Pada Kamis pekan lalu, hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz. Sehari sebelumnya masih ada tujuh belas.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan pada Sabtu bahwa Selat Hormuz ditutup dan kapal yang hendak melintas harus berkoordinasi lebih dulu dengan Iran.
Ia menyebut penerapan jalur pelayaran sementara bersama Oman bergantung pada Amerika Serikat memenuhi komitmen dalam nota kesepahaman Juni, yang masa berlakunya sudah habis.
Enam Ribu Pelaut yang Menunggu
Organisasi Maritim Internasional mencatat sekitar 400 kapal dengan sekitar 6.000 awak masih terjebak di kawasan Teluk. Perdana Menteri Qatar berkunjung ke Teheran pada Kamis untuk membahas peredaan ketegangan dan pemulihan lalu lintas pelayaran.
Baca juga Utusan AS Sebut Serangan Israel di Suriah Pancing Turki
Tekanan itu terasa di dalam negeri Iran. Inflasi menembus 66 persen, sementara impor dan ekspor turun hampir 35 persen.
Pesan Pertama Sejak Februari
Pada Minggu (30/08/2026), Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Ia meminta para pemimpin negara Islam bersatu.
Baca juga Nota Kesepahaman Habis, Iran Beralih ke Posisi Militer Ofensif
“Kenali musuh sesungguhnya, pahami rencananya, dan hadapi rencana itu,” katanya, tanpa menyebut negara mana yang ia maksud.
Baca juga Serangan AS ke Kapal Narkoba di Pasifik Timur, 2 Tewas
Pesan itu menjadi salah satu penampilan publiknya yang jarang sejak 28 Februari 2026, ketika serangan Amerika Serikat dan Israel menewaskan ayahnya sekaligus pendahulunya, Ayatollah Ali Khamenei.














