Suku Togutil Keluar dari Hutan setelah Dakwah Sejak 1984

A A

Permukiman warga Togutil yang sudah keluar dari hutan, di tepi Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Buli, Halmahera Timur. [Foto: Akbar raf/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Orang suku Togutil di Dusun Gifoli mengenal Islam secara langsung sejak 1984 lewat dua ustaz Muhammadiyah.
  • Setiap kontak dengan orang luar selalu dijembatani kepala kelompok dan orang Maba yang paham bahasa setempat.
  • Khalil Abubakar dan kawan-kawannya memanggul sembako sejauh 30 kilometer menembus hutan Halmahera Timur sejak 2012.
  • Bantuan Kementerian Sosial belum merata karena data orang Tugutil belum lengkap, sehingga muncul kecemburuan antarkelompok.
  • Naskah Bahrudin Hasan dan rekannya tidak memuat bagian tentang keterbatasan penelitian maupun jumlah informan.
Daftar Isi
  1. Sejak 1984, Dua Ustaz Muhammadiyah Masuk ke Hutan Halmahera Timur
  2. Kepala Kelompok Jadi Pintu Masuk Semua Percakapan dengan Suku Togutil
  3. Khalil Abubakar Menempuh 30 Kilometer Membawa Sembako dan Pakaian Bekas
  4. Bantuan Kementerian Sosial Sampai Tak Merata, Kecemburuan Muncul
  5. Cara Berpakaian, Mandi, dan Bertani Berubah setelah Akulturasi
  6. Angka Tahun dan Nama yang Tidak Cocok dalam Naskah Bahrudin Hasan

Cekricek.id — Khalil Abubakar menuturkan lima belas orang memanggul sembako dan pakaian bekas untuk menemui kelompok suku Togutil. Jarak yang mereka tempuh 30 kilometer menembus hutan Halmahera Timur. Rombongan itu mulai masuk ke hutan pada 2012. Pada 2017 Abubakar dan kawan-kawannya membentuk lembaga swadaya masyarakat bernama Kafan Ekspedisi. Perjalanan tersebut tercatat dalam sebuah penelitian komunikasi antarbudaya di Maluku Utara.

Penelitian itu dikerjakan Bahrudin Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail, ketiganya dari Program Doktor Ilmu Komunikasi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Sahid, Jakarta. Laporan mereka terbit di International Journal of Environmental, Sustainability, and Social Sciences Volume 2 Nomor 3 tahun 2022, halaman 350 sampai 369. Judulnya The Role of Opinion Leaders in the Acculturation of the Togutil Tribe in East Halmahera Regency, North Maluku Province.

Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail ingin mengetahui bagaimana peran pemuka pendapat dalam akulturasi antara suku Togutil dan suku Maba di Kabupaten Halmahera Timur. Pendekatan yang mereka pakai kualitatif. Objeknya orang Togutil yang sudah keluar dari hutan dan berbaur dengan masyarakat di kawasan adat Gam Rangge. Di kabupaten itu, catat para peneliti, ada lima suku besar, yaitu Maba, Tidore, Jawa, Tobelo, dan Tugutil.

Sejak 1984, Dua Ustaz Muhammadiyah Masuk ke Hutan Halmahera Timur

Menurut Hasan dan rekan-rekannya, orang suku Togutil di Dusun Gifoli mengenal Islam secara langsung sejak 1984. Ketika itu Muhammadiyah Maluku Utara menugaskan dua ustaz berdakwah di tengah mereka. Sebelum berdakwah, keduanya lebih dulu bekerja sama dengan orang Maba yang sudah akrab dan menguasai bahasa setempat. Kepala kelompok berhasil diislamkan, lalu ia memberi warganya pilihan: ikut masuk Islam atau tetap menjalani hidup seperti sebelumnya.

Salah seorang yang menerima pilihan itu adalah Abubakar Tiwi, yang juga dipanggil Silifu. “Waktu itu kami masuk Islam bersama keluarga besar, yaitu pada 1984, diajari ustaz Kamarullah dan ustaz Zainal,” katanya dalam wawancara 25 November 2020 yang dikutip Hasan dan rekan-rekannya. “Setelah masuk Islam, kami perlahan meninggalkan budaya dan adat nenek moyang kami dan mengikuti ajaran Islam.”

