Risiko Relatif dan Jebakan Dua Kali Lipat Demam Skarlet

A A

Kegiatan upacara bendera siswa sekolah dasar [Foto: Desa Jahiang/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Risiko relatif 2,07 pada anak sekolah saat masa sekolah, turun ke 0,97 saat libur.
  • Anak TK/penitipan tetap berisiko tinggi (1,80) meski sedang libur.
  • Lebih dari tiga perempat dari 64.950 kasus terjadi pada masa sekolah.
  • Abstrak menyebut "2 kali lipat" padahal rujukannya bukan kelompok yang sama saat libur.
Daftar Isi
  1. Risiko Relatif, Bukan Jumlah Kasus
  2. Masa Sekolah, Definisi Pastinya
  3. Tiga Kelompok, Tiga Nasib
  4. Puncak Semi dan Gugur, Bukan Kebetulan
  5. Cuaca Kalah Penting
  6. Dua Kali Lipat yang Menyesatkan

Ketika sebuah paper epidemiologi menulis risiko relatif 2,07, itu bukan berarti kasusnya dua kali lebih banyak. Artinya, satu anak di kelompok itu punya peluang sakit sekitar dua kali lipat dibanding anak di kelompok pembanding, siapa pun pembandingnya. Istilah itu tampak sederhana, tetapi memilih pembanding yang salah bisa membuat angka dua kali lipat itu berarti sesuatu yang lain sama sekali.

Kejanggalan semacam itulah yang muncul dalam artikel Weijun Yu, Bingbing Cong, Lian He, Xin Wang, Yingwei Sun, dan You Li, The role of school terms in the epidemics of scarlet fever among pre-school-aged and school-aged children: a 15-year population-based surveillance in China. Artikel ini terbit di BMC Public Health, volume 26 nomor artikel 2188, tahun 2026.

Objek risetnya demam skarlet, infeksi bakteri group A streptococcus yang sampai sekarang belum punya vaksin. Data diambil dari sistem surveilans penyakit menular Tiongkok di Provinsi Liaoning, 14 kota berpenduduk 41,9 juta jiwa, salah satu wilayah dengan insiden demam skarlet tertinggi di negara itu. Rentang datanya 2005 sampai 2019, sebelum jadwal sekolah terganggu pandemi.

Risiko Relatif, Bukan Jumlah Kasus

Bayangkan dua kelas yang jumlah muridnya sama. Kalau kelas pertama disebut berisiko relatif dua kali kelas kedua, itu tidak berarti muridnya dua kali lebih banyak yang batuk atau demam. Artinya, tiap anak di kelas pertama, secara statistik, dua kali lebih mungkin sakit dibanding anak di kelas kedua, dalam periode yang sama.

Peneliti menghitung angka itu untuk tiga kelompok anak di bawah 12 tahun: anak sekolah usia 6 sampai kurang dari 12 tahun, anak prasekolah yang sudah masuk TK atau penitipan, dan anak prasekolah yang belum bersekolah sama sekali. Kelompok terakhir inilah yang dijadikan rujukan, dibandingkan pada saat mereka sendiri sedang libur.

Masa Sekolah, Definisi Pastinya

Maksudnya begini. Semester musim semi didefinisikan 1 Maret sampai 30 Juni, dan semester musim gugur 1 September sampai 31 Desember. Libur musim panas jatuh 8 Juli sampai 31 Agustus, libur musim dingin 8 Januari sampai 28 Februari. Awal tiap libur diberi penyangga satu minggu, supaya efek penularan yang masih menular dari masa sekolah sebelumnya tidak salah dihitung sebagai efek libur.

Dari 64.950 kasus demam skarlet sepanjang 15 tahun itu, 38,7 persen terjadi pada semester semi dan 37,8 persen pada semester gugur. Jika dijumlahkan, lebih dari tiga perempat kasus jatuh pada masa sekolah, bukan pada masa libur. Sisanya, sekitar seperlima kasus, tersebar di libur panas, libur dingin, dan dua penyangga di awal keduanya.

Tiga Kelompok, Tiga Nasib

Bedanya begini. Anak sekolah punya risiko relatif 2,07 saat masa sekolah, lalu turun ke 0,97 saat libur, nyaris menyamai kelompok rujukan. Pola itu masuk akal, sebab begitu gedung sekolah kosong, kontak dekat antaranak ikut berkurang drastis.

