Bangku Kosong di SD Belanda Jadi Penanda Musim Infeksi Napas

A A

Ilustrasi ruang kelas sekolah dasar yang kosong di Basisschool Reigerlaan, Belanda [Foto: Alex P. Kok/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Hasilnya, 65,3 persen absen sakit tergolong sakit saluran napas akut.
  • Seorang murid rata-rata kehilangan 4,7 hari sekolah karena sakit sepanjang 2022/23, hampir satu pekan belajar.
  • Puncak absen sekolah muncul dua minggu lebih dulu daripada kenaikan kunjungan dokter.
  • Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang memastikan kuman pada murid dan kurun yang sama.
Daftar Isi
  1. Proksi, Penanda Pengganti dari Buku Absen
  2. ARI, Sakit Napas di Balik Dua dari Tiga Absen
  3. Pola Musiman, Puncak di Tengah Tahun Ajaran
  4. SES, Status Sosial Ekonomi Lingkungan Sekolah
  5. Korelasi, Bergerak Seirama dengan Ruang Dokter
  6. Surveilans, Memantau tanpa Menyamakan

Proksi, kata yang dipakai empat peneliti Belanda untuk daftar absen sekolah, berarti penanda pengganti: sesuatu yang mudah dihitung untuk menaksir hal lain yang sulit dihitung langsung. Dalam hal ini yang mudah dihitung adalah bangku kosong di kelas. Yang sulit dihitung adalah berapa banyak anak yang sedang terkena infeksi saluran napas.

Gagasan itu diuji C. M. de Korne, M. Hooiveld, A. J. van Hoek, dan P. C.J.L Bruijning-Verhagen dalam artikel School absenteeism data for surveillance purposes: a proxy for acute respiratory infection rates, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1346 tahun 2026. Mereka bekerja di UMC Utrecht, lembaga riset layanan kesehatan Nivel, dan National Institute for Public Health and the Environment di Bilthoven.

Proksi, Penanda Pengganti dari Buku Absen

Yang ditaksir punya nama teknis, acute respiratory illness atau ARI, yaitu sakit saluran napas akut. Dalam data dokter yang dipakai naskah ini, golongan itu mencakup infeksi saluran napas atas, radang sinus, radang pangkal tenggorok, bronkitis, influenza, dan pneumonia. Anak usia sekolah, tulis para peneliti, adalah pendorong penting penularannya karena mereka sering dan rapat berinteraksi.

Persoalannya, cara lama menghitung penyakit itu bertumpu pada kasus yang dilaporkan fasilitas kesehatan. Sebagian besar sakit ringan tidak pernah sampai ke sana. Pemantauan aktif di dalam sekolah bisa menutup celah itu, tetapi menurut naskah cara tersebut mengganggu, memakan waktu, dan boros sumber daya sehingga sulit dijalankan dalam skala besar.

Buku absen menawarkan jalan pintas. Di Belanda semua sekolah wajib mencatat ketidakhadiran murid setiap hari dalam sistem administrasi digital, sesuai undang-undang wajib belajar tahun 1969. Sakit cukup dilaporkan orang tua tanpa surat dokter, berbeda dengan beberapa negara tetangganya. Datanya sudah ada, terkumpul sendiri, dan tidak merepotkan siapa pun.

Maksudnya begini. Kalau angka absen karena sakit naik dan turun seirama dengan infeksi saluran napas, buku absen bisa dipakai membaca penyakit itu dari jauh. Para peneliti menguji irama tersebut pada anak sekolah dasar Belanda, yang berusia empat sampai dua belas tahun dan duduk di delapan tingkat kelas.

Baca juga Risiko Relatif dan Jebakan Dua Kali Lipat Demam Skarlet

ARI, Sakit Napas di Balik Dua dari Tiga Absen

Pertanyaan pertama sederhana: anak yang tidak masuk itu sakit apa? Jawabannya dicari di lima sekolah dasar di Provinsi Limburg selama tujuh minggu pada November dan Desember 2023. Orang tua murid yang absen diminta mengisi survei anonim tentang gejala anaknya. Sebanyak 371 survei dibagikan, dan 81,7 persen di antaranya terisi.

