Suku Tidung Hidup dari 60 Tumbuhan, Kayu Ulin Kian Sulit Dicari

A A

Ilustrasi Baloi Adat, rumah adat suku Tidung beratap merah, di Sesayap Hilir, Tana Tidung, Kalimantan Utara [Foto: Ezagren/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Suku Tidung memakai 60 spesies tumbuhan untuk lima kebutuhan hidup sehari-hari.
  • Pangan menempati urutan teratas dengan 28 spesies, disusul obat tradisional dengan 24 spesies.
  • Kini kayu ulin terancam dan mahal sehingga orang Tidung beralih ke kayu lain seperti bengkirai.
  • Suku Tidung punya beberapa jenis pakaian adat, tetapi para penulis tidak menemukan pakaian yang langsung dibuat dari tumbuhan sekitar.
Daftar Isi
  1. Lesmana 2018 dan Listiani 2019: catatan yang berhenti di Tarakan
  2. Suciyati 2021: enam puluh tumbuhan untuk lima kebutuhan
  3. Danciu 2015 dan rimpang yang dipakai dua kali
  4. Sofyan 2017 dan Suswita 2013: perahu sesaji Iraw Tengkayu
  5. Ashton 1998: kayu rumah yang makin langka
  6. Rahayu 2013 dan 2020: pakaian yang tak lagi dari serat hutan
  7. Pieroni 2001: tiga angka yang perlu dibaca hati-hati

Indonesia dihuni sedikitnya 633 kelompok etnis yang terdiri atas 1.331 suku, dan tiap suku memandang tumbuhan di sekitarnya dengan cara sendiri. Sebagian cara pandang itu sudah dicatat para peneliti. Sebagian lain belum, termasuk milik Suku Tidung, salah satu penduduk asli Kalimantan Utara, yang membagi kebutuhan hidupnya ke dalam lima kata: ngakan, baloy, sihat, adat, dan memana.

Lima kata itu menjadi kerangka kerja Alfi Suciyati, I Gusti Putu Suryadarma, Paidi, dan Fadhlan Muchlas Abrori dalam Ethnobotanical study based on the five dimensions of basic life needs in Tidung Tribe of North Kalimantan, Indonesia, yang terbit di Biodiversitas volume 22 nomor 6 tahun 2021. Para penulisnya bernaung di Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Borneo Tarakan. Mereka mendatangi Kabupaten Tana Tidung, wilayah yang dilintasi tiga sungai besar, yakni Kayan, Bandan, dan Sesayap.

Lesmana 2018 dan Listiani 2019: catatan yang berhenti di Tarakan

Sebelum naskah ini terbit, pengetahuan tumbuhan Suku Tidung baru dicatat di tiga tempat: Tarakan, Sembakung, dan Bulungan. Kajian Lesmana dan rekan pada 2018 serta Listiani dan Abrori pada 2019 menyoroti pemakaian rempah dan bumbu, juga tumbuhan obat untuk upacara adat. Suciyati dan rekan menyebut hasil riset semacam itu masih jarang dan pustakanya sulit dicari.

Celah yang mereka lihat ada pada wilayahnya. Tana Tidung, salah satu daerah dengan komunitas Tidung terbesar, belum pernah disentuh kajian serupa. Karena itu para penulis mengumpulkan keterangan dari 65 orang dalam 22 keluarga di sana, mulai dari tokoh adat, pengobat tradisional, nelayan, tukang kayu, hingga petani, sepanjang Desember 2019 sampai Oktober 2020.

Cakupannya pun diperlebar. Bila riset terdahulu berkutat pada bumbu, obat, dan upacara, naskah ini memasukkan pula rumah dan pakaian. Dengan begitu, seluruh hidup sehari-hari orang Tidung terbaca dalam satu daftar: apa yang dimakan, apa yang dijadikan tiang, apa yang diminum ketika sakit, apa yang dibawa ke laut saat upacara, dan apa yang dianyam menjadi penutup kepala.

Suciyati 2021: enam puluh tumbuhan untuk lima kebutuhan

Hasilnya berupa daftar 60 spesies dari 32 famili. Suku Tidung memakai 60 spesies tumbuhan untuk lima kebutuhan hidup sehari-hari. Lebih dari separuhnya, yakni 33 spesies, punya lebih dari satu kegunaan. Menurut naskah, cara hidup itu dijalankan agar sumber alam terpakai sebaik-baiknya, sehingga tiap bagian tumbuhan dibuat seberguna mungkin.

