Lirik Lagu Lugat al-Alam dan Jejak Pengorbanan Seorang Ibu

A A

Ilustrasi ibu berabaya gelap memeluk balita di sofa ruang tamu pada malam hari [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Sejauh pencatatan naskah, video itu sudah ditonton 26,5 juta kali.
  • Ikhsan menyebut baris ketujuh ini sebagai pusat tema lagu.
  • Dalam lirik ini, menurut Ikhsan, makna yang paling tepat adalah kesedihan.
  • Lirik penutup memuat delapan sebutan ibu, sedangkan naskah hanya menyebut lima bahasa.
Daftar Isi
  1. 2015 sampai 2017: sebuah lagu tentang ibu lahir dan menyebar
  2. Bait pertama: malam-malam ketika ibu tidak tidur
  3. Bait kedua: ketika semua bahasa memanggil ibu
  4. Bait ketiga: sejak aku dilahirkan, huruf mim menari
  5. Dari rumah sang penyanyi: ibu yang menjadi sumber lagu
  6. Agustus 2025: catatan yang masih bisa diperiksa

Tahun 2015, sebuah lagu tentang ibu dirilis dalam album Asir Ahsan. Lagu itu dinyanyikan Humood Alkhudher, penyanyi berkebangsaan Kuwait, bersama beberapa lagu lain di album yang sama. Judulnya Lugat al-Alam, yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia bisa bermakna “Bahasa-bahasa Dunia”. Liriknya berbahasa Arab.

Sepuluh tahun kemudian, lirik itu dibedah kata demi kata oleh Ilian Ikhsan dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Hasilnya terbit sebagai Pengorbanan Seorang Ibu dalam Lirik Lagu Lugāt al-‘Ālam (Kajian Semiotika Riffaterre) di jurnal Metahumaniora volume 15 nomor 2, tahun 2025. Ia membaca lirik itu dengan teori semiotika Riffaterre, dari arti kamus sampai makna tersiratnya.

Kesimpulannya ringkas. Menurut Ikhsan, lirik Lugat al-Alam “baik secara eksplisit maupun implisit bercerita tentang kasih sayang dan kebaikan hati seorang ibu sebagai bentuk pengorbanan untuk anaknya”. Kesimpulan itu ia tarik dari kata-kata yang disusun menjadi sapaan, doa, dan kenangan seorang anak.

2015 sampai 2017: sebuah lagu tentang ibu lahir dan menyebar

Lagu itu tidak digarap sendirian. Menurut naskah Ikhsan, Lugat al-Alam lahir dari kolaborasi Humood dengan seorang temannya, Saif bin Fadhel. Saif adalah seniman asal Uni Emirat Arab yang juga komposer, distributor, dan pengarah kreatif suara. Karyanya yang paling populer adalah Kun Anta, yang juga dinyanyikan Humood.

Dari rilisan tahun 2015 itu, Kun Anta menjadi lagu yang paling banyak diketahui dan paling sering didengar. Lagu tersebut sudah lebih dulu menarik sejumlah peneliti. Ikhsan mencatat dua kajian terdahulu atas lirik Humood, satu tentang semiotika Kun Anta dan satu tentang tindak tutur dalam lagu-lagunya.

Pada 1 Januari 2017, Lugat al-Alam diunggah ke kanal YouTube resmi Awakening Music. Naskah mencatat jam unggahnya sampai detik, yakni pukul 16.10.56. Menurut Ikhsan, irama lagu itu menarik banyak orang meski liriknya berbahasa Arab. Ia menyodorkan jumlah penontonnya sebagai bukti.

Sejauh pencatatan naskah, video itu sudah ditonton 26,5 juta kali. Jumlah yang menyukainya 272,8 ribu, sedangkan yang tidak menyukainya 10,4 ribu. Naskah tidak menyebut kapan angka-angka itu diambil. Di kolom komentar kanal yang sama, sang penyanyi menulis ucapan yang dalam terjemahan naskah berbunyi “Terima kasih.. dunia berterima kasih padamu (ibu).”

