Daftar Isi
Cekricek.id — Buku bergambar jenjang atas memuat gambar yang membantah teksnya. Buku jenjang bawah tidak memuat satu pun halaman semacam itu. Selisih tersebut keluar dari tiga puluh empat pasang teks dan gambar yang dibedah satu per satu, halaman demi halaman.
Kerjanya dilakukan Muhamad Fanni Al Farisi dan Bernadette Kushartanti dari Universitas Indonesia bersama Dwi Purwanto dari University of Colorado Boulder, Amerika Serikat. Laporan mereka, How word-image relationships in children’s picture books adapt across levels: A multimodal analysis, terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 1 tahun 2025, halaman 33 sampai 52.
Objeknya dua buku terbitan Kementerian Pendidikan yang sama-sama terbit pada 2022. Yang pertama Gambar Lucu Mika, ditulis Tyas Widjati dan digambar Faza, untuk pembaca jenjang paling awal. Yang kedua Naik-Naik ke Puncak Bukit, ditulis Sarah Fauzia dan digambar Alima Nufus, satu tingkat di atasnya.
Dua Buku, Dua Jenjang

Kementerian menerbitkan tiga puluh enam buku bergambar dan menjenjangkannya menurut tahap perkembangan membaca anak. Ada jenjang pembaca dini, pembaca awal, pembaca semenjana, pembaca madya, dan pembaca mahir. Tiap jenjang berisi empat judul, kecuali dua jenjang teratas yang masing-masing delapan judul.
Tim mengambil dua jenjang terbawah karena sasaran pembacanya masih anak-anak menurut Undang-Undang Perlindungan Anak. Jenjang pembaca dini disiapkan untuk anak di bawah delapan tahun, jenjang pembaca awal untuk anak berusia enam sampai sepuluh tahun. Di atas sepuluh tahun, undang-undang itu sudah menyebut mereka remaja.
Halaman yang hanya berisi teks dibuang, begitu pula halaman yang hanya berisi gambar. Sisanya tiga puluh empat pasang: tiga belas dari Gambar Lucu Mika, dua puluh satu dari Naik-Naik ke Puncak Bukit.
Pembacaannya dua lapis. Lapis pertama menandai apa yang muncul di teks dan di gambar tanpa memakai kotak mana pun lebih dulu, supaya perincian kecil tidak keburu hilang. Lapis kedua memasukkan temuan tadi ke kotak yang sudah ada, lalu menghitung isinya.
Selama ini kerumitan sebuah bacaan dihitung dari dua sisi: panjang kalimat berikut kesulitan katanya, dan hubungan antara pembaca dengan teks, termasuk pengetahuan yang sudah dibawa pembaca sebelum ia membuka halaman pertama. Kelly dan Kachorsky pada 2022 mencatat kedua ukuran itu sama-sama melewatkan sifat dua moda buku bergambar.
Padahal dua moda tersebut bekerja dengan arah yang berlawanan. Serafini dan Reid pada 2022 menyebut teks tertulis mendorong pembaca terus maju, sementara gambar menahannya supaya berhenti pada perincian. Buku bergambar berdiri persis di antara dua tarikan itu.
Lima Kotak yang Disiapkan
Kotaknya milik Nikolajeva dan Scott, disusun pada 2006, dan jumlahnya lima. Pembedanya satu hal saja: seberapa banyak keterangan yang dibagi bersama oleh teks dan gambar, lalu ke arah mana keduanya berselisih. Namanya simetris, memperkaya, saling melengkapi, berkontrapung, dan bertentangan.
Baca juga Tiga Mahasiswa Prancis dan Bunyi Indonesia yang Sulit
Simetris berarti teks dan gambar bercerita sama persis, tanpa tambahan dari salah satunya. Memperkaya berarti satu moda menambahkan keterangan kecil pada moda yang lain. Saling melengkapi berarti tambahan itu menjadi begitu penting sampai ceritanya tidak lagi utuh kalau salah satunya dicabut.
Berkontrapung berarti teks dan gambar menyodorkan keterangan yang berbeda arah, dan makna halaman baru muncul dari selisih tersebut. Bertentangan adalah bentuk ekstremnya, ketika teks dan gambar terang-terangan saling menyangkal. Kotak terakhir inilah yang belakangan menjadi penanda jenjang.