Pangan menempati urutan teratas dengan 28 spesies, disusul obat tradisional dengan 24 spesies. Upacara adat memakai 23 spesies dan bangunan 21 spesies. Sandang jauh tertinggal, hanya lima spesies. Dari angka kedua itu para penulis menarik satu kesimpulan sederhana: Suku Tidung masih menjalankan pengobatan herbal tradisional.

Lima kebutuhan hidup, 60 tumbuhanPangan (ngakan): Jumlah spesies +28; Obat (sihat): Jumlah spesies +24; Upacara (adat): Jumlah spesies +23; Bangunan (baloy): Jumlah spesies +21; Sandang (memana): Jumlah spesies +5.Lima kebutuhan hidup, 60 tumbuhanJumlah spesies yang dipakai Suku Tidung per kebutuhan1020300Pangan (ngakan)28Obat (sihat)24Upacara (adat)23Bangunan (baloy)21Sandang (memana)5Sebanyak 33 dari 60 spesies punya lebih dari satu kegunaan, sehinggajumlahnya melebihi 60.
Sumber: Alfi Suciyati, I Gusti Putu Suryadarma, Paidi, dan Fadhlan Muchlas Abrori, Ethnobotanical study based on the five dimensions of basic life needs in Tidung Tribe of North Kalimantan, Indonesia, Biodiversitas, 22(6), 2021. Grafik: Cekricek.id

Kelapa, yang oleh orang Tidung disebut piasaw, memperlihatkan bagaimana satu tumbuhan menjawab empat kebutuhan sekaligus. Buahnya menjadi bahan minuman, penawar keracunan, dan sesaji, sedangkan batangnya dipakai untuk bangunan. Pinang serupa: buahnya untuk obat jamur kulit dan sesaji, batangnya yang lebih lunak tetap dijadikan bahan bangunan. Durian lia memberi buah untuk dimakan, kayu untuk rumah, dan akar untuk obat demam.

Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

Danciu 2015 dan rimpang yang dipakai dua kali

Di dapur, bumbu dasar hampir semua masakan Tidung adalah bawang merah dan bawang putih. Jahe, kunyit, dan jeruk nipis kerap dipakai untuk mengurangi amis, terutama pada hidangan laut. Lengkuas, daun salam, ketumbar, dan kencur ditambahkan untuk memperkaya rasa. Singkong, yang disebut sabai, tercatat sebagai makanan pokok, sementara pakis sayur dimakan pucuk mudanya.

Bahan yang sama lalu berpindah dari kuali ke ramuan. Bawang lia, sebutan untuk bawang merah, dipakai sebagai obat diabetes, dan bawang pulak atau bawang putih untuk kutil. Laus alias lengkuas diramu untuk asma, ketumbar untuk sakit perut, pandan untuk pusing. Sagu dipakai untuk meredakan perut kembung, sedangkan beras ditumbuk menjadi bedak antijerawat. Sebagian besar tumbuhan pangan, tulis naskah itu, juga dipakai sebagai obat.

Keluarga jahe-jahean paling sering muncul di kedua daftar itu. Layo atau jahe dipakai sebagai bumbu, penghangat badan, dan obat demam, sementara banglai diramu untuk menambah stamina. Para penulis menyandingkan kebiasaan ini dengan kajian Danciu dan rekan pada 2015, yang menemukan kadar polifenol dan aktivitas antioksidan tinggi pada jahe-jahean yang diuji. Mereka juga mencatat bahwa selama pandemi Covid-19 jahe makin banyak diminum masyarakat Indonesia sebagai penguat daya tahan.

Namun, naskah ini berhenti pada pencatatan. Khasiat ramuan tidak diuji, dan para penulis sendiri menyebut penelitian atas khasiat tumbuhan obat Tidung sebagai kelanjutan yang menarik dari hasil mereka. Daftar itu, menurut mereka, bisa menjadi keterangan awal bagi pengobatan modern yang berangkat dari pengetahuan masyarakat adat, sekaligus membantu pelestarian keanekaragaman tumbuhan.

