- Dari 16 studi itu terkumpul 192.008 peserta, dan 9.807 di antaranya pasien kanker kolorektal.
- Para peneliti menyimpulkan efek pelindung selenium mungkin lebih kentara pada kanker kolon daripada kanker rektum.
- Dua uji acak tadi justru tidak menunjukkan manfaat yang bermakna.
- Namun kaitan bukanlah sebab, dan batas antara cukup dan berlebih belum diketahui.
Daftar Isi
- Risiko Relatif, Angka di Bawah Satu Berarti Lebih Jarang
- Kohort dan Kasus-Kontrol, Dua Cara Mengamati Orang
- Kolon dan Rektum, Dua Ruas Usus yang Tidak Senasib
- Asupan, Serum, Kuku: Tiga Cara Menakar Selenium
- Selenoprotein, Protein yang Membawa Selenium Bekerja
- Heterogenitas, Ketika Hasil Antarstudi Tidak Seragam
Selenium adalah unsur kelumit, zat gizi yang hanya diperlukan tubuh dalam jumlah sangat kecil tetapi tetap harus ada agar tubuh bekerja, tumbuh, dan berkembang dengan baik. Ia terdapat secara alami dan penting bagi kesehatan manusia. Pada kadar yang lebih tinggi ia justru bisa menjadi racun, dan rentang paparan yang aman, menurut naskah yang dibahas di sini, belum ditetapkan dengan jelas.
Zat sekecil itulah yang ditimbang Jiacheng Ying, Hongsheng Fang, Cheng Zhang, Tianlong Ling, dan Jiayin Tang dalam Low level of selenium predicts high incidence of colorectal cancer, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1707 tahun 2026. Ying, Zhang, Ling, dan Tang bekerja di bagian bedah saluran cerna Renji Hospital, Shanghai Jiao Tong University. Fang berasal dari bagian bedah kolorektal Fudan University Shanghai Cancer Center.
Pertanyaan mereka menyangkut kanker kolorektal, yaitu kanker usus besar dan rektum, salah satu kanker paling umum di dunia. Naskah itu menyebutnya menempati urutan ketiga dalam jumlah kasus kanker global, sekitar 1,85 juta kasus setiap tahun. Dengan menggabungkan 16 studi terdahulu, kelimanya mendapati bahwa orang dengan paparan selenium lebih tinggi lebih jarang terkena kanker ini.
Risiko Relatif, Angka di Bawah Satu Berarti Lebih Jarang
Hasil gabungan itu dinyatakan dengan risiko relatif, disingkat RR, yakni perbandingan risiko antara kelompok berselenium lebih tinggi dan kelompok berselenium terendah. Maksudnya sederhana. Angka di bawah satu, tulis para peneliti, menandakan risiko kanker kolorektal yang lebih rendah pada kelompok berselenium lebih tinggi. Angka satu berarti tidak ada beda.
Dari 16 studi itu terkumpul 192.008 peserta, dan 9.807 di antaranya pasien kanker kolorektal. Risiko relatif gabungannya 0,81. Artinya, pada kelompok dengan selenium lebih tinggi, risiko terkena kanker ini kira-kira seperlima lebih rendah daripada kelompok pembandingnya.
Setiap risiko relatif didampingi rentang kepercayaan 95 persen, yaitu kisaran tempat angka sebenarnya diperkirakan berada. Untuk hasil gabungan tadi kisarannya 0,72 sampai 0,91. Bedanya begini: selama seluruh kisaran berada di bawah satu, kaitannya dianggap bermakna secara statistik. Begitu kisaran itu melewati angka satu, kaitan tersebut tidak bisa dipastikan.
Kohort dan Kasus-Kontrol, Dua Cara Mengamati Orang
Enam belas studi itu tidak sejenis. Tiga di antaranya studi kohort, yakni studi yang mengikuti sekelompok orang selama bertahun-tahun. Sebelas lainnya studi kasus-kontrol, yang membandingkan pasien dengan orang tanpa kanker, dan dua sisanya uji acak terkendali, tempat peserta diberi suplemen selenium. Asalnya pun beragam: tujuh dari Amerika Utara, enam dari Eropa, dua dari Asia, dan satu dari Australia.
Studi kohort memberi hasil yang paling seragam. Risiko relatifnya 0,84 dengan kisaran 0,78 sampai 0,90, dan hasil ketiganya nyaris tidak berbeda satu sama lain. Studi kasus-kontrol menunjukkan arah yang sama, 0,76 dengan kisaran 0,64 sampai 0,92, tetapi hasil antarstudinya jauh lebih beragam.
