- Pertunjukan Gandang Sarunai umumnya terdiri atas tahap pembukaan, pengembangan, klimaks, dan penutup.
- Pemain sarunai harus menguasai pernapasan sirkular yang membutuhkan latihan bertahun-tahun.
- Pola ritme gandang tidak dituangkan dalam notasi dan diwariskan lewat pengamatan, latihan, dan pengalaman tampil.
- Bunyi gandang dan sarunai menjadi tanda bagi warga bahwa sebuah prosesi adat sedang berlangsung.
- Bagian hasil naskah menguraikan tujuh fungsi sosial, tetapi kesimpulannya hanya menyebut enam.
Daftar Isi
Cekricek.id — Rombongan keluarga tiba di sebuah baralek di Solok Selatan, dan Gandang Sarunai mulai dimainkan untuk menyambut mereka. Tempo masih lambat. Sarunai membuka dengan melodi pembuka, sementara gandang menahan ritme sederhana di bawahnya. Bunyi pertama itu punya tugas yang jelas: menarik perhatian orang di sekitar dan menandai bahwa pertunjukan sudah dimulai.
Suara sarunai sampai ke tempat yang jauh. Corongnya dirancang untuk menghasilkan bunyi nyaring dan tajam agar terdengar di ruang terbuka. Warga yang mendengarnya dapat mengetahui adanya pesta adat, perayaan nagari, atau kegiatan sosial tertentu hanya dari bunyi itu. Dalam satu kelompok, biasanya dua hingga empat orang memainkan gandang, memukul membran kulit dengan tangan, tanpa stik.
Gambaran itu berasal dari artikel Dika Rizki Anshari dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang dan Sriyanto dari Institut Seni Budaya Indonesia Padangpanjang. Keduanya menulis Struktur Musikal dan Fungsi Sosial Gandang Sarunai di Kabupaten Solok Selatan di Jurnal Musik Etnik Volume 6 Nomor 1 edisi Januari/Juni 2026. Naskah itu diterima pada 22 Mei 2026 dan terbit pada 2 Juni 2026.
Mereka memakai metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data dikumpulkan lewat pengamatan langsung atas pertunjukan, wawancara semi-terstruktur dengan seniman, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga pendukung, serta dokumentasi berupa foto, rekaman audio visual, arsip pertunjukan, dan catatan lapangan. Lokasi dipilih secara purposive karena kesenian ini masih sering tampil di perkawinan, batagak pangulu, dan alek nagari.
Analisisnya berjalan dalam tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga dengan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Naskah tidak menyebut berapa informan yang diwawancarai, siapa mereka, nagari mana yang didatangi, ataupun kapan pertunjukan diamati. Naskah juga tidak memuat bagian khusus yang memaparkan keterbatasan penelitiannya.
Gandang
Gandang yang ditabuh dalam kesenian ini berupa silinder kayu yang kedua sisinya ditutup membran kulit hewan. Kulitnya umumnya kulit kambing atau kulit sapi yang sudah melalui proses pengeringan. Pemilihan bahan, tulis kedua peneliti, sangat memengaruhi warna suara. Variasi bunyi lahir dari perbedaan tekanan, posisi pukulan, dan kekuatan tangan saat memukul membran.
Para penabuh tidak memainkan pola yang sama. Satu orang menjaga ritme dasar sebagai pengatur tempo utama. Yang lain memainkan pola tambahan untuk memperkaya tekstur musikal. Pola-pola itu saling mengisi dan menghasilkan dinamika yang oleh penulis disebut kompleks. Seiring pertunjukan berjalan, ritme bertambah rumit melalui variasi aksentuasi, sinkopasi, dan perubahan intensitas pukulan.
Tidak satu pun pola itu tertulis. Anshari dan Sriyanto mencatat bahwa ritme Gandang Sarunai tidak dituangkan dalam notasi formal seperti sistem musik Barat. Pengetahuan itu berpindah dari generasi tua ke generasi muda lewat pengamatan langsung, latihan rutin, dan pengalaman tampil dalam pertunjukan adat. Menurut mereka, pengetahuan musikal dalam tradisi ini masih bertumpu pada memori kolektif masyarakat.
Sarunai
Dari deretan penabuh, perhatian berpindah ke peniup sarunai. Alat tiup ini disebut memegang peran sangat dominan karena membawa melodi utama. Badannya terbuat dari kayu dengan beberapa lubang nada. Karakter bunyinya yang tajam membuatnya efektif untuk prosesi arak-arakan dan pertunjukan luar ruangan. Dalam konteks adat, suaranya kerap menjadi penanda bahwa suatu kegiatan adat sedang berlangsung.