Sofyan 2017 dan Suswita 2013: perahu sesaji Iraw Tengkayu

Dari dapur, daftar itu bergerak ke laut. Salah satu upacara Suku Tidung adalah Iraw Tengkayu, ketika makanan dan benda khas Tidung ditata sebagai sesaji lalu dibawa ke laut dengan perahu berhias. Mengutip Sofyan pada 2017, naskah menyebut upacara ini melambangkan rasa syukur masyarakat Tidung kepada Tuhan atas berkah yang mereka peroleh dari laut.

Sesajinya berasal dari makanan sehari-hari: kelapa, sagu, pisang, dan ketan. Hiasannya bunga melati, kantil, kenanga, dan bugenvil, yang dipilih karena warnanya khas, misalnya kuning pada kenanga dan ungu pada bugenvil. Wadahnya paling rumit, sebab berupa perahu. Rangka perahu itu biasanya dari kayu keruing dan jati, sedangkan tiangnya dari bambu.

Pembagian itu cocok dengan rumusan Suswita dan rekan pada 2013, bahwa tumbuhan upacara terbagi tiga: untuk sesaji berupa makanan, untuk hiasan berupa bunga, dan untuk wadah sesaji. Naskah juga menyandingkan Iraw Tengkayu dengan Sedekah Laut di Pekalongan, Jawa Tengah, yang dicatat Wahyudi, serta upacara Mappadensasi yang dicatat Alkausar. Tujuannya hampir sama, tumbuhannya berbeda, tetapi satu spesies selalu hadir, yakni padi.

Baca juga Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan

Ashton 1998: kayu rumah yang makin langka

Sebagian besar rumah orang Tidung di Tana Tidung adalah rumah kayu. Tumbuhan untuk bangunan sedikitnya 21 spesies, dipakai sebagai bahan dasar, fondasi, jendela, dinding, hingga perahu. Batang pun menjadi bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan, 32 persen dari seluruh pemakaian, disusul buah sebesar 21 persen. Sembilan spesies berasal dari satu keluarga kayu, Dipterocarpaceae, yang mencakup berbagai jenis meranti, keruing, kapur, dan bengkirai.

Di sinilah daftar itu memperlihatkan retaknya. Ulin, kayu yang sangat kuat, dulu dipakai sebagai rangka utama atau tiang rumah. Kini kayu ulin terancam dan mahal sehingga orang Tidung beralih ke kayu lain seperti bengkirai. Salah satu rumah yang dipotret para penulis berdinding bengkirai. Padahal bengkirai sendiri tidak melimpah dalam penilaian warga.

Penilaian itu dituangkan dalam angka. Warga diminta menilai seberapa banyak tiap tumbuhan tersedia, dengan nilai tertinggi 4 untuk yang sangat banyak, dan seberapa sering dipakai, dengan nilai tertinggi 5 untuk yang dipakai lebih dari sekali seminggu. Kelapa meraih 4,0 dan 5,0. Ulin hanya 0,5 dan 1,0, artinya langka, terbatas, dan dipakai kira-kira setahun sekali. Tujuh dari sembilan kayu Dipterocarpaceae bernilai ketersediaan 0,5.

Kelapa melimpah, ulin menipisKelapa bernilai 4,0 untuk ketersediaan, 5,0 untuk frekuensi, 3,0 untuk bagian terpakai; ulin 0,5, 1,0, dan 1,0.Kelapa melimpah, ulin menipisNilai indeks menurut penilaian warga Tana TidungKelapaUlin4,00,5Ketersediaan(skala 4)5,01,0Seberapa seringdipakai (skala 5)3,01,0Bagian yangdipakai (skala 3)Angka 5,0 berarti lebih dari sekali seminggu; 1,0 berarti sekalisetahun.
Sumber: Alfi Suciyati, I Gusti Putu Suryadarma, Paidi, dan Fadhlan Muchlas Abrori, Ethnobotanical study based on the five dimensions of basic life needs in Tidung Tribe of North Kalimantan, Indonesia, Biodiversitas, 22(6), 2021. Grafik: Cekricek.id

Naskah lalu menautkan angka warga itu dengan daftar merah yang sudah lama ada. Shorea johorensis, yang oleh orang Tidung disebut merkuyung, dikategorikan kritis menurut penilaian Ashton pada 1998. Ulin berstatus rentan, dan menurut Komara dan rekan serta Gibson dan Rebicca pada 2016, kayu yang termasuk paling keras di Asia Tenggara itu tumbuh sangat lambat. Dua jenis meranti, jurai dan engkabang layar, bahkan bernilai 0,5 untuk pemakaian, angka yang dalam skala naskah berarti tidak pernah dipakai selama 30 tahun terakhir.

