Cekricek.id — 435 badai guntur tercatat di sekitar Bandara Internasional Minangkabau sepanjang 2018 sampai 2022. Angka itu dihimpun dari laporan sinoptik harian selama 5 tahun pengamatan.
Puncaknya jatuh pada dua bulan, yaitu Januari dan April. Keduanya sama-sama mencatat 52 kejadian sepanjang 5 tahun pengamatan tersebut.
Februari menyusul dengan 49 kejadian, Mei 48, dan Maret 44. Paruh pertama tahun karena itu jauh lebih rawan daripada paruh kedua.
Bulan paling sepi adalah Juli dan Agustus, masing-masing 20 kejadian. Selisihnya dengan Januari mencapai 32 kejadian, atau lebih dari 3 kali lipat jumlahnya.
Sisanya tersebar di antara kedua ujung itu. Juni mencatat 30 kejadian, September 27, Oktober 33, November 21, dan Desember 39.
Sebuah kajian menghitung ulang ambang enam indeks stabilitas atmosfer untuk bandara itu. Penelitinya 4 orang dari Departemen Fisika, Universitas Negeri Padang, di Kota Padang.
Mereka adalah Ari Nuryadi, Nofi Yendri Sudiar, Hamdi Hamdi, dan Harman Amir. Ari Nuryadi juga tercatat di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Laporannya berjudul Threshold Value of Atmospheric Stability Indices During Thunderstorm Events at Minangkabau International Airport.
Artikel itu dimuat Jurnal Ilmu Fisika Volume 17 Nomor 2 terbitan September 2025. Halamannya 201 sampai 213, diterbitkan Universitas Andalas.
Naskahnya diterima 5 Juli 2025 dan direvisi 10 Agustus. Persetujuannya keluar 17 Agustus, lalu terbit daring sehari sesudahnya.
Daftar Isi
Enam Indeks yang Dihitung Ulang
Indeks yang diuji berjumlah enam. Ketiganya yang pertama adalah energi potensial konvektif tersedia, indeks K, dan indeks angkat.
Tiga sisanya adalah indeks Showalter, indeks ancaman cuaca buruk, dan indeks total-total. Keenamnya dihitung dari data radiosonde, yaitu profil tegak atmosfer dari permukaan sampai ketinggian tertentu.
Indeks angkat dihitung dari selisih suhu pada lapisan 500 hektopascal. Nilai negatif pada indeks itu menandakan atmosfer tidak stabil, dan 500 hektopascal jadi lapisan acuannya.
Indeks Showalter memakai cara yang mirip. Bedanya, paket udaranya diangkat dari lapisan 850 hektopascal, bukan dari permukaan seperti pada indeks angkat.
Indeks K memakai dua hal sekaligus. Yang dihitung adalah kelembapan dan gradien suhu tegak pada lapisan 850 sampai 500 hektopascal.
Data yang dipakai meliputi 5 parameter cuaca. Yaitu suhu, tekanan, kelembapan, kecepatan angin, dan arah angin dari profil tegak atmosfer.
Pengolahannya memakai dua perangkat lunak. Yang pertama program pengamatan radiosonde, yang kedua paket statistik dengan pendekatan regresi dummy.
Regresi dijalankan terpisah untuk masing-masing dari 6 indeks. Hasilnya berupa nilai ambang yang kemudian diuji dengan data kejadian tahun berikutnya.
Alasan menghitung ambang lokal disebutkan sejak awal. Ambang global dinilai kurang efektif karena variasi geografi dan iklim antarwilayah cukup besar.
Baca juga Badai Geomagnet 2023 dan Sintilasi yang Justru Tertekan
Tiga Tingkat untuk 12 Bulan
Setiap indeks dibagi ke dalam 3 tingkat keadaan atmosfer. Ketiganya adalah stabil, peralihan, dan tidak stabil, masing-masing dengan rentang angkanya sendiri.
Pembagian itu dibuat terpisah untuk 12 bulan. Alasannya, sebaran 435 badai guntur di bandara tersebut berubah cukup jauh dari bulan ke bulan.
