Busana Petani Batobo Kuansing Dijahit Jadi Gaya Art of Beat

A A

Peragaan busana batik Kediri tingkat SMP pada peringatan Hardiknas [Foto: Mangkelin1/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Tiga perancang ISI Padangpanjang mengangkat pakaian berlapis anggota tobo Kuantan Singingi menjadi busana art of beat.
  • Dari 18 sketsa terpilih 6 karya: 3 ready to wear, 2 ready to wear deluxe, 1 haute couture, semua ukuran M.
  • Kain yang dipakai Batik Kuansing Batik Nagori dengan satu motif, pangayuah atau dayung, berwarna kontras.
  • Caping dan sepatu bot yang disebut akan jadi aksesori tidak muncul dalam uraian enam karya.
Daftar Isi
  1. Pakaian yang Dipilih karena Tidak Memilih
  2. Batik Nagori dan Satu Motif Dayung
  3. Kalimat yang Menjadi Poros
  4. Lengan yang Sengaja Tidak Sama
  5. Yang Tidak Diukur dan Yang Tidak Sampai

Pakaian petani adalah pakaian yang paling jauh dari dunia mode, sebab ia dipakai untuk bekerja, bukan untuk dilihat, dan siapa pun yang pernah turun ke ladang tahu bahwa yang dikejar di sana adalah perlindungan, bukan perhatian. Justru anggapan itulah yang dibalik tiga perancang dari Padangpanjang, yang mengambil pakaian berlapis anggota tobo di Kuantan Singingi, lengkap dengan caping dan sepatu botnya, lalu menjahitnya kembali menjadi enam busana bergaya art of beat untuk sebuah peragaan di atas catwalk.

Karya itu dilaporkan Raudhatul Salma, Novina Yeni Fatrina, dan Nofi Rahmanita dari Program Studi Desain Mode, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, dalam Busana Tradisi Batobo sebagai Inspirasi Busana Art of Beat Style, yang terbit di STYLE: Journal of Fashion Design volume 4 nomor 2, tahun 2025. Naskahnya bukan penelitian berangka, melainkan laporan penciptaan, sehingga yang ia tawarkan adalah alasan di balik sebuah pilihan rancangan, bukan pengukuran atas hasilnya.

Batobo, dalam uraian mereka, adalah perkumpulan muda-mudi dan orang dewasa yang turun ke sawah atau ladang untuk mengerjakan lahan pertanian secara bergantian antaranggota tobo, sebuah tradisi masa lampau yang disebut hidup di Kampar dan Kuantan Singingi. Musim turun ke sawah diiringi bunyi-bunyian kesenian tradisi, dan ketika panen tiba, penutupan batobo dirayakan dengan makan bersama, doa, serta malam kesenian seperti randai atau saluang, yang semuanya menegaskan bahwa batobo, pada prinsipnya, adalah perwujudan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Pakaian yang Dipilih karena Tidak Memilih

Namun, yang diambil para perancang bukan kemeriahan pesta penutupannya, melainkan pakaian kerja yang paling tidak dirancang untuk dilihat. Dari pengamatan langsung di lapangan, orang yang pergi batobo mengenakan pakaian berlapis, dalaman kaos yang dilapisi outer, celana panjang yang dimasukkan ke dalam sepatu bot, serta penutup kepala berupa tekuluak dan caping, dan lapisan-lapisan itu, tulis mereka, berfungsi mengurangi rasa panas sekaligus melindungi tubuh dari miang.

Informasi tentang tradisi itu mereka lengkapi dari Masri, pemangku adat Tungganai Suku Paliang di Kenegerian Kopah, yang menerangkan bahwa batobo adalah bekerja sama mengerjakan lahan pertanian secara bergantian antaranggota kelompok. Di situlah persoalannya menjadi menarik, sebab paper ini sendiri mengakui bahwa busana yang dipakai anggota tobo tidak ada bedanya dengan busana petani pada umumnya, sehingga yang diangkat ke catwalk sesungguhnya bukan sebuah kostum adat, melainkan kebiasaan berpakaian orang bekerja.

Baca juga Kerah Kebaya Labuh Riau Naik ke Enam Busana Pastel

Gaya art of beat, yang menjadi tujuan penjahitan itu, dijelaskan paper sebagai gaya berpakaian yang eksentrik dan artistik, yang pemakainya biasanya berkepribadian bebas, mandiri, individualistik, dan unik, serta bangga menjadi pusat perhatian. Gaya itu identik dengan warna-warna nyentrik dan kontras, dan pertemuan antara keinginan menjadi pusat perhatian dengan pakaian yang dibuat untuk menahan miang inilah yang, oleh para perancang, disebut sebagai tantangan.