Uji acak terkendali berbeda. Risiko relatifnya 0,75, sekilas paling rendah, tetapi kisarannya melebar dari 0,34 sampai 1,66 sehingga tidak bermakna secara statistik. Para peneliti mencatat bahwa besar pengaruh di ketiga jenis studi itu tidak berbeda secara bermakna, dan arah umumnya tetap menunjuk pada kemungkinan peran pelindung selenium.
Bila dipilah menurut wilayah, kaitan yang bermakna tampak pada penduduk Eropa, dengan risiko relatif 0,81, dan Oseania, 0,70. Di Amerika Utara angkanya 0,86 dan di Asia 0,72, keduanya dengan kisaran yang melewati angka satu. Ying dan rekan-rekannya menduga perbedaan antarwilayah itu berkaitan dengan asupan selenium dasar dan paparan lingkungan yang tidak sama.
Baca juga Risiko Relatif dan Jebakan Dua Kali Lipat Demam Skarlet
Kolon dan Rektum, Dua Ruas Usus yang Tidak Senasib
Kanker kolorektal sebenarnya gabungan dua lokasi, dan naskah itu memilahnya menjadi kanker kolon, yaitu kanker usus besar, dan kanker rektum. Sembilan studi melaporkan keduanya sebagai satu kesatuan. Lima studi menganalisisnya terpisah, dan dua lainnya hanya meneliti kanker kolon.
Ketika dipisah, kedua ruas itu tidak senasib. Untuk kanker kolon, dari tujuh studi, risiko relatifnya 0,81 dengan kisaran 0,68 sampai 0,97, masih di bawah satu. Untuk kanker rektum, dari lima studi, angkanya 1,05 dengan kisaran 0,83 sampai 1,33. Para peneliti menyimpulkan efek pelindung selenium mungkin lebih kentara pada kanker kolon daripada kanker rektum.
Pemilahan menurut jenis kelamin malah tidak menghasilkan kaitan yang bermakna pada siapa pun. Risiko relatif pada laki-laki 1,03 dengan kisaran 0,89 sampai 1,19, pada perempuan 0,92 dengan kisaran 0,71 sampai 1,19. Naskah itu hanya mencatat adanya kecenderungan ke arah kaitan terbalik pada perempuan, tanpa mencapai kemaknaan statistik.
Asupan, Serum, Kuku: Tiga Cara Menakar Selenium
Selenium seseorang bisa ditakar dengan tiga cara. Asupan makanan diperkirakan, misalnya, lewat kuesioner frekuensi makan. Kadar serum diukur langsung, dan serum di sini berarti contoh darah yang diperiksa kandungan seleniumnya. Cara ketiga memakai kuku kaki sebagai penanda status selenium tubuh.
Di sinilah hasilnya terbelah. Delapan studi yang menakar selenium dari makanan menghasilkan risiko relatif 0,74 dengan kisaran 0,63 sampai 0,86, kaitan paling kuat di antara ketiganya. Kadar serum menghasilkan 0,94 dengan kisaran 0,78 sampai 1,13, dan kuku kaki 0,87 dengan kisaran 0,73 sampai 1,03. Dua yang terakhir tidak bermakna secara statistik.
Para peneliti menyebut kecenderungan yang lebih lemah pada serum dan kuku itu mungkin mencerminkan perbedaan cara pengukuran. Meski begitu, di bagian pembahasan mereka mengutip beberapa studi lain yang mendapati kadar selenium darah pasien kanker kolorektal lebih rendah. Salah satunya, studi 2024 pada penduduk Eropa berselenium rendah, mencatat selenium serum pasien sekitar 7,9 persen lebih rendah daripada orang sehat.
Studi Chalcarz dan rekan-rekannya pada 2024 memberi gambaran serupa. Pasien kanker kolorektal stadium awal rata-rata memiliki selenium serum sekitar 67,2 mikrogram per liter, sedangkan pasien bedah tanpa kanker sekitar 78,8 mikrogram per liter. Sebuah penelusuran atas 29 zat gizi mikro dalam serum juga menempatkan selenium di antara zat yang menurun bermakna pada pasien.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Salah paham yang mudah muncul dari sini adalah menyamakan cukup selenium dengan menelan suplemen. Dua uji acak tadi justru tidak menunjukkan manfaat yang bermakna. Dalam uji bernama SELECT, peserta sudah memiliki kadar selenium awal yang relatif tinggi, dengan median sekitar 137 mikrogram per liter. Tambahan 200 mikrogram per hari hampir tidak memberi manfaat, dan uji itu dihentikan lebih awal setelah median 5,46 tahun.
Uji lain, Nutritional Prevention of Cancer, memakai ragi berselenium dengan dosis yang sama. Efek pelindungnya terutama muncul pada peserta dengan selenium plasma awal rendah, sedangkan pada kelompok berkadar lebih tinggi kejadian kanker secara keseluruhan malah naik, walau tidak bermakna. Kedua uji itu juga berbeda dalam bentuk selenium yang diberikan dan sasaran utamanya.
