Kenduri Sko, Pesta Adat Kerinci yang Ditutup Tarian Tengah Malam

A A

Sungai Batang Merangin dengan tepian berhutan di dekat Desa Pulau Sangkar, Kerinci [Foto: Danil Satria/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Kenduri sko penobatan depati dan pemandian pusaka digelar sekali lima tahun, kenduri tuai sekali setahun.
  • Upacara dibuka Depati Tago dengan memukul gung, lalu warga memasak dan makan bersama.
  • Tanpa pakaian adat Kerinci yang dikenakan pemangku adat dan istrinya, upacara adat kenduri sko tidak dapat dilaksanakan.
  • Tari Ritual Tauh menutup rangkaian acara dari pukul 12 malam sampai pukul 4 pagi.
Daftar Isi
  1. Desa Tertua di Kerinci dan Pesta Penobatan Sekali Lima Tahun
  2. Sebelum Gung Dipukul, Warga Mencari Kayu, Daun, dan Buah Nangka
  3. Pagi Hari Terakhir, Seorang Depati Baru Mengucapkan Sumpahnya
  4. Kemenyan Dibawa Berkeliling Arena dan Para Penari Mulai Kerasukan
  5. Lima Nilai yang Dibaca Peneliti dari Setiap Tahap Kenduri Sko

Tepat tengah malam, depati memberi perintah. Tari Ritual Tauh harus segera dimulai. Alat musik, pemusik, pelantun, dan kemenyan di dalam wadah sudah siap di arena, sementara warga, pemangku adat, dan perangkat desa telah berkumpul di satu tempat yang ditata rapi. Seorang pemuka adat turun lebih dulu. Lalu semua depati menyusul dan mengajak orang banyak ikut menari.

Itulah malam terakhir kenduri sko di Desa Pulau Sangkar, Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci. Pesta adat ini digelar masyarakat adat Depati Rencong Telang untuk tiga keperluan: menobatkan depati, ninik mamak, dan hulubalang; membersihkan benda pusaka; serta berkenduri sesudah panen. Tarian tengah malam itu penutupnya.

Rangkaian tersebut dicatat Liza Azoni dari program Art and Culture Universitas Negeri Padang bersama Indrayuda. Tulisan mereka berjudul Kenduri Sko Tradition in the Community Adat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar Kerinci Regency, dimuat di Langgam: International Journal of Social Science Education, Art and Culture Volume 1 Nomor 04 tahun 2022. Naskahnya berbahasa Inggris, sehingga kutipan di tulisan ini merupakan terjemahan.

Keduanya mengamati upacara sejak sebelum dimulai sampai selesai. Mereka juga berulang kali mewawancarai tokoh adat, depati ninik mamak, dan warga yang mampu menjelaskan tradisi itu. Yang mereka cari ada tiga: bagaimana kenduri sko dijalankan, apa saja tahapannya, dan nilai apa yang dikandungnya.

Desa Tertua di Kerinci dan Pesta Penobatan Sekali Lima Tahun

Mundur dulu ke kampungnya. Pulau Sangkar, tulis Liza dan Indrayuda, adalah desa tertua di Kabupaten Kerinci dan karena itu dijuluki tanah Pamuncak Tuo. Desa ini pusat wilayah Depati Rencong Telang, yang dalam adat disebut tanah pamuncak nan tigo kaum. Pamuncak Tuo ialah Pulau Sangkar, Pamuncak Tengah ialah Tanjung Kaseri, dan Pamuncak Bungsu ialah Koto Tapus.

Pemerintahan adatnya bernama Tanah Ulayat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar. Pemimpinnya seorang depati bergelar Depati Tago, dan saat penelitian berlangsung gelar itu disandang Rustam SB Rauf. Di bawah kepemimpinannya, menurut kedua peneliti, tatanan dan aturan adat berjalan sebagaimana mestinya dan dipatuhi para pemangku adat serta warga, yang dalam naskah disebut anak jantan anak batino.

Kenduri sko sendiri terbagi dua. Yang pertama untuk menobatkan depati ninik mamak dan memandikan benda pusaka, digelar sekali dalam lima tahun. Yang kedua kenduri sesudah panen, disebut kenduri tuai, digelar sekali setahun. Tradisi ini sudah lama ada dan diwariskan turun-temurun sampai sekarang.