Hasilnya, 65,3 persen absen sakit tergolong sakit saluran napas akut. Kira-kira dua dari tiga. Gangguan pencernaan, yang dalam naskah disingkat GI dari gastrointestinal illness, menyumbang 26,4 persen. Sisanya masuk golongan lain atau tidak diketahui karena gejalanya tidak khas.

Dua dari tiga absen sakit karena infeksi napasInfeksi saluran napas akut: Bagian dari absen sakit +65,3%; Gangguan pencernaan: Bagian dari absen sakit +26,4%.Dua dari tiga absen sakit karena infeksi napasPersen absen sakit di lima sekolah dasar di Limburg20%40%60%80%0Infeksi saluran napas akut65,3%Gangguan pencernaan26,4%Sisanya masuk golongan lain atau tidak diketahui.
Sumber: C. M. de Korne, M. Hooiveld, A. J. van Hoek, dan P. C.J.L Bruijning-Verhagen, School absenteeism data for surveillance purposes: a proxy for acute respiratory infection rates, BMC Public Health, 26(1346), 2026. Grafik: Cekricek.id

Batuk menjadi gejala yang paling sering dilaporkan. Polanya berbeda menurut umur. Murid tingkat enam sampai delapan lebih sering mengeluh sakit kepala dan sakit tenggorokan, sedangkan anak yang lebih muda lebih sering demam. Perbedaan ketiga gejala itu, menurut naskah, bermakna secara statistik.

Survei juga menanyakan apakah orang serumah sudah lebih dulu sakit. Pada 30,3 persen episode sakit napas dan 31,6 persen episode gangguan pencernaan, gejala memang lebih dulu muncul pada anggota rumah yang lain. Pada sisanya anak itulah kasus pertama di rumahnya, yang oleh para peneliti disebut kasus indeks. Ia kemungkinan tertular di luar rumah, boleh jadi di sekolah.

Istilah berikutnya adalah spatiotemporal clustering, pengelompokan menurut tempat dan waktu. Bedanya dengan sakit yang tersebar acak begini: absen baru tidak muncul merata di semua ruang, melainkan menumpuk di sekolah tertentu, terutama di kelas tertentu, pada minggu tertentu.

Catatan absen per kelas dari lima sekolah di Limburg sepanjang tahun ajaran 2022/23 memperlihatkan pola itu. Luas dan waktu penumpukannya berbeda antarsekolah dan antarkelas. Sebagian kelas mengalami lonjakan tajam episode baru pada minggu-minggu tertentu, paling jelas di sekolah yang dalam naskah diberi nama School 3.

Para peneliti membaca penumpukan itu sebagai petunjuk penularan di dalam sekolah atau adanya satu sumber infeksi bersama. Hasil survei rumah tangga tadi menguatkannya, sebab sebagian besar kasus tidak berawal dari rumah. Mereka menambahkan bahwa cara menghitung penumpukan itu secara statistik masih perlu diteliti lebih jauh.

Pola Musiman, Puncak di Tengah Tahun Ajaran

Gambaran yang lebih lebar datang dari 69 sekolah dasar di berbagai wilayah Belanda, untuk tahun ajaran 2017/18, 2018/19, dan 2022/23. Tahun-tahun pandemi sengaja dikeluarkan. Pada masa itu absen sangat dipengaruhi karantina dan belajar jarak jauh, dan pencatatannya tidak konsisten.

Satuan hitungnya adalah hari absen per 100 hari sekolah. Pada 2017/18 rata-ratanya 0,9, artinya dari setiap seratus hari yang semestinya dijalani murid, hampir satu hari hilang karena sakit. Pada 2022/23 angkanya 2,2. Perbedaan antarsekolah, catat naskah, cukup besar.

Ketiga tahun ajaran menunjukkan pola musiman yang kuat. Puncaknya jatuh antara libur Natal dan libur musim semi, mencapai 1,7 hari absen per 100 hari sekolah pada 2017/18 dan 3,2 pada 2022/23. Infeksi saluran napas dikenal bermusim, dan buku absen ternyata ikut bermusim.

Diterjemahkan ke ukuran satu anak, angka itu terasa lebih nyata. Seorang murid rata-rata kehilangan 4,7 hari sekolah karena sakit sepanjang 2022/23, hampir satu pekan belajar. Sebelum pandemi jumlahnya kurang dari separuh, yaitu 1,8 hari pada 2017/18 dan 2,1 hari pada 2018/19.

