Satu Butir Pati di Gigi Rangka Plawangan Ternyata Bukan Gandum

Ilustrasi rahang bergigi di meja laboratorium bersanding dengan mikroskop

Ilustrasi pemeriksaan kalkulus gigi di laboratorium. Satu butir pati dari rangka Plawangan diperiksa ulang. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Rangka itu tidak lagi utuh. Yang tersisa dari lelaki berusia sekitar 35 tahun yang digali pada 2018 di Situs Plawangan, Rembang, tinggal tulang paha, tulang kering, tulang betis, tulang lengan atas, rahang atas dan bawah, serta gigi-geligi. Ia disimpan dalam kotak kayu di Rumah Peradaban Situs Plawangan dengan kode PLW I. Di sekitar kotak itu tergeletak enam gigi lepas, dan pada salah satunya — geraham kedua rahang atas sebelah kanan — menempel karang gigi yang mengeras.

Dari karang gigi itulah keluar satu butir pati. Hanya satu. Bentuknya lingkaran, titik pusatnya tepat di tengah, garis silang optiknya tampak jelas memotong pada sudut sekitar 90 derajat, tanpa retakan dan tanpa lapisan pertumbuhan. Ukurannya kecil: panjang maksimal 12,46 mikrometer, keliling 33,48 mikrometer, dan luas permukaan 87,17 mikrometer persegi. Analisis pendahuluan pada 2023 menduga butir itu berasal dari Triticeae, suku rumput-rumputan yang mencakup gandum dan barli — dugaan yang, bila benar, berarti orang di pesisir Jawa sudah mengunyah serealia Timur Tengah pada awal Masehi.

Dugaan itu kini digugurkan oleh penelitiannya sendiri. Peninjauan ulang dipaparkan M. Dziyaul F. Arrozain dari Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia Komda DIY-Jawa Tengah, Intan Puspitasari yang merupakan alumnus S-1 Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dan Sofwan Noerwidi dari Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional, lewat artikel Tinjauan kembali temuan butir pati Triticeae pada kalkulus gigi rangka manusia Situs Plawangan, Rembang, yang terbit dalam jurnal Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 2 pada 2025.

Mengapa Satu Butir Bisa Jadi Penting

Situs Plawangan adalah situs penguburan dengan kubur tempayan, tetapi temuannya tidak berhenti pada urusan kematian. Fragmen gerabah, artefak logam berupa besi, perunggu, dan emas, manik-manik, serta keramik menunjukkan aktivitas sehari-hari yang kompleks. Corak budayanya digolongkan sebagai Masa Logam Awal yang diperkirakan muncul sejak awal Masehi, sekitar 100 sampai 500 Masehi. Letaknya di pesisir laut Jawa, yang pada masa itu menjadi bagian dari jaringan perdagangan antarwilayah.

Di situlah butir pati tadi memperoleh bobotnya. Karang gigi — matriks protein bakteri dan kristal mineral yang memerangkap sisa makanan selama seseorang masih hidup — adalah konteks yang paling meyakinkan untuk menunjukkan bahwa sesuatu benar-benar dimakan, bukan sekadar tercecer di lantai hunian. Bila butir itu memang gandum atau barli, maka ia menunjuk pada pola makan serealia baru di luar padi dan jawawut yang lazim pada awal Masehi, sekaligus jejak pertukaran barang lintas wilayah. Perbandingannya sudah ada: penelitian di Situs Oc Eo, Vietnam, mengidentifikasi butir pati pala yang menandai perdagangan rempah dari Maluku ke Asia Tenggara daratan pada sekitar 200 Masehi.

Persoalannya, gandum dan barli tidak berasal dari kawasan ini. Keduanya pertama kali didomestikasi di Bulan Sabit Subur, Timur Tengah — gandum pada 7500 sampai 6500 sebelum Masehi, barli diduga sebelum 7000 sebelum Masehi. Di Asia Tenggara, gandum baru diperkenalkan di Filipina oleh Spanyol pada 1664, sementara asal-usul masuknya barli belum jelas. Selisih ribuan tahun itulah yang membuat satu butir pati di gigi seorang lelaki Plawangan layak diperiksa dua kali, sebagaimana tafsir baru atas monumen batu Stonehenge memaksa peninjauan ulang atas kesimpulan yang sudah lama diterima.

