- Dijumlahkan, hanya 114 orang atau 28,5 persen yang mencapai batas minimal tiga hari seminggu.
- Peserta laki-laki melaporkan aktivitas fisik yang lebih sering, dengan rasio peluang 5,699 dibandingkan perempuan.
- Setiap kenaikan satu tingkat kepuasan terhadap ruang hijau berkaitan dengan peluang 1,46 kali untuk beraktivitas fisik lebih sering.
- Kurangnya rasa aman disebut 48 dari 275 perempuan, atau 17,5 persen, dan 12 dari 125 laki-laki, atau 9,6 persen.
Daftar Isi
- Empat Puluh Pelajar Menjawab Tidak Pernah, Lima Puluh Tiga Bergerak Setiap Hari
- Laki-laki Lebih Sering Bergerak, dan Mahasiswa Mengalahkan Anak SMA
- Empat Meter Persegi Ruang Hijau per Orang dan Taman-Taman Kecil di Lingkungan
- Perempuan Menyebut Rasa Aman, Laki-laki Menyebut Lapangan dan Hewan Liar
- Batas Jawaban Empat Ratus Pelajar dan Satu Hitungan yang Perlu Dibaca Ulang
Pertanyaannya sederhana. Berapa hari dalam seminggu kamu beraktivitas fisik? Di ruang-ruang kelas 13 SMA negeri dan di kampus Çankırı Karatekin University, pertanyaan itu disodorkan langsung kepada para pelajar pada Oktober dan November 2022. Empat ratus jawaban dinyatakan sah. Empat puluh di antaranya berbunyi sama: tidak pernah.
Jawaban-jawaban itu dihimpun İbrahim Pehlivan dan Elif Karaca dalam artikel Barriers to youth physical activity in urban green spaces: evidence from a Turkish city. Artikel berbahasa Inggris itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, nomor artikel 1255, tahun 2026. Pehlivan berasal dari Department of Agricultural and Life Sciences, sedangkan Karaca dari Food and Agriculture Vocational School, keduanya di Çankırı Karatekin University, Türkiye.
Çankırı adalah kota kecil di barat laut Anatolia Tengah, kira-kira 130 kilometer di timur laut Ankara. Distrik pusatnya berpenduduk 89.142 jiwa menurut data 2024, dan sekitar seperlimanya berusia 15 sampai 24 tahun. Kepada kelompok umur itulah pertanyaan tadi diarahkan, meski yang akhirnya menjawab sebagian besar perempuan dan sebagian besar masih berusia belasan.
Empat Puluh Pelajar Menjawab Tidak Pernah, Lima Puluh Tiga Bergerak Setiap Hari
Rinciannya begini. Sebanyak 53 pelajar, atau 13,3 persen, mengaku beraktivitas fisik setiap hari. Lalu 61 orang, atau 15,3 persen, melakukannya tiga hari atau lebih dalam seminggu. Dijumlahkan, hanya 114 orang atau 28,5 persen yang mencapai batas minimal tiga hari seminggu. Batas itulah yang dipakai kedua peneliti sebagai patokan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia. Kira-kira dua dari tujuh pelajar.
Sisanya tersebar di bawah garis itu. Dua hari seminggu dijawab 85 pelajar, satu hari seminggu 75 pelajar, lebih jarang lagi 86 pelajar. Kelompok terbesar justru yang terakhir ini, 21,5 persen, nyaris sama banyak dengan mereka yang bergerak dua hari. Di ujung paling bawah berdiri 40 orang yang tidak beraktivitas fisik sama sekali, tepat sepersepuluh dari seluruh jawaban.
Angka itu punya latar. Naskah ini mengutip data bahwa Türkiye adalah negara ketiga paling tidak aktif secara fisik di Eropa, dengan 44,4 persen penduduk tergolong kurang bergerak. Di kelompok umur 15 sampai 24 tahun, proporsi anak muda yang hidup sepenuhnya tanpa aktivitas fisik naik dari 9,96 persen pada 2019 menjadi 16,34 persen pada 2022.
Perbandingan dengan Eropa lebih tajam lagi. Hanya 14 persen anak muda 15 sampai 24 tahun di Türkiye yang beraktivitas fisik sedikitnya sekali seminggu pada waktu luang, sedangkan rata-rata Uni Eropa 65 persen. Kedua peneliti mengaitkannya dengan ketimpangan sosial-ekonomi. Di distrik pusat Çankırı, 34,1 persen rumah tangga masuk kelompok pendapatan rendah dan terendah, kira-kira satu dari tiga.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Laki-laki Lebih Sering Bergerak, dan Mahasiswa Mengalahkan Anak SMA
Dari 400 pelajar itu, 275 perempuan dan 125 laki-laki. Peserta laki-laki melaporkan aktivitas fisik yang lebih sering, dengan rasio peluang 5,699 dibandingkan perempuan. Selisih itu bermakna secara statistik. Kedua peneliti segera memasang pagar: pola ini harus dibaca dalam sampel yang didominasi perempuan, dan tidak boleh dianggap gambaran seluruh anak muda di wilayah itu.
