- Di Britania Raya, 47 persen murid sekolah khusus berhak atas makan sekolah gratis, sementara pada seluruh murid angkanya 22,5 persen.
- Hanya satu dari empat murid sekolah khusus yang berhak itu benar-benar mengambil jatahnya.
- Banyak murid dengan kepekaan sensorik membawa bekal dari rumah walaupun sebenarnya berhak atas makan gratis.
- Di satu sekolah, seluruh komponen hidangan untuk diet modifikasi selalu diblender menjadi satu.
- Semua sekolah berada di North East England dan jumlahnya sedikit, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi.
Daftar Isi
- Jones dan Gordon mendatangi empat dapur sekolah
- McSweeney menemukan piring yang diblender jadi satu
- Bekal dari rumah yang dicatat Jones mengalahkan makan gratis
- Ruang makan yang bising dalam catatan Gordon
- Kabar untuk orang tua dan menu yang dipertanyakan Andrew
- Yang belum bisa dipastikan Spence dan rekan
L. McSweeney, A. R. Jones, dan I. Gordon mendengarkan murid, orang tua, guru, juru masak, dan terapis di empat sekolah khusus di North East England bercerita tentang satu hal yang sama, yaitu makan siang. Di salah satu sekolah, seorang murid berkata perutnya terlalu sering keroncongan ketika ia sedang belajar. Di sekolah yang sama, seorang orang tua mengaku harus menitipkan makanan tambahan supaya anaknya sanggup bertahan sampai jam pulang.
Cerita-cerita itu dihimpun L. McSweeney, M. J. Andrew, A. R. Jones, I. Gordon, L. Pennington, J. V. Woodside, M. Craven, dan S. Spence dalam artikel Exploration of key stakeholder views and experience of specialist schools’ food: a qualitative study. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1398 tahun 2026. Enam dari delapan penulisnya bekerja di Population Health Sciences Institute, Newcastle University, sedangkan Woodside di Queen’s University, Belfast.
Andrew dan Spence, dua penggagas studi ini, berangkat dari sebuah ketimpangan. Di Britania Raya, 47 persen murid sekolah khusus berhak atas makan sekolah gratis, sementara pada seluruh murid angkanya 22,5 persen. Naskah mereka menyebut anak dengan kebutuhan pendidikan khusus dan disabilitas lebih mungkin tumbuh dalam kemiskinan. Padahal, mengutip O’Connell dan rekan, hanya satu dari empat murid sekolah khusus yang berhak itu benar-benar mengambil jatahnya.
McSweeney dan rekan menambahkan satu alasan lain mengapa piring sekolah penting. Kelebihan berat badan tercatat pada 11,2 persen murid berkebutuhan khusus, lebih tinggi daripada 8,2 persen pada murid seusia tanpa kebutuhan khusus. Standar makanan sekolah di Inggris, yang juga mengikat sekolah khusus, membatasi gorengan paling banyak dua kali seminggu, mewajibkan sedikitnya satu porsi sayur atau buah setiap hari, dan melarang kembang gula.
Jones dan Gordon mendatangi empat dapur sekolah
Antara Oktober 2024 dan Januari 2025, McSweeney, Jones, dan Gordon menggelar dua belas diskusi kelompok dan sebelas wawancara di empat sekolah yang mereka beri nama A, B, C, dan D. Sekolah A berada di kawasan semi-pedesaan dan mengelola dapurnya sendiri. Sekolah B dan D ada di kota dan dilayani katering pemerintah daerah yang sama. Sekolah C terletak di pedesaan dan memakai perusahaan katering luar.
Jones mencatat betapa besar porsi murid yang berhak atas makan gratis di keempat tempat itu. Di sekolah C angkanya 48,5 persen, di sekolah B 54,9 persen, di sekolah A 59,8 persen, dan di sekolah D mencapai 72 persen. Artinya, di sekolah D kira-kira tujuh dari sepuluh murid seharusnya bisa makan siang tanpa membayar. Semua sekolah memasak makanannya di tempat.
Kesan pertama yang ditangkap Gordon dan rekan justru hangat. Para orang tua menilai sekolah menanggapi kekhawatiran mereka dengan baik. Guru mengenal kesukaan tiap murid, lalu bekerja bersama keluarga, terapis wicara, dan dokter anak. Seorang kepala sekolah di sekolah A menceritakan caranya membujuk murid yang pemilih: kalau seorang anak menyukai keripik yang renyah, ia mencari makanan lain yang bisa dibuat renyah.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
McSweeney menemukan piring yang diblender jadi satu
Kehangatan itu berhenti ketika McSweeney sampai pada murid yang makanannya harus dilumatkan. “Anak saya harus makan makanan yang diblender. Ia tidak punya pilihan atas apa yang ia dapat untuk makan siang,” kata seorang orang tua yang dicatat para penulis sebagai P dari sekolah D, dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris. Orang tua itu merasa dapur sekadar memasukkan apa pun yang tersisa ke dalam blender.
