Dapur Ritual Osing, Ruang Pengetahuan Perempuan Adat

A A

Ilustrasi perempuan memasak dengan tungku kayu di dapur tradisional. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Mbah Wari masih kecil ketika neneknya, Mbah Sutri, mengajaknya ke Bale Tajug. Di sana ia diminta ikut memasak dan menyiapkan sesaji.

Tidak ada satu pun instruksi lisan yang diberikan Mbah Sutri. Cucunya hanya diminta mengingat, melihat, menirukan, lalu ikut merasakan.

Menuliskannya juga tidak diperbolehkan. Puluhan tahun kemudian, sepeninggal neneknya, Mbah Wari tetap tahu takaran yang pas tanpa pernah membaca catatan.

Cara belajar seperti itulah yang kini dibaca ulang seorang peneliti. Ia menyebutnya kerja pengetahuan, bukan sekadar pekerjaan rumah tangga yang dianggap alamiah.

Dalam wacana akademik dan kebijakan, adat kerap diwakili suara laki-laki. Tetua adat, pemangku ritual, dan elite komunitas ditempatkan sebagai penjaga tradisi sekaligus pemegang otoritas pengetahuan.

Akibatnya kerja pengetahuan perempuan adat menyusut menjadi rutinitas harian. Ia dianggap alamiah dan tidak politis, lalu tersingkir dari kategori pengetahuan yang sah.

Penelitinya Wiwin Indiarti dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Banyuwangi. Ia perempuan Osing yang tinggal di Cungking sekaligus Ketua Pengurus Harian Daerah AMAN Osing periode 2022 sampai 2027.

Laporannya berjudul Dapur Ritual Komunitas Masyarakat Adat Osing: Ruang Epistemik Perempuan Adat di Ujung Timur Jawa. Tulisan itu dimuat Jurnal Perempuan Volume 31 Nomor 1 tahun 2026.

Halamannya 39 sampai 52. Pendekatannya etnografis, dengan telaah kritis terhadap praktik yang oleh komunitas itu disebut laku olah rasa.

Naskahnya diterima pada 1 April 2026 dan direvisi 23 April. Keputusan diterima keluar pada 10 Juni tahun yang sama.

Daftar Isi
  1. Tiga Dapur yang Ditelusuri Wiwin Indiarti
  2. Mbah Wari dan Dapur di Balik Dinding Bambu
  3. Mbah Janung, Mbah Sumiah, dan Perpindahan Dapur
  4. Ketika Mbah Inik Menolak Sayur yang Layu
  5. Larangan Adat yang Bekerja seperti Aturan Ekologi
  6. Yang Belum Dijawab Penelitian Ini

Tiga Dapur yang Ditelusuri Wiwin Indiarti

Wiwin Indiarti memusatkan pengamatannya pada tiga ritual bersih desa. Ketiganya dipilih karena sama-sama menempatkan dapur sebagai pusat kerja perempuan adat.

Yang pertama Amin Pikin di Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung. Yang kedua Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, dan yang ketiga Tumpeng Songo di Dusun Andong, Desa Tamansuruh.

Pengamatannya berlangsung lama, yaitu dari 2019 sampai 2026. Wiwin Indiarti tidak hanya menghadiri puncak ritual, tetapi juga hari-hari persiapan sebelumnya.

Yang ia catat antara lain cara memilih bahan menurut musim. Ia juga mencatat teknik memasak, disiplin tubuh, serta pembagian kerja menurut jenis kelamin dan usia.

Perempuan yang ia wawancarai tidak diperlakukan sebagai informan biasa. Wiwin Indiarti menempatkan mereka sebagai subjek pengetahuan agar ketidakadilan epistemik tidak berulang di dalam penelitiannya sendiri.

Persetujuan komunitas diminta secara kolektif dan berulang. Wiwin Indiarti menemuinya lewat tokoh adat, perempuan pengelola dapur, dan struktur komunitas setempat.

Etika penelitiannya disebut berlandaskan etika feminis sekaligus etika penelitian masyarakat adat. Tekanannya pada relasi saling menghormati dan tanggung jawab jangka panjang peneliti terhadap komunitasnya.

Baca juga Lagu Padha Nonton Gandrung Hidup Kembali di Kolom Komentar

Mbah Wari dan Dapur di Balik Dinding Bambu

Di Cungking, dapur ritual berada di dalam kompleks Bale Tajug. Bangunannya berdinding bambu dan beratap ilalang, menjadi pusat kegiatan terkait Buyut Cungking.

