Tidur Siang Sebentar Tak Menghapus Risiko Jantung Kurang Tidur

A A

Ilustrasi jam digital menunjukkan pukul 15.11 di samping lampu meja dan ranjang berselimut kusut [Foto: Jakub Zerdzicki/Pexels]

  • Lebih dari separuh peserta, 4.207 orang, tidak tidur siang sama sekali.
  • Angka tertinggi muncul pada orang yang tidur malamnya kurang dari enam jam lalu tidur siang paling lama setengah jam.
  • Malam pendek tanpa tidur siang justru tidak bermakna pada kelompok umur ini.
  • Seluruh peserta adalah warga Tiongkok, dan hasilnya belum diuji pada kelompok lain.
Daftar Isi
  1. Malam yang Kurang dari Enam Jam
  2. Setengah Jam Sesudah Makan Siang
  3. Tidur Siang Sampai Satu Jam
  4. Perempuan dan Laki-laki
  5. Usia 65 Tahun ke Atas
  6. Catatan di Tepi Naskah

Pertanyaannya terdengar seperti obrolan di meja makan. Selama sebulan terakhir, berapa lama Anda tidur siang sesudah makan siang? Sebelum itu ada satu pertanyaan lain: berapa jam Anda benar-benar tidur pada malam hari, yang boleh jadi lebih pendek daripada lamanya berbaring di ranjang. Dua pertanyaan itu diajukan kepada warga berusia 45 tahun ke atas di 450 desa, di 150 kabupaten atau distrik, di 28 provinsi Tiongkok.

Jawaban yang dicatat pada 2011 itu kemudian disandingkan dengan kabar kesehatan mereka sampai 2020. Wenxiao Xiong, Wanxin Li, Jiaoping Xue, Leyi Zhang, Jing Li, Sanqiao Ma, Yanbo Zhang, dan Jing Tian menuliskannya dalam Impact of nighttime sleep duration and daytime nap combinations on cardiovascular disease risk in middle-aged and older Chinese adults: a nationwide prospective cohort study, terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 768, tahun 2026. Sebagian besar dari mereka bekerja di Shanxi Medical University.

Ada 7.975 orang yang belum pernah didiagnosis penyakit kardiovaskular ketika menjawab. Sembilan tahun kemudian, 2.117 di antaranya sudah diberi tahu dokter bahwa mereka terkena serangan jantung, angina, penyakit jantung koroner, gagal jantung, gangguan jantung lain, atau stroke. Itu 26,55 persen, kira-kira satu dari empat. Siapa yang lebih sering masuk hitungan itu ternyata berkaitan dengan cara mereka membagi tidur antara malam dan siang.

Malam yang Kurang dari Enam Jam

Mulai dari malam. Para peneliti membagi peserta ke dalam tiga kelompok. Sebanyak 2.277 orang, atau 28,55 persen, tidur kurang dari enam jam semalam. Kelompok terbesar, 3.267 orang, tidur enam sampai kurang dari delapan jam. Sisanya, 2.431 orang, tidur delapan jam atau lebih. Kelompok tengah itulah yang dijadikan patokan.

Malam yang pendek membawa beban tersendiri. Setelah usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, tempat tinggal, rokok, minuman beralkohol, berat badan, dan penyakit penyerta ikut diperhitungkan, mereka yang tidur kurang dari enam jam mencatat rasio hazard 1,189. Artinya, risiko terkena penyakit kardiovaskular pada kelompok ini kira-kira 19 persen lebih tinggi daripada kelompok patokan.

Jejaknya terlihat pula pada hitungan sederhana. Di antara peserta yang kemudian jatuh sakit, 31,55 persen adalah orang yang tidur malamnya pendek. Di antara yang tetap sehat, porsinya 27,47 persen. Xiong dan rekan-rekannya merujuk penelitian terdahulu yang menduga malam yang pendek memicu peradangan dan membuat saraf simpatis lebih giat.

Malam yang panjang tidak menunjukkan hal serupa. Tidur delapan jam atau lebih mencatat rasio 1,053, tidak bermakna secara statistik. Hasil itu sejalan dengan sebagian penelitian terdahulu, walau ada pula yang melaporkan sebaliknya. Para penulis mengutip satu kajian berbasis data UK Biobank yang menyimpulkan bahwa bahaya tidur panjang dalam laporan-laporan lama mungkin berasal dari sebab-akibat yang terbalik atau faktor perancu yang tersisa.

Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

Setengah Jam Sesudah Makan Siang

Lalu siang. Lebih dari separuh peserta, 4.207 orang, tidak tidur siang sama sekali. Sebanyak 821 orang tidur paling lama setengah jam, 1.857 orang lebih dari setengah jam sampai satu jam, dan 1.090 orang lebih dari satu jam. Dilihat sendirian, tidur siang tidak berkaitan bermakna dengan penyakit kardiovaskular, berapa pun lamanya, setelah semua faktor lain diperhitungkan.

Gambarnya berubah ketika malam dan siang dipasangkan. Tiga kelompok malam dan empat kelompok siang menghasilkan dua belas kombinasi. Patokannya adalah orang yang tidur malam enam sampai kurang dari delapan jam dan tidak tidur siang. Di kelompok patokan ini tercatat 388 kasus, atau 23,92 persen dari anggotanya.

Kombinasi yang paling berat justru bukan malam pendek tanpa tidur siang. Kelompok itu mencatat rasio hazard 1,177, dengan 28,17 persen anggotanya jatuh sakit. Angka tertinggi muncul pada orang yang tidur malamnya kurang dari enam jam lalu tidur siang paling lama setengah jam. Rasionya 1,558. Dari kelompok kecil itu, 89 orang terkena penyakit kardiovaskular, atau 36,18 persen.

Kurang tidur malam dan empat pola tidur siangTanpa tidur siang: Rasio hazard +1,177; Tidur siang sampai 0,5 jam: Rasio hazard +1,558; Tidur siang 0,5 sampai 1 jam: Rasio hazard +1,094; Tidur siang lebih dari 1 jam: Rasio hazard +1,300.Kurang tidur malam dan empat pola tidur siangRasio hazard; tidur malam 6-8 jam tanpa tidur siang = 10,51,01,52,00Tanpa tidur siang1,177Tidur siang sampai 0,5 jam1,558Tidur siang 0,5 sampai 1 jam1,094Tidur siang lebih dari 1 jam1,300Semua batang untuk peserta dengan tidur malam kurang dari 6 jam.Angka 1,094 tidak bermakna secara statistik.
Sumber: Wenxiao Xiong, Wanxin Li, Jiaoping Xue, Leyi Zhang, Jing Li, Sanqiao Ma, Yanbo Zhang, dan Jing Tian, Impact of nighttime sleep duration and daytime nap combinations on cardiovascular disease risk in middle-aged and older Chinese adults: a nationwide prospective cohort study, BMC Public Health, 26(768), 2026. Grafik: Cekricek.id

Lebih dari satu dari tiga, pada kelompok yang sekilas tampak sedang menambal kekurangan tidurnya. Para peneliti sendiri menyebut temuan itu menarik dan tidak berpura-pura tahu sebabnya. “Mekanisme biologis yang mendasari hubungan ini masih belum jelas,” tulis Xiong dan tujuh rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Tidur siang yang panjang juga tidak menolong. Malam pendek yang disambung tidur siang lebih dari satu jam mencatat rasio 1,300, dan 32,39 persen anggota kelompok itu jatuh sakit. Jadi, dari empat pola siang yang mungkin menyertai malam yang pendek, tiga di antaranya berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi.

Tidur Siang Sampai Satu Jam

Tinggal satu pola yang berbeda. Orang yang tidur malamnya kurang dari enam jam tetapi tidur siang lebih dari setengah jam sampai satu jam mencatat rasio 1,094. Angka itu tidak bermakna secara statistik, sehingga kelompok ini tidak bisa dibedakan dari kelompok patokan. Sebanyak 27,34 persen anggotanya jatuh sakit.

Xiong dan rekan-rekannya menempatkan temuan itu di samping dua laporan lain. Satu mendapati bahwa tidur tambahan pada akhir pekan berkaitan dengan risiko lebih rendah pada orang yang kurang tidur di hari kerja. Satu lagi tentang olahraga yang dipadatkan pada akhir pekan. Menurut mereka, kajian yang khusus menimbang lama tidur siang pada orang yang kurang tidur malam masih terbatas.