Risiko demam skarlet: masa sekolah dibanding liburAnak sekolah 2,07 ke 0,97; TK/Penitipan 2,14 ke 1,80; Non-prasekolah 0,84 ke 1,00.Risiko demam skarlet: masa sekolah dibandingliburRR vs rujukan non-prasekolah saat libur, Liaoning 2005-2019Saat sekolahSaat libur0,00,51,01,52,02,5Anak sekolah0,972,07TK/Penitipan1,802,14Non-prasekolah0,841,00Prasekolah bersekolah tetap berisiko tinggi sepanjang tahun; anaksekolah dan non-prasekolah risikonya turun saat libur.
Sumber: Weijun Yu, Bingbing Cong, Lian He, Xin Wang, Yingwei Sun, dan You Li, The role of school terms in the epidemics of scarlet fever among pre-school-aged and school-aged children: a 15-year population-based surveillance in China, BMC Public Health, 26(2188), 2026. Grafik: Cekricek.id

Anak prasekolah yang sudah masuk TK justru berbeda. Risiko relatifnya 2,14 saat masa sekolah, dan hanya turun ke 1,80 saat libur, tetap jauh di atas kelompok rujukan. Peneliti menduga penyebabnya sederhana, anak-anak ini tetap mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau les selama libur, sesuatu yang menurut mereka lazim di wilayah studi ini.

Angka jumlah kasusnya juga tidak seimbang di antara tiga kelompok itu. Anak TK menyumbang 28.532 kasus atau 44 persen dari total, anak sekolah 26.079 kasus atau 40 persen, dan anak yang belum bersekolah hanya 10.339 kasus atau 16 persen. Umur median korban pun berbeda, 5 tahun pada anak TK, 7 tahun pada anak sekolah, dan 4 tahun pada anak yang belum bersekolah.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Puncak Semi dan Gugur, Bukan Kebetulan

Analisis wavelet pada data mingguan menemukan sinyal semi-tahunan yang kuat, sejalan dengan kalender sekolah. Ada sinyal tambahan dengan periode 3,3 tahun, atau sekitar 171 minggu, yang menurut peneliti mungkin berkaitan dengan siklus kekebalan populasi terhadap galur bakteri tertentu. Sinyal semi-tahunan itu paling kuat pada anak sekolah dan anak TK, dan paling lemah pada anak yang belum bersekolah.

Efek masa sekolah juga tidak seragam antarsemester. Pada anak sekolah dan anak TK, pengaruhnya lebih kuat di semester gugur dibanding semester semi. Pada anak yang belum bersekolah, risiko semester gugur justru setara dengan risiko libur dingin, sementara risiko semester semi malah lebih rendah daripada libur panas mereka sendiri.

Data 15 tahun itu juga dipecah menjadi tiga periode lima tahunan. Jumlah kasus naik dari 19.747 pada 2005 sampai 2009, ke 19.781 pada 2010 sampai 2014, lalu melonjak ke 25.422 pada 2015 sampai 2019. Peneliti menemukan pola musiman dan efek masa sekolah itu tetap konsisten pada setiap periode, juga konsisten menurut jenis kelamin dan menurut kota, baik Shenyang maupun 13 kota lain di Liaoning.

Cuaca Kalah Penting

Peneliti juga memasukkan suhu dan kelembapan ke dalam model. Suhu ekstrem berkaitan bermakna dengan risiko, dengan titik tertinggi justru di sekitar suhu median mingguan, kira-kira 10 derajat Celsius, bukan di ujung terpanas atau terdingin. Kelembapan relatif, sebaliknya, tidak terbukti bermakna secara statistik.