Aksesnya dibatasi ketat. Menurut Wiwin Indiarti, pembatasan itu menunjukkan bahwa legitimasi pengetahuan dapur diatur oleh mekanisme adat, bukan dibuka untuk siapa saja.

Seluruh penyiapan hidangan dikerjakan empat perempuan. Mereka adalah Mbah Warik atau Mbah Wari, Mbah Inik, Mbah Katuni, dan Bik Ikah, yang semuanya berstatus abdi dalem.

Mbah Wari tampak berperan sebagai pemimpin karena keturunan langsung keluarga Juru Kunci Petilasan Buyut Cungking. Namun ia sendiri menolak sebutan itu.

“Di sana itu tidak ada yang memimpin dan dipimpin. Jadi kedudukannya semua setara,” kata Mbah Wari kepada Wiwin Indiarti pada 21 April 2026.

Pengetahuan tentang bahan, waktu, dan rasa tidak mereka dapat dari instruksi. Wiwin Indiarti mencatat bahwa keempatnya belajar lewat kehadiran tubuh dan pengulangan praktik.

Tumpeng Serakat, misalnya, tidak punya ukuran baku. Yang menentukan adalah kepekaan indera dan pengalaman panjang keempat perempuan itu.

Wiwin Indiarti menyebut cara kerja itu sebagai pengetahuan berwujud. Ia hidup di dalam tubuh sebagai arsip pengalaman yang tidak selalu bisa diucapkan.

Mbah Janung, Mbah Sumiah, dan Perpindahan Dapur

Di Kemiren, dapur ritual tidak berupa bangunan sakral terpisah. Wiwin Indiarti menemukannya beroperasi di dapur rumah Keluarga Barong, keturunan Mbah Sapuah dan Mbah Tampa.

Setiap tumpeng dan lauk pendampingnya disiapkan Mbah Janung. Ia perempuan menopause dari keturunan keluarga itu, mengikuti aturan bahan, rasa, dan bentuk yang diwariskan turun-temurun.

Menurut Wiwin Indiarti, makna Tumpeng Sewu tidak berpusat pada prosesi publiknya. Makna itu justru diproduksi di dapur rumah yang dilegitimasi secara adat.

Di Dusun Andong, dapurnya berada di rumah keluarga pemangku adat. Pengelolanya Mbah Sumiah, keturunan Mbah Supani yang juga dikenal sebagai Mbah Minhat.

Wiwin Indiarti sempat menyaksikan peralihan kepemimpinan dapur itu. Tugas Mbah Sumiah berpindah ke putri sulungnya, Mbah Asiyah, yang tinggal di desa lain.

Meski orangnya berganti, lokasinya tidak ikut berpindah. Bagi Wiwin Indiarti, itu tanda bahwa yang diakui adat adalah ruangnya, bukan hanya individunya.

Angka sembilan pada Tumpeng Songo pun bukan lambang kosong. Setiap tumpeng punya ketentuan bentuk, komposisi, dan urutan sajian yang tidak dapat dipertukarkan.

Keberhasilan ritual pun tidak ditentukan doa di ruang publik saja. Menurut Wiwin Indiarti, ketepatan pengolahan sembilan tumpeng di dapur ikut menentukan hasilnya.

Baca juga Jemparingan, Memanah Tanpa Membidik dengan Mata

Ketika Mbah Inik Menolak Sayur yang Layu

Wiwin Indiarti menyebut kerja dapur itu sebagai laku olah rasa. Istilah tersebut menunjuk cara menilai kelayakan bahan lewat indera dan pengalaman, bukan lewat aturan tertulis.

Contohnya muncul pada pemilihan sayur untuk Tumpeng Serakat. Mbah Inik menjelaskan bahwa terong putih, labu siam putih, dan koro putih tidak boleh dipilih sembarangan.

“Kalau sudah layu, sobek, kering, atau tidak utuh, jangan dipaksakan dipakai untuk ritual,” kata Mbah Inik. Wawancaranya berlangsung pada 6 Juni 2026.

Ada jalan keluar bila bahan itu benar-benar tidak ditemukan. Mbah Inik menyebut sayuran berwarna hijau boleh menggantikannya karena dianggap masih cocok dengan etika leluhur.