Kenduri sko dalam hitungan waktuKartu ringkas jadwal kenduri sko di Pulau SangkarKenduri sko dalam hitungan waktuJadwal yang dicatat peneliti di Desa Pulau Sangkar5 tahunSekali penobatansekaligus memandikanbenda pusaka1 tahunSekali kenduri tuaikenduri sesudah panen3-7 hariLama upacarabergantung mufakatpemangku adatJalan risetnyaDesa PulauSangkarPengamatanupacaraWawancara tokohadatFoto dan video
Sumber: Liza Azoni dan Indrayuda, Kenduri Sko Tradition in the Community Adat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar Kerinci Regency, Langgam: International Journal of Social Science Education, Art and Culture, 2022. Grafik: Cekricek.id

Tujuannya, menurut Liza dan Indrayuda, pada dasarnya rasa syukur. Warga berterima kasih kepada Allah SWT atas rezeki berupa panen yang melimpah dan memohon kelancaran pada panen berikutnya. Mereka juga menyatakan hormat kepada leluhur yang mewariskan harta, tanah, agama, budaya, dan adat. Lewat kenduri ini pula rasa persaudaraan dan kebersamaan hendak dikuatkan.

Baca juga Parno Adat Perkawinan Kerinci Kekurangan Tukang Parno

Sebelum Gung Dipukul, Warga Mencari Kayu, Daun, dan Buah Nangka

Persiapan dimulai dari rapat. Para pemuka adat dan warga berkumpul membentuk panitia, lalu hari dan tanggal ditetapkan menurut pilihan hari yang dianggap baik. Sesudah itu orang bergotong royong mencari kayu, daun, dan buah nangka. Kayu untuk bahan bakar memasak. Daun untuk pembungkus nasi. Nangka untuk campuran masakan daging.

Dagingnya daging kerbau. Kerbau itu, tulis kedua peneliti, merupakan persembahan sekaligus syarat bagi orang yang akan dinobatkan menjadi depati. Hewan tersebut disembelih warga, dimasak bersama, dan dimakan bersama. Lama upacara bergantung pada mufakat pemangku adat, biasanya tiga sampai tujuh hari, sedangkan rangkaian yang diuraikan naskah berlangsung tiga hari tiga malam.

Dua minggu sebelum kenduri, para pemuda sudah menggelar turnamen bola voli atau sepak bola. Pemainnya undangan dari luar daerah dan dari berbagai desa di Kabupaten Kerinci. Acara seni dan pelengkap semacam ini, menurut catatan Liza, bertujuan mempererat silaturahmi, menghibur warga, dan mencari tambahan dana bagi kenduri.

Tiga sampai empat hari sebelum malam puncak, giliran orgen tunggal di gedung sekretariat adat atau di lapangan. Di sini kue dilelang untuk menggalang dana. Penawar tertinggi menang dan mendapat bonus menari bersama penyanyi. Lalu semua orang, bapak, ibu, pemuda, dan anak-anak, turun ke lapangan menari bersama dalam tarian yang disebut Rantak Kudo.

Ada pula tari-tarian, baik tari tradisi maupun tari kreasi. Penampilnya tidak hanya dari Pulau Sangkar, tetapi juga dari desa tetangga seperti Muak, Pondok, Lolo, dan Lempur. Sebagian dipentaskan siang, sebagian malam. Indrayuda dan Liza menyebut tarian itu selingan agar acara tidak monoton dan membosankan.

Pembukaan resminya satu bunyi. Depati Tago, sebagai raja di ulayat itu, memukul gung atau gong. Bunyi tersebut menandai kenduri sko resmi dibuka dan diizinkan para depati, ninik mamak, serta seisi alam seisi negeri. Sesudah gung berbunyi, warga bergotong royong, memasak bersama, dan makan bersama diiringi hiburan orgen tunggal.

