, dan wawancara sekali waktu tidak bisa menunjukkan bagaimana persepsi berubah dari tahun ke tahun.
Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Bagian kontribusi penulis dua kali mencantumkan inisial W.C., padahal tidak ada penulis berinisial itu, sedangkan penulis keenam, Nengfeng Chen, tidak muncul dengan inisialnya. Batas paruh baya 45 sampai 59 tahun disebut sebagai definisi Organisasi Kesehatan Dunia, tetapi dirujuk ke sebuah artikel jurnal ilmu sosial.
Hal lain menyangkut efikasi diri, yaitu keyakinan seseorang bahwa ia mampu bertindak. Para penulis memakainya untuk menjelaskan mengapa sebagian perempuan proaktif dan sebagian lagi menerima, tetapi naskah tidak menyajikan alat ukur efikasi diri. Porsi mayoritas dan sebagian kecil pada kedua lintasan juga tidak diberi jumlah orang.
Persepsi penuaan, dengan demikian, bukan sekadar menyadari uban di cermin. Bagi lima belas perempuan di Changsha, istilah itu memuat takut, tenang, dan penjelasan tentang sebab, tetapi naskah menunjukkan batasnya dengan jelas. Sadar menua belum berarti tahu harus melangkah ke mana.