Alat bacanya dua lagi. Tata bahasa fungsional Halliday dipakai membedah proses dan pelaku di dalam kalimat, sampai ketahuan siapa mengerjakan apa. Pendekatan multimodal Kress dan Van Leeuwen dipakai membaca arah pandang, garis gerak, dan tata ruang di dalam gambar.
Angka di Dua Buku
Dari tiga belas pasang di buku jenjang bawah, tujuh berhubungan memperkaya dan lima saling melengkapi. Hanya satu yang berkontrapung, atau delapan persen dari seluruh halaman yang diperiksa. Tidak ada satu pun yang bertentangan.
Dari dua puluh satu pasang di buku jenjang atas, delapan memperkaya dan enam saling melengkapi. Lima berkontrapung, naik dari delapan persen menjadi dua puluh empat persen. Dua sisanya bertentangan, kategori yang sama sekali kosong di buku jenjang bawah.
Hubungan simetris tidak ditemukan di kedua buku, satu pun tidak. Dari lima kotak yang disiapkan Nikolajeva dan Scott, hanya empat yang akhirnya terisi. Kotak tersulit cuma terisi di buku jenjang atas, itu pun sebanyak dua halaman.
Mika dan Ponsel Besar
Contoh hubungan memperkaya ada pada satu halaman Gambar Lucu Mika. Teksnya menyebut tiga hal saja: Kak Gio, Mika, dan gambar lucunya. Gambarnya memuat lebih banyak, termasuk tanaman hias di sudut ruangan dan sebuah ponsel yang sengaja digambar berukuran besar.
Warna kulit dan warna rambut kedua tokoh hanya ada di gambar, begitu pula letak mereka terhadap benda-benda di sekitarnya. Ukuran ponsel yang dibesarkan itu menandai betapa pentingnya benda tersebut di dalam adegan. Teksnya tidak menyebut satu pun perincian tadi.
Pada contoh saling melengkapi, teksnya menyebut Mika menggambar sendiri saja. Gambarnya menunjukkan Kak Gio duduk persis di sebelahnya sambil menunduk ke layar ponsel. Sendiri di situ ternyata berarti ditemani tetapi tidak diperhatikan.
Lantai bermotif, meja kecil, dan posisi Mika yang duduk langsung di lantai menandai ruang dalam rumah. Tidak satu pun keterangan itu ada di teksnya. Buang salah satu moda, dan halaman tersebut berubah arti.
Baca juga Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang
Satu halaman lain memperlihatkan Mika menatap layar ponsel, dan arah pandangnya jelas tertuju ke deretan emoji, tanda bahwa ia tertarik. Teksnya menyatakan hal sebaliknya: gambar-gambar itu tidak lucu baginya. Dua keterangan tersebut tidak bisa didamaikan.
Perhatian ternyata bukan kesenangan. Tim membaca halaman itu sebagai isyarat bahwa tanda lahiriah seorang anak tidak selalu sejalan dengan perasaan di dalamnya. Pembacanya, yang berusia di bawah delapan tahun, harus mengurus dua keterangan yang bertolak belakang sekaligus.
Sabit yang Diam
Di Naik-Naik ke Puncak Bukit, tokohnya bernama Sabit dan Bulan. Satu halaman menggambarkan Sabit menutup telinga dengan mata terpejam, dikelilingi garis zigzag merah, tanda yang lazim dipakai untuk rasa sakit atau suara yang terlalu keras. Teksnya menyebut Sabit perlu suasana tenang.
Halaman lain memakai frasa dengan segera untuk menerangkan cara Sabit bangkit, dan keterangan kecepatan itu tidak ada di gambarnya. Gambarnya justru menambahkan sebuah tangan yang terulur meraih bunga, tanda bahwa Sabit tidak sendirian pada saat sulit tersebut.
Ada pula halaman yang teksnya penuh proses batin dan ajakan bersiap-siap dengan segera, sementara gambarnya sama sekali diam. Tidak ada garis gerak, tidak ada tanda perpindahan. Tokoh-tokohnya berdiri tegak dengan raut wajah yang sama sekali tidak terburu-buru.
