- Yusuf Gayos mengubah vokal Barzah dan syair Melayu Jambi menjadi lagu Kaylana dan Menyeding Untung
- Prosesnya dibaca lewat empat tahap kreativitas Graham Wallas: persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi
- Kaylana berstruktur tiga bagian, Menyeding Untung empat bagian dengan interlude dan tangga nada minor
- Peneliti memakai konsep pelestarian budaya Koentjaraningrat untuk membaca peran sanggar Yusuf Gayos
Daftar Isi
Yusuf Gayos mengolah pola vokal Barzah dan syair Melayu Jambi menjadi lagu-lagu baru di Sanggar Seni Mayang Mangurai, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Dua karyanya, Kaylana dan Menyeding Untung, menjadi bukti bagaimana ia menjembatani tradisi lama dengan bentuk musik masa kini tanpa membuang akar Melayunya.
Cara kerja Yusuf Gayos itu diteliti Chintiya Nopta Viani, Ade Syahputra, Wilma Sriwulan, Awerman, dan Bambang Wijaksana dalam Kreativitas Yusuf Gayos dalam Transformasi Musik Tradisi Batang Hari: Kajian Proses Kreatif dan Bentuk Musikal, dimuat di Musica: Journal of Music volume 5 nomor 2, tahun 2025. Kelima peneliti itu berasal dari Program Studi Seni Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Tumbuh di Antara Musisi
Yusuf Gayos adalah putra daerah yang tumbuh di keluarga seniman. Pengetahuan musikalnya diperoleh secara turun-temurun lewat proses belajar informal, bukan pendidikan formal di lembaga musik. Sejak usia dini ia sudah terlibat dalam kelompok seni dan berinteraksi intensif dengan para seniman Batang Hari lain, sebuah lingkungan yang membentuk sensitivitas musikal dan kesadaran budayanya.
Chintiya Nopta Viani dan koleganya mencatat bahwa posisi Yusuf Gayos di ekosistem musik Batang Hari tidak bisa dilepaskan dari konteks Melayu Jambi tempat ia dibesarkan. Syair, pantun, dan pola vokal religius seperti Barzah menjadi bagian dari keseharian yang kelak ia olah kembali menjadi karya baru. Lingkungan itu bukan sekadar latar, melainkan bahan baku kreativitasnya.
“Dalam konteks ini, Yusuf Gayos tidak hanya berperan sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai penjaga memori kolektif musik tradisi Batang Hari,” tulis Chintiya Nopta Viani dan koleganya dalam bagian hasil penelitian. Kalimat itu ditulis untuk menjelaskan mengapa aktivitas Yusuf Gayos di Sanggar Seni Mayang Mangurai layak diteliti, bukan sekadar dicatat sebagai biografi seniman lokal.
Di sanggar itu pula Yusuf Gayos membina generasi muda, mengelola latihan, dan membuka ruang pertukaran ide. Peneliti menyebut sanggar bukan hanya tempat latihan, melainkan ruang produksi makna tempat proses kreatif kolektif berlangsung. Yusuf Gayos berperan sebagai pusat dari ruang itu, sekaligus penghubung antara tradisi dan generasi yang lebih muda.
Menyerap sebelum Mencipta
Untuk membaca proses kreatif Yusuf Gayos secara sistematis, Chintiya Nopta Viani dan timnya memakai empat tahap kreativitas dari Graham Wallas, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Tahap pertama, persiapan, ditandai akumulasi pengalaman musikal Yusuf Gayos sejak kecil, baik lewat alat musik tradisional maupun interaksi dengan musik modern di sekitarnya.
Pada tahap persiapan itu Yusuf Gayos belajar memainkan gambus dan gendang, dua instrumen tradisional yang jadi modal awal kariernya. Ia juga terlibat langsung dalam praktik vokal Barzah, pola nyanyian religius yang nanti menjadi sumber utama lagu Kaylana. Semua referensi ini disimpan Yusuf Gayos, bukan langsung dipakai, sampai ia menemukan bentuk yang tepat.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Membiarkan Ide Mengendap
Tahap kedua menurut kerangka Graham Wallas adalah inkubasi, saat ide-ide musikal yang sudah terkumpul dibiarkan mengendap. Yusuf Gayos, menurut peneliti, tidak langsung menciptakan karya begitu sebuah gagasan muncul, melainkan memberi ruang bagi ide itu berkembang secara alamiah lebih dulu sebelum dibentuk menjadi lagu.
Proses pengendapan itu, kata Chintiya Nopta Viani dan koleganya, kerap terjadi dalam situasi sehari-hari Yusuf Gayos, seperti saat beristirahat, berkendara, atau merenungkan pengalaman hidupnya sendiri. Pada momen-momen biasa itulah pola vokal Barzah dan nuansa syair Melayu berinteraksi dengan pengalaman emosional dan spiritualnya, tanpa harus duduk di depan alat musik.
Menuangkan Lewat Piano dan Gambus
Tahap ketiga, iluminasi, adalah saat ide musikal Yusuf Gayos muncul spontan berupa tema lagu, motif melodi, atau gagasan lirik. Ia mulai menuangkannya ke bentuk konkret memakai piano atau gambus, dengan melodi pokok vokal biasanya menjadi titik awal, baru kemudian diikuti penyesuaian lirik dan pengembangan struktur lagu secara keseluruhan.
“Yusuf Gayos tampil sebagai seniman yang berperan penting dalam mempertahankan sekaligus mengembangkan musik tradisi melalui pendekatan kreatif,” tulis para peneliti dalam abstrak penelitian ini. Lagu Kaylana dan Menyeding Untung disebut sebagai contoh konkret tahap iluminasi, tempat inspirasi vokal Barzah diolah Yusuf Gayos menjadi tema musikal yang lebih luas.
