Cekricek.id — Pemanah jemparingan tidak membidik dengan mata. Ia duduk bersila, menarik busur sampai penuh, lalu berhenti sejenak — dan pada jeda itulah anak panah dilepaskan berdasarkan rasa, bukan penglihatan.
Cara memanah yang tampak tidak masuk akal itu ternyata punya alasan yang panjang, dan menurut sebuah riset terbaru, punya efek yang bisa diukur pada anak-anak sekolah dasar.
Subaryana dan Siska Nurazizah Lestari dari IKIP PGRI Wates bersama Indra Fibiona dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X menuliskannya lewat artikel Jemparingan as Cultural Heritage and Character Education: Philosophical Values and Preservation Strategies in Contemporary Society yang dimuat jurnal Analisis Sejarah Vol. 15 No. 2 keluaran Universitas Andalas, terbit pada Januari 2026. Mereka memakai pendekatan sejarah dan antropologi untuk menelusuri perjalanan jemparingan dari olahraga eksklusif bangsawan menjadi praktik budaya modern.
Jejak Panah dari Abad ke-8
Memanah bukan tradisi baru di Jawa. Ketiga peneliti menunjuk bukti arkeologis yang jauh lebih tua daripada Mataram: relief perburuan rusa di Candi Wukir yang berasal dari abad ke-8, pada masa pemerintahan Raja Sanjaya. Prasasti Canggal memuat keterangan tentang penggunaan panah sebagai senjata prajurit Kerajaan Medang.
Bentuk naratifnya yang paling rumit muncul pada Candi Prambanan abad ke-9. Panel relief Ramayana menggambarkan memanah bukan sekadar teknik bertempur, melainkan lambang ketepatan, keberanian, pengendalian diri, dan penunaian darma. Puncaknya ketika Rama memanah Rahwana dengan tarikan penuh — memanah sebagai sarana spiritual menegakkan keadilan, bukan sekadar tindakan balas dendam.
Relief yang menggambarkan Rama berlatih memanah di bawah bimbingan Resi Wiswamitra menegaskan fungsi lain: memanah sebagai proses pendisiplinan mental dan fisik. Jejak serupa juga ada pada panel Karmawibangga di Candi Borobudur, yang menampilkan adegan berburu dan sosok bodhisatwa memegang busur.
Duduk Bersila karena Mengobrol
Perubahan besar terjadi pada masa Mataram Islam abad ke-16, ketika jemparingan bergeser dari latihan militer prajurit menjadi olahraga tradisional. Perlombaan digelar tidak hanya di lingkungan istana, tetapi juga diikuti berbagai kelompok masyarakat.
Dan di sinilah asal-usul ciri khasnya yang paling dikenal. Menurut riset ini, teknik memanah sambil duduk bersila — bukan berdiri — berasal dari kebiasaan para bangsawan melepaskan anak panah sambil mengobrol santai. Perpaduan antara ketangkasan fisik dan etiket sosial itu kemudian menjadi penanda identitas budaya yang membedakan jemparingan dari tradisi memanah mana pun.
Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, Pangeran Mangkubumi mendirikan Keraton Yogyakarta dengan rancangan yang mengakomodasi berbagai kegiatan kerajaan. Salah satu unsur arsitektur yang mencerminkan kebutuhan Sultan Hamengkubuwono I berburu dengan panah adalah Panggung Krapyak — ruang simbolis sekaligus fungsional bagi raja dan prajurit melatih keterampilan memanah.
Baca juga: Kerajaan-kerajaan Masa Hindu-Buddha di Indonesia
Olahraga Mahal pada 1937
Di lingkungan keraton, jemparingan berkembang sebagai olahraga kaum priayi dan menjadi simbol status sosial. Intensitasnya meningkat pesat pada 1930-an — terutama pada 1937, ketika jemparingan dikenal sebagai olahraga eksklusif karena mahalnya biaya peralatan dan perlengkapan, sehingga tidak terjangkau kalangan bawah.
Praktik ini kemudian menyebar ke Jawa Barat dan dikenal sebagai jamparingan. Perbedaannya terletak pada bentuk busur: jamparingan memakai gendewa yang lebih pendek dan tebal, sementara jemparingan Yogyakarta memakai gandewa yang lebih kecil tetapi lebih panjang.
Setelah Indonesia merdeka, kegiatan budaya di keraton terbatas karena Sultan Hamengku Buwono IX memusatkan perhatian pada jabatannya sebagai Menteri Pertahanan dan situasi keamanan Yogyakarta tidak stabil. Latihan jemparingan lebih sering digelar di Pura Pakualaman.
Ketiga peneliti mencatat peran Paku Alam VIII menjadi sangat penting karena dukungan penuhnya terhadap penyelenggaraan Gladen Jemparingan — sehingga tradisi ini tetap berjalan meski Yogyakarta berada dalam keadaan darurat akibat agresi militer Belanda.
Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh
Falsafah jemparingan dirumuskan dalam empat ajaran pokok yang oleh riset ini disebut sebagai fondasi watak kesatria Jawa.
Nyawiji berarti menyatukan perhatian dan energi pada satu tujuan — mengajarkan pemanah membangun fokus dan pengendalian diri sebagai dasar pengambilan keputusan. Greget menumbuhkan tekad dan semangat juang, yang oleh ketiga peneliti disejajarkan dengan konsep motivasi intrinsik dan pola pikir bertumbuh dalam psikologi.
Sengguh mengajarkan kepercayaan diri yang berlandaskan kompetensi, bukan kepercayaan diri palsu — sejalan dengan teori efikasi diri Albert Bandura. Sedangkan ora mingkuh menumbuhkan keberanian bertanggung jawab atas perbuatan sendiri dan bertahan menghadapi kegagalan, sepadan dengan konsep grit dan ketangguhan.
Di atas keempatnya berdiri prinsip yang paling mendasar: pamenthanging gandewa, pamanthenging cipta — keselarasan antara tarikan busur sebagai tindakan dan cita-cita batin sebagai niat.
Proses menarik tali busur sampai titik maksimal diibaratkan sebagai persiapan menghadapi hidup: seseorang harus mengumpulkan kekuatan mental, menimbang akibat, dan mengarahkan diri pada tujuan sebelum bertindak. Jeda sesaat sebelum anak panah dilepaskan — disebut nitik — menjadi kiasan bagi perenungan terakhir sebelum mengambil keputusan penting.
Ada pula landasan spiritualnya, yaitu falsafah Jawa eling sangkan paraning dumadi, mengingat asal dan tujuan akhir kehidupan. Dengan memusatkan perhatian pada proses alih-alih hasil, jemparingan menuntun manusia memahami dirinya sebagai bagian dari tatanan yang lebih besar.
Baca juga: Pengaruh Islam terhadap Budaya Melayu: Warisan yang Hidup hingga Kini
Tahapan yang Tak Boleh Terburu-buru
Setiap tahap teknis punya namanya sendiri, dan masing-masing mengandung pelajaran. Pada tahap awal — trep lenggah, jejeg, dan donga — pemanah menyiapkan diri lewat keseimbangan sikap tubuh, pengaturan napas, dan pemusatan perhatian. Di situlah nilai kesabaran, ketenangan, dan kesadaran diri mulai berakar.
Pada tahap pendet, seleh, noto, dan trep driji, masuk unsur kedisiplinan dan ketelitian. Busana tradisional yang dikenakan bukan sekadar simbol estetis, melainkan bentuk penghormatan dan kerendahan hati sebelum melepaskan panah. Cara meletakkan busur dan menarik tali secara perlahan mengajarkan bahwa hasil yang baik lahir dari proses yang cermat dan tidak tergesa-gesa.
Kesadaran itu memuncak pada tahap nginceng, menthang kebak, dan nitik — saat pemanah bersandar pada intuisi, pengendalian emosi, dan kestabilan batin untuk menentukan arah anak panah, menggantikan ketergantungan pada bidikan mata seperti dalam panahan modern.
Angka-angka dari Ruang Kelas
Bagian yang paling menarik dari riset ini adalah upayanya mengukur dampak jemparingan pada anak-anak. Ketiga peneliti memaparkan studi terhadap murid sekolah dasar berusia 10 sampai 12 tahun di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kelompok murid yang mengikuti latihan jemparingan minimal dua kali sepekan selama enam bulan menunjukkan peningkatan 87 persen dalam koordinasi mata-tangan, ketepatan gerak, dan kemampuan mengoperasikan benda kecil — dibanding hanya 52 persen pada kelompok pembanding.
Dampaknya juga terlihat pada peningkatan 30 persen dalam motivasi dan penyelesaian tugas akademik, disertai penurunan 45 persen dalam gangguan konsentrasi saat belajar. Sebanyak 79 persen murid mengaku menjadi lebih sabar dan teliti mengerjakan tugas sekolah, dibanding 41 persen pada kelompok pembanding.
Para guru mencatat dua unsur teknis yang paling berpengaruh: selehang, yaitu posisi duduk bersila yang stabil, dan manah, yaitu pengendalian napas sebelum melepaskan anak panah.
Riset ini juga mengutip temuan lain bahwa program panahan selama tiga pekan dapat meningkatkan suasana hati dan kepercayaan diri murid secara berarti.
Catatan untuk Pembaca
Angka-angka di atas patut dibaca dengan kehati-hatian. Riset ini tidak memaparkan jumlah murid yang diteliti, cara pemilihan kelompok pembanding, maupun rentang waktu pengambilan datanya secara rinci — sehingga persentase itu lebih tepat dibaca sebagai indikasi awal, bukan bukti sebab-akibat yang sudah kokoh. Anak yang orang tuanya mendaftarkan mereka ke latihan jemparingan dua kali sepekan selama enam bulan, misalnya, boleh jadi memang datang dari lingkungan yang lebih mendukung sejak awal.
Ketiga peneliti sendiri lebih menekankan sisi kebudayaannya. Tantangan yang mereka soroti nyata: derasnya budaya populer dan dominasi olahraga komersial berisiko menggerus minat generasi muda, sekaligus mengancam keaslian praktik jemparingan bila tidak diimbangi strategi pelestarian yang adaptif. Sampai kini, kelangsungannya masih bergantung pada inisiatif segelintir komunitas dan belum terintegrasi kuat dalam sistem pendidikan.
Baca juga: Sejarah Gizi Publik di Indonesia: Ketika Dapur Pribumi Menjadi Urusan Negara Kolonial
Yang menarik dari usulan mereka adalah kesederhanaannya. Jemparingan tidak perlu dipertahankan sebagai benda museum. Ia bisa masuk ke kegiatan ekstrakurikuler dan kurikulum tematik sebagai model pendidikan karakter yang tidak berhenti di teori — sebab pelajaran tentang menahan diri, menimbang akibat, dan bertanggung jawab atas keputusan sendiri jauh lebih mudah diingat ketika dipelajari sambil menarik busur.

