Keluhan serupa didengar Jones dari semua kelompok di tiga sekolah. Para tenaga kesehatan menilai pilihan untuk murid dengan diet modifikasi sering terbatas, dan tekstur lunak seukuran suapan paling sulit dibuat tepat oleh dapur. Di satu sekolah, seluruh komponen hidangan selalu diblender menjadi satu, tidak dipisah, sehingga staf menyebutnya tidak menggugah selera. Para guru memaklumi juru masak yang bekerja dengan anggaran sangat sempit.
Gordon juga mendengar soal lapar. Staf khawatir sebagian murid tidak memperoleh gizi yang cukup karena porsinya kecil. “Ya, perutmu terlalu sering keroncongan saat kamu sedang belajar,” ujar seorang murid yang dicatat sebagai PL 2 dari sekolah D, juga dalam bahasa Inggris. Seorang orang tua di sekolah itu bercerita anaknya selalu pulang dalam keadaan sangat lapar, sehingga keluarga mengirim makanan untuk dimakan pada tengah sore.
Ada pula soal selera rumah yang dicatat McSweeney dari para tenaga kesehatan. Murid dengan kepekaan sensorik yang di rumah terbiasa makan nasi, kari, dan daging yang dimasak dengan cara berbeda bisa kesulitan di sekolah. Bagi mereka yang mengikuti diet halal, pilihan yang tersedia adalah menu vegetarian seperti filet Quorn, kentang potong, dan jagung manis. Makanan itu, kata seorang tenaga kesehatan, terasa begitu asing bagi mereka.
Bekal dari rumah yang dicatat Jones mengalahkan makan gratis
Dari sinilah Jones dan rekan memahami mengapa jatah gratis sering tidak diambil. Banyak murid dengan kepekaan sensorik atau pola makan yang sangat terbatas membawa bekal dari rumah, walaupun sebenarnya berhak atas makan gratis. Sejumlah murid sendiri mengatakan bekal lebih mereka sukai. Orang tua dan staf merasa tenang karena setidaknya ada sesuatu yang dimakan, meski bukan pilihan yang paling sehat.
McSweeney mencatat aturan sekolah pun melunak di hadapan kenyataan itu. Sekolah D melarang minuman bersoda dan minuman energi, tetapi guru tidak akan merebut makanan dari tangan murid hanya karena tidak sehat, sebab bisa jadi itu satu-satunya yang mau ia makan. Kepala sekolah C mengaku enggan memberi arahan soal isi bekal. Sulit, katanya, bila makanan lain disodorkan lalu anak menolak makan.
Camilan menjadi celah berikutnya dalam catatan Gordon. Dua sekolah menyediakan buah sepanjang hari, dan sebagian murid mendapat roti panggang atau biskuit di kelas. Namun, camilan yang aman dilumatkan nyaris tidak ada. Orang tua diminta mengirimnya, dan banyak yang tidak melakukannya, entah karena keuangan atau tekanan lain. Akibatnya, sebagian murid dengan diet modifikasi hanya mendapat makanan utama atau pilihan olahan yang kurang sehat.
Bagi penyedia katering yang diwawancarai Jones, bekal dari rumah adalah soal hidup-mati layanan. Penyedia untuk sekolah B dan D berkata mereka menginginkan sebanyak mungkin murid mengambil makan gratis maupun berbayar, sebab kalau tidak, layanan itu tidak layak dijalankan. Bila menu tidak disukai, anak-anak beralih ke bekal. Andrew dan rekan menulis bahwa berkurangnya pengambilan jatah dapat semakin menipiskan dana untuk menyediakan variasi makanan.
Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Ruang makan yang bising dalam catatan Gordon
Gordon dan rekan lalu beralih dari piring ke ruangannya. Guru dan murid sepakat ruang makan bisa bising dan membuat kewalahan. “Itu membuat kami agak stres,” kata seorang murid yang dicatat sebagai PL dari sekolah A, dalam bahasa Inggris. Keempat sekolah menyediakan tempat makan lain. Di sekolah A, sebagian besar kelas tingkat dasar makan di ruang kelas karena murid dengan autisme membutuhkannya.
Para tenaga kesehatan menjelaskan kepada McSweeney bahwa makan di kelas memberi murid waktu lebih longgar. Di ruang makan, petugas sudah hendak menyelesaikan giliran kerja dan semuanya harus segera dibersihkan. Di sekolah D, meja bundar menyulitkan pengguna kursi roda untuk keluar. Guru di tiga sekolah menyebut tenaga pendamping makan siang sering kurang, terutama bila beberapa murid di satu kelas memerlukan bantuan makan yang sangat khusus.
