Sasando dan Tiga Versi Asal-usulnya di Desa Oebou, Rote Ndao

A A

Alat musik sasando asal Rote, ikon Nusa Tenggara Timur [Foto: Fakhri Anindita/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Tiga versi berbeda hidup berdampingan di Desa Oebou soal siapa pencipta sasando: Pupuk Soroba, Lunggi Lain dan Balo Aman, atau Sangguana
  • Pembuatan sasando melewati tiga tahap: persiapan tujuh bahan, pembuatan tujuh langkah, dan penyetelan nada akhir
  • Sasando dibedakan dari jumlah dawainya: engkel 28 dawai, dobel 56 atau 84 dawai, ditambah jenis gong dan biola
  • Sanggar Ndou Inggu berdiri 11 Juli 1986 di Desa Oebou untuk melestarikan sasando bagi generasi penerus
Daftar Isi
  1. Pohon Lontar di Ndao
  2. Tiga Tahap di Tangan Pengrajin
  3. Haik dan Dawai
  4. Sanggar Ndou Inggu
  5. Usia yang Berubah dalam Sepekan

Di bawah sebatang pohon lontar di wilayah Ndao, seorang pemuda bernama Pupuk Soroba berbaring kesakitan. Ia berhenti berburu dan mengumpulkan burung, lalu mencari tempat berteduh di bawah pohon itu. Dari pucuk daun lontar di atasnya, terdengar bunyi asing yang menusuk telinganya yang sedang lemah. Seekor serangga sedang membuat sarang di sana, dan suaranya membuat pemuda itu bangkit, memanjat batang lontar, mencari sumber bunyi yang mengganggunya.

Kisah itu ditulis Augusta De Jesus Magalhaes dari Universitas Aryasatya Deo Muri dalam Sasando Dan Kehidupan Masyarakat Desa Oebou Kecamatan Rote Barat Daya Kabupaten Rote Ndao, yang terbit di EDUCATION: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan volume 2 nomor 3 tahun 2022. Pohon lontar itu berdiri di Desa Oebou, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, tempat yang sama dengan lokasi wawancara yang direkam penulis.

Setelah memotong pucuk pelepah lontar itu, Pupuk Soroba melingkarkannya menjadi badan alat musik. Ia mengambil serat pelepah untuk dijadikan senar. Dari peristiwa di bawah satu pohon itulah, menurut cerita yang beredar di Desa Oebou, sasando lahir dan bertahan hingga sekarang.

Pohon Lontar di Ndao

Cerita itu bukan satu-satunya yang hidup di desa ini. Jonas Mooy, tokoh adat berusia 60 tahun, menuturkannya dalam wawancara 7 Mei 2013: Pupuk Soroba adalah pemuda pemburu dan pengumpul burung pada akhir abad ke-13, yang sedang mencari burung di hutan rimba Ndao ketika sakit menghentikan langkahnya di bawah pohon lontar itu.

Versi lain datang dari Yakobis Foeh, tokoh masyarakat berusia 82 tahun, dalam wawancara 10 Mei 2013. Ia menyebut dua pemuda bernama Lunggi Lain dan Balo Aman, yang beristirahat di bawah pohon lontar saat dalam perjalanan. Yang mengusik keduanya bukan serangga, melainkan laba-laba yang membuat sarang di daun lontar yang sama.

Ronny Mooy, tokoh masyarakat berusia 56 tahun, menambahkan versi ketiga dalam wawancara 12 Mei 2013. Ia menyebut nama Sangguana, pemuda yang terdampar di Pulau Ndana pada tahun 1650-an, menciptakan alat musik lewat bisikan mimpi, bukan lewat pohon lontar di Ndao. Tiga pohon, tiga peristiwa, tiga nama pemuda, namun hanya satu alat musik yang tersisa hingga kini di Desa Oebou: sasando.

