Cekricek.id — Kelahiran Bumi sebagai planet berbatu pada jarak yang pas dari Matahari tampaknya bukan kebetulan langka. Lebih dari seribu simulasi komputer terbaru memperlihatkan planet seukuran Bumi muncul berulang kali di posisi yang serupa ketika tata surya dibiarkan berkembang dari kondisi awal yang diacak.
Hasil tersebut dipaparkan Nader Haghighipour, ilmuwan planet di University of Hawaii at Manoa, dalam konferensi Origins 2026 di Paris, menurut laporan Universe Today, Jumat (21/08/2026). “Tidak ada alasan untuk meyakini bahwa Bumi kita adalah sebuah kebetulan,” kata Haghighipour.
Tiga Dasawarsa Model yang Mentok
Simulasi pembentukan planet kebumian menggambarkan tahap akhir kelahiran tata surya, ketika ribuan bakal planet berukuran Bulan hingga Mars saling bertumbukan lalu menyatu menjadi planet berbatu. Pemodelan semacam itu sudah dikerjakan astronom sejak awal 1990-an dan menjadi salah satu cara utama menguji apakah susunan tata surya kita tergolong lazim atau ganjil.
Namun menurut Haghighipour, pendekatan yang dipakai selama ini menumpuk terlalu banyak penyederhanaan sehingga tidak bisa lagi didorong lebih jauh. “Setelah sekitar tiga puluh tahun mengerjakan pembentukan planet kebumian dengan satu cara tertentu, kami sampai pada titik ketika kami menyadari bahwa pemodelan yang kami lakukan pada masa lalu punya banyak keterbatasan dan tidak bisa didorong lebih jauh lagi,” ujarnya.
Baca juga Arus Atlantik Melemah Bisa Percepat Pemanasan Bumi
Kendala klasik lainnya adalah waktu komputasi. Satu rangkaian simulasi dulu bisa memakan waktu enam hingga delapan bulan sehingga jumlah skenario yang bisa diuji sangat terbatas. Dengan penyesuaian metode dan perangkat keras masa kini, rentang itu memendek menjadi enam hingga delapan pekan dan dapat dijalankan di komputer jinjing.
Bumi Berulang, Venus 28 Persen
Dari lebih dari seribu simulasi yang dijalankan dengan kondisi awal acak, planet seukuran Bumi berkali-kali terbentuk di sekitar satu satuan astronomi — jarak rata-rata Bumi ke Matahari. Mars pun kerap muncul sebagai benda kecil di dekat posisi orbitnya sekarang, salah satu detail yang selama ini sulit direproduksi model lama. Ukuran Mars yang jauh lebih kecil daripada Bumi termasuk teka-teki lama dalam kajian pembentukan tata surya.
Venus tercatat muncul pada sekitar 28 persen simulasi. Angka itu, menurut paparan tersebut, mengindikasikan susunan tata surya bagian dalam yang kita kenal bukan hasil satu jalur tunggal yang mustahil terulang, melainkan salah satu keluaran yang cukup sering diproduksi oleh proses pembentukan planet.
Baca juga Adenot, Perempuan Prancis Pertama Berjalan di Antariksa
Meski begitu hasilnya jauh dari seragam. “Bahkan variasi kecil pada kondisi awal dapat berdampak besar pada produk akhir sebuah tata surya,” tutur Haghighipour. Dua simulasi dengan pengaturan awal nyaris identik bisa berakhir pada susunan planet yang berbeda jauh.
Baca juga 75 Kali Lipat Bakteri di Perairan Kerang Perna perna
Status Temuan dan Batasnya
Paparan itu disampaikan dalam forum konferensi ilmiah, bukan sebagai laporan jurnal yang sudah melewati tinjauan sejawat. Angka dan kesimpulannya karena itu masih berpeluang berubah ketika naskah lengkapnya diuji penelaah independen.
Simulasi juga bukan pengamatan langsung. Model semacam ini menunjukkan seberapa sering suatu hasil muncul dari sekumpulan asumsi awal, bukan membuktikan bahwa planet mirip Bumi memang berlimpah di galaksi. Frekuensi kemunculan dalam model tidak serta-merta setara dengan frekuensi di alam, dan pembuktiannya tetap bergantung pada survei eksoplanet serta pengamatan piringan protoplanet di sekitar bintang muda.
Sampai naskah lengkapnya terbit dan diuji penelaah lain, pernyataan bahwa Bumi bukan kebetulan masih berstatus hasil awal dari satu paparan konferensi, bukan kesimpulan yang sudah mapan di kalangan astronom.
