Jurang serupa sudah lama tercatat. Menurut naskah ini, selisih ketidakaktifan fisik antara laki-laki dan perempuan di dunia sekitar 5 persen, sedangkan di Türkiye hampir 20 persen. Pehlivan dan Karaca menulis bahwa rendahnya aktivitas peserta perempuan mungkin tidak cukup dijelaskan oleh pilihan pribadi. Norma budaya, peran gender, dan ketimpangan struktural ikut disebut, terlebih di kota yang mereka gambarkan bertatanan sosial lebih konservatif.
Usia memberi kejutan. Pelajar berumur 20 sampai 24 tahun lebih aktif daripada yang berumur 15 sampai 19 tahun, dengan rasio peluang 2,024. Temuan ini berlawanan dengan sejumlah studi internasional yang dikutip naskah, yang justru mencatat aktivitas fisik menurun seiring bertambahnya umur.
Penjelasan yang ditawarkan ada di meja belajar. Pelajar 15 sampai 19 tahun di Türkiye berada di bawah tekanan akademik berat karena menyiapkan ujian masuk universitas, sehingga waktu untuk bergerak menyempit. Kedua peneliti menyebutnya hambatan struktural. Mereka mengusulkan pelajaran olahraga yang dijalankan lebih efektif, program latihan singkat selama masa persiapan ujian, dan ruang beraktivitas yang mudah dijangkau di sekitar sekolah.
Ada satu lapis lagi. Pengaruh umur ternyata tidak sama pada laki-laki dan perempuan: kenaikan aktivitas seiring umur lebih terbatas pada laki-laki. Pola deskriptif dalam sampel ini mengisyaratkan dorongan laki-laki untuk bergerak cenderung melemah ketika umur bertambah, sementara perempuan lebih stabil. Karena kelompok-kelompok kecilnya timpang, temuan ini mereka sebut bersifat penjajakan, belum kesimpulan.
Empat Meter Persegi Ruang Hijau per Orang dan Taman-Taman Kecil di Lingkungan
Pindah ke tamannya. Organisasi Kesehatan Dunia, sebagaimana dikutip naskah, menganjurkan sedikitnya 9 meter persegi ruang hijau per orang agar lingkungan kota sehat untuk ditinggali. Sebuah studi lain yang dirujuk kedua peneliti menghitung Çankırı hanya punya 4 meter persegi per orang. Kurang dari separuh batas bawah itu.
Distrik pusat kota ini memiliki 65 ruang hijau. Sebagian besar berupa taman lingkungan: lebih kecil daripada taman kota dan lebih terbatas sarana olahraganya. Taman-taman besar, menurut naskah, kebanyakan terletak di pinggiran kota. Di antara dua jenis tempat itulah para pelajar memilih, selain ruang hijau di kawasan permukiman mereka sendiri.
Pilihan tempat ikut terbelah. Pelajar 20 sampai 24 tahun lebih kecil kemungkinannya memilih taman umum yang besar dibandingkan yang berumur 15 sampai 19 tahun, padahal merekalah yang lebih aktif. Kedua peneliti menduga kelompok ini bergerak di tempat yang lebih mudah dijangkau, misalnya area kampus, atau lewat kegiatan ringan seperti berjalan kaki sendirian.
Pengecualiannya laki-laki berumur 20 sampai 24 tahun. Dalam analisis penjajakan itu, mereka tampak lebih cenderung memilih taman umum yang besar dibandingkan perempuan berumur 15 sampai 19 tahun. Jenis kelamin saja tidak membedakan pilihan taman secara bermakna. Letak taman besar di pinggiran kota, tulis kedua peneliti, bisa menjadi batas bagi perempuan dari sisi jangkauan maupun rasa aman.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Lalu soal puas atau tidak. Setiap kenaikan satu tingkat kepuasan terhadap ruang hijau berkaitan dengan peluang 1,46 kali untuk beraktivitas fisik lebih sering. Tingkat kepuasan itu sendiri tidak berbeda bermakna antara laki-laki dan perempuan, juga antara dua kelompok umur. Naskah menduga sebabnya sederhana: taman di kota ini kebanyakan berskala lingkungan dan sarananya serupa.