Menu pun tidak sama terbacanya, menurut catatan Jones. Di sekolah A, murid memilih makanan lewat papan elektronik besar di kelas, hidangan disajikan terpisah per komponen seperti prasmanan, dan dewan siswa ikut memilih di antara dua usulan menu. Di sekolah D, guru menyebut menu sama sekali tidak terakses bagi murid. Siklusnya tiga mingguan, tanggalnya tercetak kecil, dan fotonya tidak cocok dengan isi piring.
Kabar untuk orang tua dan menu yang dipertanyakan Andrew
Andrew dan rekan mencatat keinginan orang tua yang sederhana: tahu apa yang dimakan anaknya hari itu. Seorang orang tua di sekolah B bercerita buku harian dikirim pulang saat putrinya yang tidak berbicara masih di kelas awal, lalu berhenti ketika ia naik tingkat. Orang tua di sekolah D ingin tahu apakah makanan dihabiskan atau hanya separuh. Sebaliknya, seorang guru di sekolah A merasa hanya sedikit orang tua yang meminta kabar harian.
Soal siapa yang menyusun menu, Spence dan rekan menemukan jawaban yang berbeda-beda. Kepala sekolah D mengatakan dapurnya mengikuti menu sekolah dasar umum dan guru tidak dilibatkan. Sekolah C menyesuaikan menu katering luar bersama ahli gizi, wali kelas, juru masak, dan orang tua. Kebanyakan orang tua tidak pernah diajak berunding, bahkan tidak punya salinan menu. Hanya satu sekolah yang melibatkan murid.
Di dapur, Jones mendengar penyesuaian kecil yang tidak tertulis dalam standar. Kuah daging dan custard disediakan setiap hari karena banyak murid membutuhkan makanan yang basah. Penyedia katering sekolah B dan D mengaku staf tidak pernah mendapat pelatihan resmi tentang tingkat kelembutan makanan bagi murid yang sulit menelan, sehingga ia mempelajarinya sendiri. Anggaran dan upah yang rendah, katanya, menyulitkan pencarian juru masak terampil.
Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Kepala sekolah C merangkum dilema itu kepada McSweeney. Sekolahnya menyesuaikan makanan dengan tiap murid, tetapi yang dilayani adalah permintaan murid, bukan pola makan seimbang. Para penulis menyimpulkannya dalam kalimat berbahasa Inggris yang berarti: “Mereka yang menyediakan makanan bagi murid sekolah khusus memikul tugas rumit menyeimbangkan kebutuhan murid yang beragam dengan Standar Makanan Sekolah, kebutuhan makanan terkait kesehatan, dan keterbatasan anggaran demi mempertahankan layanan makanan sekolah yang layak,” tulis McSweeney dan rekan.
Yang belum bisa dipastikan Spence dan rekan
Spence dan rekan mengakui batas temuan mereka. Orang tua yang bersedia bicara mungkin terdorong pengalaman anaknya sendiri. Murid peserta dipilih staf sekolah dan semuanya mampu menyampaikan pendapat secara lisan tanpa bantuan. Satu penyedia katering tidak berhasil diwawancarai. Semua sekolah berada di North East England dan jumlahnya sedikit, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi. Tidak ada pula data makanan dari analisis menu atau pengamatan ruang makan.
Pembaca naskah McSweeney dan rekan juga dapat memeriksa beberapa hal kecil. Abstrak menyebut hampir 45 persen murid sekolah khusus berhak atas makan gratis, sedangkan bagian latar menulis 47 persen. Pernyataan pendanaan dua kali menyebut karya ini sebagai tinjauan, padahal isinya diskusi dan wawancara. Karya O’Connell dan rekan pun dirujuk dengan dua nomor pustaka yang berbeda.
Dengan kehati-hatian itu, Andrew dan rekan hanya menunjuk beberapa peluang. Menu yang mudah dibaca murid dapat dijadikan praktik baku agar mereka bisa memilih sebelum jam makan. Staf sekolah, tenaga kesehatan, dan orang tua dapat dilibatkan dalam penyusunan menu supaya bahan yang cocok dilumatkan lebih beragam. Bahan pelatihan tentang kesulitan makan dan menelan juga mereka sebut perlu dikembangkan.
Yang tersisa dari percakapan McSweeney, Jones, dan Gordon adalah gambaran sebuah hak yang tersedia tetapi sering tidak sampai ke meja. Seorang murid di sekolah D masih mendengar perutnya berbunyi di tengah pelajaran. Seorang orang tua masih menyelipkan makanan tambahan ke dalam tas anaknya, sementara jatah makan siang gratis yang menjadi hak anak itu menunggu di dapur sekolah.