Anak sekolah vs prasekolah bersekolah: pola kasusnya bedaAnak sekolah 26.079 kasus (40%), umur median 7 tahun, RR 2,07 saat sekolah, 14,2% kasus saat libur. Prasekolah bersekolah 28.532 kasus (44%), umur median 5 tahun, RR 2,14 saat sekolah, 20,0% kasus saat libur.Anak sekolah vs prasekolah bersekolah: polakasusnya bedaLiaoning, Tiongkok, 64.950 kasus demam skarlet 2005-2019Anak sekolahTK/Penitipan26.07928.532Jumlah kasus40%44%Persen dari totalkasus7 tahun5 tahunUmur median2,072,14RR saat masasekolah14,2%20,0%Persen kasus saatliburAnak sekolah risikonya turun tajam saat libur; prasekolah bersekolahtetap lebih sering sakit meski sedang libur.
Sumber: Weijun Yu, Bingbing Cong, Lian He, Xin Wang, Yingwei Sun, dan You Li, The role of school terms in the epidemics of scarlet fever among pre-school-aged and school-aged children: a 15-year population-based surveillance in China, BMC Public Health, 26(2188), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dibanding faktor cuaca itu, tulis para peneliti, “compared to (pre-)schools and school terms, meteorological factors played a less important role based on our estimates”, yang bila diterjemahkan berarti dibandingkan (pra)sekolah dan masa sekolah, faktor meteorologi berperan kurang penting menurut perkiraan mereka. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.

Paper ini turut membandingkan temuannya dengan negara lain, tanpa menyimpulkan pola mana yang lebih benar. Di Inggris, periodisitas penularan demam skarlet bukan semi-tahunan, melainkan tiga sampai empat tahun. Di Belanda, semester sekolah hanya menjelaskan sebagian kecil variasi penularan, dan di Denmark penularan tetap naik bahkan pada Juli ketika sekolah tutup.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Dua Kali Lipat yang Menyesatkan

Di sinilah contoh sederhana tadi mulai meleset. Abstrak paper ini menulis bahwa masa sekolah berkaitan dengan risiko dua kali lipat lebih tinggi pada anak prasekolah yang bersekolah. Angka dua kali lipat itu benar secara hitungan, 2,14 dibanding rujukan, tetapi rujukannya adalah anak yang belum bersekolah sama sekali saat sedang libur, bukan anak TK itu sendiri saat sedang libur.

Padahal, bagian pembahasan paper ini sendiri mengakui bahwa risiko anak TK saat masa sekolah, 2,14, tidak bermakna lebih tinggi dibanding risiko mereka sendiri saat libur, 1,80. Dua angka itu terlalu berdekatan untuk disebut beda secara statistik. Pembaca yang hanya membaca abstrak, tanpa membuka bagian pembahasan, gampang menyimpulkan sesuatu yang tidak sepenuhnya didukung datanya sendiri.

Baca juga Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan

Para peneliti sendiri menegaskan batasnya. Mereka menulis, “as an ecological study, our study could not establish causality of school and school term in risk of scarlet fever at the individual level”, yang berarti sebagai studi ekologis, penelitian ini tidak bisa menetapkan hubungan sebab-akibat antara sekolah dan masa sekolah dengan risiko demam skarlet pada tingkat individu. Kalimat itu juga aslinya berbahasa Inggris.

Keterbatasan lain juga diakui sendiri. Data surveilans yang dipakai bersifat pasif, sehingga rawan bias karena kasus ringan yang tidak berobat tidak pernah tercatat. Penelitian ini juga tidak punya data jumlah anak per kelompok usia, sehingga jumlah kasus saat libur terpaksa dipakai sebagai perkiraan ukuran kelompok, bukan angka pasti.

Sebagian besar diagnosis dalam data ini, 97,0 persen, ditegakkan secara klinis tanpa konfirmasi laboratorium. Hanya 2,5 persen kasus dikonfirmasi lewat pemeriksaan laboratorium, dan 0,5 persen sisanya berstatus probable. Peneliti mengakui perilaku mencari pengobatan, kriteria diagnosis, dan praktik pelaporan bisa berubah dari tahun ke tahun, sesuatu yang tidak sepenuhnya terkontrol dalam rentang 15 tahun pengamatan.

Risiko relatif, pada akhirnya, hanya bercerita tentang perbandingan antara dua kelompok yang sudah ditentukan lebih dulu. Angka itu tidak salah, tetapi maknanya bergantung penuh pada kelompok mana yang dijadikan pembanding, dan siapa yang membaca angkanya tanpa menanyakan pembanding itu.

Tag:
Bagikan

Baca Juga

Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama
Inkontinensia Urine di Bangkok: Paling Terganggu, Paling Tak Tahu
Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh