Pa’a Loka, Cara Orang Lio di Ende Meminta Mata Air Tak Kering

A A

Ilustrasi atap ijuk menjulang rumah adat di Koanara dekat Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende [Foto: Dedisdoger/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Pa'a loka adalah ritus orang Lio di Ende yang meletakkan lima bahan sesaji di mata air.
  • Ritus digelar saat kampung atau desa dimekarkan dan ketika pasokan air perlu ditambah.
  • Tokoh adat, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan hadir sebagai tiga batu tungku.
  • Empat ungkapan Lio menyebut air menumbuhkan bibit, menyuburkan tanaman, menyembuhkan, dan membersihkan.
  • Naskah tidak menyebut kampung, waktu, maupun nama warga yang diwawancarai.
Daftar Isi
  1. Pa’a loka, memberi sesaji di mata air
  2. Mosalaki, lelaki yang berpadu dengan tanah
  3. Nelu dan lika mboko telu, waktu dan tiga batu tungku
  4. Ae, air yang menumbuhkan dan menyembuhkan
  5. Nara bebo, lupa pada leluhur dan alam
  6. Kesadaran ekologis, menjaga hubungan agar air tetap ada

Pa’a loka, dalam bahasa orang Lio di Kabupaten Ende, Flores, berarti memberi sesajian di mata air, kira-kira seperti meminta izin kepada tuan rumah sebelum mengambil sesuatu dari halamannya. Yang dibawa bukan barang mewah. Sirih pinang, kapur, tuak, tembakau, dan beras putih diletakkan di tempat air keluar dari tanah, lalu seorang tetua adat berdoa.

Ritus itu dicatat Josef Kusi dan Helena Mau dalam Pesan Kesadaran Ekologis dalam Ritus Pa’a Loka Sumber Air dalam Masyarakat Adat Lio Kabupaten Ende Flores, yang terbit di Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora volume 9 nomor 3 tahun 2025. Keduanya berasal dari Pendidikan Sejarah Universitas Flores. Mereka menulis karena ritus ini, menurut mereka, jarang dilakukan sehingga generasi sekarang tidak lagi mengetahui prosesnya.

Nama lain ritus ini adalah pati ka embu mamo, yang oleh kedua penulis disandingkan dengan pa’a loka sebagai sebutan untuk pemberian sesajian yang sama. Ia tidak digelar setiap tahun. Naskah itu menyebut tiga keadaan pemicunya, yaitu pemekaran kampung atau nua ola, pemekaran wilayah desa, dan kebutuhan pasokan air yang lebih banyak ketika ada bantuan dana dari pemerintah.

Pa’a loka, memberi sesaji di mata air

Maksudnya begini. Sebuah kampung bertambah besar, air yang ada tidak cukup, lalu pipa hendak ditarik dari mata air ke rumah-rumah. Sebelum pekerjaan itu berjalan, orang Lio datang ke mata air membawa sesaji. Pa’a loka, dengan begitu, bukan pesta panen dan bukan upacara tolak bala, melainkan ritus yang melekat pada urusan air bersih.

Rombongan tidak langsung berdoa. Setiba di lokasi, mereka lebih dulu membersihkan mata air dan membuat saluran supaya air mengalir pada satu tempat. Baru sesudah itu ritus dipimpin oleh mosalaki pendoa, yakni tetua adat yang bertugas memanjatkan doa. Ia menaruh kelima bahan sesaji tadi, kemudian menyampaikan permohonan.

Isi doanya terdengar sangat praktis. Ada ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan para leluhur. Ada permintaan agar mata air dijaga dan tidak mengalami kekeringan pada musim kemarau. Ada pula permohonan perlindungan selama pemasangan pipa, termasuk bagi orang-orang yang mengerjakannya, supaya air mengalir lancar dari bak penampung, bak pelepas tekanan, sampai bak induk di kampung dan rumah warga.

Baca juga Arat Sabulungan Bentuk Etika Ekologis Masyarakat Mentawai

Mosalaki, lelaki yang berpadu dengan tanah

Orang yang memimpin ritus itu disebut mosalaki, kata yang oleh Kusi dan Mau diurai menjadi mosa yang berarti jantan dan laki yang berarti berpadu dengan tanah. Mosalaki, tulis mereka, adalah penguasa atau laki-laki yang menguasai tanah di daerah tertentu. Pemimpin adat di kalangan orang Lio memang ditentukan oleh tanah yang dimiliki.

Bedanya dengan kepala desa begini. Mosalaki mengatur upacara adat sejak musim membuka lahan baru, menanam, hingga panen. Naskah itu menyebut masyarakat adat suku Lio dipimpin empat mosalaki, yang diterjemahkan sebagai kepala suku, dan tujuh kopokasa atau wakil kepala suku. Masing-masing memegang tugas yang diamanatkan turun-temurun.

Tugas itu terbagi rapi. Mosalaki pu’u menjadi pemimpin umum dan pelaksana upacara adat. Mosalaki ria bewa menjabat hukum adat sekaligus panglima perang, dengan pesan bahwa yang besar tidak menindas dan yang berkuasa tidak semena-mena. Mosalaki tukesani membantu mosalaki pu’u dan mengurus setiap marga atau embu. Ada lagi penjaga batas wilayah tanah persekutuan adat.

Kedua penulis mengakui wibawa lapisan atas ini menunjukkan gejala menurun, tetapi legitimasinya masih kuat. Mosalaki tetap hadir dalam ritual perladangan, penyelesaian sengketa tanah, dan peletakan batu pertama rumah adat maupun bangunan publik. Di tengah munculnya pengusaha, pedagang, guru, dan pegawai desa, kedudukan itu masih diakui dan dibutuhkan masyarakat setempat.

Nelu dan lika mboko telu, waktu dan tiga batu tungku

Sebelum sesaji dibawa, ada dua istilah yang harus beres. Yang pertama nelu, yaitu waktu pelaksanaan. Waktu itu tidak ditentukan seorang diri, melainkan disepakati lewat musyawarah di rumah adat. Kusi dan Mau mencatat bahwa secara umum setiap ritual dalam siklus pertanian orang Lio selalu diawali dengan penentuan waktu semacam ini.

Yang kedua lika mboko telu, arti harfiahnya tiga batu tungku. Sebuah tungku berdiri karena tiga batu menopangnya bersama. Dalam pa’a loka, tiga batu itu adalah tokoh adat atau mosalaki, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan. Ketiganya diundang hadir, dan kehadiran itu oleh penulis dibaca sebagai wujud kerja sama antarlembaga di desa.

Tiga tahap pa'a loka di mata airTiga tahap pa'a loka di mata airTiga tahap pa'a loka di mata airUrutan ritus menurut catatan dua peneliti Universitas FloresPersiapanMusyawarah,sepakati waktuPelaksanaanSesaji dan doa dimata airAkhirMakan bersamadi rumah adatAirDimohon tidakkering
Sumber: Josef Kusi dan Helena Mau, Pesan Kesadaran Ekologis dalam Ritus Pa’a Loka Sumber Air dalam Masyarakat Adat Lio Kabupaten Ende Flores, Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora, 9(3), 2025. Grafik: Cekricek.id

Urutan lengkapnya terdiri atas tiga tahap. Persiapan berisi musyawarah dan undangan tadi. Pelaksanaan dibuka dengan wejangan singkat mosalaki tentang tata cara, dan perwakilan lembaga diberi kesempatan berbicara sebagai bentuk penghormatan, sebelum semua berjalan bersama menuju mata air. Tahap akhir berlangsung di kampung, bukan lagi di sumber air.

Selesai berdoa, rombongan kembali ke sa’o ria, rumah besar yang juga disebut rumah adat atau rumah leluhur. Di sana ritus ditutup dengan makan bersama antara tamu undangan dan keluarga besar. Makan bersama itu menjadi tanda terima kasih kepada Tuhan dan leluhur karena acara berjalan sesuai rencana, sekaligus kepada para tamu yang sudah datang.

Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili

Ae, air yang menumbuhkan dan menyembuhkan

Kata Lio untuk air adalah ae. Dari ritus di mata air itu, tulis kedua peneliti, muncul filosofi air yang terus menggema hingga kini. Filosofi itu tidak berbentuk uraian panjang, melainkan empat ungkapan pendek yang masing-masing dibuka dengan kata yang sama dan menyebut satu hal yang dikerjakan air bagi manusia.

Ungkapan pertama, ae tau tedo tembu wesa wela, berarti air membuat semua bibit yang ditanam maupun disiram tumbuh subur. Ungkapan kedua, ae tau keta tobo ngga lo, menyebut tanaman budidaya yang tumbuh sehat, batang pohonnya besar, dan daunnya rimbun. Keduanya berbicara tentang ladang, tempat sebagian besar orang Lio menggantungkan hidup sebagai petani-peladang.

Empat ungkapan orang Lio tentang airEmpat ungkapan orang Lio tentang airEmpat ungkapan orang Lio tentang airAe berarti air; terjemahan mengikuti naskahYang disentuh airHasilnyaBibitTumbuh suburAe tau tedo tembuwesa welaTanamanDaun rimbunAe tau keta tobongga loYang sakitSembuhAe tau ro ji'e bajakekuBadanBersihAe tau dhika weki,iju ndimbu
Sumber: Josef Kusi dan Helena Mau, Pesan Kesadaran Ekologis dalam Ritus Pa’a Loka Sumber Air dalam Masyarakat Adat Lio Kabupaten Ende Flores, Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora, 9(3), 2025. Grafik: Cekricek.id

Dua ungkapan berikutnya berpindah dari ladang ke tubuh. Ae tau ro ji’e baja keku berarti air membuat yang sakit sembuh dan yang memar tidak merasa sakit. Adapun ae tau dhika weki, iju ndimbu berarti air membuat badan bersih dan wajah berseri. Empat kalimat itu, dengan demikian, merangkum bibit, tanaman, kesembuhan, dan kebersihan.

Nara bebo, lupa pada leluhur dan alam

Mengapa air harus diminta dengan sesaji? Jawabannya ada pada istilah nara bebo, bagian dari ungkapan Lio yang oleh penulis diterjemahkan sebagai lupa dengan para leluhur dan alam lingkungan. Bencana alam, wabah penyakit, juga panas berkepanjangan yang membuat orang kekurangan air dimaknai sebagai tanda kemahakuasaan wujud tertinggi, Du’a Ngga’e, sekaligus sebagai kutukan.

Kekeringan, dalam cara pandang itu, bukan sekadar soal musim. Ia dibaca sebagai bukti bahwa hubungan dengan leluhur, dengan alam semesta, dan dengan Du’a Ngga’e sedang tidak serasi. Orang Lio, menurut naskah itu, percaya ada kehidupan setelah kematian, dan jarak antara yang rohani dan yang ragawi dianggap relatif tipis.

Keyakinan itu punya alamat. Arwah manusia yang telah meninggal, yang disebut ana mae atau mae, dipercaya menempati kawasan danau tiga warna Kelimutu sebagai tujuan akhir. Kedua penulis mengurai nama itu dari keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti berkumpul. Kelimutu, jadinya, adalah kawasan para arwah, termasuk arwah leluhur.

Di sinilah satu salah paham perlu diluruskan. Sesaji di mata air mudah dikira sekadar persembahan kepada air. Kusi dan Mau menulisnya lain. “Melalui ritus masyarakat adat Lio – Ende memohon restu leluhur dan alam menjaga dan memberikan kelimpahan air,” tulis mereka dalam naskahnya. Yang dituju adalah leluhur dan alam, sedangkan air adalah hasil dari hubungan yang terjaga.

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Kesadaran ekologis, menjaga hubungan agar air tetap ada

Istilah terakhir datang dari judul naskah itu sendiri. Kesadaran ekologis, dalam rumusan kedua penulis, adalah tetap melakukan tradisi sebagai upaya menjaga keseimbangan hubungan yang harmonis antara lingkungan alam dengan manusia, dan manusia dengan penciptanya. Pandangan antropologisnya sejalan, yakni melangsungkan hubungan antara para leluhur dan generasi yang masih hidup agar tetap lestari.

Abstrak naskah menambahkan pesan yang lebih konkret untuk generasi muda. Ritual adat terus dijalankan, hutan dijaga, dan penebangan liar dihindari supaya debit air tetap stabil. Tujuan ritus, menurut bagian hasil, adalah agar masyarakat tidak lupa pada tradisi dan sebagai bentuk sosialisasi kepada generasi milenial. Ritual-ritual Lio sendiri disebut mulai ditinggalkan setelah masuknya agama Katolik dan Islam.

Batas istilah itu perlu dicatat. Naskah ini tidak menyebut kampung atau mata air tempat ritus diamati, tidak menyebut waktunya, dan tidak menampilkan nama mosalaki atau warga yang diwawancarai. Pembaca karena itu memperoleh gambaran umum tentang pa’a loka di wilayah Lio, bukan catatan tentang satu peristiwa. Seberapa jarang ritus itu digelar juga tidak diberi angka.

Beberapa hal lain di dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Pesan tentang penebangan liar dan debit air hanya muncul di abstrak dan tidak diuraikan lagi di bagian hasil. Jumlah mosalaki disebut empat, lalu pada bagian lain disebut tiga sebelum nama keempat ditambahkan. Etnik kecil di Kabupaten Ende ditulis Nage di satu tempat dan Nga’o di tempat lain.

Dengan batas-batas itu, kesadaran ekologis dalam pa’a loka tidak berarti aturan tertulis tentang hutan atau angka debit air. Artinya lebih sempit dan lebih tua. Sirih pinang, kapur, tuak, tembakau, dan beras putih diletakkan di mata air supaya orang Lio tidak nara bebo, tidak lupa kepada leluhur dan alam yang mereka mintai air.

Bagikan

Baca Juga

Suku Tidung Hidup dari 60 Tumbuhan, Kayu Ulin Kian Sulit Dicari
Rumah Bantuan di Matotonan Mentawai Langsung Ditambahi Dapur
Petani Samin di Blora Mengusir Tikus lewat Ritual Adat Lamporan
Bahasa Wemale di Seram Dicap Kuno, Orang Tua Enggan Mewariskannya
Kenduri Sko, Pesta Adat Kerinci yang Ditutup Tarian Tengah Malam
Bahasa Enggano Mulai Tergeser di Rumah dan Upacara Adat