Baca juga Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi

Tiwi juga menuturkan, sebelum mengenal Islam mereka tinggal di hutan tanpa pakaian penutup tubuh; yang dipakai adalah Sabeba dari kulit kayu yang hanya menutup bagian kemaluan. Setelah keluar dari hutan, kata dia, mereka memakai pakaian yang sama dengan orang lain. Hasan dan rekan-rekannya mencatat, satu hal yang tetap dipertahankan Tiwi dan keluarganya sampai hari ini adalah bahasa mereka sendiri.

Jauh sebelum 1984, tulis Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail, sudah ada hubungan lama antara orang suku Togutil dan Kesultanan Tidore. Penghubungnya para pemangku adat di Halmahera Timur. Sultan mengangkat pemuka adat Maba yang disebut Sanggaji dan pemuka adat Togutil yang disebut Famayira Tobaru. Buktinya, menurut para peneliti, kepala kelompok Togutil bernama Dubo atau Abdul Mutalib diundang menemui Sultan Tidore pada 1984.

Kepala Kelompok Jadi Pintu Masuk Semua Percakapan dengan Suku Togutil

Hasan dan rekan-rekannya menggambarkan tabiat orang Togutil sebagai penakut dan berhati-hati bila bertemu orang di luar kelompoknya, sehingga mereka pasif dan tidak membuka percakapan lebih dulu. Karena itu, tulis para peneliti, setiap kontak selalu dijembatani kepala kelompok. Pemuka agama, organisasi masyarakat sipil, dan aparat pemerintah pun selalu membawa serta orang Maba yang paham bahasa setempat.

Dalam wawancara 25 November 2020, Abubakar Tiwi menerangkan kepada para peneliti bahwa pemimpin adat atau kepala suku memegang peran penting dalam setiap pengambilan keputusan di kelompoknya. Kepala adat itu, kata dia, juga bertanggung jawab atas kelompok serta menjamin keamanan dan kebersamaan. Ia mewakili kelompoknya berbicara dengan siapa pun yang ditemui, termasuk orang suku Maba.

Pendekatan lain yang dicatat Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail adalah meniru kebiasaan suku Togutil sendiri, yaitu mangudotaka, adat saling mengantar makanan antarkelompok bila satu kelompok berlebih. Para dai menyalin kebiasaan itu dengan selalu membawa makanan, sembako, pakaian, dan rokok setiap kali bertemu. Cara tersebut, tulis para peneliti, sangat manjur, dan mereka disambut terbuka di dalam kelompok.

“Sejak 2016, kami berdakwah kepada orang-orang suku Tugutil di pedalaman Hutan Halmahera Timur dengan menempuh perjalanan kira-kira 2 sampai 3 jam menuju lokasi mereka,” ujar Ustaz Nurhadi dari Hidayatullah dalam wawancara 5 Desember 2020. Menurut dia, adaptasi berlangsung sekitar satu tahun lima bulan sebelum dakwah dimulai, dan sepanjang 2016 sampai 2018 sekitar 21 orang memilih memeluk Islam.

Khalil Abubakar Menempuh 30 Kilometer Membawa Sembako dan Pakaian Bekas

Khalil Abubakar, ketua Kafan Ekspedisi, bercerita kepada Hasan dan rekan-rekannya bahwa kegiatan mereka dimulai pada 2012. Mereka masuk hutan untuk melihat keadaan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan orang Tugutil. Dalam wawancara 12 September 2020, Abubakar menyebut banyak yang masih tidak memakai pakaian. Sebagian lain kekurangan bahan makanan dan tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Bantuan yang dikumpulkan Abubakar dan kawan-kawannya berasal dari masyarakat Halmahera Timur, dari luar daerah, serta dari perusahaan Antam Haltim. Salah satu program mereka, menurut Hasan dan rekan-rekannya, adalah mendekati perusahaan itu agar membantu membangun rumah panggung sesuai keinginan warga di hutan. Satu unit berdiri pada 2018, satu unit lagi pada 2019, sejauh 30 kilometer dari Kecamatan Wasile.