Tiga versi berbeda tentang lahirnya sasandoTiga versi berbeda tentang lahirnya sasandoTiga versi berbeda tentang lahirnya sasandoKetiganya masih hidup berdampingan di ingatan warga Desa OebouAb.13Pupuk Soroba, pemburu burung, terusik suaraserangga di pucuk lontarAb.13Lunggi Lain dan Balo Aman, dua penderita kusta,terinspirasi suara laba-laba di pohon lontar1650Sangguana terdampar di Pulau Ndana, mimpimenciptakan alat musik sanduTidak satu pun versi dipastikan penulis sebagai yang benar; ketiganyadicatat berdampingan.
Sumber: Augusta De Jesus Magalhaes, Sasando Dan Kehidupan Masyarakat Desa Oebou Kecamatan Rote Barat Daya Kabupaten Rote Ndao, EDUCATION: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan, 2(3), 2022. Grafik: Cekricek.id

Tiga Tahap di Tangan Pengrajin

Dari pohon lontar, cerita berpindah ke tangan pengrajin yang masih hidup. Samuel Tode, pengrajin berusia 53 tahun, menjelaskan dalam wawancara 17 Mei 2013 bahwa pembuatan sasando melewati tiga tahap. “Terdapat 3 tahap dalam pembuatan sasando,” tulis Augusta De Jesus Magalhaes mengutip penjelasan Samuel Tode, yakni tahap persiapan, tahap pembuatan, dan tahap akhir.

Tahap persiapan mengumpulkan tujuh bahan: batang kayu merah, tali gitar atau senar, lidi untuk menjahit, pelepah daun lontar, pisau atau parang, bor kecil untuk melubangi kepala sasando, dan ekor ikan pari untuk menghaluskan permukaan kayu merah. Semua bahan itu, menurut naskah, masih dikumpulkan dari sekitar desa.

Tahap pembuatan mencakup tujuh langkah berurut. Bambu dipotong menjadi ruas untuk batang sasando, lalu dibuat tombol-tombol tuts dari kayu merah. Tali senar dipasang pada batang dan tombol, kemudian daun lontar dianyam menjadi tabung berbentuk haik. Batang sasando dipasang pada haik itu, tali senar dipasang lagi pada batang, dan nada mulai diatur.

Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop

Haik dan Dawai

Haik itu, wadah setengah lingkaran dari anyaman daun lontar, menjadi ruang resonansi yang menentukan bunyi akhir sasando. Di dalamnya, dawai-dawai direntangkan pada tombol yang dipasang di batang bambu. Ganjalan-ganjalan pada batang itu memberi nada berbeda kepada setiap petikan senar.

Jenis sasando dibedakan dari jumlah dawainya: sasando engkel berdawai 28, sasando dobel berdawai 56 atau 84, ditambah sasando gong atau sasando haik, serta sasando biola. Naskah mencatat dua ensembel yang berbeda pula, satu di Pulau Rote dengan iringan tabuhan gendang, satu lagi di Pulau Sabu tanpa gendang sama sekali.

Tahap akhir, menurut naskah itu, adalah tahap terpenting. Nada diatur sesuai tinggi rendah dan not yang ada, sampai bunyi sasando terdengar berkualitas baik dan indah didengar. Dari batang bambu dan anyaman daun lontar yang tadinya sunyi, satu proses penyetelan mengubahnya menjadi alat musik yang bisa dimainkan dalam dua belas cara, dari Te’o Renda sampai Te’o Tonak.

Alat musik yang sama juga dipakai untuk mengiringi tarian, menghibur keluarga yang berduka, menambah keceriaan saat bersukacita, dan menyambut tamu, menurut naskah tersebut. Bunyi yang keluar dari haik anyaman daun lontar itu dianggap mampu menangkap dan mengekspresikan beragam nuansa serta emosi masyarakat setempat, dari suasana muram sampai suasana gembira dalam satu rangkaian upacara.

Dari pelepah lontar sampai bunyi yang diaturDari pelepah lontar sampai bunyi yang diaturDari pelepah lontar sampai bunyi yang diaturTiga tahap yang dijelaskan pengrajin Samuel TodePersiapankayu merah, senar, lidi,pelepah lontar, parang, bor,Pembuatanpotong batang, buat tuts,pasang senar, anyam haik,Bunyinada diaturtinggi-rendahTahap akhir menentukan kualitas bunyi: nada disetel sesuaitinggi-rendah dan not.
Sumber: Augusta De Jesus Magalhaes, Sasando Dan Kehidupan Masyarakat Desa Oebou Kecamatan Rote Barat Daya Kabupaten Rote Ndao, EDUCATION: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan, 2(3), 2022. Grafik: Cekricek.id

Sanggar Ndou Inggu

Dari bengkel pengrajin, cerita berpindah ke satu bangunan sanggar di Desa Oebou. Simon Nara Mesah, tokoh adat berusia 78 tahun, menuturkan dalam wawancara 22 Mei 2013 bahwa warga desa mendirikan sanggar kesenian bernama Ndou Inggu pada 11 Juli 1986.

