Cekricek.id — Nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang diteken Juni lalu berakhir tanpa kesepakatan final. Iran menyatakan bergeser ke posisi militer yang sepenuhnya ofensif, sementara Presiden Donald Trump mengancam akan mengebom Oman.
Mengutip Euronews, Senin (17/8/2026), nota kesepahaman itu memberi kedua negara waktu 60 hari untuk merampungkan kesepakatan akhir. Tenggat tersebut lewat pada Senin tanpa hasil. Dalam dokumen itu Iran wajib membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan menegaskan tidak akan mengadakan atau mengembangkan senjata nuklir, sedangkan Amerika Serikat wajib mencabut blokade angkatan lautnya serta menghapus sanksi.
Baca juga: Inggris Larang Barbeku Sekali Pakai dan Kerahkan Militer
ABC News Australia melaporkan pada Selasa (18/8/2026) bahwa seorang pejabat senior Iran menyebut entitas-entitas Iran harus bersiap meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan yang lebih luas. Teheran, menurut pejabat itu, siap mengambil keputusan dan tindakan yang sulit.
Teheran Klaim Kedaulatan atas Selat Hormuz
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, menegaskan klaim negaranya lewat unggahan di platform X. “The Strait of Hormuz has been Iranian, is Iranian, and will remain Iranian,” kata Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional. Pernyataan itu berarti Selat Hormuz selama ini milik Iran, tetap milik Iran, dan akan selalu milik Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan pembicaraan antara Iran dan Oman masih berjalan. Menurut dia, kedua negara telah mencapai satu pemahaman mengenai rute pelayaran di selat tersebut. Baghaei menyebut persoalan keamanan di Selat Hormuz sebagai isu yang sangat rumit dan dipaksakan kepada Iran, kawasan, serta dunia.
Ancaman Trump terhadap Oman
Trump melontarkan ancaman terhadap Oman dalam wawancara dengan Fox News pada Senin. Ia menyatakan akan mengebom negara Teluk itu bila Oman menghalangi pembicaraan Amerika Serikat dengan Iran soal Selat Hormuz. Trump menggunakan kata-kata kasar saat menyampaikan ancaman tersebut.
Baca juga: Anthony Fauci Terancam Penjara jika Terbukti Menghina Kongres Amerika Serikat
Lewat unggahan di Truth Social, Trump menegaskan posisinya atas jalur pelayaran itu. “The U.S.A. has total control over the Strait of Hormuz. I THINK WE WILL KEEP IT,” tulis Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Ia mengklaim Amerika Serikat menguasai penuh Selat Hormuz dan menyatakan akan mempertahankannya.
Dalam unggahan lain, Trump menyebut tujuan utamanya tidak berubah, yakni memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun. Pernyataan itu ia sampaikan seiring berakhirnya masa berlaku nota kesepahaman.
Seperempat Perdagangan Minyak Laut Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang biasanya mengangkut sekitar seperempat perdagangan minyak dunia lewat laut. Perbedaan tafsir atas isi nota kesepahaman mengenai siapa yang mengendalikan selat itu menjadi inti sengketa yang membuat kesepakatan akhir gagal tercapai.
Iran dan Oman masih menegosiasikan pengaturan keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Belum ada tanggapan resmi dari Muskat atas ancaman Trump yang dilontarkan lewat wawancara televisi itu.
Baca juga: Trump Ingin Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS, Ini Kata Pakar
Nota kesepahaman Juni lalu lahir setelah rangkaian konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran. Dokumen tersebut mengikat kedua pihak pada sejumlah kewajiban berimbang, mulai dari pembukaan kembali jalur pelayaran sampai pencabutan blokade angkatan laut dan sanksi, dengan tenggat 60 hari untuk merumuskan kesepakatan permanen.
Tenggat itu kini terlampaui tanpa dokumen pengganti. Iran menyatakan posisinya berubah dari bertahan menjadi ofensif, sedangkan Washington bertahan pada klaim kendali atas Selat Hormuz. Kedua tafsir yang bertolak belakang itulah yang membuat perundingan menemui jalan buntu.
