Hamparan hutan dan punggungan gunung Taman Nasional Aketajawe-Lolobata di Halmahera Timur
Hamparan hutan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata di Buli, Halmahera Timur, kawasan tempat kelompok Togutil tinggal. [Foto: Akbar raf/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Pesan yang terus diulang Abubakar dan kawan-kawannya ada empat, dicatat Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail. Jangan terlalu bergantung pada hutan dan beralihlah bertani; jagalah kebersihan rumah serta pekarangan agar terhindar dari penyakit; peliharalah hutan di sekitar; dan pakailah pakaian penutup tubuh. Mereka juga menyebarkan foto kehidupan orang Togutil lewat Facebook, Twitter, dan grup WhatsApp agar masyarakat lebih peduli.

Bantuan Kementerian Sosial Sampai Tak Merata, Kecemburuan Muncul

Dari sisi pemerintah, Hasan dan rekan-rekannya mewawancarai Nurain Komdan, pelaksana tugas Dinas Sosial Halmahera Timur, pada 3 Desember 2020. Ia merinci bantuan beras dan telur setiap bulan sepanjang 2019 sampai 2020, bantuan sembako, dan Kartu Indonesia Sehat. Ada pula bantuan tunai 300 ribu rupiah per bulan, seluruhnya bersumber dari APBN.

Menurut keterangan Komdan kepada para peneliti, bantuan itu disalurkan di kecamatan-kecamatan Halmahera Timur dan tidak dialamatkan khusus kepada orang Tugutil, melainkan kepada masyarakat umum. Penyalurannya belum merata karena data orang Tugutil belum lengkap. Kelompok yang sudah keluar dari hutan dan memilih tinggal bersama warga setempat, kata dia, dibantu sesuai kebutuhan masing-masing.

Program pemberdayaan komunitas adat terpencil yang dicatat Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail berjalan sejak 1960-an dan terbagi tiga kategori. Kategori pertama untuk kelompok yang masih berpindah-pindah, kategori kedua untuk yang semi-menetap dengan bantuan perumahan tiga tahun. Kategori ketiga untuk kelompok yang sudah menetap dan mampu membiayai hidupnya sendiri.

Baca juga Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera

Yekon Penes, warga kelompok Togutil di Dusun Titipa, termasuk yang dikeluarkan pemerintah daerah dari hutan untuk menempati rumah layak huni. “Awalnya kami merasa tidak nyaman dengan rumah yang dibangun pemerintah karena berbeda dengan rumah yang kami tinggali di hutan,” katanya dalam wawancara 9 September 2020. Lama-kelamaan, kata Penes, mereka menyesuaikan diri, belajar bertani dengan baik, dan menyekolahkan anak.

Namun Hasan dan rekan-rekannya mencatat bantuan itu tidak merata dan menimbulkan kecemburuan antarkelompok. Di Dusun Koehino, kelompok yang semula dipindahkan ke Dusun Titipa lama-kelamaan kurang diperhatikan, lalu pindah ke kawasan hutan lindung. Untuk hidup sehari-hari, selain berburu dan mencari ikan, mereka meminta uang kepada kendaraan yang lewat di jalan menuju ibu kota kabupaten.

Cara Berpakaian, Mandi, dan Bertani Berubah setelah Akulturasi

Perubahan pada tingkat individu yang dicatat Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail dimulai dari keinginan belajar membaca dan menulis. Orang suku Togutil yang tinggal di hutan tidak pernah mengenyam pendidikan. Setelah bertemu orang Maba dan pemuka masyarakat, mereka belajar membaca di luar sekolah. Motivasinya, tulis para peneliti, agar tidak direndahkan suku lain yang selama ini menyebut mereka suku bodoh.

Cara berpakaian juga bergeser, dan Hasan dan rekan-rekannya menyebut tiga faktor di baliknya. Pertama, pengaruh budaya Maba yang kuat karena pakaian bekas dan pakaian baru terus diberikan sampai menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Kedua, faktor psikologis, yakni rasa malu memakai pakaian adat di depan umum. Ketiga, faktor sosial, yakni rasa canggung yang hilang bila memakai pakaian yang sama.

