- Di antara pekerja yang jadwalnya tak menentu, kira-kira satu dari enam mengalami gejala insomnia.
- Kerja gilir pun dua kali lebih lazim, 18,5 persen berbanding 9,3 persen.
- Tanpa mereka yang bekerja di atas 52 jam seminggu, angkanya 2,34.
- Semua jawaban diambil pada satu waktu, sehingga urutan kejadian tidak terlihat.
Daftar Isi
Yun-Jung Yang menghitung ulang jawaban 20.534 pekerja upahan Korea Selatan dengan satu pertanyaan di kepalanya: apakah orang yang tidak pernah tahu pasti kapan harus masuk kerja juga lebih sulit tidur? Jawaban yang ia dapat ringkas. Di antara pekerja yang jadwalnya tak menentu, kira-kira satu dari enam mengalami gejala insomnia. Di antara pekerja lain, angkanya hanya sekitar satu dari empat belas.
Yang menuliskan temuan itu bersama Jihye Lee dan Chandu Kim dalam Association between unpredictable work schedules and insomnia symptoms among wage workers in South Korea: the sixth Korean Working Conditions Survey, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Lee dan Kim bekerja di Occupational Safety and Health Research Institute di Ulsan, lembaga yang menyelenggarakan survei tersebut. Yang sendiri berasal dari Catholic Kwandong University International St. Mary’s Hospital di Incheon.
Pembagian kerja mereka tercatat di ujung naskah. Yang merancang gagasan, mengerjakan analisis, dan mengawasi seluruh pekerjaan. Lee memeriksa kesahihan hasil, menyediakan bahan, dan mengurus jalannya proyek, sedangkan Kim ikut menelusuri datanya. Ketiganya lalu menulis naskah bersama-sama. Dari meja mereka, sebuah keluhan yang akrab bagi banyak buruh memperoleh angka.
Yang memilah buruh menurut kepastian jadwalnya
Langkah pertama Yang adalah menentukan siapa yang pantas disebut berjadwal tak menentu. Ia, Lee, dan Kim memakai tiga ciri: sering dipanggil kembali bekerja secara mendadak, diberi tahu soal perubahan jadwal dalam waktu singkat, dan nyaris tidak punya suara atas jam kerjanya sendiri. Seorang pekerja masuk kelompok ini bila setidaknya satu ciri melekat padanya.
Rinciannya dituliskan Lee dan kedua rekannya dengan terang. Panggilan mendadak dihitung bila terjadi setiap hari, beberapa kali seminggu, atau beberapa kali sebulan. Pemberitahuan dianggap singkat bila datang pada hari yang sama, sehari sebelumnya, atau beberapa hari sebelumnya. Adapun kendali disebut rendah bila jam kerja sepenuhnya ditentukan perusahaan atau terkunci pada giliran tetap.
Hasil pemilahan Yang menunjukkan kelompok itu kecil. Dari 20.534 pekerja berusia 20 sampai 64 tahun, hanya 975 orang atau 4,75 persen yang tergolong berjadwal tak menentu, kurang dari satu di antara dua puluh. Sebanyak 19.559 lainnya tidak. Panggilan mendadak dilaporkan 3,11 persen pekerja, pemberitahuan singkat 1,97 persen, dan kendali jadwal yang rendah 4,37 persen.
Angka 4,75 persen itu, menurut Kim, Lee, dan Yang, lebih rendah daripada yang dilaporkan penelitian-penelitian sebelumnya. Mereka menduga selisihnya lahir dari perbedaan cara mendefinisikan jadwal tak menentu, perbedaan kelompok orang yang diteliti, dan perbedaan kebiasaan mengatur jadwal di tiap tempat. Ketiganya juga mencatat bahwa belum ada penggolongan baku yang disepakati para peneliti.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Siapa saja 975 orang dalam catatan Lee
Lee, Kim, dan Yang kemudian menyandingkan kedua kelompok. Pekerja berjadwal tak menentu lebih banyak laki-laki, 55,5 persen berbanding 49,4 persen. Mereka sedikit lebih sering tinggal sendirian, 23,0 persen berbanding 20,3 persen. Lebih dari sepertiganya, 37,6 persen, menilai kesehatannya sendiri sedang atau buruk, sedangkan pada kelompok lain hanya 24,8 persen yang menilai begitu.