Batik Nagori dan Satu Motif Dayung

Untuk menyeberangkan pakaian ladang itu ke gaya yang nyentrik, mereka memilih kain Batik Kuansing Batik Nagori dari Kuantan Singingi, batik yang motifnya bersangkut paut dengan kebudayaan daerah itu dan warnanya cenderung mencolok, kuning, biru, hijau, jingga. Paper menyebut, dengan rujukan yang hanya berbunyi menurut data, bahwa sekitar dua puluh motif batik itu telah didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM di Pekanbaru, tetapi dari sekian motif, yang dipakai dalam seluruh karya hanya satu, yaitu motif pangayuah atau dayung.

Acuan tren yang mereka pegang adalah Fashion Trend Co-Exist 2023/2024 dengan subtema The Self Improvers, yang paper terjemahkan sebagai anak muda era digital yang selalu tertantang menemukan kemampuan dan jati diri dengan bereksperimen. Dari subtema itu diambil dua hal, yakni olah bahan yang membentuk menggembung dan palet warna cerah yang bisa berdiri sendiri atau ditumpuk dalam gradasi, dan keduanya kemudian tampak pada lengan balon serta layer berwarna yang berulang di hampir semua karya.

Dari ladang ke catwalkPerbandingan busana batobo asli dengan busana art of beat hasil karya.Dari ladang ke catwalkBusana anggota tobo dan enam karya yang dijahitBusana batoboBusana art of beatKaos + outerInner, outer, layerLapisanMasuk sepatu botRimpel, pola bedaCelanaTekuluak, capingTidak disebutKepalaTidak dicatatKontras, mencolokWarnaTahan panasMenarik perhatianFungsiTidak dicatatBatik KuansingKainKolom kiri dari observasi pengkarya; lapisan asli berfungsi menahanpanas dan miang. Kolom kanan dari uraian enam karya. Caping dansepatu bot disebut akan jadi aksesori, tetapi tidak muncul lagi dalamuraian karya.
Sumber: Raudhatul Salma, Novina Yeni Fatrina, dan Nofi Rahmanita, Busana Tradisi Batobo sebagai Inspirasi Busana Art of Beat Style, STYLE: Journal of Fashion Design, 4(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Dari delapan belas sketsa alternatif, sembilan untuk ready to wear, enam untuk ready to wear deluxe, dan tiga untuk haute couture, terpilih enam yang diwujudkan: tiga ready to wear, dua ready to wear deluxe, dan satu haute couture. Ketiga tingkatan itu sama-sama memakai komponen berlapis dan warna kontras pada tiap potongan, tetapi tekniknya bertingkat, dari jahitan sederhana, naik ke sulam running stitch, sampai gabungan running stitch, manipulasi kain, dan sulam payet pada busana puncaknya.

Kalimat yang Menjadi Poros

Di tengah uraian itu ada satu kalimat yang menjelaskan mengapa pakaian sesederhana itu dianggap layak diangkat. “Keunikan dari busana tradisi batobo ini memberikan tantangan baru bagi pengkarya untuk menciptakan busana yang fashionable, dan bisa dipakai untuk berbagai kesempatan dengan style art of beat,” tulis Raudhatul Salma, Novina Yeni Fatrina, dan Nofi Rahmanita dalam naskahnya. Yang disebut unik di sini, dengan demikian, bukan hiasan, melainkan susunan lapisan dan pelengkapnya.

Justru sebaliknya dari yang mungkin dibayangkan pembaca, lapisan-lapisan itu tidak dipindahkan apa adanya. Pada ready to wear pertama, lapisan hadir sebagai celana dan lengan berbidang persegi panjang dengan kerah segitiga yang terpisah, bersiluet H, dalam empat warna yang paper sebut double komplementer, kuning, merah, ungu, dan hijau, dengan banyak rimpel pada celana sebagai pusat perhatian dan pola celana kiri yang sengaja dibedakan dari celana kanan.

Baca juga Rumah Bolon Jadi Gaun, Atap Segitiganya Naik ke Bahu

Ready to wear kedua meneruskan siluet H dengan vest persegi panjang berbatik dan lengan yang diseimbangkan lewat warna, kiri terang, kanan gelap, sementara ready to wear ketiga memasang motif batik pada celana kiri, lengan kanan, dan bagian belakang outer, dengan lengan kanan hijau bersanding ungu dan lengan kiri kuning bersanding ungu. Pada karya ketiga ini paper mencatat empat warna, kuning, ungu, hijau, dan pink tua, sehingga pasangan warnanya tidak lagi sama dengan dua karya sebelumnya.