Rangkaian kenduri sko di Pulau SangkarLinimasa rangkaian acara kenduri sko di Desa Pulau Sangkar KerinciRangkaian kenduri sko di Pulau SangkarRangkaian acara menurut catatan Liza Azoni dan Indrayuda2 minggu sebelumTurnamen bola voli atau sepak boladengan pemain undangan3-4 hari sebelumOrgen tunggal, lelang kue, dan taribersama Rantak KudoPembukaanDepati Tago memukul gung, wargamemasak dan makan bersamaHari terakhir, pagiPenobatan depati ninik mamak, sumpah,doa, lalu makan bersamaSelepas zuhurHiburan tari dan silat sampai sorePukul 00.00-04.00Tari Ritual Tauh menutup seluruhrangkaian
Sumber: Liza Azoni dan Indrayuda, Kenduri Sko Tradition in the Community Adat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar Kerinci Regency, Langgam: International Journal of Social Science Education, Art and Culture, 2022. Grafik: Cekricek.id

Pagi Hari Terakhir, Seorang Depati Baru Mengucapkan Sumpahnya

Acara puncak jatuh pada hari terakhir dan dimulai pagi hari dengan upacara adat yang sakral: pelantikan atau penobatan depati ninik mamak. Depati atau ninik mamak yang meninggal atau habis masa jabatannya harus diganti orang yang memenuhi syarat. Syarat pertama garis keturunan, yang disebut luhah atau kalbu.

Syarat kedua watak. Seorang depati, tulis Liza dan Indrayuda, harus berani, tangguh, cakap, tegas, adil, dermawan, jeli, berilmu, dan beradab. Pepatah adat mengibaratkannya dengan ayam jantan. Orang yang memiliki garis keturunan sekaligus watak dan sikap yang baik itulah yang sah menjadi depati dan berhak dinobatkan di hadapan seluruh warga ulayat.

Penobatan dihadiri semua depati, ninik mamak, uhang tuo cerdik pandai, alim ulama, tunggol pamareh, hulubalang, dan seluruh anak jantan anak batino. Para pemangku adat dan istri mereka wajib mengenakan pakaian kebesaran, yaitu pakaian adat Kerinci. Keterangan itu diperoleh peneliti dari wawancara dengan Husnul, seorang penyandang gelar depati, pada 20 November 2021. “Tanpa mengenakan pakaian adat, upacara adat Kenduri Sko tidak dapat dilaksanakan, sebab pakaian adat merupakan bagian atau simbol dari adat itu sendiri,” tulis Liza Azoni dan Indrayuda dalam naskah mereka.

Baca juga Sabilulungan di Kampung Adat Cikondang, Pusaka Dibersihkan

Upacara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, disusul pembacaan parno adat, kata sambutan, dan pengucapan sumpah oleh mereka yang menjadi depati. Bunyi sumpahnya dicatat peneliti: “Kaateh idoak bapucuk, kabawoah idoak bauhet, ditenggah-tenggah digirik kumbang”. Bila seorang depati berbuat buruk dan melanggar sumpah, menurut naskah, sumpah itu akan memakannya dan hidupnya menjadi buruk.

Sesudah upacara sakral selesai, doa dipanjatkan dengan dipimpin pemuka agama. Doa itu, menurut naskah, memohon berkah atas apa yang sudah dijalankan para pemuka adat dan warga. Lalu makan bersama. Para pemangku adat dan tamu undangan dijamu warga dengan nasi berbungkus daun, gulai nangka bercampur daging, dan makanan lain.

Kemenyan Dibawa Berkeliling Arena dan Para Penari Mulai Kerasukan

Selepas salat zuhur acara berlanjut dengan hiburan, antara lain pertunjukan tari dan silat. Hiburan itu hanya sampai sore. Malamnya disediakan untuk puncak acara, Tari Ritual Tauh, tarian leluhur yang menurut kedua peneliti masih dijalankan dan dipentaskan dalam kenduri sko sampai hari ini.

Tari ini sakral dan wajib ditampilkan pada malam puncak. Alasannya dicatat Liza dan Indrayuda: Tari Ritual Tauh menjadi sarana warga menyatakan syukur kepada Allah SWT dan hormat kepada arwah leluhur yang mewariskan seluruh peninggalan kepada anak cucu. Maka tengah malam itu depati memberi perintah, musik dibunyikan, dan nyanyian pengiring dilantunkan.

