Bibit Sawit Kekeringan Diuji dengan Mikoriza di Pre Nursery

A A

Ilustrasi bibit muda dalam polibag di sebuah pembibitan. [Foto: Pexels]

  • Satu bibit sawit di pembibitan awal menuntut 200 sampai 300 mililiter air setiap hari.
  • Kolonisasi akar tertinggi 93,33 persen tercatat pada kapasitas lapang 25 persen, bukan pada media paling basah.
  • Kerapatan stomata membuka tertinggi 203,57 muncul pada dosis mikoriza 10 gram di kapasitas lapang 75 persen.
  • Uraian prolin menyebut angka terendah 0,15 mikromol per gram bobot basah, sedangkan tabelnya menulis 0,14.
  • Percobaan hanya memakai dua taraf dosis mikoriza dan satu jenis tanah, berhenti pada 12 minggu setelah tanam.
Daftar Isi
  1. Dua Faktor, Delapan Kombinasi, Tiga Ulangan
  2. Kolonisasi Akar Tertinggi Justru di Media Paling Kering
  3. Stomata Membuka Paling Banyak pada Kapasitas Lapang 75 Persen
  4. Prolin Menumpuk Ketika Air Menyusut
  5. Tanah Masam Membatasi Manfaat Kolonisasi
  6. Selisih Angka dan Batas Percobaan

Cekricek.id — Satu bibit sawit di pembibitan awal menuntut 200 sampai 300 mililiter air setiap hari. Di musim kemarau panjang, tuntutan itu menaikkan biaya penyiraman.

Penyiraman yang tidak memadai di pembibitan awal menghambat pembukaan daun bibit sawit. Bibit yang terhambat berujung afkir dan tidak bisa ditanam.

Kondisi lapangan itulah yang melatari percobaan atas bibit sawit kekeringan di Padang. Percobaan menguji fungi mikoriza arbuskula sebagai jalan keluar.

Laporannya ditulis Lidia Sri Hardiyanti, Musliar Kasim, dan Indra Dwipa dari Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang. Lidia Sri Hardiyanti menjadi penulis korespondensi.

Naskahnya berjudul Analisis Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Tercekam Kekeringan Terhadap Pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Pada Pre Nursery. Penerbitnya Universitas Andalas.

Artikel itu terbit di JAGUR Jurnal Agroteknologi, Volume 7 Nomor 1, April 2025. Halamannya 1 sampai 8.

Naskah diterima 20 Januari 2025 dan disetujui 28 Maret 2025. Terbitnya 30 April 2025.

Dua Faktor, Delapan Kombinasi, Tiga Ulangan

Penelitian berlangsung dari Juni sampai September 2024. Tempatnya UPT Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.

Pengamatan kolonisasi akar dan uji akumulasi prolin dikerjakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Andalas Padang. Rancangannya percobaan faktorial dalam rancangan acak lengkap.

Faktor pertama kapasitas lapang dengan empat taraf: 100 persen, 75 persen, 50 persen, dan 25 persen. Faktor kedua dosis mikoriza dengan dua taraf, 10 dan 15 gram per bibit.

Setiap kombinasi diulang tiga kali sehingga terdapat 24 unit percobaan. Tiap unit berisi delapan tanaman sampel, empat destruktif dan empat non destruktif.

Indonesia disebut menguasai lebih dari 85 persen pasar kelapa sawit global. Luas areal perkebunannya naik dari 14.456.985 hektare pada 2019 menjadi 16.833.985 pada 2023.

Baca juga Harga Sawit Kemitraan Swadaya di Riau Kembali Menguat

Media tanamnya tanah Ultisol dari Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Tanah diambil pada kedalaman 0 sampai 20 sentimeter lalu dikeringanginkan selama satu minggu.

Tanah diayak dengan ayakan 5 mesh agar ukurannya relatif seragam. Setelah itu tanah dicampur pupuk Rock Phosphate sebanyak 10 gram per polibag.

Campuran disterilkan dengan dandang selama satu jam tiga puluh menit. Media lalu dimasukkan ke polibag berukuran 30 kali 30 sentimeter dengan volume 2 kilogram.

Benih yang dipakai kecambah kelapa sawit varietas DxP Simalungun dari PT Palma Inti Lestari. Hanya kecambah normal yang ditanam setelah diseleksi.