Lagu ibu di kanal Awakening MusicLagu Lugat al-Alam ditonton 26,5 juta kali, disukai 272,8 ribu dan tidak disukai 10,4 ribu kali; naskah menyimpulkan intinya kebaikan dan pengorbanan ibu.Lagu ibu di kanal Awakening MusicLugat al-Alam, dirilis 2015 di album Asir Ahsan26,5 jutakali ditontonvideo diunggah 1 Januari2017272,8 rbsukadi kanal resmi YouTube10,4 rbtidak sukadi kanal resmi YouTubeJalan risetnyaLirik dibaca kata demikataMajas dan makna gandadipetakanInti: kebaikan danpengorbanan ibuAngka tayangan dicatat naskah tanpa tanggal pencatatan.
Sumber: Ilian Ikhsan, Pengorbanan Seorang Ibu dalam Lirik Lagu Lugāt al-‘Ālam (Kajian Semiotika Riffaterre), Metahumaniora, 15(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Bait pertama: malam-malam ketika ibu tidak tidur

Lirik dibuka dengan tiga sapaan. Terjemahan naskah berbunyi “Oh Surgaku, Oh Sayangku, Oh Mata yang terjaga sepanjang malam untukku.” Kata kerja batat di baris itu, menurut kamus al-ma’ani, berarti terjaga hingga lewat tengah malam atau bergadang. Ikhsan memaknainya sebagai ibu yang rela tidak tidur sampai larut demi anaknya.

Ikhsan menempatkan kebiasaan itu pada satu fase hidup anak. Menurutnya, hal itu biasa terjadi ketika anak masih bayi atau balita. Pada tengah malam yang sunyi, sang anak bisa saja tiba-tiba terbangun dan menangis. Di situlah, dalam tafsirnya, pengorbanan pertama sang ibu berlangsung.

Kata jinanan, surga, tidak ia baca secara harfiah saja. Secara kontekstual, kata itu disejajarkan dengan maladzan, yang dalam kamus berarti tempat berlindung atau tempat peristirahatan. Dengan begitu, ibu dalam lagu ini tidak sebatas orang yang melahirkan dan membesarkan anak. Ia juga tempat anak berlindung.

Kata hananan secara kamus berarti rasa kasih sayang. Bila dikaitkan dengan uyunan, yang berarti sumber atau mata, maknanya bergeser menjadi sumber kasih sayang. Mata, tulis Ikhsan, adalah alat untuk memperhatikan dan mengawasi. Ibu diserupakan dengan mata karena perhatiannya kepada anak-anaknya.

Enam kata, dua lapis maknaJinanan berarti surga dan dimaknai tempat berlindung; hananan kasih sayang menjadi sumber kasih; uyunan mata menjadi perhatian ibu; rohiqan nektar menjadi pembawa damai; azh-zhulam kegelapan menjadi kesedihan; an-nur cahaya menjadi berseri.Enam kata, dua lapis maknaKata dalam lirik Lugat al-Alam menurut pembacaan Ilian IkhsanArti kamusMakna dalam lagusurgatempat berlindungJinananrasa kasih sayangsumber kasihHananansumber atau mataperhatian ibuUyunannektar, sari bungapembawa damaiRohiqankegelapankesedihanAzh-zhulamcahayaberseriAn-nurArti kamus merujuk kamus al-ma'ani; makna dalam lagu adalah tafsirpenulis naskah.
Sumber: Ilian Ikhsan, Pengorbanan Seorang Ibu dalam Lirik Lagu Lugāt al-‘Ālam (Kajian Semiotika Riffaterre), Metahumaniora, 15(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Baris berikutnya menyebut ibu sebagai pelindung, penjaga, dan sari bunga yang harum. Kata rohiqan berarti nektar. Disandingkan dengan amanan, yang berarti keamanan atau kedamaian, nektar itu dimaknai sebagai sesuatu yang baik dan menenteramkan. Di bagian lain, Ikhsan menyamakan peran nektar bagi serangga dengan peran ASI bagi pertumbuhan anak.

