Etnoastronomi Suku Bajo Wuring dan Bintang yang Tak Dicatat

A A

Perkampungan apung Suku Bajau di Desa Sampela, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. [Foto: Wikimedia Commons/BastianKyle (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Sekolah itu berdiri di Nangahure, tidak jauh dari pesisir utara Flores. Sebagian besar tetangganya nelayan atau penjual ikan.

Namanya MTs Muhammadiyah Wuring, di Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Suku yang mendominasi wilayah itu adalah Bajo.

Ke sekolah itulah empat dosen datang pada pertengahan Oktober 2021. Mereka membawa gunting, lem, kertas, dan dua aplikasi langit di telepon genggam.

Yang mereka cari sebenarnya bukan murid. Yang mereka cari adalah bintang yang selama ini dipakai orang tua murid untuk pulang dari laut.

Keempatnya Adi Jufriansah, Azmi Khusnani, Wahyuningsih, dan Moh. Fitri. Semuanya dosen IKIP Muhammadiyah Maumere, Indonesia.

Laporan mereka berjudul Etnoastronomi, Kearifan Lokal Masyarakat Suku Bajo Wuring dalam Navigasi Menggunakan Rasi Bintang di MTs Muhammadiyah Wuring Nangahure.

Tulisan itu dimuat Jurnal Abdimas Patikala Volume 1 Nomor 4 tahun 2022. Letaknya di halaman 215 sampai 220.

Daftar Isi
  1. Wuring dan Laut di Sebelahnya
  2. Wawancara dengan Sesepuh
  3. Alat Peraga dari Kertas
  4. Empat Rasi dan Dua Aplikasi
  5. Ujian Lisan di Tahap Akhir
  6. Nama yang Tidak Ikut Tercatat
  7. Mamau yang Tinggal Satu Kata

Wuring dan Laut di Sebelahnya

Suku Bajo di Sikka disebut peneliti sebagai suku pendatang. Secara historis mereka berasal dari wilayah Sulawesi.

Sebutan yang melekat pada mereka adalah pengembara laut, atau sea nomads. Hidup mereka dijalani bebas di lautan luas.

Sekolah itu, menurut laporan, berada dekat dengan pesisir pantai utara Flores. Letak geografis itulah yang menentukan pekerjaan hampir seluruh penduduk sekitarnya.

Peneliti menyandarkan latar sejarah Suku Bajo pada kajian Machmud dan rekan tahun 2020. Kajian itu menempatkan asal-usul mereka di wilayah Sulawesi.

Sebutan pengembara laut dirujuk dari Suryanegara dan Nahib tahun 2015. Rujukan itu dipakai untuk menjelaskan mengapa bintang menjadi alat kerja sehari-hari.

Pengembaraan sepanjang itu, tulis peneliti, membuat mereka mengenal rasi bintang. Bintang dipakai sebagai penunjuk saat berangkat melaut dan saat pulang.

Dalam bahasa Bajo, bintang disebut mamau. Kata itu satu-satunya istilah lokal yang dicatat di dalam laporan.

Pengetahuan tentang mamau tidak diajarkan di ruang kelas. Ia berpindah dengan cara anak atau saudara ikut serta dalam kegiatan melaut.

Peneliti menyebut cara itu sebagai hand on learning. Yang diwariskan bukan teori, melainkan pengalaman yang diulang sampai menjadi pengetahuan.

Baca juga Kritik Modernitas dalam Mata dan Manusia Laut

Wawancara dengan Sesepuh

Tahap pertama kegiatan itu bukan mengajar, melainkan menelusuri wilayah setempat. Peneliti menemui sesepuh Suku Bajo Wuring dan mewawancarai mereka.

Dari wawancara itu diperoleh keterangan tentang budaya melaut yang masih dijalankan. Termasuk pemahaman tentang bintang sebagai petunjuk arah melaut.

Hasil survei menunjukkan metode perbintangan itu belum ditinggalkan. Peneliti menulis bahwa Suku Bajo Wuring sampai saat ini masih memakainya ketika melaut.

Metode tersebut, menurut laporan, lahir dari pengalaman yang terus-menerus. Pengalaman itulah yang kemudian mengeras menjadi pengetahuan bersama.

