Cekricek.id — Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina kini hanya bergantung pada satu saluran listrik dari luar, jauh menurun dari sepuluh saluran sebelum perang. Kondisi itu dinilai memperbesar risiko terhadap keselamatan dan keamanan nuklir di pembangkit terbesar di Eropa tersebut.
Dikutip dari laman resmi IAEA, iaea.org, dalam pernyataan Direktur Jenderal terkait situasi di Ukraina, Jumat (14/8/2026), pembangkit itu kini hanya tersambung ke jaringan melalui satu saluran 330 kilovolt bernama Ferosplavna-1. Saluran utama berkapasitas 750 kilovolt, Dniprovska, tidak berfungsi sejak Maret akibat kerusakan.
PLTN Zaporizhzhia memiliki enam reaktor dan berada di bawah kendali pasukan Rusia sejak awal invasi pada 2022, meski tetap dioperasikan oleh sebagian staf Ukraina. Seluruh reaktornya kini berada dalam kondisi berhenti beroperasi, namun tetap membutuhkan pasokan listrik dari luar untuk menjalankan sistem pendingin yang vital.
Perbaikan Terhambat Kerusakan Gardu
Menurut IAEA, perbaikan saluran Dniprovska sebenarnya telah rampung selama jeda tembak lokal yang ditengahi badan itu pada Juni 2026. Namun saluran tersebut tetap tidak dapat dialiri listrik karena kerusakan parah pada sebuah gardu induk yang berjarak lebih dari 100 kilometer dari pembangkit.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi menyatakan seringnya pemadaman di pembangkit itu sangat mengkhawatirkan. Dalam pernyataan berbahasa Inggris, ia mengatakan, “The increasing frequency of power losses at the plant is deeply concerning. A reliable connection to the electricity grid remains essential for nuclear safety and security.”
Baca juga: Jet Spanyol Tembak Jatuh Drone di Langit Romania, NATO Duga Milik Rusia
Sejak pertempuran dimulai, pembangkit itu telah beberapa kali kehilangan seluruh pasokan listrik dari luar dan terpaksa mengandalkan generator diesel darurat untuk mempertahankan fungsi pendinginan. Ketergantungan pada satu saluran tunggal membuat pembangkit sangat rentan jika saluran itu ikut terputus.
Langkah Pencegahan dan Prinsip Keselamatan
IAEA menyatakan sejumlah langkah pencegahan tengah disiapkan untuk memperkuat margin keselamatan di pembangkit tersebut. Grossi menyebut upaya itu sebagai tindakan hati-hati untuk mengantisipasi skenario kritis, sembari menekankan bahwa hal itu tidak mengurangi kebutuhan mendesak akan pasokan listrik yang andal dari luar.
Dalam pernyataan berbahasa Inggris, Grossi menambahkan, “This is a prudent step to strengthen safety margins and prepare for unlikely but potentially critical scenarios. At the same time, it does not reduce the urgent need for reliable off-site power and full respect for the IAEA’s Five Concrete Principles for protecting the plant.”
Baca juga: Korut Ancam Balasan Berlipat Jelang Latihan Militer Korsel-AS
Risiko di Zona Perang
Pasokan listrik eksternal dibutuhkan untuk menjalankan sistem pendingin reaktor dan kolam bahan bakar bekas, sehingga kehilangan daya berkepanjangan berisiko memicu pemanasan berlebih dan, dalam skenario terburuk, kecelakaan nuklir. Karena itu, kondisi jaringan listrik di sekitar pembangkit menjadi perhatian utama IAEA.
Zaporizhzhia merupakan pembangkit nuklir terbesar di Eropa berdasarkan kapasitas terpasang dan menjadi salah satu simpul penting jaringan listrik Ukraina sebelum perang. Sejak dikuasai pasukan Rusia, pembangkit itu berulang kali menjadi sorotan karena berada dekat garis pertempuran dan kerap dilaporkan terkena tembakan yang saling dituduhkan kedua pihak.
IAEA sejak 2022 menempatkan tim pemantau permanen di pembangkit tersebut dan secara berkala menerbitkan pembaruan situasi. Grossi beberapa kali mengunjungi lokasi dan menegosiasikan pengaturan teknis, termasuk perbaikan saluran listrik, meski upaya menjaga keselamatan jangka panjang terus terkendala oleh kondisi perang yang belum reda. Lima prinsip yang ditetapkannya mencakup larangan menyerang pembangkit dan menjadikannya pangkalan senjata berat.
Kehilangan pasokan listrik dari luar bukan kali pertama terjadi di Zaporizhzhia. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pembangkit sepenuhnya bergantung pada generator diesel darurat selama berjam-jam hingga berhari-hari, situasi yang oleh IAEA disebut tidak berkelanjutan untuk menjamin keselamatan reaktor dalam jangka panjang.
Baca juga: BP Raih Lisensi Gas Loran Fase Dua di Venezuela Bersama Mitra Teluk
IAEA menegaskan tim ahlinya tetap ditempatkan di lokasi untuk memantau situasi secara langsung. Badan itu berulang kali menyerukan penghormatan atas prinsip-prinsip keselamatan yang ditetapkannya guna mencegah insiden nuklir selama pembangkit berada di kawasan yang masih aktif menjadi medan tempur, sekaligus mendesak pemulihan pasokan listrik yang stabil dari luar. Badan itu menyatakan akan terus melaporkan setiap perubahan kondisi keselamatan di pembangkit tersebut kepada masyarakat internasional.

