Ada dua catatan yang menahan tafsir terlalu jauh. Uji interaksi antara tidur malam dan tidur siang tidak bermakna di semua hitungan. Selain itu, kombinasi lain yang tidak melibatkan malam pendek tidak berkaitan bermakna dengan penyakit kardiovaskular. Jadi yang menonjol tetap malam yang kurang dari enam jam, dengan satu pengecualian di siang hari.

Satu kombinasi sempat tampak berbahaya lalu surut. Tidur malam delapan jam atau lebih yang disertai tidur siang lebih dari satu jam mencatat rasio 1,251 dalam hitungan kasar. Begitu usia dan jenis kelamin dimasukkan, kaitannya tidak lagi bermakna. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa risiko pada pola itu lebih peka terhadap faktor kependudukan.

Tidur dan jantung warga Tiongkok dalam angkaDari 7.975 peserta, 2.117 terkena penyakit kardiovaskular; angka tertinggi 36,18 persen ada pada kombinasi tidur malam kurang dari 6 jam dan tidur siang sampai setengah jam.Tidur dan jantung warga Tiongkok dalam angkaAngka kunci dari data CHARLS 2011 sampai 20207.975Peserta45 tahun ke atas2.117Jatuh sakit26,55 persen2.277Tidur malamkurang dari 6 jam36,18%Tertinggikurang tidur +siang singkatJalan risetnyaTidur dicatat 2011Diikuti sampai 2020Pola dibandingkanPenyakit kardiovaskular di sini mencakup penyakit jantung dan strokemenurut diagnosis dokter.
Sumber: Wenxiao Xiong, Wanxin Li, Jiaoping Xue, Leyi Zhang, Jing Li, Sanqiao Ma, Yanbo Zhang, dan Jing Tian, Impact of nighttime sleep duration and daytime nap combinations on cardiovascular disease risk in middle-aged and older Chinese adults: a nationwide prospective cohort study, BMC Public Health, 26(768), 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia

Perempuan dan Laki-laki

Pindah dari jam ke orangnya. Perempuan mengisi 54,21 persen dari seluruh peserta, tetapi 57,82 persen dari mereka yang jatuh sakit. Ketika dua belas kombinasi itu dihitung terpisah, pada laki-laki tidak satu pun yang berkaitan bermakna dengan penyakit kardiovaskular. Pada perempuan, dua kombinasi menonjol.

Perempuan yang tidur malamnya kurang dari enam jam tanpa tidur siang mencatat rasio hazard 1,288. Perempuan dengan malam pendek dan tidur siang paling lama setengah jam mencatat 1,728, angka tertinggi dalam seluruh naskah. Itu sejalan, kata para penulis, dengan penelitian terdahulu yang melaporkan perempuan lebih rentan terhadap risiko kardiovaskular akibat kurang tidur.

Mereka menawarkan empat dugaan, dan menyebutnya dugaan. Perubahan tubuh pada masa menopause mungkin membuat perempuan lebih peka terhadap kurang tidur. Pembatasan tidur pada perempuan kerap memicu kerja saraf simpatis yang lebih kuat, sehingga denyut jantung dan tekanan darah lebih naik-turun.

Dua dugaan lain menyangkut hidup sehari-hari. Perempuan umumnya lebih peka terhadap tidur yang terputus dan lebih sering mengalami insomnia serta gangguan suasana hati. Peran ganda sebagai pengasuh dan pekerja menambah tekanan sosial. “Perhatian yang lebih besar perlu diberikan pada pengelolaan tidur perempuan untuk mengurangi kerentanan kardiovaskular yang khas pada jenis kelamin mereka,” tulis para penulis.

Usia 65 Tahun ke Atas

Usia memberi warna lain. Dari 7.975 peserta, 1.562 orang sudah berusia 65 tahun atau lebih ketika menjawab. Pada kelompok ini, malam pendek dengan tidur siang paling lama setengah jam kembali muncul, dengan rasio 1,598. Tetapi ada satu kombinasi yang tidak tampak di tempat lain: tidur malam delapan jam atau lebih disertai tidur siang sedang, dengan rasio 1,566.

