- Tiga peneliti menemukan 112 gambar cadas yang tersebar di 23 panel di Gua Wakuntai, Kabupaten Muna.
- Gambar itu dipilah ke dalam 46 gambar manusia, tujuh hewan, 11 geometris, dan 48 abstrak.
- Tujuh gambar hewan terdiri atas empat kuda, dua lipan, dan satu kadal.
- Sebanyak 48 gambar disebut abstrak karena bentuknya tidak diketahui dan tidak dapat diidentifikasi.
- Naskah tidak menyebut pertanggalan atau usia gambar-gambar tersebut.
Daftar Isi
Cekricek.id — Dari ujung jalan kebun di Desa Liang Kabori, perjalanan menuju gambar cadas Gua Wakuntai dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati vegetasi yang rapat. Pohon-pohon besar tumbuh di sekitar mulut gua. Mulut itu menghadap ke timur, lebarnya 5,5 meter, dan tinggi dari lantai hingga langit-langitnya 3,5 meter.
Situs itu berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman warga, di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Gua itu berada di kawasan karst Liang Kabori, pada ketinggian 210 meter di atas permukaan laut. Pada dinding-dindingnya, tiga peneliti menghitung satu per satu dan menemukan 112 gambar cadas yang tersebar di 23 panel.
Ketiganya adalah Muh. Aprisal Oka dari Program Magister Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin; Hasdairta Laniampe dari Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo; serta Asma Sari dari Jurusan Arkeologi di fakultas dan kampus yang sama. Hasil kerja mereka terbit dengan judul Tipologi Gambar Cadas pada Situs Gua Wakuntai di Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara dalam Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Volume 8 Nomor 1, edisi 1 Juni 2024, halaman 76–92.
Seratus dua belas gambar itu mereka pilah ke dalam empat motif: 46 gambar manusia, tujuh gambar hewan, 11 gambar geometris, dan 48 gambar abstrak. Dari empat motif itu lahir 12 tipe. Menurut para penulis, kajian terdahulu di kawasan karst Liang Kabori masih bersifat telaah awal dan inventarisasi, belum memakai metode yang spesifik dan detail untuk mengetahui tipologi gambar cadas Gua Wakuntai.
Mulut Gua di Lohia
Batuan karst mengapit situs itu di tiga sisi, yakni utara, timur, dan barat. Di bagian selatan berdiri pohon-pohon besar yang jenisnya tidak diidentifikasi, bersama rerumputan liar. Koordinat gua tercatat pada 4°53′46,95″ Lintang Selatan dan 122°40′11,68″ Bujur Timur, sedangkan peta lokasinya dibuat dengan perangkat lunak ArcMap 10.8.
Di dalam gua, keadaannya dicatat dalam satu kalimat pendek. “Pencahayaan di dalam gua tersebut cukup baik, sementara kelembapan tanah sangat rendah,” tulis Oka, Laniampe, dan Sari tentang ruang tempat gambar-gambar itu berada. Cahaya dan kelembapan itu dicatat sebagai bagian dari pendeskripsian lingkungan situs, tahap yang menurut mereka dilakukan sebagaimana penelitian arkeologi pada umumnya.
Gambar di dinding bukan satu-satunya jejak yang tertinggal. Observasi lapangan juga menemukan artefak, fragmen gerabah, dan fragmen cangkang moluska. Fragmen gerabah dan cangkang itu dimuat dalam naskah sebagai foto yang dibuat para penulis pada 2023, bersama foto mulut gua dan peta lokasi situs.
Baca juga Rangka Perempuan di Bawah Gambar Cadas Gua Batu Baras
Kamera, Skala, dan ImageJ
Sebelum dinding gua dipotret, pengumpulan data dimulai dari penelusuran pustaka berupa hasil-hasil penelitian, laporan, dan artikel yang relevan dengan kajian tersebut. Setelah itu data lapangan dikumpulkan dengan mendeskripsikan setiap gambar secara verbal dan piktoral, sebelum seluruhnya diklasifikasikan menurut atribut masing-masing.
Perekaman dimulai dari lingkungan situs, lalu posisi keletakan tiap gambar di dinding. Setelah itu, setiap gambar cadas Gua Wakuntai dipotret dan dideskripsikan dari arah kiri ke kanan, panel demi panel. Pemotretan memakai kamera digital DSLR dengan skala yang sudah ditentukan. Deskripsinya mencatat ukuran, bentuk, kondisi, dan posisi keletakan gambar.
Foto-foto itu kemudian diolah dengan perangkat lunak ImageJ dan plugin D’Stretch. Para penulis menjelaskan gunanya dengan lugas. “Plugin D’Stretch berfungsi untuk memperjelas foto yang biasanya pudar, tertutup lumut dan tumpang tindih dengan gambar lain,” tulis mereka. Hasil olahan itu lalu digabungkan dan diolah lagi di perangkat lunak Corel Draw X.
Pemilahan memakai klasifikasi taksonomis dari Irving Rouse (1960), yang membentuk tipe berdasarkan dua atribut atau lebih yang ditentukan peneliti. Pembagian motifnya mengacu pada Maynard (1977): motif figuratif menyerupai sesuatu yang dikenal, seperti manusia, binatang, dan tumbuhan, sedangkan motif non-figuratif terlalu umum untuk ditetapkan pada bentuk tertentu, seperti segitiga dan lingkaran.
Atribut yang dipakai adalah atribut yang kuat dan melekat pada setiap gambar. Dengan cara itu, satu motif bisa dipecah lagi menjadi tipe, subtipe, dan subsubtipe, bergantung pada ciri yang terlihat pada gambar tersebut. Hasil pemilahan tiap motif disajikan dalam bagan klasifikasi taksonomi tersendiri, dari Bagan 1 untuk motif manusia hingga Bagan 4 untuk motif abstrak, lalu direkap dalam Bagan 5.