Meniupnya tidak mudah. Pemain sarunai harus menguasai pernapasan sirkular agar tiupan berjalan terus tanpa terputus. “Penguasaan teknik ini membutuhkan latihan bertahun-tahun sehingga tidak semua orang mampu menjadi pemain sarunai,” tulis Dika Rizki Anshari dan Sriyanto. Selain teknik, peniup dituntut pandai berimprovisasi, karena melodinya tidak selalu terikat pada pola yang tetap.
Baca juga Perjalanan Tari Minangkabau: Dari Panggung Adat ke Layar Digital
Improvisasi itu menyesuaikan tiga hal: suasana pertunjukan, konteks acara, dan respons para penabuh gandang. Hubungan kedua alat digambarkan bersifat dialogis. Ketika gandang menaikkan intensitas ritmis, sarunai membalas dengan melodi yang lebih kompleks. Ketika sarunai memainkan frase melodi panjang, gandang kembali menjaga kestabilan ritme. Keseimbangan bolak-balik inilah yang disebut penulis sebagai ciri khas Gandang Sarunai.
Pembukaan hingga Penutup
Dalam satu penampilan, urutannya umumnya terdiri atas empat tahap. Pembukaan bertempo relatif lambat; sarunai memainkan melodi pembuka di atas ritme gandang yang sederhana, untuk menarik perhatian masyarakat dan menandai pertunjukan dimulai. Pada tahap pengembangan, variasi ritme gandang meningkat, melodi sarunai menjadi lebih aktif, dan interaksi antarpemain makin intens sehingga kemampuan musikal mereka terlihat.
Tahap klimaks adalah bagian paling dinamis. Tempo naik secara signifikan, pukulan menjadi lebih kuat, dan improvisasi sarunai makin ekspresif. “Pada bagian ini perhatian penonton biasanya mencapai titik tertinggi,” tulis kedua peneliti. Penutup kemudian menurunkan tempo secara bertahap. Intensitas ritme berkurang, dan sarunai memainkan frase penutup sampai pertunjukan berakhir secara teratur.

Panjang pendeknya empat tahap itu bergantung pada acara. Pada baralek, pertunjukan dapat berlangsung lebih lama karena harus mengikuti rangkaian prosesi adat. Pada penyambutan tamu atau kegiatan seremonial pemerintah, durasinya biasanya lebih singkat. Naskah tidak mencantumkan ukuran menit untuk keduanya, dan tidak menyertakan transkripsi notasi dari pola ritme maupun melodi yang dianalisis.
Arak-arakan Baralek
Di luar lingkaran pemain, pertunjukan itu bekerja untuk urusan lain. Fungsi paling dominan Gandang Sarunai, menurut penulis, adalah pelengkap upacara adat. Baralek, batagak pangulu, alek nagari, khitanan, penyambutan tamu penting, hingga kegiatan pemerintahan daerah sering menghadirkannya sebagai bagian dari prosesi. Di baralek, musik itu menyambut rombongan keluarga, mengiringi arak-arakan pengantin, dan menciptakan suasana meriah.
Di batagak pangulu, bobotnya lain. Musik ini disebut bermakna simbolik karena menjadi bagian dari legitimasi adat terhadap pengangkatan pemimpin kaum. Bunyi gandang dan sarunai juga menjadi tanda dimulainya prosesi adat. “Masyarakat yang mendengar bunyi tersebut memahami bahwa sedang berlangsung kegiatan adat tertentu,” tulis Anshari dan Sriyanto. Dengan begitu, menurut mereka, fungsi ritual dan fungsi simbolik berjalan bersamaan.
Fungsi itu bersambung dengan yang oleh penulis disebut komunikasi sosial. Karena bunyi sarunai nyaring dan dapat terdengar dari jarak jauh, warga sekitar bisa mengetahui adanya pesta adat, perayaan nagari, atau kegiatan sosial tertentu hanya dari bunyi yang dimainkan. Penulis menyebutnya media komunikasi nonverbal yang efektif, dengan peran praktis dalam kehidupan masyarakat.
Pada alek nagari, orang berkumpul untuk menikmati Gandang Sarunai sebagai hiburan bersama. Pertunjukan dinikmati warga dari berbagai kelompok usia, dan kegiatan menonton menjadi ruang interaksi informal antarwarga. Penulis juga mencatat persiapan pertunjukan biasanya dikerjakan secara gotong royong, dari menyiapkan tempat hingga kebutuhan teknis, melibatkan pemain, keluarga penyelenggara, tokoh adat, pemuda nagari, dan masyarakat umum.