Di tempat kerja, perbedaan yang dicatat Yang dan kedua rekannya lebih tajam lagi. Pekerja berjadwal tak menentu lebih sering bekerja di atas 52 jam seminggu, 11,4 persen berbanding 6,3 persen. Mereka lebih banyak berada di perusahaan kecil dengan karyawan kurang dari 50 orang, 69,0 persen berbanding 64,2 persen. Kerja gilir pun dua kali lebih lazim, 18,5 persen berbanding 9,3 persen.
Suasana batin mereka ikut tergambar dalam tabel Lee. Seperempat pekerja berjadwal tak menentu, 25,4 persen, tidak puas dengan pekerjaannya, sementara pada kelompok lain 14,5 persen. Yang merasa kurang didukung rekan kerja 10,4 persen berbanding 7,4 persen. Rasa cemas karena masalah kesehatan dilaporkan 13,5 persen dari mereka, hampir tiga kali angka kelompok lain yang 5,0 persen.
Tidak semua hal berbeda, dan Kim serta kedua rekannya mencatat itu juga. Sebaran usia dan tingkat pendidikan kedua kelompok tidak berselisih secara bermakna, sedangkan sebaran penghasilan hanya sedikit bergeser. Risiko depresi bahkan nyaris kembar: 48,00 persen pada pekerja berjadwal tak menentu dan 47,83 persen pada pekerja lainnya.
Tiga keluhan tidur yang dijumlahkan Yang
Untuk mengenali insomnia, Yang, Lee, dan Kim bersandar pada tiga keluhan yang ditanyakan kepada setiap pekerja: sulit mulai tidur, terbangun berulang kali di tengah tidur, dan bangun dengan badan letih tanpa rasa segar. Makin sering ketiganya dialami selama dua belas bulan terakhir, makin tinggi nilainya. Seorang pekerja dicatat bergejala insomnia bila jumlah nilainya enam atau lebih dari dua belas.
Dengan takaran itu, Lee dan kedua rekannya menemukan 157 dari 975 pekerja berjadwal tak menentu bergejala insomnia, atau 16,10 persen. Pada kelompok lain, 1.418 dari 19.559 orang, atau 7,25 persen. Ketika jawaban ditimbang supaya mewakili seluruh pekerja Korea Selatan, jaraknya malah melebar menjadi 19,85 persen berbanding 6,68 persen.
Yang lalu menguji apakah jarak itu hanya pantulan dari perbedaan lain di antara kedua kelompok. Setelah jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, jam kerja, ukuran perusahaan, kerja gilir, kepuasan kerja, depresi, dan kecemasan ikut diperhitungkan, kaitannya tetap berdiri. Pada hitungan tertimbang, peluang bergejala insomnia bagi pekerja berjadwal tak menentu tercatat 2,30 kali peluang pekerja lain, dalam ukuran yang disebut rasio odds.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Kim dan rekannya mengubah takaran, hasilnya bertahan
Kim, Lee, dan Yang tidak berhenti pada satu takaran. Mereka mencoba empat cara lain untuk menetapkan siapa yang berjadwal tak menentu, dari yang hanya menghitung panggilan mendadak sampai yang paling ketat dan paling longgar. Pada hitungan tertimbang yang sudah disesuaikan penuh, rasio odds itu bergerak dari 1,92 pada takaran longgar sampai 2,74 pada takaran ketat.
Ada dua kecurigaan lain yang ingin disingkirkan Yang. Mungkin saja pekerja gilir atau mereka yang bekerja amat panjang yang sebenarnya membuat angka itu tinggi. Maka kedua golongan tersebut dikeluarkan bergantian dari hitungan. Tanpa pekerja gilir, rasio odds tertimbangnya 2,36. Tanpa mereka yang bekerja di atas 52 jam seminggu, angkanya 2,34.
Dari situ Lee, Kim, dan Yang menyimpulkan bahwa kaitan tersebut tidak semata-mata dijelaskan oleh kerja gilir atau jam kerja panjang. “Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa ketidakpastian jadwal berkaitan dengan gejala insomnia,” tulis ketiganya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kata yang mereka pilih adalah berkaitan, bukan menyebabkan.