Namun ada catatan yang menyertainya. Dalam beberapa dekade terakhir teknologi sudah masuk sebagai media bantu navigasi.

Peneliti juga menemukan bahwa banyak generasi mulai kehilangan budaya tersebut. Penyebab yang disebut adalah alih profesi pekerjaan.

Analisis situasi yang disusun peneliti menyebut dua persoalan mitra. Pertama, belum ada pemahaman tentang hubungan antara ilmu astronomi dan budaya lokal soal rasi bintang.

Kedua, perubahan sosial di lingkungan Suku Bajo membuat budaya lokal tidak sepenuhnya dipahami generasi sekarang. Dua hal itu yang hendak dijembatani.

Dari dua persoalan tersebut, peneliti menyusun lima tujuan kegiatan. Tiga di antaranya bersifat teknis dan dua sisanya bersifat penafsiran.

Tiga tujuan teknis itu mengenalkan ilmu astronomi kepada guru dan siswa. Sisanya melatih pemakaian aplikasi langit serta pembuatan alat peraga rasi bintang.

Dua tujuan lain sifatnya menafsirkan. Yang satu menjelaskan kaitan budaya Bajo Wuring dengan astronomi, yang lain menjelaskan konsep astronomi dalam perspektif agama.

Alat Peraga dari Kertas

Beberapa langkah dari rumah-rumah nelayan, kegiatan berpindah ke ruang sekolah. Peneliti mendapati pengenalan astronomi dengan alat peraga belum pernah dilakukan di sana.

Pemahaman astronomi yang ada, tulis mereka, masih berkaitan dengan kebudayaan yang diwariskan. Bukan dengan pelajaran formal.

Alat peraga yang dipakai berasal dari Network for Astronomy School Education, disingkat NASE. Bentuknya dua lembar: disk horizon dan bagian utama untuk belahan bumi selatan.

Rancangannya mengacu pada Ros tahun 2002. Peneliti menyebut alat itu punya nilai ekonomis dan mudah dibuat.

Setiap guru dan siswa diberi pekerjaan yang sama: menggunting, mengelem, lalu menyatukan kedua lembar. Tim mengarahkan dan meninjau tiap peserta.

Sasaran kegiatan berjumlah 25 orang. Rinciannya 20 siswa dan 5 guru di lingkungan MTs Muhammadiyah Wuring.

Seluruh kegiatan dibagi peneliti ke dalam tiga alur. Tahap persiapan, tahap pelaksanaan, lalu hasil evaluasi.

Tahap pelaksanaan sendiri dibuka dengan sosialisasi bersama lima guru bidang studi. Baru sesudah itu lokakarya dijalankan bersama para siswa.

Ruang lingkup kegiatan dibatasi peneliti pada etnoastronomi yang berkaitan dengan rasi bintang sebagai navigasi. Batas itu disebut sejak bagian metode.

Baca juga Dari Kebun ke Pajeko, Catatan Desa Saria 2002-2017

Pada bagian analisis pelaksanaan, peneliti menyebut setiap peserta sudah dapat mengerjakan alat peraga sesuai petunjuk. Penilaian itu diberikan tanpa skor.

Alat peraga NASE dipilih karena dua alasan yang disebut peneliti. Alat itu punya nilai ekonomis dan mudah dibuat oleh guru maupun siswa.

Empat Rasi dan Dua Aplikasi

Materi yang disampaikan memuat empat rasi bintang penunjuk arah. Keempatnya Ursa Mayor, Scorpio, Orion, dan Crux.

Sesudah materi, peserta yang punya telepon Android diminta memasang Stellarium atau SkySafari. Tim mengarahkan proses pemasangan sekaligus cara memakainya.

Praktiknya sederhana. Peserta membuka aplikasi, mengarahkan telepon ke barat, lalu mengidentifikasi rasi yang muncul di layar.

Rasi yang dipakai sebagai contoh adalah Orion, yang menurut laporan menunjukkan arah barat. Peserta disebut mampu mengenalinya.

Peneliti mencatat peserta juga mampu membedakan setiap rasi sebagai penunjuk arah. Kesimpulan itu diambil dari pengamatan langsung selama praktik.

Kegiatan berlangsung tiga bulan, terhitung sejak 15 Oktober 2021 sampai 15 Januari 2022. Bentuknya lokakarya, bukan pelajaran reguler.