Pada peserta berusia 45 sampai 64 tahun, malam pendek berkaitan dengan risiko lebih tinggi bila disertai tidur siang yang singkat atau yang lebih dari satu jam. Malam pendek tanpa tidur siang justru tidak bermakna pada kelompok umur ini. Para penulis menduga orang-orang itu memakai waktunya untuk kegiatan sosial yang teratur, bukan untuk tidur.

Dugaan itu segera mereka beri pagar. “Namun, penjelasan ini saat ini masih bersifat hipotetis,” tulis mereka, seraya menyebut perlunya penelitian yang juga mencatat pola kegiatan harian dan keterlibatan sosial. Uji interaksi untuk usia pun tidak bermakna, sehingga perbedaan antarkelompok umur itu belum bisa dipastikan.

Bila malam dan siang dijumlahkan menjadi total waktu tidur, hubungannya dengan penyakit kardiovaskular pada seluruh peserta berbentuk huruf U. Risiko lebih tinggi di kedua ujung, pada tidur yang terlalu sedikit dan yang terlalu banyak. Ketika peserta dipisah menurut ada tidaknya tidur siang, hubungan itu menjadi garis lurus pada kedua kelompok.

Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular

Catatan di Tepi Naskah

Dari semua itu para penulis menarik satu usul. Memperbaiki tidur, menurut mereka, adalah cara pencegahan penyakit kardiovaskular yang murah dan mudah disesuaikan, sehingga layak didahulukan dalam perencanaan kesehatan masyarakat dan praktik klinis. Mereka juga meminta penelitian berikutnya memusatkan perhatian pada orang yang tidur malamnya kurang.

Batasnya mereka tulis sendiri. Lama tidur hanya ditanyakan sekali, pada 2011, dan dijawab menurut ingatan peserta, tanpa diukur ulang selama bertahun-tahun sesudahnya. Soal tidur siang, yang dicatat hanya lamanya. Kapan tidur siang itu dilakukan, seberapa sering, dan apakah disengaja atau tidak, tidak diketahui.

Masih ada tiga batas lain. Faktor perancu yang tersisa, penyakit yang belum terdiagnosis tetapi sudah mengganggu tidur, dan bias penyintas bisa memengaruhi hasil. Dua belas kombinasi dibandingkan tanpa koreksi untuk perbandingan berganda, sehingga peluang temuan kebetulan lebih besar. Seluruh peserta adalah warga Tiongkok, dan hasilnya belum diuji pada kelompok lain.

Beberapa hal bisa diperiksa pembaca. Ringkasan naskah menyebut ada perbedaan bermakna menurut jenis kelamin, sedangkan uji interaksi untuk jenis kelamin di bagian hasil mencatat nilai p 0,115, yang tidak bermakna. Judul memakai kata dampak dan simpulan menulis kombinasi tertentu meningkatkan risiko, padahal datanya berupa pengamatan yang hanya menunjukkan kaitan.

Pembahasan juga menyebut tidur siang singkat lebih berisiko daripada tanpa tidur siang pada orang yang kurang tidur malam. Kedua kelompok itu sebenarnya hanya dibandingkan dengan kelompok patokan, tidak satu sama lain. Lalu bila kasus di dua belas kombinasi pada tabel dijumlahkan, hasilnya 2.063, bukan 2.117. Selisih 54 kasus itu tidak dijelaskan dalam naskah.

Dua pertanyaan di awal itu tetap sederhana. Berapa jam tidur semalam, berapa lama tidur sesudah makan siang. Sembilan tahun kemudian, jawaban atas pertanyaan pertama yang paling banyak bicara: malam di bawah enam jam berkaitan dengan lebih banyak penyakit jantung dan stroke. Jawaban atas pertanyaan kedua hanya menggeser angkanya, dan setengah jam di siang hari tidak membuatnya hilang.

Bagikan

Baca Juga

Guru PAUD New York Terkuras, Satu dari Lima Ingin Berhenti
Asap Kayu Bakar di Dapur Dikaitkan dengan Stroke pada Perempuan
Lansia Kampala Makan Dua Kali Sehari meski Terima Bantuan Tunai
Taman Kota Toronto Tak Sama Ramahnya bagi Warga Kulit Berwarna
Warga Belanda yang Cemas soal Dunia Lebih Sering Terganggu Jiwa
Diare di Pesisir Bangladesh Datang lewat Air Asin dan Air Banjir