Hal serupa terjadi pada bunga kenanga untuk ngaturi sekar. Mbah Wari menyebut bunganya harus utuh tanpa cacat, besar atau kecil tidak menjadi soal.

Pohonnya pun ditentukan. Menurut Mbah Wari, kenanga itu harus berasal dari pohon yang tumbuh di sekitar Kandapan dan tumbuh dari biji, bukan dari cangkokan.

Namun aturan itu tidak dijalankan secara kaku. “Kalau memang tidak ditemukan yang seperti itu, ya gimana lagi. Mestinya buyut memaklumi,” kata Mbah Wari.

Wiwin Indiarti membaca kelonggaran itu sebagai negosiasi, bukan pelanggaran. Weluri leluhur dijalankan sebagai etika hidup yang terus disesuaikan dengan keadaan.

Larangan Adat yang Bekerja seperti Aturan Ekologi

Pilihan bahan di dapur ritual selalu mempertimbangkan asal-usul dan musimnya. Bahan umumnya diambil dari kebun, ladang, dan lingkungan di sekitar komunitas.

Di Dusun Andong, Wiwin Indiarti mencatat bahan yang wajib berasal dari sekitar kampung. Contohnya daun gempol muda, kecombrang yang disebut lucu, dan daun belimbing banci.

Bahan yang dianggap asing atau tidak sesuai musim ditolak. Penolakan itu tidak berdasar aturan tertulis, melainkan penilaian rasa kepantasan yang diwariskan lintas generasi.

Larangan adat pun bekerja membatasi pengambilan hasil alam. Perempuan adat menerjemahkannya menjadi keputusan praktis tentang apa yang boleh dimasak, kapan, dan berapa banyak.

Menurut Wiwin Indiarti, larangan itu tidak pernah dijelaskan dengan bahasa konservasi modern. Meski begitu, ia bekerja efektif sebagai etika hidup yang teruji pengalaman komunitas.

Sisi lainnya tidak selalu nyaman. Perempuan adat memikul tanggung jawab keberhasilan ritual sekaligus menghadapi risiko disalahkan ketika terjadi penyimpangan.

Yang Belum Dijawab Penelitian Ini

Wiwin Indiarti menyebut sendiri batas kajiannya. Penelitiannya bersifat kontekstual dan hanya menyentuh tiga ritual bersih desa.

Karena itu temuannya tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi. Ia tidak berlaku bagi seluruh komunitas masyarakat adat Osing, apalagi bagi komunitas adat lain.

Ada pula keterbatasan yang lahir dari posisinya sendiri. Kedekatan Wiwin Indiarti dengan komunitas berpotensi membatasi jarak analitis dalam membaca temuannya.

Ketegangan yang ia catat justru tidak selesai. Pengetahuan yang menopang keberlangsungan ritual itu tetap jarang diakui dalam pengambilan keputusan adat maupun agenda pembangunan.

Mbah Wari, Mbah Inik, Mbah Janung, dan Mbah Sumiah memegang pengetahuan yang menentukan berhasil tidaknya ritual. Pengakuan atas otoritas itu berhenti di ranah dapur.

Mbah Wari sendiri tidak mempersoalkannya. Yang ia pastikan hanya satu, bahwa rasa masakannya pas karena sudah terbiasa dilibatkan sejak kecil.

Baca juga Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Lukisan Kulit Kayu Asei

Bagikan

Baca Juga

Lapak ikan di sebuah pasar tradisional di Singkawang
Barter Du-Hope Lamalera, Ikan Ditukar Jagung dan Pisang
Mesin espreso, penggiling kopi, dan cangkir di meja sebuah kedai kopi
Peta Risiko 20 Kedai Kopi Padang, Lama dan Baru Berbeda
Nasi ayam penyet dengan timun tersaji dalam kotak makanan bawa pulang
Pesan Makanan Daring di Padang, Kemudahan Bukan Lagi Alasan
Buah mengkudu menggantung di dahan di antara daun hijau
Hidrogel PVA dan Daun Mengkudu untuk Penutup Luka Antibakteri
Langit malam bertabur bintang dengan pita Bima Sakti membentang
Badai Geomagnet 2023 dan Sintilasi yang Justru Tertekan
Pertunjukan wayang tradisional yang dimainkan seorang dalang
Lakon Wayang Padang Wisran Hadi Diubah Jadi Skenario Film