Ambang energi potensial konvektif untuk keadaan tidak stabil memuncak pada Desember. Angkanya lebih dari 1.486,46 joule per kilogram.
Nilai stabilnya justru terendah pada musim kemarau. Contohnya Juni di bawah 526,13 dan Oktober di bawah 418,09 joule per kilogram.
Rentang peralihannya juga dicatat. Pada Januari angkanya 1.141,02 sampai 1.306,04 joule per kilogram, sedangkan pada April 889,94 sampai 1.187,85.
Ambang tidak stabil indeks K konsisten di atas 34 sepanjang tahun. Nilai tertingginya muncul pada Desember, yaitu lebih dari 36,08.
Nilai stabil indeks K umumnya di bawah 30 sampai 33. Contohnya Mei di bawah 30,93 dan Juli di bawah 29,44.
Indeks angkat disebut tidak stabil bila nilainya lebih kecil daripada minus 3. Contohnya Juli di bawah minus 3,38 dan Desember di bawah minus 3,48.
Indeks Showalter menunjukkan ketidakstabilan pada nilai di bawah 0. Contohnya minus 0,41 pada Maret dan minus 0,94 pada April.
Ambang tidak stabil indeks ancaman cuaca buruk selalu di atas 210. Nilai tertingginya 215,76 pada Desember, terendah 183,01 untuk keadaan stabil Juli.
Indeks total-total tidak stabil pada nilai di atas 44. Keadaan stabilnya terjadi bila nilainya di bawah 43, seperti 42,32 pada Juni.
Rentang peralihan indeks total-total juga dicatat. Contohnya 43,05 sampai 44,52 pada Januari dan 42,86 sampai 43,61 pada Oktober.
Uji 2023 dan Angka 100 Persen
Ambang itu kemudian diuji pada kejadian badai guntur sepanjang 2023. Alat ujinya matriks kebingungan dengan 3 ukuran, yaitu akurasi, presisi, dan recall.
Tiga indeks mencatat recall di atas 88 persen sepanjang tahun. Ketiganya adalah indeks K, indeks Showalter, dan indeks ancaman cuaca buruk.
Nilai recall yang tinggi berarti kejadian badai jarang terlewat. Namun ketiganya juga sering menyalakan alarm palsu, sehingga presisinya rendah.
Indeks Showalter mencapai recall 100 persen selama 7 bulan berturut-turut. Rentangnya dari Juni sampai Desember, dengan kesalahan klasifikasi yang cukup tinggi.
Pada Juli dan Agustus, 3 indeks mencatat recall 100 persen sekaligus. Ketiganya indeks K, Showalter, dan indeks ancaman cuaca buruk.
Indeks total-total paling seimbang pada Mei. Akurasinya 70,8 persen, dan tidak ada satu pun dari kejadian badai bulan itu yang terlewat.
Pada Juni, dua indeks tampil paling baik. Energi potensial konvektif dan indeks K sama-sama mencatat akurasi di atas 83 persen.
September menjadi bulan yang paling bersih. 4 indeks utama sekaligus mencatat akurasi, presisi, dan recall 100 persen pada bulan tersebut.
Pada Oktober, indeks K unggul lagi dengan akurasi 78,6 persen. Nilai recall-nya tetap 100 persen pada bulan tersebut.
Indeks total-total paling stabil pada November dan Desember. Recall-nya 100 persen dengan presisi di atas 60 persen.
Baca juga Curah Hujan Kalimantan Selatan Nyaris Nol Saat El Nino
12 Bulan, 12 Pasangan Indeks
Dari hasil itu peneliti menyusun 1 tabel rekomendasi bulanan. Setiap bulan dari 12 bulan itu diberi indeks utama dan indeks pendukungnya sendiri.
Januari memakai indeks K dan Showalter sebagai indeks utama. Pendukungnya indeks total-total, dan pola yang sama berlaku pada Februari dengan tambahan indeks angkat.