“Langkah-langkah yang sudah ditempuh masyarakat desa Oebou dalam mendukung perkembangan alat musik sasando ini adalah dengan membuat sanggar kesenian Ndou Inggu,” katanya. Ia juga berharap pemerintah daerah menggelar festival sasando di Kabupaten Rote Ndao minimal tiga kali setahun, pada bulan Maret, September, dan Desember, untuk mempromosikan pariwisata daerah.

Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh

Di dalam sanggar itu pula persoalan lain terlihat. Jonas Mooy, kini disebut sebagai pemerhati sasando dalam wawancara 23 Mei 2013, mengatakan generasi muda tidak lagi seantusias dulu. “Menurut saya saat ini alat musik sasando tidak begitu lagi diminati oleh generasi muda,” katanya, sambil menunjuk kurangnya tenaga terampil untuk melatih dan absennya pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah tentang cara membuat serta memainkan sasando.

Samuel Su’y, pengrajin berusia 51 tahun, menambahkan dalam wawancara 20 Mei 2013 bahwa keterampilan membuat sasando yang berkualitas tidak dimiliki semua orang di desa. Hanya suku-suku tertentu yang mewarisi teknik itu secara turun-temurun dalam rumpun keluarga mereka. Bunyi yang indah, katanya, bergantung pada siapa yang membuatnya, bukan sekadar pada bahan yang dipakai.

Warga desa lain, menurut Samuel Su’y, memang biasa membuat sasando juga, tetapi tidak semua bisa menghasilkan suara yang berkualitas baik. Ada teknik-teknik tertentu untuk menghasilkan suara yang indah, dan teknik itu hanya dimiliki suku-suku tertentu yang diwarisi keahlian membuat sasando secara turun-temurun.

Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda

Usia yang Berubah dalam Sepekan

Ada satu hal di dalam naskah itu yang layak diperiksa pembaca sendiri. Jonas Mooy, tokoh adat yang sama, disebut berusia 60 tahun pada catatan wawancara 7 Mei 2013, lalu berusia 64 tahun pada catatan wawancara 15, 18, dan 23 Mei 2013 di tahun yang sama.

Selisih empat tahun dalam rentang belasan hari itu tidak dijelaskan naskahnya. Nama tokoh pencipta sasando pun dieja berbeda: Pupuk Saroba di ringkasan awal, Pupuk Soroba di seluruh bagian hasil dan pembahasan. Dua kejanggalan kecil ini berdiri berdampingan dengan tiga versi cerita yang juga tidak pernah dipertemukan.

Penelitian yang mengandalkan penentuan informan berjenjang di satu desa juga punya batas yang ditulis sendiri di dalam kesimpulannya. Gambaran tentang asal-usul dan proses pembuatan sasando yang dipaparkan berasal dari Desa Oebou, sehingga belum tentu sama persis dengan yang berlaku di desa lain di Pulau Rote. Banyak versi sejarah yang berbeda tetap hidup berdampingan, dan naskah itu sendiri tidak memastikan satu pun sebagai yang benar.

Selain sebagai alat musik, pohon lontar itu juga menghidupi warga Desa Oebou lewat jalan lain: tuak, sopi, gula lempeng, gula air, gula semut, tikar, sendal, dan atap rumah, semuanya diambil dari pohon yang sama. Namun menurut naskah itu, warga sudah menganggap pohon ini bernilai lebih tinggi karena darinya lahir alat musik sasando yang kini dikenal luas.

Kembali ke pohon lontar tempat cerita ini bermula: batangnya masih berdiri di Ndao, daunnya masih dianyam menjadi haik, dan seratnya masih dipilin menjadi dawai di tangan pengrajin Desa Oebou. Yang berubah bukan pohonnya, melainkan siapa yang masih mau memanjatnya untuk mendengar bunyi yang dulu mengusik seorang pemuda yang sedang sakit.

Bagikan

Baca Juga

Kriya Lolok Bali Dibaca Lewat Tiga Kerangka Estetika Camp
Tanah Rempang, Lima Puluh Tahun dari Keppres 1973 ke Bentrok
Pemakaman Raja Marapu di Rindi: Delapan Kuda, Delapan Kerbau
Sunda Indramayu Melepas Bunyi H yang Dijaga Sunda Priangan
Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya
Adu Ayam Talang Mamak: Perintah Tuhan yang Bergeser Jadi Judi