Memakai teori bentuk musik Karl Edmund Prier, peneliti membedah Kaylana sebagai karya yang berakar pada pola melodi vokal Barzah yang repetitif dan meditatif. Yusuf Gayos menyusunnya jadi tiga bagian: pendahuluan yang mengantar suasana spiritual lewat piano dan akordion, bagian utama berpola tanya-jawab, lalu coda sebagai penutup tonal yang memberi resolusi musikal.
Menyeding Untung, karya kedua Yusuf Gayos yang dianalisis, punya struktur yang lebih panjang dan kompleks, dengan empat bagian: pendahuluan, bagian utama, interlude instrumental, dan coda. Karl Edmund Prier dipakai lagi untuk membaca perjalanan emosional lagu ini, dari suasana kontemplatif menuju klimaks, memakai tangga nada minor dan harmoni berlapis, sebelum kembali ke suasana reflektif.
Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda
Menguji di Sanggar Mayang Mangurai
Tahap terakhir kerangka Graham Wallas, verifikasi, dilakukan Yusuf Gayos lewat evaluasi dan pengujian karya yang sudah berbentuk. Ia merekam ide musikalnya, memutar ulang hasil rekaman, lalu menyesuaikan melodi, harmoni, dan ritme berdasarkan apa yang didengarnya sendiri, bukan sekadar mengikuti gagasan awal yang muncul di tahap iluminasi.
Musisi lain ikut dilibatkan Yusuf Gayos dalam penyusunan aransemen dan uji coba pertunjukan di Sanggar Seni Mayang Mangurai. Lewat tahap ini karyanya tidak hanya disempurnakan secara musikal, tetapi juga diuji daya terimanya oleh komunitas pendukung musik tradisi Batang Hari, sebelum benar-benar dianggap selesai oleh Yusuf Gayos sendiri.
Menjaga Tradisi Lewat Panggung Baru
Dengan konsep pelestarian budaya dari Koentjaraningrat, peneliti menempatkan kreativitas Yusuf Gayos bukan sekadar produksi lagu, melainkan strategi menjaga kelangsungan musik tradisi Batang Hari. Transformasi vokal Barzah dan syair Melayu ke format lagu yang lebih kontemporer membuat musik tradisi itu tetap bisa diterima generasi muda yang selera musiknya sudah berubah.
Pembinaan yang dilakukan Yusuf Gayos lewat sanggar memperkuat fungsi sosial musik sebagai media edukasi sekaligus pewarisan budaya. Koentjaraningrat, lewat kerangka pelestarian budayanya, membantu peneliti menjelaskan mengapa aktivitas semacam ini penting: tradisi yang hanya dipertahankan tanpa diolah ulang berisiko ditinggalkan, sementara tradisi yang diolah oleh orang seperti Yusuf Gayos punya peluang bertahan lebih lama.
“Kreativitas seniman tradisi merupakan hasil dari interaksi berkelanjutan antara pengetahuan tradisional dan pengalaman artistik yang terus diperbarui,” tulis Chintiya Nopta Viani, Ade Syahputra, Wilma Sriwulan, Awerman, dan Bambang Wijaksana dalam kesimpulan naskah mereka. Kalimat itu merangkum keseluruhan proses Yusuf Gayos, dari sanggar kecil di Batang Hari sampai karya yang dianalisis lewat tiga kerangka teori sekaligus.
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Analisis bentuk musikal dalam penelitian Chintiya Nopta Viani dan koleganya hanya mencakup dua karya Yusuf Gayos, yaitu Kaylana dan Menyeding Untung. Gambaran kreativitasnya yang dihasilkan karena itu belum tentu mencerminkan keseluruhan karya seorang seniman yang menurut naskah ini sudah tampil di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
Ada juga kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca pada naskah ini. Abstrak berbahasa Inggris sama sekali tidak membahas Yusuf Gayos atau musik Batang Hari, melainkan menjelaskan penciptaan karya berjudul Transformation of Suayan Balenggek Dendang into a Fantasia Orchestral Composition yang berasal dari Nagari Suayan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Kata kunci bahasa Inggris di bawah abstrak itu pun menyebut dendang Suayan Balenggek dan orkestra Minangkabau, bukan Yusuf Gayos, Kaylana, atau Menyeding Untung. Judul, tempat, dan objek yang disebut di abstrak Inggris itu berbeda total dari isi utama artikel maupun abstrak berbahasa Indonesia yang justru membahas Yusuf Gayos secara konsisten dari awal sampai akhir.
Yusuf Gayos, di akhir naskah ini, tetap digambarkan sebagai orang yang berputar di antara empat tahap kerja Graham Wallas itu, bukan seniman yang berhenti begitu satu lagu selesai. Kaylana dan Menyeding Untung adalah dua titik yang sempat direkam peneliti, bukan batas akhir dari apa yang masih bisa diolahnya dari vokal Barzah dan syair Melayu Batang Hari.
Bagi Chintiya Nopta Viani dan timnya, sosok seperti Yusuf Gayos menunjukkan bahwa musik tradisi tidak selalu diselamatkan lewat pengarsipan, melainkan lewat tangan seniman yang terus memutar ulang materi lama menjadi sesuatu yang baru didengar. Sanggar Seni Mayang Mangurai, tempat semua tahap kerjanya berlangsung, tetap jadi ruang tempat proses itu berulang setiap kali ada karya berikutnya.