Seratus Butir Pembanding dari Biji Segar

Kondisi gigi-geligi PLW I sendiri sudah banyak berkurang. Gigi seri dan taring hilang, baik di rahang atas maupun bawah, ditambah satu geraham atas yang lepas setelah kematian. Enam gigi yang tercecer di sekitar kotak penyimpanan dipastikan berasal dari rangka yang sama karena cocok dengan bekas gigi yang hilang pada rahangnya. Karang gigi yang mengandung butir pati diekstraksi memakai protokol yang lazim dipakai untuk kalkulus, dengan pembersihan lempung memakai larutan calgon dan pembersihan karbonat memakai asam klorida.

Untuk mengujinya, peneliti menyiapkan sampel pembanding dari biji gandum dan barli segar di Laboratorium Arkeologi FIB UGM. Biji dihancurkan dengan alu dan mortar sampai menjadi bubuk halus, ditabur di atas kaca preparat, lalu diamati dengan mikroskop bersaring polarisasi silang. Butir pati yang diperoleh sangat melimpah, tetapi hanya 50 butir dari masing-masing tumbuhan yang diambil sebagai sampel, sehingga totalnya 100 butir pembanding.

Uji normalitas dengan metode Shapiro-Wilk menunjukkan sebaran data keduanya normal: nilai p gandum 0,95 dan barli 0,32. Perbandingannya kemudian dilakukan dua tahap. Tahap pertama deskriptif-kualitatif, dengan tujuh parameter mulai dari ukuran, bentuk dua dimensi, posisi titik pusat, rongga tengah, garis silang optik, retakan, sampai lapisan pertumbuhan. Tahap kedua multivariat, memakai analisis diskriminan linear dan analisis gugusan atas enam ukuran: panjang maksimum, panjang minimum, jarak maksimum dan minimum titik pusat ke tepi, keliling, serta luas permukaan.

Tahap pertama justru membuat persoalan makin kusut. Secara visual, butir pati Plawangan mirip gandum sekaligus mirip barli: sama-sama lingkaran hingga lonjong, titik pusat di tengah, garis silang jelas, permukaan tanpa retakan. Kemiripannya bahkan saling bertolak belakang — kehadiran rongga tengah membuatnya condong ke gandum, sementara ketiadaan lapisan pertumbuhan membuatnya condong ke barli. Satu-satunya yang mencolok berbeda adalah ukurannya, yang jauh di luar rentang keduanya.

Terlempar ke Ujung Kuadran

Analisis multivariat memberi jawaban yang jauh lebih tegas. Pada grafik sebar hasil analisis diskriminan, sumbu pertama mewakili 85,54 persen data dan sumbu kedua 14,46 persen. Butir pati gandum dan barli saling bertumpang tindih di tengah — sebagian sampel gandum masuk ke wilayah barli dan sebaliknya. Butir pati dari gigi PLW I tidak berada di dekat keduanya, melainkan terlempar ke ujung kuadran ketiga dengan nilai sumbu pertama minus 13,431.

“Butir pati Triticeae berada jauh, baik dari kelompok butir pati gandum maupun barli,” tulis para penulis dalam artikel tersebut. Matriks kekeliruan klasifikasi mereka mencatat tingkat keakuratan 79,21 persen, dengan rincian yang cukup jujur soal batas metodenya: 15 dari 50 butir pati gandum justru lebih mirip barli, dan 6 butir pati barli lebih mirip gandum. Diagram gugusan mengonfirmasi hasil yang sama, dengan jarak persamaan butir Plawangan terhadap kelompok gandum-barli mencapai 325.