Absen sakit sebelum dan sesudah pandemiAbsen sakit di 69 sekolah dasar Belanda pada 2017/18 dan 2022/23: rata-rata, puncak, dan jumlah hari per anak.Absen sakit sebelum dan sesudah pandemiHari absen karena sakit di 69 sekolah dasar Belanda2017/182022/230,9 hari2,2 hariRata-rata per 100hari sekolah1,7 hari3,2 hariPuncak per 100hari sekolah1,8 hari4,7 hariSetahun per anakPuncak terjadi antara libur Natal dan libur musim semi.
Sumber: C. M. de Korne, M. Hooiveld, A. J. van Hoek, dan P. C.J.L Bruijning-Verhagen, School absenteeism data for surveillance purposes: a proxy for acute respiratory infection rates, BMC Public Health, 26(1346), 2026. Grafik: Cekricek.id

Mengapa berlipat dua? Naskah hanya menawarkan dugaan. Bisa jadi ini efek pantul, yaitu kerentanan yang meninggi karena anak-anak jarang terpapar infeksi saluran napas selama pembatasan lalu terpapar lagi setelah pembatasan dicabut. Bisa juga perilaku kesehatan orang sudah bergeser. Para peneliti menyatakan perlu kajian lanjutan untuk mengetahui apakah kenaikan itu sementara.

Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China

SES, Status Sosial Ekonomi Lingkungan Sekolah

Enam ciri sekolah diperiksa: jumlah murid, capaian sekolah, status sosial ekonomi lingkungan, tingkat kekotaan, persentase anak berlatar budaya non-Belanda, dan jarak tempuh murid. Hanya satu yang berkaitan dengan absen sakit. Ciri itu adalah skor SES, singkatan socioeconomic status, ukuran status sosial ekonomi lingkungan tempat sekolah berdiri.

Kaitannya tidak kecil. Kenaikan skor SES sebesar 0,39 poin, selebar jarak antara sekolah di perempat bawah dan perempat atas, berkaitan dengan hari absen sakit per anak yang 55,2 persen lebih sedikit. Murid di separuh sekolah berskor rendah kehilangan kira-kira 1,5 hari lebih banyak setahun daripada murid di separuh berskor tinggi.

Di sinilah contoh buku absen mulai meleset. Para peneliti mengingatkan bahwa selisih itu belum tentu berarti infeksinya lebih banyak. Status sosial ekonomi bisa pula memengaruhi keputusan apakah anak yang sakit ringan tetap tinggal di rumah. Mereka tetap menilainya temuan penting, karena anak di lingkungan itu sudah kerap menghadapi tantangan lebih besar dalam pendidikan.

Korelasi, Bergerak Seirama dengan Ruang Dokter

Ujian terakhir membandingkan buku absen dengan catatan dokter umum. Nivel menghimpun data kunjungan mingguan dari lebih 400 praktik dokter umum di Belanda. Yang diambil adalah kunjungan karena sakit saluran napas akut pada anak usia lima sampai sembilan tahun di wilayah Amsterdam, Hollands-Midden, dan Limburg, tempat sekolah-sekolah tadi berada.

Korelasi berarti dua angka bergerak bersama, bukan yang satu menyebabkan yang lain. Di sini geraknya rapat. Saat absen naik, kunjungan dokter ikut naik, dan sebaliknya. Koefisien tertingginya 0,948 untuk 2017/18, 0,862 untuk 2018/19, dan 0,837 untuk 2022/23, pada skala yang nilai sempurnanya satu.

Tahun ajaran 2018/19 menyimpan satu hal menarik. Puncak absen sekolah muncul dua minggu lebih dulu daripada kenaikan kunjungan dokter. Pada dua tahun lainnya keduanya berjalan serentak. Dari sinilah para peneliti melihat kemungkinan buku absen memberi isyarat dini bagi kecenderungan di masyarakat luas.

Seirama tidak berarti sama besar. Pada musim puncak, kenaikan 20 kunjungan dokter per 10.000 orang dalam sepekan beriring dengan tambahan 201 hari absen per 50.000 hari sekolah pada 2017/18. Angka itu menjadi 259 pada 2018/19 dan 371 pada 2022/23. Perbandingannya berubah dari tahun ke tahun.