Pertentangan yang sesungguhnya muncul di halaman berikutnya. Teksnya menyebut Sabit menirukan ucapan Bulan dan melakukan ekolalia, kondisi ketika seseorang mengulang kata yang baru saja didengarnya tanpa bisa ditahan. Gambarnya memperlihatkan mulut Sabit tertutup rapat.
Bulan disebut mengucapkan kata penenang dua kali, tetapi di gambar ia sama sekali tidak sedang berbicara. Teks menyatakan Ayah dan Bulan bernapas lega, sementara tubuh Ayah digambar kaku dan tangan Bulan masih terulur. Yang dikatakan dan yang ditunjukkan berjalan berlawanan.
Halaman itu meninggalkan pertanyaan yang tidak dijawabnya sendiri, dan barangkali memang tidak dimaksudkan untuk dijawab. Benarkah Sabit bersuara, atau pengulangan itu terjadi di dalam kepalanya saja? Benarkah keadaannya sudah sereda kalimat yang menceritakannya?
Nikolajeva dan Scott berpendapat, makin jauh jarak antara apa yang dikatakan teks dan apa yang ditunjukkan gambar, makin lebar ruang yang terbuka bagi imajinasi pembaca. Ruang itu ada harganya. Membacanya menuntut kerja pikiran yang jauh lebih berat.
Yang Belum Terjawab
Kajian tentang hubungan teks dan gambar sudah banyak dikerjakan. Callow pada 2020 membedah satu buku, Yefymenko pada 2024 dua buku, Hermawan dan Sukyadi pada 2017 tiga buku, sementara Elmiana dan Shen pada 2024 memeriksa sepuluh buku sekaligus. Tidak satu pun membandingkannya menurut jenjang pembaca.
Baca juga Bak'ba, Pantun Bernyanyi dari Simpang Parit
Yang sudah diketahui datang dari sisi pembacanya. Studi lacak gerak mata terhadap 115 anak berusia tiga sampai enam tahun, dikerjakan Li, Martin, Baogen, dan Xiaomei pada 2020, menemukan anak yang lebih kecil menghabiskan waktu lebih lama pada gambar ketimbang pada teks.
Hubungan yang sederhana memang menolong pembaca pemula. Lepola, Kajamies, Laakkonen, dan Niemi pada 2020 menemukan anak yang lebih muda terbantu oleh hubungan teks dan gambar yang tidak berjarak jauh. Haris, Febrianti, dan Yannuar pada 2023 mencatat hal yang serupa.
Kemampuan membaca dua moda sekaligus tumbuh belakangan. Pike, Barnes, dan Barron pada 2010 menyimpulkan tingkat kerumitan hubungan teks dan gambar ikut menentukan pemahaman anak. Shimek pada 2021 menemukan kemampuan tersebut berkembang lebih baik pada anak yang lebih besar.
Tim mencatat sendiri batas kerjanya. Bukunya hanya dua dari tiga puluh enam yang tersedia, dan sudut penceritaan keduanya pun berbeda: satu memakai sudut pandang orang pertama, satu lagi orang ketiga. Karena itu angka-angka tadi berlaku untuk dua buku tersebut, bukan untuk seluruh buku bergambar anak di Indonesia.
Untuk lanjutannya, tim menyarankan penelitian berikutnya memakai contoh yang jauh lebih banyak dan sudut penceritaan yang seragam. Mereka juga mengusulkan pengujian langsung pada anak, misalnya lewat lacak gerak mata atau perekaman apa yang dipikirkan anak sambil membaca.
“Buku bergambar jenjang lebih tinggi dikembangkan untuk melibatkan pembaca muda dengan interaksi multimodal yang lebih menuntut secara kognitif,” tulis tim itu di bagian simpulan.
Apakah anak-anaknya sanggup, itu soal lain. Studi yang dikutip tim, garapan Wang, Su, dan Zheng pada 2023, menemukan anak berusia lima sampai enam tahun kerap memperlakukan teks dan gambar sebagai dua hal yang tidak berhubungan satu sama lain.
Pedoman perjenjangan buku Nomor 030/P/2022 mengatur mutu teks dan mutu gambar, satu per satu. Hubungan di antara keduanya tidak diatur di sana.
Yang naik jenjang bukan cuma panjang kalimatnya, melainkan juga jarak antara kata dan gambar.