Rumah plastik berukuran 6 kali 4 meter dibangun dari kayu dengan atap dan dinding plastik UV bening. Label dan tiang standar dipasang saat penyusunan satuan percobaan.

Mikoriza Glomus diberikan bersamaan dengan penanaman kecambah. Lubang tanam dibuat sedalam 2 sampai 2,5 sentimeter tepat di tengah polibag.

Kecambah diletakkan di atas mikoriza dengan radikula di bawah dan plumula menghadap ke atas. Lubang ditutup tanah setebal 1 sampai 1,5 sentimeter tanpa dipadatkan.

Perlakuan cekaman dimulai setelah bibit berumur empat minggu setelah tanam. Takaran air ditentukan memakai metode drainase bebas.

Pupuk dasar NPK 15:15:6:4 diberikan pada empat minggu setelah tanam. Dosisnya 25 gram per 10 liter air untuk 200 bibit.

Alat yang dipakai mencakup mikroskop, hotplate, oven, dan timbangan digital. Bahannya antara lain KOH 10 persen, HCl 2 persen, ninhidrin, dan trypan blue.

Kolonisasi Akar Tertinggi Justru di Media Paling Kering

Kolonisasi akar diamati dengan teknik pewarnaan akar memakai trypan blue. Persentasenya dihitung dari jumlah akar terinfeksi dibagi jumlah sampel akar.

Tidak ada interaksi antara dosis mikoriza dan kadar air tanah terhadap kolonisasi akar pada 12 minggu setelah tanam. Dosis mikoriza sendiri tidak berbeda nyata.

Kapasitas lapang justru berbeda nyata. Kolonisasi tertinggi tercatat 93,33 persen pada kapasitas lapang 25 persen.

Kapasitas lapang 50 persen mencatat 76,67 persen, sedangkan 75 persen mencatat 73,33 persen. Kapasitas lapang 100 persen mencatat angka terendah, 66,67 persen.

Pada dosis 10 gram, kolonisasi bergerak dari 60 persen di kapasitas lapang 100 persen sampai 93,33 persen di kapasitas lapang 25 persen. Koefisien keragamannya 18,25 persen.

Pada dosis 15 gram, angkanya 73,33 persen di kapasitas lapang 100 dan 75 persen. Angka itu naik ke 80 persen di kapasitas lapang 50 persen.

Menurut naskah ini, makin rendah kandungan air media, makin tinggi persentase kolonisasi akar. Kelembaban tinggi disebut menghambat perkembangan spora.

Pengamatan mikroskop pada perbesaran 400 kali menemukan vesikula, arbuskula, spora, dan hifa internal di akar bibit. Kehadiran satu atau lebih struktur itu menandakan akar terinfeksi mikoriza.

Kajian sebelumnya melaporkan mikoriza Glomus 5 gram per tanaman dengan penyiraman tujuh hari sekali memberi adaptasi baik pada bibit sawit. Hasilnya tidak berbeda nyata pada semua parameter.

Stomata Membuka Paling Banyak pada Kapasitas Lapang 75 Persen

Kerapatan stomata membuka dihitung sekali pada akhir percobaan, yaitu 12 minggu setelah tanam. Ada interaksi nyata antara dosis mikoriza dan kadar air tanah pada peubah ini.

Angka tertinggi 203,57 pada dosis 10 gram di kapasitas lapang 75 persen. Angka terendah 32,14 pada dosis 15 gram di kapasitas lapang 25 persen.

Pada dosis 10 gram, kapasitas lapang 100 persen mencatat 167,85 dan kapasitas lapang 50 persen mencatat 48,80. Kapasitas lapang 25 persen mencatat 38,09.

Pada dosis 15 gram, kapasitas lapang 100 persen mencatat 152,38 dan kapasitas lapang 75 persen mencatat 90,47. Koefisien keragamannya 4,07 persen.

Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen

Naskah ini menggolongkan jumlah stomata 1 sampai 50 sebagai kategori sedikit. Jumlah 101 sampai 200 masuk kategori banyak.

Dengan patokan itu, kapasitas lapang 50 dan 25 persen menghasilkan stomata kategori sedikit. Kapasitas lapang 100 dan 75 persen menghasilkan kategori banyak.

Menurut penulisnya, penutupan stomata adalah siasat mengurangi penguapan air lewat daun. Cekaman air memicu asam absisat yang memberi sinyal penutupan stomata.

