Pembentukan Bintang di Andromeda Melambat, Galaksi Kerdil M32 Jadi Tersangka

Mosaik memanjang Galaksi Andromeda memperlihatkan cakram spiral, jalur debu gelap, dan inti terang di tengahnya

Mosaik Galaksi Andromeda yang disusun dari ratusan bidikan Teleskop Antariksa Hubble. [Foto: NASA/ESA/Hubble]

Cekricek.id — Galaksi Andromeda, tetangga besar Bimasakti, memproduksi bintang jauh lebih sedikit dibanding setengah miliar tahun lalu. Pengamatan Teleskop Antariksa Hubble memperlihatkan laju pembentukan bintangnya menyusut, dan sebuah galaksi kerdil di dekatnya menjadi tersangka yang paling masuk akal.

Pemetaan itu dikerjakan tim yang melibatkan Tobin Wainer, mahasiswa pascasarjana di University of Washington. Hasilnya dilaporkan lewat artikel The Panchromatic Hubble Andromeda Southern Treasury (PHAST). II. The Spatially Resolved Recent Star Formation History in M31 dalam jurnal The Astrophysical Journal pada 2026.

Dua Ratus Juta Bintang Dihitung Satu per Satu

Andromeda berjarak sekitar 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi. Kedekatan itu, dalam ukuran kosmik, membuatnya menjadi satu-satunya galaksi spiral besar yang bintang-bintangnya dapat dipisahkan satu per satu oleh teleskop.

Tim memanfaatkan keunggulan tersebut. Hubble memotret sekitar 200 juta bintang yang tersebar pada dua pertiga cakram Andromeda, lalu warna dan kecerahan tiap bintang dipakai untuk memperkirakan umurnya. Dari sebaran umur itulah riwayat pembentukan bintang direkonstruksi mundur.

Baca juga: Galaksi Purba ZF-UDS-7329 Berumur 13 Miliar Tahun Bikin Bingung Ilmuwan

Hasilnya menunjukkan penurunan yang tajam. Sekitar 500 juta tahun lalu Andromeda membentuk bintang baru setara satu massa matahari setiap tahun. Kini angkanya tinggal sekitar seperlima massa matahari per tahun. Perlambatan paling curam terbaca pada rentang sekitar 60 juta tahun terakhir.

Tetangga Kecil yang Dicurigai

Bagi galaksi, memperlambat produksi bintang bukan peristiwa sesaat. Bintang baru lahir dari awan gas dingin yang mampat, sehingga laju kelahirannya bergantung pada seberapa banyak gas semacam itu tersisa dan seberapa tenang keadaannya. Guncangan dari luar dapat memanaskan atau menghamburkan gas tersebut, dan akibatnya baru terbaca puluhan juta tahun kemudian.

Perhatian tim tertuju pada M32, galaksi kerdil padat yang kini berada sekitar 16.000 tahun cahaya dari Andromeda. Simulasi terdahulu menyebut M32 pernah menembus cakram Andromeda, dan tumbukan semacam itu bisa mengaduk gas yang menjadi bahan baku bintang.

Namun para peneliti menahan diri dari menyimpulkan hubungan sebab-akibat.

“Kami tidak bisa menyatakan secara tegas bahwa kami melihat penurunan pembentukan bintang karena M32. Tetapi ia ada di sana, dan ia jelas tersangka yang paling mungkin,” kata Tobin Wainer, mahasiswa pascasarjana University of Washington, seperti dikutip dari Space.com, Senin (10/8/2026).

Baca juga: Teleskop Webb Ungkap Misteri Tertua Alam Semesta

Yang Belum Terjawab

Kehati-hatian itu beralasan. Yang dipetakan tim adalah kapan bintang terbentuk, bukan apa yang memicu atau menghentikannya. Kebetulan waktu antara lintasan M32 dan melambatnya produksi bintang bersifat menunjukkan, bukan membuktikan; galaksi juga bisa kehabisan gas dingin tanpa campur tangan tetangga.

Sepertiga cakram Andromeda yang belum tercakup survei juga menyisakan ruang bagi gambaran yang berbeda. Pemetaan lanjutan pada bagian itu diperlukan sebelum riwayat lengkapnya bisa dibaca utuh.

Rekonstruksi umur bintang sendiri punya batas ketelitian. Warna dan kecerahan sebuah bintang dipengaruhi pula oleh debu di antaranya dan oleh jaraknya, sehingga umur yang diperkirakan mengandung rentang ketidakpastian — bukan angka tunggal.

Pertanyaannya menyentuh Bimasakti pula. Kedua galaksi diperkirakan bergerak saling mendekat dan pada akhirnya bertemu, sehingga apa yang terjadi pada Andromeda dianggap sebagai cermin yang berguna untuk memahami nasib galaksi tempat tata surya kita berada.

Baca juga: Heboh! Bintang di Jantung Bimasakti Ternyata Pendatang dari Galaksi Asing

Baca Juga

Planet katai Pluto berwarna kecokelatan dengan dataran es berbentuk hati di sisi bawah, dipotret wahana New Horizons
Tekanan Atmosfer Pluto Turun 16 Persen, Terbaca dari Okultasi Bintang
Citra korona matahari berwarna hijau dengan piringan matahari tertutup, hasil instrumen ASPIICS pada misi Proba-3 ESA
Satelit Kembar ESA Bikin Gerhana Buatan untuk Menguji Model Cuaca Antariksa
Sebuah satelit mengorbit dengan latar permukaan Bumi
Uni Eropa Perbesar Konstelasi IRIS² Jadi 348 Satelit, Investasi Naik ke 15,6 Miliar Euro
Ilustrasi planet Saturnus dan cincinnya
Corong Magnet Saturnus Melenceng ke Sisi Sore, Terbaca dari Data Cassini 2004–2010
Pecahan batuan dan mineral ditata di atas permukaan putih
Meteorit yang Menembus Atap Rumah di New Jersey Simpan Jejak Air Asin Purba
Ilustrasi planet Bumi dilihat dari antariksa
Aliran Besi Cair di Bawah Pasifik Berbalik Arah pada 2010, Terekam Satelit Swarm