Dari perbandingan itu naskah menaksir bahwa dalam satu minggu, anak yang absen karena sakit sepuluh sampai dua puluh kali lebih banyak daripada anak yang dibawa ke dokter karena sakit napas. Para peneliti mengutip kajian di Inggris yang menemukan hanya 8,1 persen episode infeksi saluran napas anak berujung konsultasi dokter. Buku absen menangkap yang ringan, ruang dokter menangkap yang lebih berat.

Ada pula kabar baik bagi yang ingin meniru. Absen karena sakit mencakup 70,9 persen dari seluruh absen berizin, yaitu ketidakhadiran yang sah termasuk acara keluarga seperti pernikahan dan pemakaman. Ketika seluruh absen berizin dipakai sebagai gantinya, pola waktunya serupa dan kaitannya dengan kunjungan dokter tetap sebanding. Alasan rinci tiap absen, simpul naskah, mungkin tidak perlu dikumpulkan.

Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas

Surveilans, Memantau tanpa Menyamakan

Surveilans, kata terakhir yang perlu diterjemahkan, berarti pemantauan penyakit secara terus-menerus. Naskah memakai sebutan surveilans sindromik untuk pemantauan lewat gejala. Para peneliti menyebut empat kegunaan: menaksir beban sakit ringan yang tidak sampai ke dokter, mengenali wabah di sekolah lebih awal, menilai upaya seperti perbaikan ventilasi, dan memberi peringatan dini bagi masyarakat.

Salah paham yang mudah muncul adalah menganggap setiap bangku kosong berarti satu anak batuk. Naskah sendiri mengoreksinya. “Namun, angka absen tidak mencerminkan prevalensi ARI secara sempurna, sebab sebagian absen disebabkan gangguan pencernaan atau sebab lain, termasuk penyakit pernapasan kronis, masalah kesehatan jiwa, atau keputusan orang tua menahan anak di rumah karena alasan nonmedis,” tulis de Korne dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Keterbatasan lain mereka akui terang-terangan. Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang memastikan kuman pada murid dan kurun yang sama. Survei orang tua hanya berjalan tujuh minggu, sehingga perubahan sebab absen sepanjang tahun, misalnya alergi serbuk sari, tidak tertangkap. Akhir pekan dan hari libur tidak punya data sama sekali.

Sekolahnya pun terpilih. Sebagian besar berada di kawasan yang lebih perkotaan dan dipilih karena datanya tersedia dan bermutu, jadi pencatatannya kemungkinan lebih rapi daripada sekolah pada umumnya. Kelompok umurnya juga tidak persis sama: buku absen memuat anak empat sampai dua belas tahun, data dokter hanya lima sampai sembilan tahun.

Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa ketidakcocokan kecil di dalam naskah. Abstrak menyebut kajian di lima sekolah berlangsung pada 2022/23, sedangkan badan naskah menulis surveinya dijalankan November dan Desember 2023. Bagian hasil menaruh puncak absen antara libur Natal dan libur musim semi, sementara bagian pembahasan menulis antara libur musim gugur dan libur musim semi.

Dua hal lain serupa. Abstrak menyebut koefisien korelasi di atas 0,8, padahal salah satu ukuran yang dilaporkan di bagian hasil merentang dari 0,566 sampai 0,961. Judul artikel memakai kata infection, infeksi, sedangkan abstraknya memakai illness, sakit. Naskah tidak menjelaskan perbedaan-perbedaan itu.

Jadi proksi tetaplah proksi. Bangku kosong di kelas bergerak seirama dengan sakit saluran napas dan cukup jeli untuk dipakai memantau, tetapi ia bukan diagnosis. Batas istilah itu ada pada kata pengganti: buku absen menunjuk ke arah penyakit, tanpa pernah menyebut namanya.

Bagikan

Baca Juga

Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur
Lansia China yang Tetap Bekerja Lebih Jarang Merasa Tak Berguna
Polusi Udara Tak Hanya Serang Paru, Jantung dan Otak Ikut Terancam
Batu Ginjal Akrab di Telinga Anak Muda Palestina, Pemicunya Tidak
Pensiunan Eropa Tidur Lebih Lama dan Bergerak Lebih Sedikit
Sekolah Asrama Membuat Murid Desa Tiongkok Enggan Bersekolah