Pada dosis 15 gram, simbiosis disebut kurang efektif karena tanaman tidak cukup menyediakan karbon untuk jaringan hifa. Persaingan itu membuat stomata tidak membuka seefisien dosis lebih rendah.

Prolin Menumpuk Ketika Air Menyusut

Kandungan prolin diukur dengan metode ninhidrin. Ada interaksi nyata antara dosis mikoriza dan kadar air tanah terhadap kandungan prolin bibit.

Angka tertinggi 6,64 mikromol per gram bobot basah pada dosis 15 gram di kapasitas lapang 25 persen. Dosis 10 gram di kapasitas yang sama mencatat 4,95.

Pada kapasitas lapang 50 persen, dosis 15 gram mencatat 3,29 dan dosis 10 gram mencatat 1,018. Selisihnya nyata menurut uji jarak berganda Duncan.

Angka terendah muncul pada dosis 10 gram di kapasitas lapang 75 persen. Tabel menuliskannya 0,14 mikromol per gram bobot basah.

Pada kapasitas lapang 100 persen, dosis 10 gram mencatat 0,26 dan dosis 15 gram mencatat 0,32. Koefisien keragamannya 7,02 persen.

Menurut naskah ini, prolin menjaga keseimbangan osmotik, melindungi struktur sel, dan menekan stres oksidatif. Prolin dipakai sebagai penanda dini respons bibit sawit terhadap cekaman air.

Tanah Masam Membatasi Manfaat Kolonisasi

Tanah Ultisol yang dipakai memiliki pH rendah, yaitu 4. Karena itu kolonisasi tinggi di kapasitas lapang 50 dan 25 persen tidak berfungsi optimal.

Pada pH rendah, ketersediaan aluminium dan mangan meningkat dan bersifat racun bagi akar. Aktivitas enzim yang membantu penyerapan hara ikut tertekan.

Fosfor pada tanah masam terikat dengan besi dan aluminium membentuk senyawa yang sukar larut. Ketersediaan nitrogen, kalium, kalsium, magnesium, dan belerang juga cenderung menurun.

Di kapasitas lapang 25 persen, air yang kurang mengganggu pengangkutan hara ke dalam tanaman. Kolonisasi yang ada di akar tidak memberi pengaruh positif.

Penulisnya menyimpulkan dosis 10 gram sudah mencukupi kebutuhan bibit. Penambahan menjadi 15 gram tidak memberi manfaat tambahan yang berarti pada kolonisasi akar.

Selisih Angka dan Batas Percobaan

Bagian metode menyebut faktor kedua sebagai komposisi media tanam berkode M. Uraian berikutnya dan tabelnya justru memakai kode M untuk dosis mikoriza.

Uraian prolin menyebut angka terendah 0,15 mikromol per gram bobot basah. Tabelnya menulis 0,14 untuk perlakuan yang sama.

Kerapatan stomata diberi satuan sel per milimeter persegi di bagian metode. Judul tabelnya memakai satuan buah.

Halaman jurnal tertulis 1 sampai 8 di kepala naskah. Penomoran berkas dan halaman terakhirnya justru menunjuk 1 sampai 10.

Percobaan ini hanya memakai dua taraf dosis mikoriza dan satu jenis tanah. Pengamatan berhenti pada 12 minggu setelah tanam di pembibitan awal.

Baca juga Petani Mungka Berhenti Beli Solar Setelah Terima Irigasi Panel Surya

Kesimpulannya menyebut kapasitas lapang 75 persen sebagai kondisi yang cukup toleran bagi bibit sawit di pre nursery. Dosis 10 gram disebut terbaik untuk kerapatan stomata dan akumulasi prolin.

Percobaan tidak mengukur tinggi bibit, jumlah daun, atau bobot kering. Peubah yang dilaporkan hanya kolonisasi akar, kerapatan stomata membuka, dan kandungan prolin.

Bagikan

Baca Juga

Sel Surya Perovskit Unand Terbaik pada Sesium Iodida 3 mg/mL
Orang Punan di Longsep, dari Hutan Gaharu ke Buruh Kebun Sawit
Penyiangan Buncis Tegak Hari ke-14 Hasilkan Polong Terbanyak
Dies Natalis ke-70 UNAND, Kepala BRIN Dorong Hilirisasi Riset
Ganefri: Keterbukaan Informasi Harus Diikuti Pembenahan Sistem
Pisang Balai Panjang dan BUMNag yang Berhenti Bergerak