Petani Samin di Blora Mengusir Tikus lewat Ritual Adat Lamporan

A A

Hamparan sawah padi hijau di bawah langit pagi berawan di Blora, Jawa Tengah [Foto: Ryan Firmanto (Ryan1244)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sawah warisan petani Samin di Dukuh Blimbing, Blora, tidak boleh diperjualbelikan dan dikelola turun-temurun.
  • Ajaran Samin yang tidak tertulis berisi lima tujuan hidup, lima larangan, dan tiga perintah.
  • Petani memadukan padi, sayur, buah, lele, dan ternak, lalu memakai kotoran ternak sebagai pupuk.
  • Tikus gua terkadang tidak dibunuh dan diusir lewat ritual adat Lamporan, sementara padi dipanen tiga kali setahun.
Daftar Isi
  1. Tahun 1890, Ajaran Mbah Samin Bermula
  2. Sesudah Mbah Samin, Sawah Diwariskan dan Tidak Dijual
  3. Dari Generasi ke Generasi: Lima Tujuan, Lima Larangan
  4. Juni 2021 sampai Juli 2022: Padi, Lele, dan Sapi dalam Satu Daur
  5. Setiap Hari Kandang Dibersihkan, Tikus Terkadang Dibiarkan Hidup
  6. Tahun 2023, Empat Penulis Menutup Catatan dari Sambongrejo

Pada 1890 sebuah kelompok masyarakat adat berdiri mengikuti ajaran Samin Surosentiko. Orang menyebut tokoh itu Mbah Samin. Ajarannya, pada dasarnya, menekankan berbuat baik terhadap sesama. Kini para penerusnya di sebuah dukuh di Blora masih bertani dengan pegangan yang sama, dan tikus yang mereka jumpai terkadang tidak dibunuh.

Catatan tentang dukuh itu disusun Nandi Kurniawan, Budiaman, dan A. N. Hidayah dari Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta, bersama Annisa Salsabilla dari Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Lampung. Artikel mereka berjudul Nilai etika lingkungan pada pertanian komunitas adat Sedulur Sikep Samin. Naskah itu terbit di jurnal JPLB Volume 7 Nomor 3 tahun 2023.

Tempat yang mereka datangi adalah Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Mereka bekerja di sana dari Juni 2021 sampai Juli 2022. Selama itu mereka mengamati, mewawancarai ketua adat beserta empat orang bawahannya, dan berdiskusi dengan para petani.

Tahun 1890, Ajaran Mbah Samin Bermula

Menurut Kurniawan dan rekan-rekannya, ajaran Samin pada dasarnya bersumber dari ajaran Jawa Kuno atau Jawa Kawitan. Pada mulanya Mbah Samin dan para pengikutnya menyerukan gerakan melawan kolonialisme.

Sepeninggal Mbah Samin, anak keturunan dan pengikutnya meneruskan ajaran itu di beberapa tempat. Para penulis menyebut empat di antaranya, yakni Blora, Kudus, Rembang, dan Bojonegoro. Pemerintah, tulis mereka, mendefinisikan kelompok ini sebagai etnis. Orang-orangnya sendiri tetap merasa seperti orang Jawa pada umumnya. Mereka lebih senang disebut orang Samin, Wong Sikep, atau Sedulur Sikep.

Baca juga Wong Kalang dan Samin, Dua Tafsir Asal Usul Orang Bojonegoro

Di Dukuh Blimbing, komunitas itu kini dipandu seorang tokoh bernama Pramugi Prawiro Wijayo. Ia lebih akrab disapa Mbah Pram. Menurut para penulis, Mbah Pram juga bertindak sebagai pemimpin sistem ekonomi, sosial, dan kesejahteraan masyarakat di sana.

Sesudah Mbah Samin, Sawah Diwariskan dan Tidak Dijual

Salah satu ajaran utama yang dicatat di Sambongrejo adalah keyakinan bahwa mereka hanya dapat hidup dari pertanian. Bertani menjadi mata pencarian utama. Bertani juga menjadi sarana mengajarkan adat istiadat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagian anak muda, menurut naskah itu, sekarang bekerja di bidang lain. Meski begitu, pertanian tetap menjadi pekerjaan utama setiap keluarga. Para penulis menggambarkan orang Samin bergaya hidup sederhana, tetapi termasuk petani yang sukses dan berkecukupan.

Dalam istilah Jawa, tulis Kurniawan dan rekan-rekannya, orang Samin dikenal sebagai petani utun yang bertani di atas lahan warisan leluhur. Sawah tidak diperkenankan diperjualbelikan. Lahan itu terus menjadi milik keluarga dan dikelola turun-temurun.

Ada satu prinsip yang mereka kutip dalam bahasa Jawa: “seneng mangan doyan mangan sing dumunung the’e dhewe”. Para penulis mengartikannya sebagai merasa lebih senang menikmati hasil bumi dari lingkungan sekitar tempat tinggal. Prinsip itu mereka rujuk dari dua kajian terdahulu, salah satunya ditulis Budiaman bersama dua rekannya pada 2022.