Baca juga Peran Strategis Bundo Kanduang dalam Mewariskan Budaya Minangkabau
Keterlibatan kolektif itu, tulis penulis, memperkuat hubungan sosial antaranggota masyarakat. Mereka menempatkannya dalam masyarakat Minangkabau yang menjunjung nilai kebersamaan, sebagai penjaga solidaritas sosial di tengah pola hidup modern yang mereka sebut cenderung individualistik. Naskah tidak menyajikan data pembanding, misalnya jumlah warga yang terlibat dalam satu kali persiapan.
Pewaris Gandang Sarunai
Di lingkungan keluarga dan kelompok seni, pewarisan berlangsung lewat latihan informal. Generasi muda mengamati pemain senior, meniru pola permainan, lalu terlibat langsung dalam pertunjukan. Menurut penulis, yang diwariskan bukan hanya keterampilan musikal, tetapi juga nilai adat, etika pertunjukan, disiplin, serta tanggung jawab sosial sebagai pelaku seni tradisi.
Di titik yang sama, penulis mencatat tantangan yang mereka sebut serius. Menurunnya minat generasi muda, dominasi hiburan modern, berkurangnya frekuensi kegiatan adat, dan minimnya dokumentasi disebut sebagai ancaman bagi keberlanjutan kesenian ini. “Banyak generasi muda lebih tertarik pada musik populer modern dibandingkan mempelajari musik tradisional yang membutuhkan proses panjang,” tulis mereka. Kesimpulan naskah menambahkan satu soal lagi, yaitu terbatasnya regenerasi pemain.
Ada pula sisi ekonomi, meski penulis menegaskan itu bukan fungsi utama. Kelompok musik tradisional sering menerima honor dari pertunjukan adat maupun acara pemerintahan, dan pendapatan itu membantu seniman mempertahankan aktivitas kesenian mereka. Dalam beberapa kasus, pertunjukan budaya disebut ikut mendukung pariwisata lokal. Naskah tidak menyebut besaran honor ataupun jumlah kelompok yang masih aktif.
Halaman Rumah dan Panggung Festival
Tempat bermainnya pun berpindah-pindah. Gandang Sarunai dapat tampil di halaman rumah, lapangan terbuka, jalan raya saat arak-arakan, hingga panggung festival budaya. Para pemain umumnya mengenakan pakaian adat Minangkabau atau seragam tertentu yang menyesuaikan acara. Dalam perkembangan terbaru, kesenian ini juga tampil di festival seni daerah, acara pariwisata budaya, dan dokumentasi media digital.
Penulis membaca pergeseran itu sebagai transformasi fungsi pertunjukan dari ruang adat menuju ruang representasi budaya yang lebih luas. Dalam festival budaya daerah maupun nasional, Gandang Sarunai disebut sering ditampilkan sebagai representasi budaya Solok Selatan, dengan karakter musikal yang membedakannya dari kesenian tradisional daerah lain. Pemerintah daerah, tulis mereka, berperan menyediakan ruang pertunjukan, bantuan fasilitas, dan kebijakan pelestarian.
Upaya pelestarian yang dicatat datang dari masyarakat sendiri: pelatihan informal, festival budaya, dokumentasi akademik, serta pelibatan kesenian ini dalam kegiatan pariwisata dan pendidikan budaya lokal. Kesimpulan naskah menambahkan pendidikan seni berbasis budaya lokal dan regenerasi seniman muda sebagai jalan agar kesenian ini tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Solok Selatan.
Baca juga Benang Emas yang Merajut Pendidikan: Kisah Tersembunyi di Balik Songket Minangkabau
Beberapa bagian naskah tidak saling cocok. Bagian hasil menguraikan tujuh fungsi sosial, termasuk fungsi ekonomi. Kesimpulan hanya menyebut enam, sementara abstrak menyebut lima dan tidak memuat fungsi komunikasi. Di halaman pertama tercantum tiga baris afiliasi dengan tiga alamat surel, padahal hanya dua nama penulis yang tertulis, dan nama institut kedua penulis pun ditulis berbeda.
Semua itu kembali ke bunyi pertama di baralek tadi. Tempo yang lambat, melodi pembuka sarunai, dan ritme sederhana gandang tetap menjadi tanda bahwa pertunjukan dimulai. Namun menurut Anshari dan Sriyanto, bunyi Gandang Sarunai yang sama juga membawa pewarisan nilai, ikatan antarwarga, dan identitas Solok Selatan, selama masyarakat pendukungnya masih menjaga keberlangsungannya.