Lengan yang Sengaja Tidak Sama

Naik ke tingkat deluxe, lapisan itu mulai berbicara lewat tekstur. Pada deluxe pertama, tali vest dijahit running stitch hingga tampak seperti garis putus-putus yang bisa diraba, lengan kanan berupa lengan balon sedangkan lengan kiri berupa rimpel tiga layer dengan tiga warna, dan siluetnya berpindah menjadi I; pada deluxe kedua, outer dibuat dari benang wol dengan running stitch yang menimbulkan tekstur, lengan kanan tiga layer beda warna, lengan kiri dua layer balon satu warna, dan tali celana kanan dipasang lebih rendah dari kiri.

Haute couture, busana puncaknya, memasang batik pada inner dan menumpuk tekstur taktil pada capes, outer, dan layer, dengan teknik smoke serta payet yang ditabur lewat tusuk sulam, sehingga siluetnya melebar menjadi Y. Lengan kanan satu layer, lengan kiri dua layer, tetapi inner dan capes dibuat simetris, dan tiga warnanya, jingga, ungu, dan hijau, paper sebut sebagai triad komplementer, skema yang sama dengan deluxe kedua.

Delapan belas sketsa, enam busanaAlur dari 18 sketsa menjadi 6 busana yang diperagakan.Delapan belas sketsa, enam busanaJalan karya dari sketsa alternatif sampai peragaan18 sketsa9 RTW, 6 deluxe,3 couture6 terpilih3 RTW, 2 deluxe,1 couturePeragaan24 Juni 2024,Padangpanjang6busana ukuranMRTW = ready to wear. Ketiga tingkatan memakai lapisan berwarnakontras; deluxe menambah sulam running stitch, couture menambahmanipulasi kain dan payet.
Sumber: Raudhatul Salma, Novina Yeni Fatrina, dan Nofi Rahmanita, Busana Tradisi Batobo sebagai Inspirasi Busana Art of Beat Style, STYLE: Journal of Fashion Design, 4(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Semua busana dibuat dalam ukuran M standar wanita dewasa dan ditujukan bagi perempuan berproporsi tubuh normal atau ideal, yang paper rinci sebagai remaja berusia sembilan belas sampai dua puluh empat tahun dan dewasa berusia dua puluh enam sampai tiga puluh lima tahun. Karya-karya itu diperagakan seorang model di atas catwalk pada 24 Juni 2024 di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, di hadapan mahasiswa, dosen, sivitas akademik, dan masyarakat umum.

Yang Tidak Diukur dan Yang Tidak Sampai

Namun, sebagai laporan penciptaan, paper ini berhenti pada apa yang dijahit dan tidak pernah mengukur bagaimana busana itu diterima, baik oleh penonton peragaan maupun oleh perempuan yang menjadi sasarannya, sehingga klaim bahwa karya dirancang agar menarik perhatian publik tetap tinggal sebagai niat, bukan hasil. Penulisnya sendiri mengakui kendala pada penerapan teknik jahit di bagian yang memakai lining dan pada penataan hiasan agar letaknya proporsional, yang mereka sebut dapat diatasi dengan baik.

Ada pula beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca sendiri di dalam naskah. Bagian kesimpulan menulis judul karya sebagai art of bea style, kehilangan satu huruf; caping dan sepatu bot yang di bagian awal disebut akan dijadikan aksesori busana art of beat tidak muncul lagi dalam uraian keenam karya; dan rentang usia sasaran melompat dari dua puluh empat ke dua puluh enam tahun, meninggalkan usia dua puluh lima tanpa keterangan.

Baca juga Lima Warna Busana May Menandai Emosi di 27 Step of May

Penamaan warnanya juga tidak seragam, sebab tiga warna oren, ungu, dan hijau pada deluxe pertama tidak diberi nama skema, sementara jingga, ungu, dan hijau pada dua karya lain disebut triad komplementer, dan warna sendiri sekali disebut unsur desain, di lain tempat prinsip desain. Rujukan Ramadhan ditulis tahun 2022 di badan naskah tetapi 2021 di daftar pustaka, dan sumber tentang tari batobo yang dikutip ternyata mengkaji Piobang di Payakumbuh, bukan Kampar atau Kuantan Singingi.

Yang tersisa dari pembacaan ini adalah sebuah pertukaran yang tidak sepenuhnya selesai: pakaian yang lahir untuk menahan panas dan miang dibawa ke ruang yang menuntut kebalikannya, yaitu dilihat dan diingat, dan dalam perjalanan itu lapisannya bertahan, warnanya berganti, sedangkan caping dan sepatu botnya tertinggal di jalan. Kalau yang sampai ke catwalk hanya susunan lapisannya, masihkah busana itu membawa batobo, atau ia telah menjadi busana lain yang kebetulan berangkat dari ladang?

Bagikan

Baca Juga

Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Tongkonan Toraja sebagai Kurikulum Hidup Tanpa Suara Warga
Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan
Talempong Gua Duo Tigo Lengayang Berlatih di Halaman Rumah
Iki Paleg Suku Dani: Potong Jari yang Kini Ditinggalkan