Baca juga Sofifi dari Arsip 1706 ke Ruang Kelas di Tidore

Kebiasaan lain ikut berubah, tulis Hasan dan rekan-rekannya. Orang suku Togutil kini mandi memakai sabun, padahal sebelumnya jarang mandi, kadang sekali seminggu atau bahkan sekali sebulan, dan tidak mengenal sabun. Mereka juga tidak lagi menyantap makanan mentah atau meminum air sungai langsung, melainkan memasaknya lebih dahulu.

Di tingkat kelompok, para peneliti mencatat kehidupan berpindah-pindah dalam rombongan 20 sampai 50 orang sudah berhenti. Dahulu, tulis Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail, permusuhan antarkelompok kadang berujung pembunuhan karena pelanggaran batas wilayah berburu atau penculikan gadis dari kelompok lain. Perdamaian ditempuh dengan menikahkan anak kedua kelompok yang bermusuhan agar hubungan kekeluargaan menguat.

Setelah belajar bertani dari orang Maba, tulis Hasan dan rekan-rekannya, orang suku Togutil membuka lahan cukup luas. Di atasnya mereka menanam cengkeh, pala, dan kelapa yang bisa dijual. Sebagian juga berdagang dan memancing di laut. Kelompok yang mengikuti pola hidup Maba berada di Desa Gifoli, Marasit, Titipa, dan Bebsli. Di Maba Tengah, seorang warga Togutil bahkan diangkat menjadi kepala desa.

Angka Tahun dan Nama yang Tidak Cocok dalam Naskah Bahrudin Hasan

Naskah Bahrudin Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail tidak memuat bagian tentang keterbatasan penelitian. Jumlah informan tidak dicantumkan. Hanya lima orang yang disebut namanya, yaitu Abubakar Tiwi, Khalil Abubakar, Ustaz Nurhadi, Nurain Komdan, dan Yekon Penes. Cara memilih informan, lama pengamatan, serta jumlah kelompok Togutil yang didatangi juga tidak dituliskan.

Beberapa ketidakcocokan terbaca langsung dalam naskah Hasan dan rekan-rekannya. Nama suku ditulis berganti-ganti sebagai Togutil dan Tugutil. Bahasa yang dipakai berkomunikasi disebut Tobaru di satu bagian dan Tobelo di bagian lain. Keterangan sitasi di halaman pertama menulis tahun 2021, sedangkan riwayat artikelnya mencatat naskah diterima 22 Oktober 2022 dan disetujui 16 Desember 2022.

Selip lain juga terbaca dalam tulisan Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail. Daftar alasan kehadiran pemuka agama melompat dari nomor pertama ke nomor ketiga tanpa nomor kedua. Judul salah satu subbagian tertulis Effect of Changes on Accuracy of the Togutil Suku, memakai kata accuracy alih-alih acculturation. Nama Halmahera Timur dua kali tertulis East Timor, dan halaman buku De Ternate Archipel dicatat sebagai pp. 40-402.

Bagi Khalil Abubakar, semuanya bermula dari perjalanan kaki 30 kilometer pada 2012 itu. Hasan, Sihabudin, dan Jamalullail menutup laporan mereka dengan satu kesimpulan. Interaksi antara suku Togutil dan pemuka agama, pemuka adat, tokoh masyarakat, serta pemerintah sudah berlangsung sejak 1984. Dampaknya langsung terasa pada akulturasi budaya. Kafan Ekspedisi yang dibentuk Abubakar pada 2017 tercatat masih mengumpulkan bantuan sampai 2021.

Bagikan

Baca Juga

Tradisi Adat Suku Sasak, Atap Bale yang Membuat Tamu Menunduk
Tuturan Ritual Hapo Ana, Doa Adat Sabu untuk Menyambut Bayi
Tato Tradisional Dawan Terputus, Stigma PKI Jadi Faktor Terkuat
Enam Benda Tradisi Mowuwusoi Dibaca dalam Tiga Lapis Makna
Ritual Kahik Malar Menjemput Jiwa yang Hilang karena Kecelakaan
Hukum Adat Tau Taa Wana, Givu yang Diputus lewat Mogombo