Maret hanya memakai 1 indeks utama, yaitu indeks K. Bulan itu menjadi satu-satunya dari 12 bulan yang tidak diberi indeks pendukung sama sekali.
April memakai gabungan 2 indeks utama, yaitu indeks angkat dan indeks K. Pendukungnya indeks Showalter.
Mei menempatkan indeks total-total dan Showalter di posisi utama. Keduanya dipilih karena recall-nya mencapai 100 persen pada bulan tersebut.
Juli sampai September memakai indeks ancaman cuaca buruk dan total-total. Periode 3 bulan itu ditandai konveksi yang digerakkan geseran angin.
Oktober memakai indeks ancaman cuaca buruk bersama indeks K. Pada bulan itu indeks total-total mulai melemah kinerjanya.
November mengembalikan indeks total-total ke posisi utama. Desember mempertahankannya dengan 3 indeks pendukung, yaitu Showalter, ancaman cuaca buruk, dan indeks K.
Dua indeks justru tidak dianjurkan sepanjang tahun. Energi potensial konvektif dan indeks angkat dinilai terlalu peka terhadap kelembapan permukaan.
Ambang Lokal 100 Persen, Ambang Global 40 Persen
Perbandingan dengan ambang global menjadi bagian paling tegas kajian ini. Indeks K lokal mencatat akurasi hingga 100 persen.
Bulan-bulannya disebutkan, yaitu Maret, Juni, Juli, dan September. Padanan globalnya tidak pernah mencapai angka 100 persen pada bulan mana pun sepanjang pengujian.
Indeks angkat lokal menjaga presisi pada rentang 50 sampai 75 persen. Nilai itu terhitung konsisten sepanjang 12 bulan pengujian.
Sebaliknya, ambang global sering terpuruk. Akurasi indeks ancaman cuaca buruk dan energi potensial konvektif kadang hanya 40 sampai 50 persen.
Presisi kedua indeks itu bahkan sempat mendekati 0 pada beberapa bulan. Artinya hampir seluruh peringatannya berupa alarm palsu.
Satu kasus disebut peneliti paling mencolok. Indeks ancaman cuaca buruk gagal mendeteksi badai guntur dengan kriteria global, lalu mencapai kepekaan penuh setelah ambangnya dihitung lokal.
1 Bandara, 5 Tahun, dan Sisa Pertanyaan
Peneliti menautkan hasilnya dengan 4 kajian terdahulu di Indonesia. Keempatnya dilakukan di Merauke, Bandara Iskandar, Makassar, dan Stasiun Meteorologi Sultan Hasanuddin.
Di Merauke, nilai optimal indeks angkat dan Showalter tercatat minus 3 dan minus 0,1. Energi potensial konvektifnya 1.500 joule per kilogram pada Desember sampai Februari.
Di Bandara Iskandar, angkanya berbeda lagi. Indeks angkat di sana kurang dari minus 2,4 dan indeks ancaman cuaca buruk lebih dari 215,9.
Di Makassar, rentang indeks Showalter tercatat minus 0,1 sampai 3,0. Rentang indeks K-nya di sana tercatat 31,1 sampai 39,0 pada musim badai dominan.
Perbedaan angka antarlokasi itulah yang menjadi inti argumennya. 1 ambang global tidak bisa dipakai untuk seluruh wilayah tropis.
Yang perlu dicatat, kajian ini bersandar pada 1 bandara saja. Ambangnya dihitung dari 5 tahun data dan diuji hanya pada 1 tahun berikutnya.
Kesimpulannya pun dibatasi peneliti pada wilayah Padang Pariaman. Peningkatan keandalan peringatan dini disebut berlaku untuk daerah tersebut.
Angka terakhirnya kembali ke 435 kejadian dalam 5 tahun. Yang belum dijawab kajian ini adalah berapa lama ambang itu bertahan sebelum perlu dihitung ulang.
Baca juga Tiga Puluh Tahun Kekeringan Ekstrem Indonesia dalam Satu Peta