Para depati tidak lama di arena. Sesudah beberapa waktu mereka keluar, kembali ke tempat duduk, dan hanya menonton orang-orangnya menari bersama. Pada saat itulah petugas pembakar kemenyan mulai bekerja. Ia membakar kemenyan dan membawanya mengelilingi seluruh arena, dengan tujuan agar tarian terasa lebih khidmat dan lebih sakral.

Baca juga Tari Punan Leto Ditarikan di Setiap Upacara Adat Dayak Kenyah

Lalu satu per satu penari dan penonton mulai kerasukan. Menurut uraian naskah, mereka dirasuki arwah leluhur. Orang yang kerasukan menunjukkan beragam tingkah dan ekspresi dengan gerak khasnya sendiri, mengikuti kehendak arwah yang merasukinya, dan sanggup menari berjam-jam tanpa lelah. Tarian berlangsung dari pukul 12 malam sampai pukul 4 pagi.

Yang menyadarkan mereka adalah para pawang, dengan mengucapkan kalimat Allah SWT. Sesudah seluruh upacara usai, warga kembali bergotong royong membersihkan dan merapikan tempat kenduri. Naskah mencatat upacara selesai dengan khidmat dan berhasil, warga merasa senang, lalu kembali ke rutinitas mereka seperti biasa.

Lima Nilai yang Dibaca Peneliti dari Setiap Tahap Kenduri Sko

Seluruh prosesi itu, tulis Liza dan Indrayuda, dijalankan menurut aturan dan hukum adat yang berlaku. Pegangannya adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, syarak mengato adat memakai. Naskah mengartikannya begini: hukum adat berdasar hukum agama, hukum agama berdasar Al-Qur’an. Segala perbuatan mesti mengingat aturan adat dan agama, dan keduanya tidak boleh bertentangan.

Dari situ kedua peneliti menyebut setiap tahap kenduri sko mengandung nilai sakral. Nilai religius tampak pada ungkapan syukur kepada Allah SWT atas hasil panen. Nilai sejarah ditandai penurunan benda pusaka selama prosesi dan penuturan salah seorang depati tentang riwayat berdirinya adat Depati Rencong Telang Pulau Sangkar.

Nilai sosial mereka lihat pada pergaulan antarwarga selama kenduri, yang melahirkan komunikasi, kebersamaan, dan persatuan. Nilai patriotisme tampak pada upaya warga menjaga warisan leluhur dengan terus menggelar kenduri sko demi adat dan budaya desanya. Nilai moral terlihat pada terbentuknya semangat warga yang cinta damai, gotong royong, dan cinta persatuan.

Di bagian simpulan, Liza dan Indrayuda menambahkan satu lagi, yaitu nilai budaya. Mereka juga menulis bahwa kenduri sko adalah acara besar yang sangat dinanti warga. Sebabnya, kenduri ini menjadi tempat bersyukur, tempat menghormati arwah leluhur, tempat merasakan kebersamaan, dan tempat menghibur diri sesudah lama jenuh oleh rutinitas harian.

Semua catatan itu berasal dari satu desa, Pulau Sangkar, dan dari satu masyarakat adat, Depati Rencong Telang. Tradisi ini, tulis Liza dan Indrayuda, tidak pernah ditinggalkan dan masih dijaga masyarakat pendukungnya. Antusiasme warga, menurut kedua peneliti, menunjukkan betapa besar penghargaan mereka pada tradisi ini. Aturan lama tetap dipakai, yang dalam ungkapan setempat tidak lapuk kena hujan dan tidak lekang kena panas. Pukul 4 pagi tarian berhenti. Para pawang menyadarkan penari yang kerasukan, dan warga merapikan arena.

Bagikan

Baca Juga

Bahasa Enggano Mulai Tergeser di Rumah dan Upacara Adat
Ruang Hidup Orang Rimba Cukup Terjaga, Pendidikan Masih Rendah
Tanaman Obat Flores dari Pesisir dan Gunung, Kebanyakan Direbus
Suku Ma’ya Raja Ampat Memalang Pos Konservasi di Laut Sendiri
Orang Lauje Melarung Perahu Sesaji agar Wabah Hanyut ke Laut
Kemantan Petalangan, Dukun yang Marah Melihat Hutannya Dibabat