Dari situ kelima penulis menarik koreksi. “Secara keseluruhan, hasil-hasil ini menunjukkan bahwa tidak adanya efek dalam uji acak terkendali tidak serta-merta bertentangan dengan bukti observasional; sebaliknya, hal itu mengisyaratkan bahwa manfaat pencegahan selenium mungkin terbatas pada populasi dengan status selenium awal yang kurang optimal dan mungkin bergantung pada bentuk kimia suplemen selenium,” tulis Ying, Fang, Zhang, Ling, dan Tang dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Selenoprotein, Protein yang Membawa Selenium Bekerja
Mengapa sebuah unsur kelumit bisa berkaitan dengan kanker? Naskah itu menunjuk selenoprotein, protein yang mengandung selenium dan menjadi jalan utama kerja unsur tersebut. Dua di antaranya, glutation peroksidase dan tioredoksin reduktase, bekerja sebagai antioksidan kuat. Keduanya menyapu spesies oksigen reaktif dan melindungi sel dari stres oksidatif.
Stres oksidatif dan kerusakan akibat peradangan disebut para peneliti sebagai dua ciri khas terbentuknya kanker kolorektal. Selenoprotein juga terlibat dalam mengatur kematian sel terprogram, mengendalikan siklus sel, dan menekan pembelahan sel yang tidak wajar. Penelitian lain yang mereka rujuk menyebut selenium menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan tumor untuk membesar dan menyebar.
Bedanya begini: tidak semua selenoprotein selalu melindungi. Tiga di antaranya, TXNRD1, SELENOF, dan GPx2, dilaporkan berperan ganda, dapat mendorong atau menghambat pembentukan tumor bergantung pada kadar selenium, keadaan oksidasi di dalam sel, dan lingkungan mikro tumor. Menurut Ying dan rekan-rekannya, sifat ganda itu sebagian menjelaskan hasil yang tidak seragam dan menguatkan gagasan adanya rentang selenium yang optimal.
Heterogenitas, Ketika Hasil Antarstudi Tidak Seragam
Heterogenitas adalah istilah untuk hasil antarstudi yang tidak seragam, dan dalam naskah ini nilainya tinggi, 84,5 persen untuk gabungan 16 studi. Para peneliti sudah memilah data menurut wilayah, lokasi tumor, jenis kelamin, dan cara menakar, tetapi sumber utama keragaman itu tidak ditemukan. Mereka menduga penyebabnya terletak pada rancangan studi dan ciri awal peserta yang tidak terdefinisi.
Keterbatasan lain mereka tulis sendiri. Sebagian besar studi yang digabung bersifat observasional, sehingga rentan terhadap faktor pengganggu yang tersisa dan tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat. Beberapa jenis ukuran risiko dari studi asal diperlakukan setara dengan risiko relatif, pendekatan yang menurut mereka dapat menimbulkan bias. Tinjauan ini juga tidak didaftarkan lebih dulu di PROSPERO, sebuah register tinjauan, atau register lain.
Di sisi lain, hasil gabungan itu tidak banyak bergeser ketika satu per satu studi dikeluarkan, juga ketika hanya studi bermutu tinggi yang dihitung. Hanya dua studi dinilai bermutu sedang. Soal bias publikasi, yakni kecenderungan hasil tertentu lebih mudah terbit, grafik corong mereka sedikit tidak simetris. Studi kecil yang melaporkan hasil nihil atau berlawanan relatif jarang, meski uji Begg tidak bermakna.
Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca di naskah itu. Jumlah studi yang mengukur serum ditulis lima di satu bagian dan enam di bagian lain, sedangkan tabelnya memuat enam. Judul naskah menyebut kadar selenium rendah meramalkan kejadian kanker yang tinggi, padahal kaitan yang bermakna muncul pada asupan makanan, bukan pada kadar serum. Kalimat pembuka analisis subkelompok juga menyebut kaitan terbalik bertahan di semua pemilahan, sementara angka untuk laki-laki dan kanker rektum berada di atas satu.
Maka istilah kelumit itu berlaku ke dua arah. Selenium diperlukan sedikit, dan menurut tinjauan ini kecukupannya berkaitan dengan kanker kolorektal yang lebih jarang, terutama bila ditakar dari makanan. Namun kaitan bukanlah sebab, dan batas antara cukup dan berlebih belum diketahui. Kelima penulis menutup naskahnya dengan meminta studi prospektif besar dan uji acak yang dirancang baik untuk menetapkan rentang asupan yang optimal.















