DESI Rilis Peta 2D Alam Semesta Terbesar, Muat 5,6 Triliun Piksel dari 4 Miliar Objek Langit

A A

Citra galaksi Messier 96, bagian dari peta dua dimensi alam semesta terbesar hasil DESI Legacy Imaging Surveys. [Foto: DESI Legacy Imaging Surveys/Berkeley Lab]

Cekricek.id — Kolaborasi DESI Legacy Imaging Surveys, yang dipimpin Lawrence Berkeley National Laboratory dan NSF NOIRLab, merilis peta dua dimensi langit paling rinci yang pernah dibuat manusia. Peta itu tersusun dari 5,6 triliun piksel dan mencatat hampir 4 miliar objek langit, mencakup 75 persen wilayah langit yang bisa diamati dari Bumi.

Peta itu dipaparkan David Schlegel, ko-pemimpin Legacy Surveys sekaligus ilmuwan Berkeley Lab, bersama Arjun Dey, ko-pemimpin Legacy Surveys dan astronom di NSF NOIRLab, lewat rilis resmi Lawrence Berkeley National Laboratory, Senin (10/8/2026).

263.407 Kali Pemotretan dalam 13 Tahun

Peta raksasa ini dirangkai dari 263.407 kali paparan teleskop yang dikumpulkan sepanjang 13 tahun pengamatan, lalu diproses selama delapan pekan penuh memakai superkomputer Perlmutter untuk menggabungkan seluruh citra menjadi satu peta langit yang mulus dan bisa dijelajahi secara daring.

“Ini sudah menjadi bagian dari denyut nadi riset astronomi sekarang. Ketika bekerja dengan objek-objek astronomis hari ini, orang sering memulainya dengan membuka Legacy Imaging Viewer untuk melihat apa yang sedang mereka amati,” kata Schlegel, menggambarkan betapa peta ini sudah jadi rujukan sehari-hari astronom di seluruh dunia.

Terbuka untuk Siapa Saja, Tak Hanya Ilmuwan

Dey menekankan peta ini tidak dibuat semata untuk kalangan periset. “Bagi tim kami, data ini fundamental untuk investigasi kami atas sejarah ekspansi alam semesta dan pembentukan galaksi kita. Tapi langit adalah milik semua orang, dan survei ini memberi kesempatan bagi siapa saja untuk menjelajahi langit dan mengagumi keajaibannya,” kata Dey.

Landasan bagi Observatorium Generasi Berikutnya

Peta Legacy Surveys ini dirancang sebagai fondasi bagi dua proyek observasi generasi berikutnya yang segera beroperasi penuh: Vera C. Rubin Observatory dan teleskop luar angkasa Nancy Grace Roman. Kedua instrumen itu akan memakai peta ini sebagai referensi awal untuk mengarahkan pengamatan dan mengidentifikasi objek yang layak diteliti lebih lanjut, mulai dari galaksi jauh sampai objek tata surya yang belum tercatat.

Nathalie Palanque-Delabrouille, ilmuwan Berkeley Lab yang juga anggota kolaborasi DESI, menambahkan bahwa data yang menyertai peta ini turut menguatkan temuan sebelumnya soal perilaku aneh percepatan ekspansi alam semesta. “Pelemahan percepatan yang teramati DESI tidak lagi bisa dijelaskan dengan konstanta kosmologis,” kata Palanque-Delabrouille, merujuk pada anomali yang menantang model kosmologi standar tentang energi gelap.

Baca juga: Pembentukan Bintang di Andromeda Melambat, Galaksi Kerdil M32 Jadi Tersangka

Baca juga: Corong Magnet Saturnus Melenceng ke Sisi Sore, Terbaca dari Data Cassini 2004–2010

Bagikan

Baca Juga

Titik Kesetimbangan Asteroid Minerva dan 2008 EV5 Tidak Stabil
Etnoastronomi Suku Bajo Wuring dan Bintang yang Tak Dicatat
Badai Geomagnet 2023 dan Sintilasi yang Justru Tertekan
NASA Luncurkan Teleskop Roman Senilai 4,3 Miliar Dolar
Bintang S301 Melesat 25.000 Km/Detik di Pusat Bima Sakti
1.000 Simulasi: Kelahiran Bumi Bukan Kebetulan Kosmis