- Penyiangan pada 21 HST menghasilkan tanaman buncis tegak tertinggi, yakni 212,59 cm.
- Penyiangan pada 14 HST menghasilkan 14,90 polong per tanaman, satu huruf statistik dengan penyiangan 21 HST.
- Bobot polong per tanaman tidak berbeda nyata antarperlakuan, meski kesimpulan paper menyebut 14 HST terbaik.
- Menurut paper, gulma yang masih kecil mudah dicabut sehingga penyiangan tidak mengganggu akar tanaman.
Daftar Isi
- Gulma dan buncis memperebutkan cahaya, air, dan hara yang sama
- Lima jadwal penyiangan buncis tegak diuji di bedengan tanah ultisol
- Penyiangan hari ke-21 mendorong batang buncis paling tinggi
- Jumlah daun bertahan sama, lebar daun bergeser menurut waktu penyiangan
- Gulma yang masih kecil membuat penyiangan hari ke-14 menambah polong
- Persaingan hara dan cahaya menekan hasil buncis yang tidak disiangi
- Tabel penyiangan buncis tegak menyimpan angka yang tidak saling cocok
Cekricek.id — Dalam penyiangan buncis tegak, tanaman yang tumbuh paling menjulang tidak otomatis menjadi tanaman yang paling banyak menggantungkan polong. Dua ukuran itu dipisahkan oleh satu keputusan yang tampak sepele, yakni kapan gulma di sekitar batang dicabut dari tanah. Sebuah percobaan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Andalas menguji keputusan itu pada lima perlakuan, dan hasilnya menunjuk dua hari penyiangan yang berbeda untuk dua ukuran yang berbeda.
Penelitian itu ditulis Obel, Meisilva Erona Sitepu, Fahrul Zaqi, dan Imelinda dari Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas. Artikel mereka berjudul The Effect of Weeding Frequency on The Growth and Yield of Upright Beans on Ultisol Soil dan terbit di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences (AIJANS) Volume 6 Nomor 1 tahun 2025, halaman 1–6. Naskahnya diterima pada 29 April 2025 dan tersedia daring sejak 25 Juni 2025.
Buncis tegak yang dimaksud adalah Phaseolus vulgaris L., yang dalam paper disebut komoditas hortikultura berpotensi besar untuk dikembangkan karena kandungan gizinya tinggi. Di Indonesia, menurut para peneliti, buncis disukai karena kaya protein nabati serta vitamin A, B, dan C. Produksinya naik-turun. Mengutip data BPS 2024 yang dicantumkan paper, produksi buncis mencapai 320.774 ton pada 2021, naik menjadi 325.602 ton pada 2022, lalu turun ke 305.049 ton pada 2023.
Gulma dan buncis memperebutkan cahaya, air, dan hara yang sama
Salah satu penyebab turunnya produksi, tulis para peneliti, adalah gulma. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya bersaing dengannya karena kebutuhan keduanya sama, yaitu sinar matahari, unsur hara, air, dan oksigen. Persaingan itu terjadi bila bahan yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah sangat terbatas, letaknya berdekatan, dan dibutuhkan pada waktu bersamaan. Selain berebut, gulma juga dapat mengganggu tanaman budidaya dengan melepaskan senyawa alelopati.
Paper mencatat bahwa persaingan antara tanaman budidaya dan gulma dapat menurunkan hasil hingga 65 persen. Kehadiran gulma yang tidak dikendalikan disebut akan membuat produksi turun secara bertahap. Pengendaliannya bisa ditempuh dengan berbagai cara, mulai dari pencegahan, cara manual, kultur teknis, hingga herbisida. Untuk buncis, para peneliti memilih penyiangan, yaitu pengendalian dengan memusnahkan gulma dan melepaskannya dari tanah tempat tanaman budidaya tumbuh.
Persoalannya terletak pada waktu. Menurut paper, penyiangan dilakukan sebelum tajuk gulma menghentikan penyerapan unsur hara dari akar, dan saat yang tepat untuk mengendalikan gulma adalah ketika belum terjadi persaingan. Bila persaingan telanjur terjadi dan pengendalian belum dilakukan, pertumbuhan dan hasil tanaman dapat berkurang. Karena itu, penelitian ini bertujuan menentukan frekuensi penyiangan buncis tegak yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasilnya.
Lima jadwal penyiangan buncis tegak diuji di bedengan tanah ultisol
Percobaan penyiangan buncis tegak dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas pada Agustus hingga November 2024. Rancangannya rancangan acak kelompok (RAK) dengan frekuensi penyiangan sebagai perlakuan. Lima tarafnya adalah tanpa penyiangan, penyiangan pada 7 HST, 14 HST, 21 HST, dan 35 HST, masing-masing diulang tiga kali. Data dianalisis dengan uji F pada taraf 5 persen, lalu dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf yang sama.
Lahan diolah lebih dulu dan dibentuk menjadi bedengan berukuran 2 m x 1 m. Setiap bedengan diberi pupuk kandang dan dibiarkan selama sepekan. Dua benih dimasukkan ke setiap lubang tanam dengan jarak tanam 60 cm x 40 cm. Perawatan meliputi penyiraman, pemasangan ajir, pemupukan tambahan, serta pengendalian hama dan penyakit. Bahan yang dipakai berupa benih buncis, NPK mutiara, pupuk kandang, dan insektisida, sedangkan alatnya antara lain cangkul, ajir, gembor, dan tali rafia. Panen dimulai pada minggu kedelapan setelah tanam.
Lima ukuran diamati, yaitu tinggi tanaman dalam sentimeter, jumlah daun dalam helai, lebar daun dalam sentimeter, jumlah polong, dan bobot polong dalam gram. Keterangan di bawah setiap tabel paper menentukan cara membaca angkanya. Angka yang diikuti huruf yang sama dinyatakan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT 5 persen, sedangkan tanda tn berarti tidak berbeda nyata pada uji F 5 persen.
Baca juga Dosis Pupuk Kandang 2 Kg per Tanaman Beri Buah Tomat Terberat
Penyiangan hari ke-21 mendorong batang buncis paling tinggi
Pada tinggi tanaman, dampak penyiangan buncis tegak paling mencolok. Tanaman yang disiangi pada 21 HST mencapai 212,59 cm dan menjadi satu-satunya perlakuan berhuruf a. Penyiangan pada 7 HST menghasilkan 179 cm dengan huruf b. Tiga perlakuan lain berkumpul di huruf c, yakni tanpa penyiangan 46,47 cm, penyiangan 35 HST 46,85 cm, dan penyiangan 14 HST 37,23 cm. Koefisien keragaman untuk tinggi tanaman tercatat 12,22 persen.
Paper membaca angka itu lewat tahap persaingan. Menurut para peneliti, penyiangan pada umur yang terlalu tua dapat merusak akar tanaman, terutama bila gulma sudah tumbuh sangat besar dan akarnya menyatu dengan akar tanaman, sehingga penyerapan unsur hara dan air terhambat. “Hal ini diduga karena pada periode tersebut gulma sudah berada pada tahap bersaing dengan tanaman, sehingga penyiangan yang diberikan tepat waktunya dan tanaman dapat memaksimalkan pertumbuhannya,” tulis Obel dan rekan-rekannya.
Keragaman tinggi pada awal pertumbuhan juga dijelaskan sebagai buah persaingan. Paper menyebut persaingan buncis dengan gulma sudah dimulai sejak awal tanam, berupa perebutan cahaya, air, dan unsur hara. Makin banyak dan makin beragam gulma di sekitar tanaman, makin besar persaingannya, sehingga tinggi tanaman pun berbeda. Dengan mengetahui periode kritis tanaman, pengendalian gulma menjadi efisien karena cukup dilakukan pada awal periode kritis, tidak sepanjang siklus hidup tanaman.
Jumlah daun bertahan sama, lebar daun bergeser menurut waktu penyiangan
Jumlah daun tidak berbeda antarperlakuan, dan semua angkanya bertanda tn. Tanaman tanpa penyiangan memiliki 16,17 helai, penyiangan 7 HST 16,73 helai, 14 HST 18,83 helai, 21 HST 16,96 helai, dan 35 HST 18,03 helai. Paper mengaitkan jumlah daun dengan penerimaan cahaya untuk fotosintesis. Gulma disebut mulai menekan jumlah daun bila tidak dikendalikan selama 60 hst, sedangkan penyiangan dalam percobaan ini dilakukan sebelum umur itu.
Lebar daun memberi gambaran lain. Penyiangan 7 HST menghasilkan daun terlebar, sekitar 10,02 cm, dan berada dalam huruf a bersama penyiangan 14 HST (9,93 cm) dan 35 HST (9,01 cm). Tanpa penyiangan, lebar daun 8,27 cm dengan huruf b. Penyiangan 21 HST, yang menghasilkan batang tertinggi, justru mencatat daun tersempit, 5,89 cm, dengan huruf c. Menurut paper, penyiangan yang lebih awal dapat memaksimalkan penggunaan hasil fotosintesis oleh tanaman ke seluruh bagiannya.
Gulma yang masih kecil membuat penyiangan hari ke-14 menambah polong
Pada hasil panen, urutan penyiangan buncis tegak berubah. Penyiangan 14 HST menghasilkan 14,90 polong per tanaman, disusul penyiangan 21 HST dengan 12,26 polong, dan keduanya berhuruf a. Tanpa penyiangan menghasilkan 10,60 polong, penyiangan 7 HST 10,44 polong, dan penyiangan 35 HST 7,34 polong, ketiganya berhuruf b. Koefisien keragaman jumlah polong per tanaman mencapai 21,78 persen. Paper menulis bahwa penyiangan 14 dan 21 HST memberi hasil yang sama dan tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya.