Dari enam parameter yang diukur, hanya satu yang benar-benar membedakan, yaitu luas permukaan. Selisih rata-rata luas butir pati Plawangan mencapai 358,60 terhadap gandum dan 282,98 terhadap barli. Ukuran panjang, jarak titik pusat ke tepi, dan keliling ikut berpengaruh, tetapi tidak cukup khas untuk dijadikan pegangan utama.

Koreksi terhadap Cara Melihat

Implikasi terbesar penelitian ini bukan pada butirnya, melainkan pada metode. “Upaya identifikasi melalui perbandingan visual terhadap kesamaan bentuk morfologi dan garis extinction-cross tidak dapat menunjukkan klasifikasi yang akurat,” tulis ketiganya. Alasannya, bentuk lingkaran dan garis silang optik bukan ciri khas yang membedakan takson. Butir pati kimpul dan talas, misalnya, sama-sama berbentuk lingkaran hingga lonjong dengan garis silang yang tampak jelas.

Konsekuensinya langsung: “Hal ini menggugurkan hasil analisis awal yang menduga butir pati tersebut kemungkinan sisa dari gandum atau barli,” tulis mereka di bagian kesimpulan. Interpretasi tentang konsumsi serealia Triticeae oleh manusia pendukung Situs Plawangan pada awal Masehi karena itu tidak terbukti. Hasil ini, kata para penulis, justru sejalan dengan penelitian asal-usul kedua tumbuhan tersebut yang mengaitkan perkenalan gandum — dan mungkin juga barli — di Asia Tenggara dengan pengaruh kolonial Eropa pada abad ke-17.

Yang tersisa tetap sebuah teka-teki. Butir pati itu masih mungkin merupakan sisa makanan secara umum, mengingat karang giginya menempel di sisi lingual, sisi yang berdekatan dengan lidah dan bersinggungan langsung dengan makanan saat pengunyahan. Para penulis mengusulkan pencarian dilanjutkan dengan membandingkannya terhadap tumbuhan pangan lokal, termasuk yang liar, serta memakai petunjuk lain yang sudah ada, yakni 23 fitolit dari gigi yang sama, empat di antaranya menunjuk kelompok tumbuhan berkayu, perdu, atau herba. Mereka juga mengingatkan bahwa biji gandum dan barli modern berukuran 5 sampai 9 milimeter dan bisa berubah akibat intensifikasi pertanian, sehingga pemilihan sampel segar sebagai pembanding perlu memperhatikan asal-usul pemeliharaannya.

Kerja semacam ini menempatkan sisa manusia dan bendanya sebagai arsip yang bisa dibaca berulang kali — sama halnya dengan bangunan candi masa Majapahit yang tafsirnya terus bergeser, atau catatan gempa yang tersembunyi di naskah kuno dan baru terbaca berabad-abad kemudian. Rangka PLW I sendiri masih tersimpan di Rumah Peradaban Situs Plawangan, dan gigi gerahamnya kini menjadi salah satu tinggalan budaya yang menunggu perbandingan berikutnya.

Baca Juga

Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang tamu rumah kayu tradisional dengan jendela menghadap perbukitan
Trailer Ngeri-Ngeri Sedap Beredar Lewat Grup WhatsApp Marga Batak
Ilustrasi jalan kota pada malam hari dengan lampu kekuningan dan garis cahaya kendaraan
Relawan Info Cegatan Jogja Baru Turun Setelah Bengkel Tutup
Barang bukti senjata tajam hasil tawuran antar-kelompok Semarang dan Kendal
Polda Jateng Tetapkan 4 Tersangka Tawuran Geng Semarang-Kendal, 17 Terduga Pelaku Masih Diburu
Pusaran hurikan dengan mata badai terlihat jelas dari orbit di atas lautan
Kerucut Ramalan Badai Versi Baru Bantu Warga Menandai Wilayah Siaga, Tak Mengubah Rasa Terancam
Peneliti bersarung tangan biru mengamati sampel melalui mikroskop di meja laboratorium
Radang Sendi Setelah Imunoterapi Kanker Berulang seperti Penyakit Bermemori, Terbaca dari Cairan Sendi Enam Pasien