Bait itu ditutup dengan ucapan terima kasih yang tak pernah cukup. Kata lan yang berarti tidak akan, disusul uwaffiyki yang berarti memenuhi atau mencukupi, membuat kalimatnya bermakna tidak ada yang mampu membalas kebaikan ibu kecuali Allah. Karena itu, sang anak menutupnya dengan doa agar ibunya dibalas surga di akhirat.

Ikhsan melihat bentuk kata kerja dalam doa itu. Kata yajziy berkala sekarang dan akan datang, persis seperti sifat doa yang dikabulkan setelah dipanjatkan. Menurut Ikhsan, ungkapan terjaga di malam hari dan ucapan terima kasih itu saling terkait. Keduanya menjadi sebab munculnya doa di ujung bait.

Baca juga Yusuf Gayos Ubah Vokal Barzah Jadi Lagu Kaylana Batang Hari

Bait kedua: ketika semua bahasa memanggil ibu

Bait kedua bergerak dari rumah ke seluruh dunia. Terjemahan naskah berbunyi “Seluruh bahasa dunia menyebut namamu wahai ibu.” Ikhsan menggolongkannya sebagai personifikasi. Bahasa adalah sistem lambang bunyi, sehingga ia tidak bisa berbicara layaknya manusia. Dalam ilmu balaghah, gaya ini disebut isti’arah taba’iyyah.

Maknanya, menurut Ikhsan, bisa dibaca dua arah. Setiap bahasa punya kosakata untuk ibu. Atau setiap orang di dunia menyebut orang yang melahirkannya dengan nama ibu. Lirik lalu menyebut “Maama, ya yummah, ya yummah Ya mamti, ya maami, ya ummi,” sederet panggilan untuk ibu.

Ikhsan memperhatikan satu bunyi yang berulang di sana, yaitu huruf mim. Saat mengucapkannya, bibir atas dan bibir bawah saling menempel dan suaranya tertahan. Menurutnya, itu pula alasan pengarang menulis bahwa kedua bibir sang anak bergabung atau bergumam. Kata yang hendak diucapkan adalah ummi, ibuku.

Lagu itu diakhiri dengan delapan sebutan ibu dari berbagai bahasa, di antaranya Mama, Anne, Ibu, Maman, dan Madre. Naskah menyebut bahasa Indonesia, Turki, Spanyol, India, dan Arab di antara bahasa-bahasa itu. Bagi Ikhsan, “seluruh bahasa dunia” di lirik tersebut akhirnya bermakna setiap manusia.

Bait ketiga: sejak aku dilahirkan, huruf mim menari

Bait terakhir kembali ke awal hidup sang anak. Terjemahan naskah berbunyi “Sejak aku dilahirkan, huruf mim senantiasa menari-menari di mulutku.” Ikhsan menyebut baris ketujuh ini sebagai pusat tema lagu. Huruf tidak bisa bergerak, sehingga tarian huruf mim juga ia golongkan sebagai personifikasi.

Huruf mim itu, tulis Ikhsan, mewakili kata paling dominan dalam lagu, yakni ummi. Maka baris itu bisa dimaknai sebagai ibu yang selalu bermain dengan sang anak sejak ia lahir. Ungkapan munzu wulidtu, sejak aku dilahirkan, menandai bahwa si aku sudah menjadi seorang anak.

Baris berikutnya berbunyi “Bermain denganku dan menghibur hatiku dalam kegelapan.” Kata azh-zhulam, kegelapan, ia nilai ambigu karena bisa berarti kesedihan, kesesatan, atau kejahatan. Dalam lirik ini, menurut Ikhsan, makna yang paling tepat adalah kesedihan. Sang ibu datang menghibur ketika anaknya bersedih.

Bermain dan menghibur itu, dalam tafsir Ikhsan, bukan tindakan kecil. Ada waktu dan tenaga yang dikorbankan di dalamnya. Ia menulis bahwa hanya seorang ibu yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran sekadar untuk menyenangkan anaknya. Dari situ muncul rasa terima kasih yang tak pernah cukup di bait pertama.

Lirik ditutup dengan “Lalu mataku bersinar dan kukatakan ibu.” Kata an-nur juga ia sebut ambigu, bisa cahaya, berseri, atau iman. Di lirik ini ia memilih makna berseri. Anak yang semula bersedih menjadi bahagia, matanya berseri, dan ia menyebut nama ibunya.

Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh

Dari rumah sang penyanyi: ibu yang menjadi sumber lagu

Ikhsan lalu menyimpulkan inti lagu ini dalam satu frasa, “kebaikan hati dan pengorbanan seorang ibu”. Menurutnya, sang pengarang ingin menyampaikan bahwa “sosok ibu adalah tempat pertama kali seorang anak bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus (ikhlas), rasa nyaman, rasa aman” dan hal baik lain yang belum tentu didapat dari orang lain.

Untuk menelusuri asal lagu, Ikhsan menengok ibu sang penyanyi. Ia mengutip pernyataan Humood Alkhudher dari sebuah biografi daring. “Ibu saya adalah wanita yang berpendidikan, ramah, dan orang yang kreatif,” kata Humood, sebagaimana dikutip dalam naskah. Ibunya, lanjut Humood, selalu mendorongnya mengejar mimpi dan cita-citanya.

Dari pernyataan itu Ikhsan menarik keyakinan pribadinya. “Oleh karenanya atas dasar hal tersebut penulis sangat yakin lagu ini diciptakan karena adanya hubungan kasih sayang yang sangat kuat antara si penyanyi dengan sang Ibu,” tulisnya. Ia juga menyebut surah Luqman ayat 14 sebagai teks yang mungkin melatari lagu ini.

Lagu itu, menurut Ikhsan, ditujukan bagi siapa pun yang telah membesarkan anak. Sasarannya setiap orang yang melimpahkan kasih sayang, setiap ibu, dan siapa saja yang memiliki hati seorang ibu. Seluruh peristiwa dalam liriknya dituturkan dari sudut pandang orang pertama, sang aku.

Baca juga Dendang Sirukam Maelo Kayu Digubah Jadi Karya Folk Ranah Berlagu

Agustus 2025: catatan yang masih bisa diperiksa

Kajian ini adalah tafsir seorang peneliti atas satu teks lagu. Makna kata bertumpu pada kamus daring al-ma’ani dan kamus bahasa Indonesia. Tidak ada data tentang bagaimana pendengar sendiri menangkap lagu itu. Keterangan tentang ibu Humood pun diambil dari sebuah situs biografi, bukan dari wawancara langsung.

Beberapa bagian naskah tidak sepenuhnya selaras. Kata ya amanan diterjemahkan “Oh Penjagaku” dalam lirik, “Keamanan atau Kedamaian” dalam pembacaan kamus, dan “Keselamatan” di bagian majas. Ya hananan ditulis “Oh Sayangku” di terjemahan lirik, tetapi “Wahai Kelembutan” di bagian lain.

Lirik penutup memuat delapan sebutan ibu, sedangkan naskah hanya menyebut lima bahasa. Asal sebutan Maman dan dua sebutan beraksara non-Latin tidak diterangkan. Naskah juga menyebut lagu ini hasil kolaborasi Humood dan Saif bin Fadhel, tetapi latar penciptaannya hanya dicari pada ibu sang penyanyi.

Ada pula kekeliruan kecil pada penomoran. Pembahasan penyimpangan arti dan penciptaan arti sama-sama diberi nomor dua. Angka 26,5 juta tayangan juga tidak disertai tanggal pencatatan. Semua hal itu bisa dicocokkan langsung oleh pembaca pada naskah yang terbit di Metahumaniora.

Naskah itu terbit pada Agustus 2025. Sejak 2015, lagu yang dibacanya tetap berakhir pada kalimat yang sama. Mata sang anak berseri, dan ia menyebut ibu.

Bagikan

Baca Juga

Hari Lansia India: Perempuan di Rumah, Laki-laki Mencari Upah
Novel Darman Moenir: Rumah Tangga Retak dari Dalam dan Luar
Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup
Petani Bagua Grande Peru Kira Teduh Sudah Bebas Risiko Matahari
Larangan Khitbah di Dusun Sade, Merariq Dijaga sebagai Identitas
Kecelakaan Motor Mahasiswa Chiang Mai: Tahu Aturan Belum Cukup