Manusia dalam Gambar Cadas Gua Wakuntai
Sosok manusia mengisi 46 dari 112 gambar. Untuk memilahnya, para penulis memakai tiga lapis atribut: manusia sebagai tipe, ada atau tidaknya genggaman sebagai subtipe, serta ada atau tidaknya kaki sebagai subsubtipe. Dari 46 gambar itu, atributnya berbeda-beda.
Sepuluh sosok digambarkan menggenggam objek dan memiliki kaki, diberi kode Mmg1. Tiga sosok lain menggenggam objek tetapi tanpa kaki, masuk kode Mmg2. Kelompok terbesar ada pada sosok tanpa genggaman yang memiliki kaki: 19 gambar, berkode Mtg1. Sisanya, 14 gambar, adalah sosok tanpa genggaman dan tanpa kaki, berkode Mtg2. Keempat tipe itu ditampilkan dalam satu rangkaian foto di naskah, dari Mmg1 hingga Mtg2.

Dalam rekapitulasinya, naskah menyebut motif manusia sebagai motif yang paling sering ditemukan dalam gambar cadas Gua Wakuntai. Padahal, pada rekapitulasi yang sama, gambar abstrak berjumlah 48, dua lebih banyak daripada gambar manusia. Naskah tidak menjelaskan selisih tersebut, dan tidak menyebut bahwa hitungan itu hanya berlaku bagi gambar yang bentuknya dapat dikenali.
Kuda, Lipan, dan Kadal
Di dinding yang sama, sosok hewan jauh lebih jarang. Hanya tujuh gambar bermotif hewan yang tercatat, dan seluruhnya dipilah menurut jenis. Empat gambar adalah kuda, berkode H1. Dua gambar lipan berkode H2. Satu gambar kadal berkode H3. Foto ketiga jenis hewan itu dimuat berdampingan dalam naskah, masing-masing ditandai huruf a, b, dan c.
Para penulis menyandingkan temuan ini dengan motif hewan yang dilaporkan di situs lain, lalu menarik kesimpulan yang berhati-hati. Karena jumlahnya cukup rendah dibandingkan motif manusia dan geometris, gambar hewan dalam gambar cadas Gua Wakuntai menurut mereka kemungkinan belum memiliki makna secara spiritual. Naskah tidak menguraikan cara dugaan itu diuji.
Baca juga Benteng Keraton Buton dan Dua Belas Pintunya
Garis dan Arsiran
Sebelas gambar lain tidak menyerupai makhluk apa pun. Motif geometris itu terbagi ke dalam empat bentuk. Geometris Penifrom, berkode GP, berjumlah enam gambar. Geometris Tercifrom, berkode GT, hanya satu. Geometris Line, berkode GL, tiga gambar. Geometris Crosshatch, berkode GC, juga hanya satu gambar. Contoh keempat bentuk itu dimuat sebagai foto dari dokumentasi para penulis pada 2023.
Soal makna, para penulis tidak menyamakan temuan mereka dengan situs lain. Menurut mereka, beberapa bentuk geometris yang pernah dilaporkan di tempat lain memang juga ditemukan pada gambar cadas Gua Wakuntai. Namun, fungsi dan makna gambar-gambar tersebut di Gua Wakuntai, tulis mereka, kemungkinan berbeda. Naskah tidak menyebut apa fungsi atau makna itu.
48 Bentuk Tanpa Nama
Kelompok terbanyak justru yang paling sulit dibaca. “Semua gambar tersebut disebut motif abstrak karena bentuknya tidak diketahui dan tidak dapat diidentifikasi,” tulis Oka, Laniampe, dan Sari. Empat puluh delapan gambar di dinding Gua Wakuntai jatuh ke kelompok ini, dan seluruhnya dihitung sebagai satu tipe.
Dari keempat motif, klasifikasi berakhir pada 12 tipe: empat tipe manusia, tiga jenis hewan, empat bentuk geometris, dan satu tipe abstrak. Distribusi gambar pada tiap panel, dari panel 1 hingga panel 23, disajikan dalam bentuk diagram di dalam naskah. Abstraknya ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dengan kata kunci tipologi, gambar cadas, Wakuntai, dan Muna.
Naskah tidak memuat bagian keterbatasan penelitian tersendiri. Meski begitu, sejumlah batas tertulis di dalamnya: 48 dari 112 gambar cadas Gua Wakuntai tidak dapat diidentifikasi bentuknya, jenis pohon di sisi selatan situs tidak diidentifikasi, dan naskah tidak menyebut pertanggalan atau usia gambar-gambar tersebut.
Baca juga Laser Mengenali Tambalan Semen di Stalaktit Gua Aul
Ada pula ketidaksesuaian di dalam naskah. Bagian metode menyebut motif dasar Gua Wakuntai terdiri atas manusia, perahu, geometris, dan abstrak, sedangkan abstrak dan bagian hasil menyebut manusia, hewan, geometris, dan abstrak. Tidak ada motif perahu dalam hitungan akhir. Setiap kelompok motif, termasuk tujuh gambar hewan, juga ditulis “tersebar di 23 panel”, sama dengan jumlah seluruh panel di situs itu.
Mulut gua di ujung jalan kaki dari kebun Liang Kabori itu tetap menghadap ke timur, selebar 5,5 meter. Di balik mulut itu, gambar cadas Gua Wakuntai kini tercatat sebagai 12 tipe berkode, dari Mmg1 hingga GC, ditambah 48 gambar yang bentuknya tidak diketahui dan tidak dapat diidentifikasi.