Hubungan itu tidak boleh dibaca satu arah. Kedua peneliti sendiri mengingatkan bahwa orang yang lebih aktif mungkin lebih sering memakai ruang hijau, lalu karena itu lebih puas. Taman yang memuaskan bisa mengundang orang bergerak. Orang yang gemar bergerak bisa pula lebih menyukai tamannya.
Perempuan Menyebut Rasa Aman, Laki-laki Menyebut Lapangan dan Hewan Liar
Kuesioner menyodorkan 20 pernyataan tentang hal yang menghalangi aktivitas fisik. Empat di antaranya memperlihatkan beda antara laki-laki dan perempuan. Kurangnya rasa aman disebut 48 dari 275 perempuan, atau 17,5 persen, dan 12 dari 125 laki-laki, atau 9,6 persen.
Tiga lainnya berbalik arah. Sempitnya area disebut 26,4 persen laki-laki dan 17,5 persen perempuan. Ketiadaan lapangan olahraga disebut 21,6 persen laki-laki dan 12 persen perempuan. Hewan liar disebut 9,6 persen laki-laki, tetapi hanya 3,3 persen perempuan.
Di sinilah ceritanya berbelok. Setelah ambang kemaknaan diperketat karena banyaknya pengujian, tidak satu pun dari perbedaan itu bermakna secara statistik. Kedua peneliti memperlakukannya sebagai pola deskriptif saja, yang mereka baca dengan bantuan teori dan kepustakaan terdahulu. Antara hambatan dan kelompok umur pun tidak ditemukan kaitan yang bermakna.
Soal hewan liar menyimpan keanehan tersendiri. Kepustakaan yang dirujuk naskah umumnya menyebut perempuan lebih peka terhadap masalah ini, sedangkan di Çankırı justru laki-laki yang lebih sering menyebutnya. “Dalam konteks khusus Çankırı, alasan mengapa peserta laki-laki memandang persoalan ini sebagai hambatan yang lebih menonjol masih belum jelas,” tulis İbrahim Pehlivan dan Elif Karaca, peneliti Çankırı Karatekin University, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dari pola yang terbelah itu keduanya menarik satu pendirian. “Persepsi tentang hambatan lingkungan yang khas menurut gender menunjukkan bahwa intervensi untuk mendorong aktivitas fisik tidak dapat berhasil melalui pendekatan yang ‘seragam’,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Untuk perempuan muda, mereka mengusulkan rancangan taman yang menguatkan rasa aman: garis pandang yang jelas, penerangan memadai, perawatan rutin. Untuk laki-laki muda, lapangan basket dan sepak bola.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Batas Jawaban Empat Ratus Pelajar dan Satu Hitungan yang Perlu Dibaca Ulang
Jawaban para pelajar itu punya batas. Seluruh data aktivitas fisik berasal dari laporan diri, yang menurut kedua peneliti rawan bias ingatan. Sebanyak 68,7 persen peserta perempuan dan 70,8 persen berumur 15 sampai 19 tahun, sehingga perbandingan menurut jenis kelamin dan umur sulit digeneralisasi. Pesertanya pun hanya pelajar di distrik pusat satu kota.
Rancangan sekali potret juga tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, indeks massa tubuh, dan kondisi kesehatan peserta tidak tersedia dalam data. Kuesionernya tidak sempat diuji coba lebih dulu karena keterbatasan waktu, dan penilaian tentang taman sepenuhnya bersandar pada persepsi peserta.
Ada pula hal yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah. Tertulis bahwa 50,3 persen peserta, 201 dari 400, beraktivitas fisik kurang dari sekali seminggu. Angka 201 baru tercapai bila tabel frekuensi dijumlahkan dari tiga baris: 75 yang satu hari seminggu, 86 yang lebih jarang, dan 40 yang tidak sama sekali. Tanpa kelompok satu hari seminggu, jumlahnya 126 orang. Naskah juga menyebut patokan tiga hari seminggu di satu bagian dan anjuran harian di bagian lain.
Pertanyaan di ruang kelas itu hanya meminta satu angka: berapa hari. Di Çankırı, angka itu ternyata membawa serta ujian masuk universitas, taman lingkungan yang kecil, taman besar di pinggiran kota, rasa aman, lapangan yang tidak ada, dan hewan liar. Empat puluh pelajar menjawab tidak pernah. Lima puluh tiga menjawab setiap hari.