Para penulis menulis peringatannya dalam bahasa Inggris. “Berdasarkan indeks ketersediaan yang telah disusun dalam penelitian ini, kita juga perlu mewaspadai spesies yang keberadaannya di alam kian langka,” tulis Suciyati, Suryadarma, Paidi, dan Abrori. Kalimat berikutnya lebih tajam: “Pemanfaatan keanekaragaman hayati mengakar dalam setiap suku di masyarakat Indonesia, tetapi pelestarian keanekaragaman hayati ini kerap sangat kurang.”

Rahayu 2013 dan 2020: pakaian yang tak lagi dari serat hutan

Sandang adalah kebutuhan yang paling sedikit bersandar pada tumbuhan, dan pergeserannya sudah berlangsung lama. Orang Tidung kini memakai bahan jadi untuk pakaian. Tumbuhan hanya tersisa pada topi adat, yang dianyam dari daun nipah dengan rangka bilah bambu. Rami dan pisang yang disebut punti ijou tercatat sebagai bahan kain atau karung, sementara kulit kayu mahoni dipakai sebagai pewarna.

Suku Tidung punya beberapa jenis pakaian adat, tetapi para penulis tidak menemukan pakaian yang langsung dibuat dari tumbuhan sekitar. Di titik ini mereka berbeda dari gambaran yang dicatat Rahayu dan Sihotang pada 2013, yakni sembilan spesies tumbuhan yang dijadikan pakaian oleh suku-suku di Indonesia. Rahayu dan rekan pada 2020 juga melaporkan 22 spesies pewarna dan pengikat warna pada tenun tradisional Pringgasela di Lombok Timur.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Pieroni 2001: tiga angka yang perlu dibaca hati-hati

Alat ukur yang dipakai para penulis merujuk pada instrumen Pieroni dari 2001, dan batasnya perlu diingat. Nilai ketersediaan menggambarkan banyaknya tumbuhan menurut persepsi warga, bukan hasil penghitungan pohon di hutan. Angka 0,5 untuk ulin karena itu berarti warga merasa kayu tersebut sulit didapat. Kesaksian ini datang dari 65 orang di satu kabupaten, sehingga tidak mewakili semua komunitas Tidung.

Ada pula beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Teks menyebut hanya kelapa yang meraih nilai tertinggi 3 untuk bagian terpakai, tetapi tabel indeksnya juga memberi angka 3,0 kepada sembung. Urutan famili terbanyak di teks melompati keluarga palem, padahal tabel yang sama memuat lima spesies palem, setara dengan keluarga rumput-rumputan. Pisang sesaji pun ditulis dengan dua nama ilmiah berbeda di teks dan tabel.

Di antara para pendahulunya, naskah Suciyati dan rekan menambah satu mata rantai: daftar pertama dari Tana Tidung, dan daftar pertama yang menimbang rumah serta pakaian di samping makanan, obat, dan upacara. Lima kata Tidung itu masih terisi semuanya. Hanya saja isinya tidak sama tebal, sebab dapur dipenuhi tumbuhan yang melimpah, sementara tiang rumah bergantung pada kayu yang menurut warganya sendiri makin jarang dijumpai.

Bagikan

Baca Juga

Rumah Bantuan di Matotonan Mentawai Langsung Ditambahi Dapur
Petani Samin di Blora Mengusir Tikus lewat Ritual Adat Lamporan
Bahasa Wemale di Seram Dicap Kuno, Orang Tua Enggan Mewariskannya
Kenduri Sko, Pesta Adat Kerinci yang Ditutup Tarian Tengah Malam
Bahasa Enggano Mulai Tergeser di Rumah dan Upacara Adat
Ruang Hidup Orang Rimba Cukup Terjaga, Pendidikan Masih Rendah