Lahan warisan, menurut naskah itu, tidak semata menjadi lambang pelestarian kehidupan. Orang Samin percaya arwah nenek moyang tetap berada di tanah yang mereka miliki. Karena itu mengelola sawah dipandang sebagai bagian dari pekerjaan melestarikan adat. Anak-anak diajari sejak dini untuk mencintai pertanian.

Dari Generasi ke Generasi: Lima Tujuan, Lima Larangan

Aturan hidup orang Samin tidak tertulis. Ia diturunkan dari generasi ke generasi. Intinya, menurut para penulis, terdiri atas lima tujuan, lima larangan, dan tiga perintah yang menjadi prinsip hidup sehari-hari.

Isi ajaran Samin yang dipegang petani SambongrejoKartu ringkas lima tujuan, lima larangan, dan tiga arahan dalam ajaran SaminIsi ajaran Samin yang dipegang petaniSambongrejoAjaran tidak tertulis yang diturunkan dari generasi kegenerasi5Tujuan hidupdemen, becik, rukun,seger, waras5Larangandrengki, srei, panasten,dahwen, kemeren3Arahanucapan, pikiran, dantindakan harus sesuaiJalan risetnyaDukuh Blimbing,BloraJuni 2021-Juli2022Wawancara MbahPramDiskusi denganpetani
Sumber: Nandi Kurniawan, Budiaman, A. N. Hidayah, dan Annisa Salsabilla, Nilai etika lingkungan pada pertanian komunitas adat Sedulur Sikep Samin, JPLB, 2023. Grafik: Cekricek.id

Lima larangan itu disebut satu per satu. Ada drengki atau jahil, srei atau serakah, dan panasten atau panas hati. Dua lainnya adalah dahwen, yakni mencampuri urusan orang lain, serta kemeren atau dengki.

Lima tujuan hidupnya adalah demen atau senang, becik atau bagus, rukun atau damai, seger atau sentosa, dan waras atau sehat. Arahan hidupnya menuntut kesesuaian antara tutur kata, pikiran, dan tindakan. Kejujuran dalam setiap segi kehidupan, tulis mereka, adalah keharusan bagi orang Samin.

Dari kelima tujuan itu, hidup rukun dan damai disebut sebagai pedoman dalam bersikap terhadap lingkungan. Kerukunan tidak dimaknai hanya antarmanusia. Ia juga berarti keserasian dengan semua bagian alam, yang hidup maupun yang tidak hidup. Mbah Pram, menurut catatan para penulis, berujar bahwa keharmonisan antara manusia dan alam menjadi kunci kehidupan yang berkelanjutan. Pemimpin adat disebut memegang peran sentral. Dialah yang menafsirkan ajaran leluhur ke dalam tindakan nyata di sawah.

Baca juga Sedulur Sikep Kudus Konsisten Tolak Sekolah Formal

Juni 2021 sampai Juli 2022: Padi, Lele, dan Sapi dalam Satu Daur

Dari Juni 2021 sampai Juli 2022, para penulis mencatat cara bertani warga Dukuh Blimbing. Orang Samin mempertahankan sistem terpadu yang didasarkan pada daur ulang biologis. Sistem itu menggabungkan tanaman, perikanan, dan peternakan.

Petani yang sama tidak hanya mengurus tanaman pangan. Mereka juga memelihara ikan lele, ayam, itik, kambing, dan sapi. Kelebihan sistem ini, tulis Kurniawan dan rekan-rekannya, terletak pada manfaat limbahnya: buangan dari satu bagian menjadi bahan bagi bagian lain.

Padi tetap menjadi sumber pangan utama. Di sampingnya, petani menjalankan tumpang sari. Pekarangan rumah dan sisa tanah ditanami terong, paprika, tomat, sawi, singkong, sukun, jeruk, nanas, pepaya, kelor, kemangi, dan tanaman herbal.

Lahan sempit di sela sawah pun tidak dibiarkan kosong. Di sana tumbuh nangka, sawo, mangga, alpukat, sukun, dan pisang. Menurut Mbah Pram, sebagaimana dicatat para penulis, keragaman tanaman memastikan petani lebih efisien bercocok tanam di berbagai kondisi lingkungan.

Tanaman musiman juga digilir. Pergiliran itu, masih menurut Mbah Pram, harus memelihara kesuburan tanah, mencegah kehilangan panen total, dan menjaga ketahanan pangan. Setiap tanaman disesuaikan dengan kondisi lingkungan tempatnya tumbuh. Pupuknya berasal dari kotoran ternak. Komposnya dari sampah organik yang telah membusuk. Perpaduan itu, tulis para penulis, mengarah pada pertanian ekologis yang bebas dari pencemaran limbah kimia, yang dalam naskah disebut zero waste.