Penjelasan paper bertumpu pada ukuran gulma ketika dicabut, dan pada akar tanaman yang ikut terganggu atau tidak. Bila penyiangan ditunda terlalu lama, gulma bisa tumbuh sangat besar dan akarnya menyatu dengan akar tanaman, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. “Hal ini menunjukkan bahwa penyiangan yang dilakukan pada waktu tersebut merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pengendalian karena gulma masih kecil dan mudah dicabut sehingga saat penyiangan dilakukan tidak mengganggu akar tanaman,” tulis para peneliti.
Bobot polong mengikuti arah yang serupa, tetapi tanpa pengakuan statistik. Penyiangan 14 HST mencatat 129,63 gram per tanaman, penyiangan 7 HST 103,15 gram, penyiangan 21 HST 92,36 gram, tanpa penyiangan 75,00 gram, dan penyiangan 35 HST 65,93 gram. Seluruh angka itu bertanda tn, artinya tidak berbeda nyata pada uji F 5 persen. Koefisien keragamannya 28,27 persen, tertinggi di antara lima ukuran yang diamati dalam percobaan ini.
Baca juga Lalat Buah Cabai di Sumbar dan Varietas yang Paling Tahan
Persaingan hara dan cahaya menekan hasil buncis yang tidak disiangi
Paper menguraikan hubungan penyiangan dan hasil sebagai urusan perebutan. Pengendalian gulma akan mengendalikan persaingan antara gulma dan tanaman, yang wujudnya berupa perebutan unsur hara, sinar matahari, dan air. Tanaman yang gulmanya tidak dikendalikan disebut memiliki hasil produksi lebih rendah. Bila dibiarkan, gulma akan menghambat pertumbuhan tanaman budidaya dan menurunkan hasil panen, baik jumlah maupun mutunya. Dengan penyiangan teratur, persaingan dapat ditekan sehingga tanaman tumbuh lebih baik dan panennya lebih melimpah.
Selain berebut hara dan air dari tanah, gulma disebut bersaing dalam penerimaan sinar matahari dan ruang tumbuh, dan sebagian gulma bahkan dapat menjadi inang bagi hama dan penyakit tanaman. Tabel paper tidak sepenuhnya menggambarkan urutan itu. Tanaman tanpa penyiangan menghasilkan 10,60 polong per tanaman, lebih rendah dari penyiangan 14 HST, tetapi sedikit di atas penyiangan 7 HST dan di atas penyiangan 35 HST yang hanya 7,34 polong. Ketiganya berada dalam huruf b yang sama.
Tabel penyiangan buncis tegak menyimpan angka yang tidak saling cocok
Kesimpulan paper menyatukan dua temuan dalam satu paragraf. “Frekuensi penyiangan pada 21 HST yang dilakukan pada tanaman buncis tegak di tanah ultisol memberikan hasil terbaik untuk tinggi tanaman sebesar 212,59 cm,” tulis Obel, Sitepu, Zaqi, dan Imelinda. Untuk parameter hasil, penyiangan 14 HST disebut memberi hasil terbaik, yakni 14,90 polong dan bobot polong 129,63 gram per tanaman. Klaim bobot polong terbaik itu tidak ditopang uji statistiknya sendiri, sebab tabel menandai seluruh angka bobot polong tidak berbeda nyata.
Beberapa hal lain juga tidak bertemu di dalam naskah. Tinggi tanaman pada penyiangan 14 HST, 37,23 cm, lebih rendah daripada tanaman yang sama sekali tidak disiangi, padahal perlakuan yang sama menghasilkan polong terbanyak, dan paper tidak membahas selisih ini. Penjelasan jumlah daun menyebut pengendalian gulma dilakukan sebelum 60 hst, padahal salah satu perlakuan adalah tanpa penyiangan. Judul dan perlakuan memakai istilah frekuensi, tetapi kelima taraf berupa waktu penyiangan, tanpa keterangan berapa kali penyiangan dilakukan.
Baca juga Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit
Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Dari uraian metodenya, percobaan penyiangan buncis tegak ini berlangsung di satu kebun percobaan pada Agustus hingga November 2024, dengan tiga ulangan untuk setiap perlakuan. Paper tidak mencatat jenis maupun jumlah gulma yang tumbuh di petak, sehingga besarnya persaingan yang dijadikan penjelasan tidak diukur langsung. Hasil juga hanya dilaporkan per tanaman, tidak dalam satuan hasil per luas lahan.
Dalam penyiangan buncis tegak ini, batang tertinggi dan polong terbanyak memang tidak lahir dari hari yang sama. Batang paling menjulang muncul ketika gulma dicabut pada hari ke-21, saat gulma dinilai sudah mulai bersaing. Polong terbanyak muncul pada hari ke-14, ketika gulma masih kecil dan akar tanaman belum ikut terusik saat gulma dicabut. Selisih tujuh hari itulah yang dipecah paper menjadi dua jawaban.