Ujian Lisan di Tahap Akhir

Tahap terakhir berupa evaluasi. Peserta diberi ulasan penutup berupa pertanyaan lisan tentang pemahaman mereka soal rasi bintang.

Dari jawaban yang diberikan, peneliti menyimpulkan peserta sudah memahami materi. Buktinya jawaban mereka membedakan rasi berdasarkan arah navigasi.

Simpulan laporan menyebut dua capaian. Pertama pemahaman tentang rasi bintang, kedua pemahaman tentang hubungan budaya Bajo Wuring dengan ilmu astronomi.

Capaian ketiga bersifat keterampilan. Peserta disebut mampu membuat alat peraga NASE dan memakai kedua aplikasi.

Saran penutupnya pendek. Peneliti meminta ada tindak lanjut alat peraga NASE dengan tema yang lain.

Tentang kaitan bintang dan agama, laporan menyebutnya sebagai salah satu tujuan kegiatan. Isi penjelasannya tidak diuraikan.

Baca juga DESI Rilis Peta 2D Alam Semesta Terbesar

Nama yang Tidak Ikut Tercatat

Di sinilah laporan itu meninggalkan lubang yang cukup besar. Kegiatannya bernama etnoastronomi, tetapi nama lokal bintang nyaris tidak ada di dalamnya.

Empat rasi yang diajarkan seluruhnya memakai nama Latin. Tidak satu pun disandingkan dengan sebutan Bajo yang dipakai para pelaut tua.

Wawancara dengan sesepuh disebut menghasilkan keterangan tentang bintang sebagai penunjuk arah. Keterangan itu tidak dikutip, tidak dirinci, dan tidak diberi nama penuturnya.

Adi Jufriansah dan tiga rekannya menulis, “Suku Bajo lebih dahulu mengenal budaya secara turun temurun dibandingkan keilmuan astronomi.” Kalimat itu diletakkan di bagian pendahuluan.

Kalimat itu berdiri sebagai dasar seluruh kegiatan. Namun budaya yang disebut lebih dahulu itu justru yang paling sedikit direkam.

Etnoastronomi sendiri didefinisikan peneliti sebagai pemahaman budaya yang berkaitan dengan ilmu astronomi. Pada kasus Bajo Wuring, wujudnya adalah bintang untuk berlayar.

Definisi itu menuntut dua sisi hadir bersama, yakni sisi budaya dan sisi keilmuan. Laporan ini memuat sisi keilmuan jauh lebih lengkap daripada sisi budayanya.

Peneliti juga tidak mencantumkan berapa lama wawancara berlangsung. Berapa sesepuh yang ditemui dan bagaimana keterangan mereka diperiksa silang juga tidak disebut.

Tanpa keterangan itu, klaim bahwa metode perbintangan masih dipakai sulit ditimbang. Pembaca hanya bisa menerimanya sebagai kesimpulan pengamat.

Evaluasinya pun hanya lisan. Tidak ada angka sebelum dan sesudah, tidak ada uji, dan jumlah pesertanya 25 orang di satu sekolah.

Karena itu capaian yang diklaim sulit diperiksa ulang. Yang tercatat adalah kesan pengamat, bukan ukuran yang bisa dibandingkan.

Mamau yang Tinggal Satu Kata

Di pesisir utara Flores itu, bintang masih dipakai untuk pulang. Peneliti sendiri yang menuliskannya, berdasarkan survei mereka.

Yang berpindah ke ruang kelas hanyalah Ursa Mayor, Scorpio, Orion, dan Crux. Mamau tetap tinggal di luar, di laut, pada orang-orang tua yang tidak disebut namanya.

Bagikan

Baca Juga

Badai Guntur Bandara Minangkabau, 52 Kejadian di Januari
Self-Talk Positif dan Keputusan Atlet Futsal Remaja
Honai Disebut Rumah Sehat meski Tanpa Satu Pun Jendela
Dapur Ritual Osing, Ruang Pengetahuan Perempuan Adat
Barter Du-Hope Lamalera, Ikan Ditukar Jagung dan Pisang
Peta Risiko 20 Kedai Kopi Padang, Lama dan Baru Berbeda