Daur tani tanpa limbah di SambongrejoBagan alur pertanian terpadu petani Samin dari ternak sampai panen padi tiga kali setahunDaur tani tanpa limbah di SambongrejoLimbah satu bagian menjadi bahan bagi bagian lainTernaksapi,kambing,KotorandarikandangPupukdankomposTanamanpadi,sayur, buah3xpanen padisetahun
Sumber: Nandi Kurniawan, Budiaman, A. N. Hidayah, dan Annisa Salsabilla, Nilai etika lingkungan pada pertanian komunitas adat Sedulur Sikep Samin, JPLB, 2023. Grafik: Cekricek.id

Warga menjalankan ritual Brokohan untuk berdoa agar tanah pertanian tetap subur sepanjang tahun. Petani Samin, menurut catatan itu, bisa memanen padi tiga kali dalam setahun. Masyarakatnya percaya bahwa dengan cara bertani ini hasil panen lebih bersih, berlimpah, dan terbebas dari hama.

Setiap Hari Kandang Dibersihkan, Tikus Terkadang Dibiarkan Hidup

Kandang ternak di dukuh itu didirikan pada ketinggian tertentu. Tujuannya dua, yaitu menghindari bau dan memudahkan pengumpulan kotoran untuk pupuk. Kandang dibersihkan setiap hari dan letaknya berjarak tertentu dari rumah pemilik. Orang Samin, tulis para penulis, percaya ternak mesti memiliki tempat tinggal yang layak agar lebih sehat dan berkualitas. Sikap yang sama berlaku bagi makhluk lain. Bahkan hama pertanian, hewan maupun tumbuhan, diperlakukan dengan baik.

“Orang Samin memiliki kasih sayang terhadap makhluk hidup lainnya,” tulis Nandi Kurniawan, Budiaman, A. N. Hidayah, dan Annisa Salsabilla. Tikus gua yang dijumpai, menurut mereka, terkadang tidak dibunuh. Hewan itu dianggap memiliki hak yang sama untuk hidup.

Cara masyarakat Samin mengusir tikus, tulis mereka, adalah dengan mengikuti tradisi Lamporan. Para penulis menjelaskannya sebagai ritual adat untuk menolak musibah dan menjaga kehidupan dari hal-hal yang merugikan. Dari sikap itu mereka menilai orang Samin telah menganut paham ekosentrisme.

Baca juga Perempuan Adat Citorek Menentukan Kapan Padi di Leuit Diambil

Lahan pun diatur. Struktur lahan pertanian dipertebal untuk mencegah longsor dan memperlancar irigasi. Airnya berasal dari tanggul yang dibangun warga secara mandiri. Lahan pertanian digambarkan lebih tinggi daripada permukiman. Dengan begitu sawah bebas dari buangan limbah rumah tangga dan banjir dapat dicegah. Limbah rumah tangga dibuang lewat saluran pada jarak tertentu agar tanah dan air tidak tercemar.

Tahun 2023, Empat Penulis Menutup Catatan dari Sambongrejo

Naskah itu terbit pada 2023 dengan simpulan yang ringkas. “Ajaran nenek moyang yang dianut dengan baik membuat orang Samin maju dan berpandangan jauh ke depan,” tulis Kurniawan dan ketiga rekannya. Sistem pertanian terpadu, menurut mereka, berhasil menjaga keseimbangan ekologi secara berkelanjutan.

Mereka juga mencatat sisi ekonominya. Pertanian yang dijalankan secara tradisional itu disebut membawa stabilitas ekonomi dan sosial bagi para petani. Ajaran hidup harmonis dengan sesama dan dengan alam dijalankan lewat pertanian organik tanpa limbah. Ajaran leluhur itu, tulis mereka, menjadi pemandu bagi kehidupan masyarakat. Keterangannya dihimpun di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, dari Mbah Pram, empat orang bawahannya, dan para petani yang ikut berdiskusi.

Para penulis menyampaikan satu harapan. Penerapan nilai etika lingkungan pada suatu kebudayaan, tulis mereka, dapat menjadi referensi dan refleksi bagi pembangunan pertanian modern. Nilai ajaran leluhur yang terus dipertahankan orang Samin di Sambongrejo, menurut naskah, menghadirkan etika ekosentrisme dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem.

Bagikan

Baca Juga

Bahasa Wemale di Seram Dicap Kuno, Orang Tua Enggan Mewariskannya
Kenduri Sko, Pesta Adat Kerinci yang Ditutup Tarian Tengah Malam
Bahasa Enggano Mulai Tergeser di Rumah dan Upacara Adat
Ruang Hidup Orang Rimba Cukup Terjaga, Pendidikan Masih Rendah
Tanaman Obat Flores dari Pesisir dan Gunung, Kebanyakan Direbus
Suku Ma’ya Raja Ampat Memalang Pos Konservasi di Laut Sendiri