Hitungan Yang juga memperlihatkan siapa lagi yang lebih sering sulit tidur. Peluangnya lebih tinggi pada perempuan, pada mereka yang tinggal di pinggiran kota, pada usia 50 sampai 59 tahun, pada pekerja dengan masa kerja lima belas tahun atau lebih, pada yang tidak puas dengan pekerjaannya, dan pada yang cemas. Peluang itu lebih rendah pada pekerja lulusan sekolah menengah atas atau perguruan tinggi.
Arti temuan Lee bagi pekerja di luar hitungan
Bagi Lee, Kim, dan Yang, angka-angka ini mengisi sebuah celah. Kebanyakan penelitian di Korea Selatan, tulis mereka, selama ini menyoroti kerja gilir atau jam kerja panjang, dan sedikit yang langsung menakar ketidakpastian jadwal. Padahal pasar kerja negeri itu juga mereka gambarkan berstruktur hierarkis, dengan keleluasaan pekerja yang rendah untuk mengatur waktunya sendiri.
Keadaan semacam itu, menurut Yang dan kedua rekannya, bisa memperbesar dampak jadwal yang tak pasti karena pekerja kehilangan kesempatan untuk memulihkan diri atau menawar jam kerjanya. Mereka merujuk penelitian lain yang menunjukkan pola tidur-bangun yang tidak teratur dapat mengacaukan irama harian tubuh. Namun jalur itu tidak mereka uji sendiri, dan mereka menyebutnya sebatas kemungkinan.
Kim, Lee, dan Yang juga menengok ke luar Korea. Mereka mengutip penelitian pada pekerja sektor jasa di Amerika Serikat yang mengaitkan jadwal tak stabil dengan mutu tidur yang lebih buruk, serta uji coba di toko-toko ritel yang mendapati kebijakan jadwal stabil memperbaiki tidur dan kesejahteraan pekerja. Dari sana mereka melihat kepastian jadwal sebagai sasaran yang bisa digarap.
Usulan Yang dan kedua rekannya di ujung naskah bernada hati-hati. “Mengurangi ketidakpastian jadwal, memberikan pemberitahuan giliran kerja yang cukup jauh hari, dan memperbesar suara pekerja dalam keputusan penjadwalan mungkin bermanfaat bagi kesehatan tidur,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Tidak ada janji yang lebih besar daripada kata mungkin itu.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Yang belum bisa dijawab Yang, Lee, dan Kim
Yang, Lee, dan Kim menyebut sendiri batas pekerjaan mereka. Semua jawaban diambil pada satu waktu, sehingga urutan kejadian tidak terlihat. “Rancangan potong lintang tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat; karena itu, hubungan sebab-akibat yang terbalik tidak dapat dikesampingkan,” tulis mereka. Bisa saja orang yang sudah sulit tidur lebih mudah terdorong ke pekerjaan berjadwal tak pasti.
Batas lain dicatat Lee dan kedua rekannya satu per satu. Pekerja yang jawabannya tidak lengkap dikeluarkan, sehingga yang tersisa belum tentu serupa dengan yang hilang. Jadwal dan keluhan tidur sama-sama dilaporkan pekerja sendiri. Gaya hidup, tanggungan keluarga, dan kecenderungan seseorang menjadi orang pagi atau orang malam tidak ikut terukur.
Pembaca yang teliti dapat memeriksa beberapa hal kecil dalam naskah Kim, Lee, dan Yang. Ringkasan menyebut usia 20 sampai 64 tahun, sedangkan bagian lain menulis 19 sampai 64 tahun. Pada tabel wilayah tempat tinggal, ketiga baris kolom total berjumlah 20.535, lebih satu dari 20.534. Ucapan terima kasih menyebut penelitian didanai lembaga tempat Lee dan Kim bekerja, tetapi kolom pendanaan diisi tidak berlaku.
Pertanyaan yang dibawa Yang ke dalam jawaban 20.534 pekerja itu akhirnya terjawab separuh. Pekerja yang tidak tahu pasti kapan harus masuk memang lebih sering sulit mulai tidur, terbangun di tengah malam, dan bangun dengan letih. Mana yang datang lebih dulu, jadwal yang berubah-ubah atau tidur yang rusak, belum terlihat. Yang, Lee, dan Kim menitipkannya kepada penelitian yang mengikuti pekerja dari waktu ke waktu.















